Sabtu, 17/1/26 | 05:09 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Optimalisasi Norma dalam Kelompok

Minggu, 21/5/23 | 09:36 WIB

Oleh: Riza Andesca Putra
(Dosen Departemen Pembangunan dan Bisnis Peternakan Unand &  Mahasiswa Program Doktor Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan UGM)

Di dalam kehidupan berkelompok, lumrah sekali ditemukan perselisihan antar anggota. Hal ini tidak dapat dihindari karena masing-masing individu yang ada memiliki latar belakang dan kepentingan yang berbeda sehingga tingkah laku mereka dalam kelompok pun berbeda. Tak jarang perselisihan tersebut berubah menjadi konflik dan mengganggu proses pencapaian tujuan kelompok.

Melihat kondisi itu, kelompok mesti memiliki cara yang ampuh untuk mengendalikan tingkah laku anggotanya. Salah satu cara terkuat dan paling meresap adalah melalui norma-norma. Norma merupakan aturan perilaku dan cara bertindak yang diharapkan serta telah diterima sebagai hal yang sah oleh anggota di dalam kelompok (Umstot, 1987). Dengan kata lain, norma berperan sebagai pedoman anggota dalam beraktivitas di kelompok. Burhan (2019) dalam bukunya menyampaikan, fungsi norma adalah mengatur tingkah laku masyarakat, menciptakan ketertiban serta keadilan, membantu mencapai tujuan bersama, serta menjadi dasar pemberian sanksi.

Menurut para ahli, terdapat beragam jenis norma. Namun, dari sisi bentuknya, norma dapat dibedakan ke dalam dua bentuk, yaitu norma formal dan informal. Norma formal adalah aturan atau standar perilaku yang ditetapkan secara resmi dan jelas oleh otoritas atau lembaga tertentu dalam kelompok. Norma formal biasanya tertulis dan dapat berupa peraturan, kebijakan, atau prosedur yang mengatur berbagai aspek kehidupan kelompok, seperti tugas, tanggung jawab, hak, dan kewajiban anggota. Norma formal seringkali dijelaskan dalam bentuk dokumen resmi, seperti peraturan kerja, konstitusi organisasi atau anggaran dasar/ anggaran rumah tangga hingga keputusan kelompok. Norma formal biasanya memiliki sanksi yang jelas jika dilanggar, seperti teguran, denda, atau sanksi disiplin.

BACAJUGA

Runtuhnya Kandang Open House Ayam Broiler

Gonta-ganti Kementerian: Tantangan Menghadapi Transisi

Minggu, 20/10/24 | 06:49 WIB
Runtuhnya Kandang Open House Ayam Broiler

Kunci Sukses Beternak Ayam Broiler dengan Sistem Closed House

Minggu, 29/9/24 | 09:49 WIB

Sementara itu, norma informal adalah aturan atau standar perilaku yang berkembang secara tidak resmi dalam kelompok dan didasarkan pada nilai-nilai, budaya, kebiasaan, atau interaksi antaranggota kelompok. Norma informal sering kali tidak tertulis dan berkembang melalui interaksi sosial, pengamatan, dan imitasi. Norma informal ini  bisa juga dikembangkan secara sengaja oleh kelompok dalam bentuk nilai-nilai kolektif kelompok. Contoh norma informal dalam kelompok seperti kesopanan, cara berkomunikasi, sikap saling menghormati, cara berpakaian atau yang lainnya. Pelanggaran terhadap norma informal biasanya menghasilkan respons sosial seperti cemoohan, pengucilan, atau pemutusan hubungan sosial.

Norma memainkan peran penting dalam mengendalikan tingkah laku anggota dalam kelompok. Keberadaan norma diharapkkan dapat menjadikan aktivitas kelompok berjalan tertib dan mendukung pencapaian tujuan bersama. Namun, semua itu tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak tantangan yang ada. Banyak kelompok yang sudah memiliki norma, tetapi masih belum lancar aktivitas di dalam kelompoknya.

Ada beberapa hal yang mesti menjadi perhatian terkait norma dalam kelompok ini, di antaranya : pertama, norma mesti mengakomodir aktivitas yang ada dalam kelompok. Keberadaan norma, baik formal maupun informal, dapat memberikan panduan terhadap anggotanya dalam berkegiatan di kelompok. Panduan tersebut bisa saja detail namun tidak menutup kemungkinan digambarkan secara umum. Yang pasti adalah tidak ada satu aktivitas pun di dalam kelompok yang tidak mendapatkan arahan dari norma yang tersedia.

Kedua, norma mesti dipahami dan sebaiknya adalah konsensus anggota. Sebagai pelaksana, semua anggota harus tahu dan paham tentang norma yang berlaku di kelompoknya. Norma yang ada sebaiknya lahir dari proses interaksi dan diskusi anggota di dalam kelompok, supaya lebih merasuk ke diri masing-masing anggota. Dengan demikian para anggota merasa memiliki dan melaksanakan dengan rela sekaligus merasakan kebermanfaatan dari norma tersebut.

Ketiga, norma mesti jelas dan realistis. Sebagai panduan dalam aktivitas, bahasa yang digunakan dalam norma haruslah mudah dipahami semua anggota sehingga anggota dapat dengan mudah menginternalisasikan ke dalam tingkah lakunya di kelompok. Norma-norma yang rumit atau menggunakan istilah yang tidak umum dapat menyebabkan kebingungan dan kesalahpahaman. Selain itu, norma juga haruslah realistis dan dapat dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang ada dalam kelompok. Norma yang terlalu idealistik atau tidak sesuai dengan situasi aktual dapat menghambat pencapaian tujuan kelompok.

Keempat, norma mesti ditegakkan. Keberadaan norma menjadi salah satu kunci keberhasilan kelompok. Namun pelaksanaan dan komitmen menegakkan norma tersebut menjadi lebih penting. Komitmen mesti berasal dari semua unsur yang ada dalam kelompok. Jika ada anggota yang melanggar, mesti diberikan sanksi yang sesuai. Penegakkan norma dalam kelompok ini juga harus dilakukan secara adil tanpa tebang pilih.

Minimal empat hal di atas perlu dilakukan kelompok terkait norma. Jika tidak dilakukan, norma hanya menjadi pajangan dan tidak berpengaruh apa-apa terhadap keberlangsungan kelompok. Malah pada beberapa situasi, keberadaan norma dapat menjadi penghambat aktivitas dalam kelompok. Dengan memperhatikan dan mengupayakan realisasi empat hal di atas, keberadaan norma dalam kelompok dapat optimal. Dengan demikian, kelompok dapat berjalan tertib dan harmonissehingga proses mencapai tujuan bersama dilakukan dengan lebih baik.


*Artikel ini merupakan bagian keempat dari beberapa bagian lainnya tentang Sukses Mengelola Kelompok.

Tags: #kelompok#Riza Andesca Putra
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-Puisi Linda Tanjung dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Berita Sesudah

Hati-Hati dengan Netizen Indonesia

Berita Terkait

Jejak Peranakan Tionghoa dalam Sastra Indonesia

Dinamika Masyarakat dalam Tradisi Basapa

Minggu, 04/1/26 | 22:15 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Setiap bulan Safar dalam kalender Hijriah, Ulakan di Pariaman,...

Perubahan Makna Cerita Rakyat di Era Digital

Gambaran Berlin Era 1920-an pada Roman Emil und die Detektive

Minggu, 04/1/26 | 22:05 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Latar tempat merupakan salah satu unsur...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Minggu, 04/1/26 | 21:31 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen di Program Studi Sastra Jerman, Universitas Padjadjaran)   Karya sastra merupakan salah satu bentuk karya seni...

Menggali Citra Feminisme dalam Fotografi di Instagram @darwistriadiartgallery

Menggali Citra Feminisme dalam Fotografi di Instagram @darwistriadiartgallery

Minggu, 28/12/25 | 20:13 WIB

Oleh: Aldrizi Salsabila 1; Ike Revita 2; Fajri Usman 3; Sawirman 4 (Mahasiswa dan Dosen Program Studi Magister Linguistik, Fakultas...

Belenggu Perempuan pada Cerpen “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” Kritik Feminis

Belenggu Perempuan pada Cerpen “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” Kritik Feminis

Minggu, 28/12/25 | 19:58 WIB

Oleh: Fatin Fashahah (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)    Semua pekerjaan yang tiada habisnya itu akan...

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Persebaran Surau di Sekitar Makam Syekh Burhanuddin

Minggu, 21/12/25 | 10:40 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Hati-Hati dengan Netizen Indonesia

Discussion about this post

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran, mengusulkan sejumlah proyek pelestarian lingkungan bagi Kota Padang dalam skema kerja sama bilateral Indonesia-Jerman di tahun 2026.(Foto:Ist)

    Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda PDAM Kota Padang Membingungkan, Tagihan Sampah Dipungut Meski Tak Diangkut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Dukung Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sesuai Arahan Pemerintah Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024