Rabu, 17/6/26 | 10:31 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Fatherless dan Bare Minimum Family Man

Minggu, 05/3/23 | 11:20 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

Indonesia dikabarkan menempati posisi ketiga sebagai Fatherless Country di dunia. Wah, prestasi apa pula ini? Apa itu Fatherless Country?

Fatherless mengacu pada ayah yang tidak hadir dalam kehidupan anak, baik secara fisik maupun psikologis. Dalam proses tumbuh kembang anak, ayah tidak hadir secara maksimal dalam pengasuhan. Kalau begini ceritanya, bagaimana dengan keluarga broken home atau ayah yang memang sudah tiada dalam keluarga?

Penyebab Indonesia menyandang predikat Fatherless Country ketiga di dunia bukanlah mengacu pada dua hal di atas. Predikat tersebut didasarkan pada pembagian porsi peran pengasuhan antara ibu dan ayah dalam keluarga.

BACAJUGA

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB
Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salah satu penyebab terjadinya hal itu ialah peran gender yang tidak berimbang antara ayah dan ibu. Ibu diposisikan sebagai penanggung jawab utama untuk pengasuhan dan peran domestik lainnya, sedangkan ayah diposisikan sebagai penanggung jawab utama nafkah belaka.

Seorang ayah yang telah mencari nafkah adakalanya merasa tidak perlu repot-repot ikut terjaga di tengah malam ketika anak menangis. Seorang ayah yang telah mencari nafkah adakalanya merasa tidak perlu ikut memerhatikan kebutuhan lahir batin anak karena hal itu telah diatur oleh ibu.

Padahal, peran ayah dan ibu kelak menjadi cikal-bakal perkembangan kondisi mental anak di masa dewasa. Selain kondisi mental, keterlibatan pengasuhan yang tidak seimbang juga berdampak terhadap cara anak menjalani relasi dengan pasangannya di kala dewasa.

Sebagai seorang psikolog, Ester Lianawati menyebut adanya masa phallic pada pertumbuhan anak. Di masa ini dikatakan olehnya peran ayah sangat penting, terutama bagi anak perempuan.

Peran ayah di masa phallic ialah menjadi pelindung bagi anak sekaligus membantu menegaskan identitas femininnya. Selain itu, kehadiran ayah juga dapat mendukung upaya emansipasi pertama anak perempuan ketika berkonflik dengan ibu.

Sebagai Fatherless Country peringkat tiga sedunia, tidak mengherankan pula sebutan family man turut hadir dengan mudahnya di negara ini. Tindakan seperti ikut serta memandikan bayi, mengganti popok, atau sekadar bermain dengan anak dapat membuat seorang ayah dikatakan sebagai family man. Padahal tindakan-tindakan tersebut memang sudah seharusnya dilakukan oleh seorang lelaki yang memutuskan untuk menjadi ayah.

Sebagai Fatherless Country, tidak mengherankan pula bila seseorang bisa begitu bersyukur ketika mendapati pasangan yang ikut serta mengurusi bayi di masa-masa kelahiran untuk pertama kalinya sebab memang rupanya hal itu masih tergolong langka di negara ini.

Sebagai Fatherless Country, standar family man di negara ini juga dapat dikatakan bare minimum. Sebab, sesuatu yang ‘sudah seharusnya’ mendapat penghargaan luar biasa dan terasa istimewa dikarenakan kelangkaannya.

Keterlibatan ayah dalam mengurus dan mengasuh anak jadi tampak asing dan dianggap ‘wah’. Sebab, sebagian orang tidak terbiasa mengalami atau berjumpa dengannya. Family man bukanlah predikat yang harus diberikan, tetapi memang predikat yang harus disandang setiap lelaki yang memutuskan menikah dan memiliki anak.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pola Kalimat Bahasa Indonesia: SPO, Bukan SVO

Berita Sesudah

Di Bawah Payung-payung Raksasa Masjid Nabawi

Berita Terkait

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa waktu terakhir, saya sering memandangi tumpukan buku yang belum selesai dibaca. Sebagian sudah...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada banyak benda kecil yang sering diremehkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengisi daya, atau...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Coretan di Pinggir Halaman

Minggu, 10/5/26 | 20:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Perkembangan teknologi informasi membuat banyak aktivitas akademik menjadi lebih praktis. Laptop, tablet, dan berbagai...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Dari Niat ke Langkah Pagi

Minggu, 03/5/26 | 18:17 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Pagi bagi saya bukan ajakan yang mudah untuk segera bergerak, tetapi selalu memberi kesempatan...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Berita Sesudah

Di Bawah Payung-payung Raksasa Masjid Nabawi

Discussion about this post

POPULER

  • PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Pendokumentasian” dan Cultural Tourism

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aplikasi Sepakat Inovasi Pemprov Sumbar Tingkatkan Layanan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Pintar, Cerdas, Pandai, Cakap, Cerdik, dan Mahir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026