Jumat, 16/1/26 | 13:21 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Menghindari Sifat Benalu

Minggu, 31/8/25 | 13:20 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra, S.Hum., Gr.
(Guru SMA Negeri 1 Ranah Pesisir)

Benalu merupakan salah satu jenis tumbuhan yang tidak memiliki manfaat bagi tumbuhan lain di sekitarnya. Keberadaan tumbuhan ini justru membahayakan bagi tumbuhan-tumbuhan lain—tempat  ia menumpang hidup.
Benalu, dalam KBBI VI daring, diartikan ‘tumbuhan yang menumpang pada tanaman lain dan mengisap makanan dari tanaman yang ditumpanginya; pasilan.’ Nama latin dari tumbuhan ini adalah loranthaceae. Sebagai orang Minangkabau, kita diajarkan untuk belajar dan mencontoh kepada alam. Pepatah berikut mengatakan.

“Biriak-biriak tabang ka samak,

BACAJUGA

Berbagai Istilah dan Kemubaziran Kata dalam Kalimat

Hukum Kawin Sesuku di Minangkabau

Minggu, 17/8/25 | 16:05 WIB
Penulisan Jenjang Akademik dalam Bahasa Indonesia

Memilih Menantu (Sumando)

Minggu, 10/8/25 | 13:46 WIB

ambiak batang londan tabuk,

salodang jadikan niru.

Dari niniak—turun ka mamak,

sakapa jadikan gunuang

alam takambang jadi guru.”

Salah satu pelajaran yang dapat kita ambil dari kehidupan yang ada di alam adalah menghindari sifat hidup benalu. Meski tumbuhan ini dapat digunakan sebagai obat tradisional yang bermanfaat untuk mengatasi berbagai macam penyakit, seperti sakit kepala, nyeri sendi, serta kanker. Namun, sifat hidup benalu tidak memberikan manfaat dan contoh bagi manusia. Di mana pun benalu hidup, keberadaannya selalu mecelakakan dan menyusahkan kehidupan di lingkungan sekitarnya.

Sebagai contoh, bila benalu tumbuh di batang pohon jengkol, tidak lama kemudian batang jengkol akan mati karenannya. Begitu pula bila tumbuhan benalu ini tumbuh di batang petai, secara pelahan pohon petai pun akan mati karenanya. Dengan demikian, sifat benalu akan selalu membawa kerugian pada kehidupan yang ditempatinya. Oleh karena itu, kita diingatkan perlu untuk menghindari sifat benalu, yang manjadi simbol perilaku menganiaya (menyakiti) orang lain. Orang yang suka dan senang manganiaya orang lain pada akhirnya akan membawa kesensaraan di tengah suasana yang mulanya aman, tentram, dan damai.

Hidup seperti benalu adalah menjadi beban bagi orang lain. Apa pun yang ditempatinya justru menjadi bencana dan malapetaka bagi orang lain. Kehadiran orang yang berperilaku seperti benalu hanyalah membawa kesusahan bagi orang lain. Bahkan, dapat membawa penderitaan yang mendalam hingga berujung pada kematian bagi pihak yang dirugikan.

Dengan begitu, benalu adalah sifat parasit yang merugikan dalam kehidupan. Selain membahayakan dan menzalimi orang lain, sifat buruk benalu juga membuat orang menjadi tersiksa dengan kehadirannya.

Sejatinya, kedatangan kita dalam masyarakat seharusnya membawa kebaikan bagi orang lain, malah bukan sebaliknya. Kedatangan kita seharusnya menjadi rahmat bagi orang-orang, justru bukan malapetaka baginya. Jadi, di mana pun kita menompang hidup, jangan sampai kita seperti benalu, yang menjadi penyebab kesensaraan dalam kehidupan orang lain.

Islam telah mengingatkan kita untuk menjauhi dan menghindari perilaku hidup seperti benalu. Dalam Islam, orang yang manyakit atau manganiayah orang lain dikatakan zalim. Perilaku ini merupakan dosa besar, sebab sifat ini suka dan senang membuat hidup orang menjadi tertindas dan menderita karena kesensaraan. Untuk itu, mari kita hindari sifat benalu ini supaya kita tidak menjadi sumber kesensaraan bagi diri kita dan hidup orang lain. Wallahualam bissawab.

Tags: #Yori Leo Saputra
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Fenomena Singkatan dalam Dunia Digital

Berita Sesudah

Bahasa dalam Pandangan Linguistik Fungsional Sistemik

Berita Terkait

Jejak Peranakan Tionghoa dalam Sastra Indonesia

Dinamika Masyarakat dalam Tradisi Basapa

Minggu, 04/1/26 | 22:15 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Setiap bulan Safar dalam kalender Hijriah, Ulakan di Pariaman,...

Perubahan Makna Cerita Rakyat di Era Digital

Gambaran Berlin Era 1920-an pada Roman Emil und die Detektive

Minggu, 04/1/26 | 22:05 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Latar tempat merupakan salah satu unsur...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Minggu, 04/1/26 | 21:31 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen di Program Studi Sastra Jerman, Universitas Padjadjaran)   Karya sastra merupakan salah satu bentuk karya seni...

Menggali Citra Feminisme dalam Fotografi di Instagram @darwistriadiartgallery

Menggali Citra Feminisme dalam Fotografi di Instagram @darwistriadiartgallery

Minggu, 28/12/25 | 20:13 WIB

Oleh: Aldrizi Salsabila 1; Ike Revita 2; Fajri Usman 3; Sawirman 4 (Mahasiswa dan Dosen Program Studi Magister Linguistik, Fakultas...

Belenggu Perempuan pada Cerpen “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” Kritik Feminis

Belenggu Perempuan pada Cerpen “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” Kritik Feminis

Minggu, 28/12/25 | 19:58 WIB

Oleh: Fatin Fashahah (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)    Semua pekerjaan yang tiada habisnya itu akan...

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Persebaran Surau di Sekitar Makam Syekh Burhanuddin

Minggu, 21/12/25 | 10:40 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah
Struktur Kalimat Peraturan Perundang-undangan

Bahasa dalam Pandangan Linguistik Fungsional Sistemik

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran, mengusulkan sejumlah proyek pelestarian lingkungan bagi Kota Padang dalam skema kerja sama bilateral Indonesia-Jerman di tahun 2026.(Foto:Ist)

    Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wawako Padang Tegaskan Gerakan Pramuka Pembentuk Generasi Muda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PDAM Kota Padang Putuskan Sambungan Air Tanpa Peringatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024