Senin, 06/4/26 | 06:05 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Fatherless dan Bare Minimum Family Man

Minggu, 05/3/23 | 11:20 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

Indonesia dikabarkan menempati posisi ketiga sebagai Fatherless Country di dunia. Wah, prestasi apa pula ini? Apa itu Fatherless Country?

Fatherless mengacu pada ayah yang tidak hadir dalam kehidupan anak, baik secara fisik maupun psikologis. Dalam proses tumbuh kembang anak, ayah tidak hadir secara maksimal dalam pengasuhan. Kalau begini ceritanya, bagaimana dengan keluarga broken home atau ayah yang memang sudah tiada dalam keluarga?

Penyebab Indonesia menyandang predikat Fatherless Country ketiga di dunia bukanlah mengacu pada dua hal di atas. Predikat tersebut didasarkan pada pembagian porsi peran pengasuhan antara ibu dan ayah dalam keluarga.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Salah satu penyebab terjadinya hal itu ialah peran gender yang tidak berimbang antara ayah dan ibu. Ibu diposisikan sebagai penanggung jawab utama untuk pengasuhan dan peran domestik lainnya, sedangkan ayah diposisikan sebagai penanggung jawab utama nafkah belaka.

Seorang ayah yang telah mencari nafkah adakalanya merasa tidak perlu repot-repot ikut terjaga di tengah malam ketika anak menangis. Seorang ayah yang telah mencari nafkah adakalanya merasa tidak perlu ikut memerhatikan kebutuhan lahir batin anak karena hal itu telah diatur oleh ibu.

Padahal, peran ayah dan ibu kelak menjadi cikal-bakal perkembangan kondisi mental anak di masa dewasa. Selain kondisi mental, keterlibatan pengasuhan yang tidak seimbang juga berdampak terhadap cara anak menjalani relasi dengan pasangannya di kala dewasa.

Sebagai seorang psikolog, Ester Lianawati menyebut adanya masa phallic pada pertumbuhan anak. Di masa ini dikatakan olehnya peran ayah sangat penting, terutama bagi anak perempuan.

Peran ayah di masa phallic ialah menjadi pelindung bagi anak sekaligus membantu menegaskan identitas femininnya. Selain itu, kehadiran ayah juga dapat mendukung upaya emansipasi pertama anak perempuan ketika berkonflik dengan ibu.

Sebagai Fatherless Country peringkat tiga sedunia, tidak mengherankan pula sebutan family man turut hadir dengan mudahnya di negara ini. Tindakan seperti ikut serta memandikan bayi, mengganti popok, atau sekadar bermain dengan anak dapat membuat seorang ayah dikatakan sebagai family man. Padahal tindakan-tindakan tersebut memang sudah seharusnya dilakukan oleh seorang lelaki yang memutuskan untuk menjadi ayah.

Sebagai Fatherless Country, tidak mengherankan pula bila seseorang bisa begitu bersyukur ketika mendapati pasangan yang ikut serta mengurusi bayi di masa-masa kelahiran untuk pertama kalinya sebab memang rupanya hal itu masih tergolong langka di negara ini.

Sebagai Fatherless Country, standar family man di negara ini juga dapat dikatakan bare minimum. Sebab, sesuatu yang ‘sudah seharusnya’ mendapat penghargaan luar biasa dan terasa istimewa dikarenakan kelangkaannya.

Keterlibatan ayah dalam mengurus dan mengasuh anak jadi tampak asing dan dianggap ‘wah’. Sebab, sebagian orang tidak terbiasa mengalami atau berjumpa dengannya. Family man bukanlah predikat yang harus diberikan, tetapi memang predikat yang harus disandang setiap lelaki yang memutuskan menikah dan memiliki anak.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pola Kalimat Bahasa Indonesia: SPO, Bukan SVO

Berita Sesudah

Di Bawah Payung-payung Raksasa Masjid Nabawi

Berita Terkait

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Berita Sesudah

Di Bawah Payung-payung Raksasa Masjid Nabawi

Discussion about this post

POPULER

  • PSP Padang berhasil menjadi juara Liga 4 Sumatera Barat usai berhasil mengalahkan PSPP Padang Panjang 3-2 melalui pertandingan yang dramatis, Kamis ( 2/4/26), di Stadion Utama Sumatera Barat, Padang Pariaman.

    Wali Kota Padang Apresiasi PSP Padang Juara Liga 4 Sumatera Barat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Konfigurasi Makna Leksikal dan Kontekstual Kata “Siap” dalam Kajian Semantik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diduga Akhiri Hidup, Pemuda di Dharmasraya Tewas Tergantung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Longsor di Nagari Banai Dharmasraya, Transportasi Menuju Tiga Nagari Putus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Curi Barang Pemudik Rp15 Juta, Pria di Pulau Punjung Diciduk Tim Nan Dareh

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026