Selasa, 11/8/26 | 00:11 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Eksotisme dalam Wacana Pariwisata

Minggu, 30/6/24 | 07:07 WIB

Oleh: Arina Isti’anah
(Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)

 

Kata eksotis sudah terdengar familiar di telinga kita. Berbagai wacana juga kerap menggunakan kata eksotis untuk mengasosiasikan alam dengan keindahannya, terutama yang ditemukan pada wilayah tropis seperti Indonesia. Eksotisme, menurut Said, merupakan wacana yang secara politis digunakan oleh rezim kolonial untuk menamai wilayah dan komunitas yang secara geo-kultural jauh dari Eropa atau Barat (Setiawan, 2023). Dengan kata lain, eksotisme acapkali digunakan untuk melabeli Timur atau non-Barat.

BACAJUGA

Modal Sosial Kunci Utama Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis

Modal Sosial Kunci Utama Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis

Senin, 10/8/26 | 16:12 WIB
Sintaksis Gen Z di X & Threads: Keren atau Malah Berantakan?

Sintaksis Gen Z di X & Threads: Keren atau Malah Berantakan?

Senin, 10/8/26 | 10:24 WIB

Dalam wacana pariwisata, beberapa penelitian menyebutkan bahwa promosi destinasi pariwisata memanfaatkan pandangan Barat tentang eksotisme tersebut. Penggunaan kata eksotis atau exotic dalam bahasa Inggris tidak lain bertujuan untuk memenuhi pandangan dan selera Barat terhadap wilayah non-Barat. Destinasi wisata yang eksotis ditandai dengan beberapa ciri geografis, seperti pantai tropis, hutan lebat, pantai yang belum terjamah, hutan perawan, dan surga tropis. Pelabelan tujuan wisata berbasis alam seperti pantai dan hutan dengan adjektiva yang merujuk pada sifat terpencil, tropis, dan belum terjamah merupakan ciri khas eksotisme.

Dalam konteks pariwisata Indonesia yang dipromosikan melalui situs web Indonesia.travel, penggunaan metafora, seperti gem, pristine, dan paradise merupakan contoh lain dari eksotisme. Metafora tersebut digunakan untuk mengonseptualisasi keindahan alam dan budaya Indonesia yang tidak ditemukan di Barat. Ciri khas lain dari eksotisme adalah komoditas alam dalam pariwisata yang menjual kekayaan, keterpencilan, dan kelangkaan sumber dayanya, termasuk flora dan fauna. Sebagai contoh, frasa pristine beaches memproyeksikan pantai-pantai di Indonesia yang masih perawan, belum terjamah oleh orang, dan siap untuk menyambut eksplorasi turis Barat.

Namun demikian, eksotisme tidak selalu mendapatkan kritik positif dari para peneliti. Dalam kaca mata pos-kolonial, eksotisme justru dianggap melanggengkan kolonialisme. Wilayah yang ditawarkan sebagai pristine paradise justru ditemukan di wilayah yang kurang maju infrastruktur dan ekonominya.

Aktivitas yang berasosiasi dengan eksplorasi merupakan salah satu ciri khas kolonialisme spasial (Devine, 2017). Contoh pristine paradise di atas justru mereproduksi keinginan kapitalisme yang menempatkan alam sebagai objek konsumsi dan eksplorasi. Namun demikian, pariwisata Indonesia justru mereproduksi keinginan kapitalisme tersebut dalam promosinya. Jika ditilik dan dibandingkan dengan wacana promosi pariwisata secara umum, pristine paradise menjadai ciri khas promosi pariwisata di wilayah Timur, seperti yang ditemukan di wilayah Asia Pasifik lain (Jaworska, 2017).

Contoh lain dari ciri khas fitur linguistik yang menandai eksotisme adalah adjektiva hidden dan isolated seperti yang ditemukan dalam frasa hidden gem dan isolated island. Reproduksi dan repetisi isolated dan hidden dalam promosi pariwisata justru semakin memperkuat keyakinan sosial bahwa alam yang tersembunyi dan terpencil merupakan aspek berharga yang secara moneter menguntungkan manusia atau penyelenggara pariwisata. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa alam diperlakukan sebagai komoditas dalam wacana pariwisata.

Halaman 1 dari 2
12Next
Tags: #eksotimse#wacana pariwisataArina Isti'anah
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Angkasa” Karya Bramstya Argadewa Bima Ryandie dan Ulasannya oleh Azwar

Berita Sesudah

Istilah “Magrib” dan “Orang Gila Mana” di Media Sosial

Berita Terkait

Modal Sosial Kunci Utama Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis

Modal Sosial Kunci Utama Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis

Senin, 10/8/26 | 16:12 WIB

Oleh: Devi Analia (Dosen Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Andalas)   Akses pembiayaan kerap menjadi hambatan utama bagi petani kecil...

Sintaksis Gen Z di X & Threads: Keren atau Malah Berantakan?

Sintaksis Gen Z di X & Threads: Keren atau Malah Berantakan?

Senin, 10/8/26 | 10:24 WIB

Oleh: Kevin Amnur Jonata (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Buka X sekarang dan hampir dapat dipastikan ada...

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Hakikat Merantau dalam Tradisi Minangkabau

Senin, 10/8/26 | 08:36 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra, S.Hum., Gr. (Guru SMAN 1 Ranah Pesisir)   Minangkabau merupakan sebuah suku bangsa di Sumatera Barat...

Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

Senin, 03/8/26 | 05:23 WIB

Oleh: Indri Rahmadani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Sastra anak tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga...

Merantau untuk Ilmu: Belajar dari Ibnu Waddah al-Qurthubi

Merantau untuk Ilmu: Belajar dari Ibnu Waddah al-Qurthubi

Senin, 03/8/26 | 05:10 WIB

Oleh: Aruusalkhofiqoni Bahri Chaniago, Lc. (Alumni Dirasat Islamiyah, Ibn Tofail University, Kenitra, Maroko dan Aktif Mengkaji Hadis, Tradisi Keilmuan Islam,...

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Minggu, 26/7/26 | 22:02 WIB

Oleh: Tomi Pratama (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Pada saat ini, zaman semakin maju. Orang tua yang...

Berita Sesudah
Petinju dan Peninju; Manakah yang Benar?

Istilah “Magrib” dan “Orang Gila Mana” di Media Sosial

Discussion about this post

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran saat meresmikan jembatan Helsheim di Batang Arau

    Wali Kota Padang Resmikan Jembatan Hildesheim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Modal Sosial Kunci Utama Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hakikat Merantau dalam Tradisi Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sintaksis Gen Z di X & Threads: Keren atau Malah Berantakan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026