Selasa, 06/10/26 | 05:31 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Eksotisme dalam Wacana Pariwisata

Minggu, 30/6/24 | 07:07 WIB

Oleh: Arina Isti’anah
(Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)

 

Kata eksotis sudah terdengar familiar di telinga kita. Berbagai wacana juga kerap menggunakan kata eksotis untuk mengasosiasikan alam dengan keindahannya, terutama yang ditemukan pada wilayah tropis seperti Indonesia. Eksotisme, menurut Said, merupakan wacana yang secara politis digunakan oleh rezim kolonial untuk menamai wilayah dan komunitas yang secara geo-kultural jauh dari Eropa atau Barat (Setiawan, 2023). Dengan kata lain, eksotisme acapkali digunakan untuk melabeli Timur atau non-Barat.

BACAJUGA

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Minggu, 04/10/26 | 22:27 WIB
Representasi Perempuan dalam Film “Agensi Rumah Tangga”: Kajian Feminisme Hélène Cixous

Representasi Perempuan dalam Film “Agensi Rumah Tangga”: Kajian Feminisme Hélène Cixous

Minggu, 04/10/26 | 12:42 WIB

Dalam wacana pariwisata, beberapa penelitian menyebutkan bahwa promosi destinasi pariwisata memanfaatkan pandangan Barat tentang eksotisme tersebut. Penggunaan kata eksotis atau exotic dalam bahasa Inggris tidak lain bertujuan untuk memenuhi pandangan dan selera Barat terhadap wilayah non-Barat. Destinasi wisata yang eksotis ditandai dengan beberapa ciri geografis, seperti pantai tropis, hutan lebat, pantai yang belum terjamah, hutan perawan, dan surga tropis. Pelabelan tujuan wisata berbasis alam seperti pantai dan hutan dengan adjektiva yang merujuk pada sifat terpencil, tropis, dan belum terjamah merupakan ciri khas eksotisme.

Dalam konteks pariwisata Indonesia yang dipromosikan melalui situs web Indonesia.travel, penggunaan metafora, seperti gem, pristine, dan paradise merupakan contoh lain dari eksotisme. Metafora tersebut digunakan untuk mengonseptualisasi keindahan alam dan budaya Indonesia yang tidak ditemukan di Barat. Ciri khas lain dari eksotisme adalah komoditas alam dalam pariwisata yang menjual kekayaan, keterpencilan, dan kelangkaan sumber dayanya, termasuk flora dan fauna. Sebagai contoh, frasa pristine beaches memproyeksikan pantai-pantai di Indonesia yang masih perawan, belum terjamah oleh orang, dan siap untuk menyambut eksplorasi turis Barat.

Namun demikian, eksotisme tidak selalu mendapatkan kritik positif dari para peneliti. Dalam kaca mata pos-kolonial, eksotisme justru dianggap melanggengkan kolonialisme. Wilayah yang ditawarkan sebagai pristine paradise justru ditemukan di wilayah yang kurang maju infrastruktur dan ekonominya.

Aktivitas yang berasosiasi dengan eksplorasi merupakan salah satu ciri khas kolonialisme spasial (Devine, 2017). Contoh pristine paradise di atas justru mereproduksi keinginan kapitalisme yang menempatkan alam sebagai objek konsumsi dan eksplorasi. Namun demikian, pariwisata Indonesia justru mereproduksi keinginan kapitalisme tersebut dalam promosinya. Jika ditilik dan dibandingkan dengan wacana promosi pariwisata secara umum, pristine paradise menjadai ciri khas promosi pariwisata di wilayah Timur, seperti yang ditemukan di wilayah Asia Pasifik lain (Jaworska, 2017).

Contoh lain dari ciri khas fitur linguistik yang menandai eksotisme adalah adjektiva hidden dan isolated seperti yang ditemukan dalam frasa hidden gem dan isolated island. Reproduksi dan repetisi isolated dan hidden dalam promosi pariwisata justru semakin memperkuat keyakinan sosial bahwa alam yang tersembunyi dan terpencil merupakan aspek berharga yang secara moneter menguntungkan manusia atau penyelenggara pariwisata. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa alam diperlakukan sebagai komoditas dalam wacana pariwisata.

Halaman 1 dari 2
12Next
Tags: #eksotimse#wacana pariwisataArina Isti'anah
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Angkasa” Karya Bramstya Argadewa Bima Ryandie dan Ulasannya oleh Azwar

Berita Sesudah

Istilah “Magrib” dan “Orang Gila Mana” di Media Sosial

Berita Terkait

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Minggu, 04/10/26 | 22:27 WIB

Oleh: Irfan Pandesta Putra, S.Hum (Sejarawan & Alumni S1 Ilmu Sejarah FIB Universitas Andalas)   Novel Siti Nurbaya: Kasih Tak...

Representasi Perempuan dalam Film “Agensi Rumah Tangga”: Kajian Feminisme Hélène Cixous

Representasi Perempuan dalam Film “Agensi Rumah Tangga”: Kajian Feminisme Hélène Cixous

Minggu, 04/10/26 | 12:42 WIB

Oleh: Tri Sutrisman (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Apa yang terjadi ketika perempuan kehilangan pekerjaan, tetapi tetap...

Rocky di Ketinggian 30.000 Kaki

Rocky di Ketinggian 30.000 Kaki

Minggu, 04/10/26 | 12:23 WIB

Oleh: Alfitri (Departemen Sosiologi FISIP Universitas Andalas)   Kendati sempat delay sekitar 45 menit dari jadwal take off 16:25, akhirnya...

Peluang Bisnis Fashion Halal bagi Anak Muda dalam Ekonomi Islam

Peluang Bisnis Fashion Halal bagi Anak Muda dalam Ekonomi Islam

Minggu, 27/9/26 | 11:52 WIB

Oleh: Kanaya Putri Sifa (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Andalas)   Perkembangan dunia fashion saat...

Semburat: Kajian Makna dalam Perspektif Semantik

Semburat: Kajian Makna dalam Perspektif Semantik

Minggu, 27/9/26 | 11:25 WIB

Oleh: Tri Sutrisman (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Beberapa waktu lalu, saya sedang melakukan sesuatu yang mungkin cukup...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Mengenal Polisemi dan Homonimi dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 20/9/26 | 15:43 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Pernahkah Anda mendengar kalimat "kepala sekolah itu sedang memegang kepalanya...

Berita Sesudah
Petinju dan Peninju; Manakah yang Benar?

Istilah “Magrib” dan “Orang Gila Mana” di Media Sosial

Discussion about this post

POPULER

  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026