Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)
Akhir-akhir ini saya cukup sering mimpi buruk. Mimpi itu sering pula membuat terbangun dini hari seperti pada pukul 2 atau pukul 4. Kadang waktu-waktu tersebut dapat saya manfaatkan untuk hal-hal berguna, kadang pula tidak. Saya melanjutkan tidur dan terbangun esok paginya dengan tubuh serta pikiran yang penat.
Ada satu dua hal yang saya khawatirkan belakangan ini. Saya kira, inilah yang menjadi penyebab seringnya mimpi-mimpi buruk berkunjung dan membuat tidur tidak nyenyak. Saya terlalu mengkhawatirkan pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di kepala, seperti “bagaimana kelak saya menjadi ibu?”, “bisakah saya melakukannya?”
Saya sering menaruh rasa kagum kepada ibu-ibu yang begitu cekatan meskipun ia adalah ibu baru. Selain cekatan, mereka juga menjadi ibu yang tampak kuat dan sabar. Di mana orang-orang ini belajar? Buku apa yang ia baca? Kelas parenting seperti apa yang ia ikuti? Begitulah saya bertanya-tanya.
Untuk mengalihkan rasa khawatir dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak saya punya jawabannya, saya memerlukan hal-hal yang menenangkan, menghibur, dan kadang pula lucu. Beberapa hari lalu saya berhasil menuntaskan sebuah gambar yang membuat perasaan di hari itu menjadi positif. Beberapa hari setelahnya saya menemukan sebuah lagu dan drama pendek. Setelahnya saya membaca ulang beberapa buku yang pada awalnya untuk mencari hal lain yang tak berhubungan dengan kekhawatiran saya.
Dari pembacaan ulang di beberapa bagian buku itu, saya menemukan refleksi diri yang sebelumnya mungkin tak terpikirkan. Buku pertama yang saya baca di hari itu ialah Akhir Pejantanan Dunia karya Ester Lianawati. Saya membaca subbab “Membongkar Peran Ibu”. Di sana ada subjudul lagi dengan judul “Kenarsisan Cinta Ibu”. Menjadi ibu yang narsistik hanya akan berujung pada ibu beracun dan buas.
Lianawati menegaskan bahwa perempuan perlu menerima bila mengandung dan melahirkan tidak serta merta membuatnya memiliki hak dan ikatan yang lebih dari ayah terhadap anak. Hal itu bukan berarti pula mengenyampingkan kebanggaan dan kebahagiaannya atas pengalaman unik yang tidak dirasakan oleh ayah. Yang berbahaya dari itu ialah ibu yang narsistik. Ibu yang merasa paling tahu dan paling berhak atas anak yang ia lahirkan dan mengerdilkan peran ayah.
Bagian inilah yang menjadi refleksi diri bagi saya. Saya berpikir bahwa sayalah yang paling bertanggung jawab bila tiba waktunya melahirkan dan mengasuh. Saya memberi tuntutan pada diri sendiri untuk melakukannya dengan sempurna tanpa cela. Keibuan saya harus dipandang sebagai sesuatu yang menakjubkan, teladan, dan panutan. Tentu saja pemikiran ini akan membuat saya menjadi ibu beracun, baik untuk anak maupun untuk diri sendiri.
Racun itulah yang telah saya rasakan meski belum mengalami keseluruhan proses menjadi ibu. Saya menuntut diri untuk serba bisa, cekatan, kuat, dan sabar seperti yang sering saya saksikan di linimasa media sosial. Inilah yang pada akhirnya menimbulkan kekhawatiran hingga berujung munculnya mimpi buruk. Padahal ada pasangan untuk melakukan peran itu secara proporsional dan menghayatinya secara positif.
Menutup aktivitas membaca buku di hari itu saya membolak balik kembali Aku, Meps, dan Beps karya Reda Gaudiamo. Menarik dan lucu sekali membaca tulisan Soca tentang kelebihan dan kekurangan kedua orang tuanya. Mepsnya adalah orang yang suka marah-marah, tidak sabaran, dan pelupa. Akan tetapi di balik itu, ia adalah Meps yang suka senyum, bercanda, bercerita, dan pandai bernyanyi. Begitu pula dengan ayahnya yang suka bangun kesiangan dan lamban, tetapi ia sabar, pandai mencuci, dan menjahit.
Seketika saya teringat ibu saya. Beliau bukanlah sosok ibu yang sempurna. Akan tetapi kekurangannya tidak mengurangi rasa hormat dan kagum saya padanya. Kiranya, membaca ulang dan berujung refleksi diri seperti ini pada akhirnya terasa menenangkan. Saya merasa bahwa menjadi orang tua yang sempurna agaknya mustahil dan tidak perlu dipaksakan hingga menuntut diri tanpa cela. Hal itu merupakan proses seumur hidup dan yang perlu diusahakan ialah kelak meninggalkan kenangan baik untuk anak-anak.
Discussion about this post