Selasa, 03/11/26 | 08:56 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Eksotisme dalam Wacana Pariwisata

Minggu, 30/6/24 | 07:07 WIB

Oleh: Arina Isti’anah
(Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)

 

Kata eksotis sudah terdengar familiar di telinga kita. Berbagai wacana juga kerap menggunakan kata eksotis untuk mengasosiasikan alam dengan keindahannya, terutama yang ditemukan pada wilayah tropis seperti Indonesia. Eksotisme, menurut Said, merupakan wacana yang secara politis digunakan oleh rezim kolonial untuk menamai wilayah dan komunitas yang secara geo-kultural jauh dari Eropa atau Barat (Setiawan, 2023). Dengan kata lain, eksotisme acapkali digunakan untuk melabeli Timur atau non-Barat.

Dalam wacana pariwisata, beberapa penelitian menyebutkan bahwa promosi destinasi pariwisata memanfaatkan pandangan Barat tentang eksotisme tersebut. Penggunaan kata eksotis atau exotic dalam bahasa Inggris tidak lain bertujuan untuk memenuhi pandangan dan selera Barat terhadap wilayah non-Barat. Destinasi wisata yang eksotis ditandai dengan beberapa ciri geografis, seperti pantai tropis, hutan lebat, pantai yang belum terjamah, hutan perawan, dan surga tropis. Pelabelan tujuan wisata berbasis alam seperti pantai dan hutan dengan adjektiva yang merujuk pada sifat terpencil, tropis, dan belum terjamah merupakan ciri khas eksotisme.

BACAJUGA

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Paradoks Representasi Subaltern dalam Novel Saman

Minggu, 01/11/26 | 12:50 WIB
Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Minggu, 01/11/26 | 12:42 WIB

Dalam konteks pariwisata Indonesia yang dipromosikan melalui situs web Indonesia.travel, penggunaan metafora, seperti gem, pristine, dan paradise merupakan contoh lain dari eksotisme. Metafora tersebut digunakan untuk mengonseptualisasi keindahan alam dan budaya Indonesia yang tidak ditemukan di Barat. Ciri khas lain dari eksotisme adalah komoditas alam dalam pariwisata yang menjual kekayaan, keterpencilan, dan kelangkaan sumber dayanya, termasuk flora dan fauna. Sebagai contoh, frasa pristine beaches memproyeksikan pantai-pantai di Indonesia yang masih perawan, belum terjamah oleh orang, dan siap untuk menyambut eksplorasi turis Barat.

Namun demikian, eksotisme tidak selalu mendapatkan kritik positif dari para peneliti. Dalam kaca mata pos-kolonial, eksotisme justru dianggap melanggengkan kolonialisme. Wilayah yang ditawarkan sebagai pristine paradise justru ditemukan di wilayah yang kurang maju infrastruktur dan ekonominya.

Aktivitas yang berasosiasi dengan eksplorasi merupakan salah satu ciri khas kolonialisme spasial (Devine, 2017). Contoh pristine paradise di atas justru mereproduksi keinginan kapitalisme yang menempatkan alam sebagai objek konsumsi dan eksplorasi. Namun demikian, pariwisata Indonesia justru mereproduksi keinginan kapitalisme tersebut dalam promosinya. Jika ditilik dan dibandingkan dengan wacana promosi pariwisata secara umum, pristine paradise menjadai ciri khas promosi pariwisata di wilayah Timur, seperti yang ditemukan di wilayah Asia Pasifik lain (Jaworska, 2017).

Contoh lain dari ciri khas fitur linguistik yang menandai eksotisme adalah adjektiva hidden dan isolated seperti yang ditemukan dalam frasa hidden gem dan isolated island. Reproduksi dan repetisi isolated dan hidden dalam promosi pariwisata justru semakin memperkuat keyakinan sosial bahwa alam yang tersembunyi dan terpencil merupakan aspek berharga yang secara moneter menguntungkan manusia atau penyelenggara pariwisata. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa alam diperlakukan sebagai komoditas dalam wacana pariwisata.

Halaman 1 dari 2
12Next
Tags: #eksotimse#wacana pariwisataArina Isti'anah
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Angkasa” Karya Bramstya Argadewa Bima Ryandie dan Ulasannya oleh Azwar

Berita Sesudah

Istilah “Magrib” dan “Orang Gila Mana” di Media Sosial

Berita Terkait

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Paradoks Representasi Subaltern dalam Novel Saman

Minggu, 01/11/26 | 12:50 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Minggu, 01/11/26 | 12:42 WIB

Oleh: Tri Sutrisman (Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) Bagaimana jika sebuah laboratorium yang seharusnya digunakan untuk menyelamatkan...

Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

Minggu, 01/11/26 | 12:26 WIB

Oleh: Rizky Amelya Furqan (Dosen Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) Matilah kau mati, kau akan lahir...

Dari Sagu ke Pasar Digital: Peluang UMKM Lokal Menembus Batas

Dari Sagu ke Pasar Digital: Peluang UMKM Lokal Menembus Batas

Minggu, 25/10/26 | 20:14 WIB

Oleh: Maryatul Kuptiah (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki potensi alam...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Peran Ibu Tunggal dalam Film “Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?”

Minggu, 25/10/26 | 18:30 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya dan Anggota Labor Penulisan Kreatif, Universitas Andalas) Ada film yang berakhir...

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB

Oleh: Lili Herlina (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas) Ketika membicarakan masalah pertanian, perhatian sering kali tertuju pada...

Berita Sesudah
Petinju dan Peninju; Manakah yang Benar?

Istilah “Magrib” dan “Orang Gila Mana” di Media Sosial

Discussion about this post

POPULER

  • Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

    Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hujan Lebat Mengintai Sumbar hingga 10 November, Lima Daerah Masuk Kategori Siaga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perempuan dan Kisah Tak Sampai pada “Gadis Kretek”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paket Data Masih Aktif, Telkomsel Blokir Internet karena Tagihan Pulsa Darurat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cara Penulisan Gabungan Kata dalam bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026