Sabtu, 24/1/26 | 04:14 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Perbedaan Kata Petunjuk Arah di Kota Padang dan Yogyakarta

Minggu, 07/11/21 | 08:42 WIB
Oleh: Elly Delfia, S.S., M.Hum. (Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

Kata petunjuk arah (giving direction) juga merupakan salah satu jenis kata yang digunakan dalam bahasa Indonesia. Kata ini dalam bahasa Indonesia direalisasikan dalam bentuk kata benda abstrak, frase preposisi, dan frase adverbia. Contoh kata benda abstrak yang menunjukkan arah adalah kanan, kiri, atas, bawah, depan, dan belakang. Contoh frase preposisi yang menunjukkan arah adalah di depan, di belakang, di atas, di bawah, di sebelah kiri, dan di sebelah kanan. Selain itu, juga ada contoh kata benda abstrak petunjuk arah yang menggunakan mata angin, seperti utara, selatan, timur, barat, dan tenggara serta ada frase berjenis kata keterangan (frase adverbia) yang menggunakan arah mata angin sebagai petunjuk arah, seperti barat laut, timur laut, sebelah selatan, sebelah barat, di bagian timur, dan lain-lain.

Kata petunjuk arah merupakan kata yang digunakan untuk menunjukan lokasi atau posisi tempat tertentu. Masing-masing daerah mempunyai cara dan kebiasaan yang berbeda dalam menggunakan kata petunjuk arah. Setiap tempat yang pernah saya kunjungi menggunakan kata petunjuk arah yang berbeda untuk menunjukkan arah atau lokasi tertentu, seperti Korea Selatan lebih sering menggunakan kata petunjuk arah kiri, kanan, depan, belakang, atas, dan bawah dalam menjelaskan arah atau lokasi tertentu. Klinik bahasa edisi ini akan membahas kata petunjuk arah (giving direction) yang biasa digunakan di Kota Padang dan Yogyakarta. Kota Padang lebih sering menggunakan kata kiri, kanan, depan, belakang, atas, dan bawah disertai dengan penyebutan nama jalan-jalan utama dan nama gedung sebagai patokan, seperti contoh di bawah ini.

  1. Kantor gubernur Sumbar terletak di kanan Gedung Polda Sumbar jika menghadap ke arah Jalan Sudirman.
  2. Kampus Univeritas Andalas berada di atas bukit Limau Manis.
  3. Kampus Universitas Negeri Padang terletak di Jalan Prof. Dr. Muhammad Hamka dan berada sebelah kiri jika dari arah Pasar Raya.
  4. Ruang Terbuka Hijau Imam Bonjol terletak di depan Polresta Kota Padang.
  5. Rumah Makan Lamun Ombak terletak di sebelah kanan kantor pos jika menghadap ke arah Jalan Khatib Sulaiman.

Akan tetapi, kata petunjuk arah seperti di Kota Padang tidak biasa digunakan di Yogyakarta. Masyarakat Yogyakarta menggunakan kata petunjuk arah yang berbeda dalam menunjukkan arah atau lokasi tertentu. Mereka tidak menyebutkan nama jalan ataupun arah kiri, kanan, muka, belakang, atas, dan bawah namun lebih, tetapi menggunakan arah mata angin sebagai petunjuk arah, seperti utara, selatan, timur, barat, dan tenggara disertai dengan menyebutkan nama tempat atau lokasi tertentu sebagai patokan, seperti contoh di bawah ini.

  1. Kampus UNY terletak di sebelah timur kampus UGM.
  2. Rumah Sakit Sardjito berada di sebelah barat Fakultas Kedokteran UGM.
  3. Mirota Kampus terletak di selatan gedung KFC.
  4. Rumah Sakit Panti Rapih terletak di tenggara bundaran UGM.
  5. Jalan Malioboro terletak di sebelah selatan Stasiun Tugu.

Kata petunjuk arah seperti yang digunakan di Yogyakarta jarang sekali, bahkan hampir tidak digunakan oleh orang-orang di Kota Padang yang lebih cenderung menggunakan kata kiri, kanan, depan, belakang, atas, dan bawah yang dibantu dengan menyebutkan nama jalan untuk menunjukkan arah tempat atau lokasi. Selain itu,  juga digunakan dengan kata petunjuk arah dalam bahasa Minangkabau, seperti ilia (hilir), mudiak (hulu), lauik (laut), dan darek (daratan).

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB
Struktur Kalimat Peraturan Perundang-undangan

Problematika Penulisan Kata Majemuk

Minggu, 28/12/25 | 23:00 WIB

Kedua petunjuk arah di atas masing-masingnya mempunyai kelemahan. Petunjuk arah kiri, kanan, depan, belakang, atas, dan bawah, dapat menimbulkan kebingungan jika tidak mengenal lokasi jalan atau gedung yang dijadikan patokan dengan baik. Demikian juga petunjuk arah yang menggunakan mata angin seperti yang digunakan di Yogyakarta. Petunjuk arah mata angin ini juga dapat menimbulkan kebingungan kalau tidak terbiasa memperhatikan arah mata angin dan tidak memperhatikan di mana matahari terbit dan terbenam.

Namun, satu pelajaran penting dapat ditarik dari penggunaan kata petunjuk arah kedua tempat di atas, yaitu pilihan kata-kata petunjuk arah mencerminkan kearifan lokal dan kebijaksanaan masyarakat pada masing-masing daerah. Masyarakat Yogyakarta lebih dekat dengan alam karena menggunakan arah mata angin dalam memberikan petunjuk arah. Alam yang memberikan kenyamanan dan ketenangan menjadi penting bagi masyarakatnya sesuai dengan slogan Kota Yogyakarta, yaitu Yogyakarta Berhati Nyaman. Selain itu, penggunaan kata petunjuk arah ini juga berkaitan dengan konsep pembangunan Kota Yogyakarta yang ditata membujur dari utara ke selatan berdasarkan poros imajiner dengan keraton sebagai titik tengahnya dan jalan-jalan yang mengarah ke penjuru mata angin serta berpotongan tegak lurus (pariwisita.jogya.go.id). Gunung Merapi juga menjadi patokan sebagai penunjuk arah utara dan Pantai Parangtritis sebagai penunjuk arah selatan di Kota Yogakarta.

Hal yang berbeda berlaku pada masyarakat Kota Padang yang terkesan lebih dekat dengan sosok tokoh dan pahlawan karena nama-nama tokoh dan pahlawan nasional yang digunakan sebagai nama jalan juga digunakan sebagai petunjuk arah. Secara tidak langsung, penggunaan kata petunjuk arah tersebut mengingatkan masyarakat Kota Padang pada semangat dan perjuangan tokoh-tokoh dan pahlawan semasa hidupnya. Kecintaan pada tokoh-tokoh tersebut tertanam dalam alam bawah sadar yang terus diulang ketika memberikan petunjuk arah. Kecintaan itu juga tercermin pada slogan Kota Padang yang dikenal sebagai Padang Kota Tercinta. Demikian perbedaan kata petunjuk arah di Kota Padang dan Yogyakarta. Semoga bermanfaat.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Ria Febrina

Berita Sesudah

Cerpen “Tabir Malam di Pondok Santri” Karya Fitria Sartika dan Ulasannya oleh Medi Adioska

Berita Terkait

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Suatu sore, adik perempuan saya mendatangi saya dan berkata “Uni sudah...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Minggu, 11/1/26 | 09:57 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Tiba-tiba warganet Indonesia heboh...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Onde-Onde dan Klepon: Perbedaan Budaya, Perbedaan Nama

Minggu, 11/1/26 | 09:39 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Tidak...

Dari Sawah ke Timeline: Kisah Kata “Ani-ani” yang Berubah Arti

Dari Sawah ke Timeline: Kisah Kata “Ani-ani” yang Berubah Arti

Minggu, 04/1/26 | 21:16 WIB

Oleh: Arum Rindu Sekar Kasih (Mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada)    Beberapa waktu lalu, publik dihebohkan dengan...

Struktur Kalimat Peraturan Perundang-undangan

Problematika Penulisan Kata Majemuk

Minggu, 28/12/25 | 23:00 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Kata majemuk atau kompositum sering menjadi problem dalam...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Perbedaan Frasa “Sepatu Baru” dan “Sepatu yang Baru”

Minggu, 21/12/25 | 08:22 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Dari judul...

Berita Sesudah
Cerpen “Tabir Malam di Pondok Santri” Karya Fitria Sartika dan Ulasannya oleh Medi Adioska

Cerpen "Tabir Malam di Pondok Santri" Karya Fitria Sartika dan Ulasannya oleh Medi Adioska

Discussion about this post

POPULER

  • Ketua DPW PKB Sumbar, Firdaus.[foto : ist]

    Firdaus Kembali Pimpin PKB Sumbar, Optimis Bawa PKB Capai Puncak pada Pemilu Mendatang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPP PKB Tetapkan Kepengurusan DPW PKB Sumbar Periode 2026–2031

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Personifikasi dalam Puisi “Lukisan Berwarna” Karya Joko Pinurbo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Istilah Urutan Waktu dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • HI UNAND dan Muhammadiyah Sumbar Bahas ABS-SBK dan Global Values

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024