Kamis, 05/3/26 | 19:48 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Penggunaan Modalitas dalam Teks atau Wacana

Minggu, 10/3/24 | 10:44 WIB
Oleh: Elly Delfia (Dosen Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

Pada klinik bahasa edisi ini, kita akan membicarakan konsep modalitas sebagai salah satu konsep yang berasal dari pemikiran Halliday. Modalitas merupakan bagian yang menunjukkan fungsi interpersonal yang ada dalam sebuah teks atau wacana. Modalitas memperlihatkan realitas sosial yang menunjukkan interaksi antara penutur atau penulis dan pendengar atau pembaca (Wiratno, 2018). Abdul Chaer (1994) menyebut modalitas sebagai keterangan yang menyatakan sikap penulis atau pembicara terhadap topik yang dibicarakan, seperti perbuatan, keadaan, peristiwa, dan sikap terhadap lawan bicara.

Modalitas menggambarkan sudut pandang penutur tentang proposisi (kalimat-kalimat pernyataan). Modalitas dapat bersifat subjektif dan juga dapat bersifat objektif (Saragih, 2001). Modalitas subjektif menunjukkan pendapat atau pertimbangan pribadi terhadap pengalaman yang disampaikan pemakai bahasa, sedangkan modalitas yang bersifat objektif menunjukkan keharusan/kehendak.

Modalitas terbagi atas dua, yaitu modalisasi dan modulasi. Modalisasi adalah pernyataan atau proposisi yang berkaitan dengan kemungkinan dan keseringan dan modulasi adalah pernyataan atau proposisi yang berkaitan dengan kewajiban, keharusan, dan kehendak dengan nilai derajat tinggi, sedang, dan rendah (Halliday dan Matthiessen, 2004). Modalitas diungkapkan dalam klausa mental sehingga seakan-akan membentuk tambahan sebuah proposisi atau pengalaman mental yang baru. Dalam pernyataan “Saya menduga”, informasi sebenarnya yang dipertanyakan adalah buruh akan berdemo kembali. Klausa “Saya menduga” tidak merepresentasikan pembicara dalam sebuah proses berbahasa namun perspektif penutur pada proposisi (Halliday dan Matthiessen, 2004). Seperti yang sudah dijelaskan di atas, modalitas terdiri atas dua tipe, yaitu modalisasi (modalization) dan modulasi (modulation).

A. Modalisasi

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB
Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Modalisasi berkaitan dengan penggunaan kata-kata yang mengandung makna indikatif atau kemungkinan (probabilty), seperti kata pasti, mungkin, makin/semakin, tentu, barangkali, boleh jadi, sekiranya, kadang-kadang, dan biasanya.

  1. Kita menyadari bahwa semua usaha yang dilakukan pasti ada kekurangannya.
  2. Ibu mungkin terlambat pulang ke rumah hari ini.
  3. Dia semakin menyadari kekurangannya selama ini.
  4. Dara tentu merasa gamang dengan masa depan yang tanpa kepastian. (keadaan)
  5. Barangkali, proyek IKN sebelumnya kurang meyakinkan sehingga mendapat penolakan dari beberapa kalangan.
  6. Sesuatu yang pemimpin pikirkan bagus boleh jadi tidak sesuai dengan harapan masyarakat.
  7. Sekiranya kamu lebih giat belajar sejak dahulu, boleh jadi nasibmu sekarang lebih baik.
  8. Mahasiswa kadang-kadang lupa dengan tanggung jawab intelektualnya sebagai generasi muda penerus bangsa.
  9. Sebelum memasuki bulan Ramadan, masyarakat di daerah saya biasanya mengikuti tradisi mandi balimau.

Contoh-contoh di atas merupakan penerapan modalisasi dalam bentuk kalimat. Modalisasi juga dapat kita temukan dalam teks-teks yang berbentuk opini atau argumentasi atau pendapat seseorang terhadap sebuah persoalan.

 B. Modulasi

Modulasi berkaitan dengan penggunaan kata-kata yang menunjukkan makna keharusan/obligasi (obligation) dan inklisi/keinginan (inclination) (Halliday dan Matthiessen, 2004). Modulasi ditandai dengan penggunaan kata-kata perlu, diperlukan, butuh, harus, mengharuskan, hendak, mengendaki, dihendaki, dan memerintahkan. Ciri-ciri obligasi dan inklinasi terdapat teks-teks peraturan perundang-undangan yang isinya bersifat perintah atau memerintahkan.

Contoh-contoh kalimat yang mengandung modulasi dapat dilihat sebagai berikut:

  1. Pemerintah daerah perlu membenahi fasilitas yang rusak di daerahnya.
  2. Bimbingan konseling diperlukan untuk siswa-siswa yang bermasalah secara mental.
  3. Jalan-jalan yang rusak parah butuh penangan sesegera mungkin agar tidak menyebabkan kecelakaan.
  4. Masyarakat harus melaksanakan gotong-royong agar lingkungannya tetap bersih.
  5. Peraturan daerah ini mengharuskan setiap individu yang ada dalam masyarakat Nagari untuk melaksanakannya.
  6. Semua orang hendaknya mencermati semua peraturan yang ada sebelum menandatangani sebuah surat perjanjian.
  7. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini.

Kalimat-kalimat yang mengandung pernyataan modulasi dapat kita lihat dalam teks-teks yang bersifat objektif dan memberikan informasi kepastian, seperti dalam teks peraturan-peraturan perundangan-undangan, dalam surat kontrak kerja, dan dalam dialog-dialog yang terdapat dalam berbagai kasus persidangan di pengadilan. Orasi-orasi para politikus pada saat kampanye, baik pada pemilihan presiden, pemilihan anggota legislatif, dan pemilihan kepala daerah juga menggunakan kalimat-kalimat pernyataan atau proposisi dalam bentuk modulasi.

Tujuan penggunaan modalitas yang terbagi atas modalisasi dan modulasi dalam sebuah teks atau wacana adalah untuk mengungkapkan persentasi atau derajat makna dari rendah, sedang hingga, tinggi. Kata kadang-kadang merupakan contoh modalisasi yang memiliki derajat makna rendah, kata-kata semakin/makin adalah modalisasi yang memiliki derajat makna sedang/menengah, dan kata harus, hendak, adalah modulasi yang memiliki derajat makna tinggi. Analisis modalitas dapat diterapkan dalam menganalisis teks-teks yang mengandung contoh-contoh yang telah diuraikan di atas.

Demikian ulasan sederhana tentang modalitas yang terdiri atas modalisasi dan modulasi yang dapat digunakan dalam analisis teks atau wacana. Semoga mencerahkan.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Wisuda Magister, Sutan Riska Tuanku Kerajaan Dapat Gelar MAP

Berita Sesudah

Puisi-puisi Eza Safitri dan Ulasannya Oleh Ragdi F Daye

Berita Terkait

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Di laman Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa minggu terakhir dunia digital dihebohkan oleh...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Berbelanja merupakan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Suatu sore, adik perempuan saya mendatangi saya dan berkata “Uni sudah...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Eza Safitri dan Ulasannya Oleh Ragdi F Daye

Puisi-puisi Eza Safitri dan Ulasannya Oleh Ragdi F Daye

Discussion about this post

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hiperbola dalam Cerpen “Gubrak!” Seno Gumira Ajidarma

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024