Rabu, 11/3/26 | 13:49 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Kalimat “Mohon Maaf kalau Ada Salah”

Minggu, 14/6/20 | 07:25 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari

 

Penulis adalah Dosen Sastra Indonesia Unand dan Dosen Tamu di Busan University of Foreign Studies

Bulan suci Ramadan dan Idulfitri yang baru saja berlalu menjadi momen yang sangat dinantikan bagi seluruh umat muslim di dunia. Bulan Ramadan dan Hari Raya Idulfitri selalu disambut dengan penuh sukacita dan dengan perasaan yang bahagia. Perasaan bahagia itu pun senantiasa selalu diiringi dengan berbagai aktivitas positif, mulai dari membersihkan diri, membersihkan hati, hingga membersihkan rumah. Semuanya dilakukan dengan harapan bisa menyambut dan melewati bulan suci Ramadan dengan perasaan yang tenang dan ikhlas agar bisa kembali fitrah. Kegiatan yang paling lazim dilakukan pada saat itu adalah bersilaturahmi bersama keluarga, kerabat, dan sahabat. Tujuan utama bersilaturahmi adalah bisa saling memaafkan karena akan menjalankan ibadah suci di bulan Ramadan. Permintaan maaf ini dihantarkan kepada keluarga, kerabat, rekan, dan teman secara bergantian dengan harapan bisa melewati bulan puasa dengan hati yang bersih. Maka, banyak umat muslim kemudian saling berinteraksi dan berkomunikasi untuk berucap maaf terhadap kesalahan yang pernah dilakukan.

Momen bersilaturahmi dan memohon maaf menjelang Ramadan ini bukan sesuatu yang baru bagi umat muslim, terutama di Indonesia. Permintaan maaf bisa dilakukan secara formal maupun nonformal, biasa dilakukan dari individu ke individu lain secara pribadi maupun disiarkan secara massal di dalam berbagai aplikasi grup komunikasi. Bahkan, sudah muncul pula dalam berbagai bentuk kreativitas, seperti menggunakan gambar, pantun, puisi, video, dan sebagainya. Momen permintaan maaf kemudian menjadi rutinitas lumrah dan langganan pada saat-saat seperti ini. Namun, ada beberapa hal yang menjadi menarik perhatian ketika permintaan maaf tersebut diucapkan dengan rakaian bahasa yang indah bahkan puitis. Kerap kali, kita sering berujar, “Mohon maaf jika ada salah” atau “Mohon maaf kalau ada salah”. Sepintas, kalimat ini memang sering didengar dan sudah cukup akrab bagi sebagian besar orang. Akan tetapi, ada hal yang menarik dengan penggunaan kata “kalau” dan “jika”. Pada kesempatan ini, saya hanya mengambil satu contoh kalimat saja, yaitu “Mohon maaf kalau ada salah”. Saya akan fokus pada kata “Kalau”. Kata “Kalau” di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki makna, “1. Kata penghubung untuk menandai syarat; 2. Seandainya; 3. Bagi, adapun; 4. Bahwa”. Keterangan yang ada di dalam KBBI, ketika dimaknai dalam kalimat “Mohon maaf kalau ada salah” maka kalimat itu akan bermakna, meminta maaf “senadainya” ada kesalahan. Kata “Kalau” menjadi hal untuk menandai syarat.

BACAJUGA

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

Minggu, 08/3/26 | 23:23 WIB
Memahami Kembali Imbuhan memper-

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB

Dari pemahaman bahasa tersebut, saya beralih ke pemahaman religi bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap manusia tentu saja memiliki kesalahan (disadari atau tidak disadari; disengaja atau tidak disengaja). Oleh sebab itu, sebagai umat muslim yang menyadari bahwa kita sebagai manusia tentu memiliki keselahan, penggunaan kata “kalau” menjadikan kesadaran itu berada pada pemahaman yang berbeda. Sebab kita tidak akan bisa memastikan bahwa kita tidak pernah berbuat salah. Akan tetapi, yang paling pasti dari dalam diri manusia, setiap manusia pernah melakukan kesalahan sekecil apa pun. Ketika memohon maaf, kita tidak perlu menggunakan kata “kalau” karena berbuat salah bukan dalam tataran “seandainya” sehingga permintaan maaf berlaku sebagai “syarat jika memang ada”.  Sebagai opsi lain, kita bisa menggunakan kata, “Mohon maaf atas kesalahan saya”, “Maafkan segala kesalahan saya”, “Maafkan saya”, tanpa perlu berandai-andai karena tidak ada manusia yang sempurna, yang tidak pernah berbuat salah. Sebuah kesalahan adalah hal yang lumrah terjadi dalam setiap pergaulan manusia. Oleh sebab itu, sebagai manusia yang sadar atas ketidaksempurnaan ini, kita perlu menyadari bahwa tidak mungkin tidak pernah melakukan kesalahan. Kita tidak memerlukan kata “kalau” untuk meminta maaf. Terlebih, permintaan maaf yang dihantarkan dengan kerendahan hati. Semoga kita semua bisa saling memaafkan.

 

ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Eco Enzyme, Pemanfaatan Sampah Produktif

Berita Sesudah

Asal Mula dan Perkembangan Kata Kuliner

Berita Terkait

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

Minggu, 08/3/26 | 23:23 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan Prodi S2 & S3 Linguistik Universitas Andalas) Orang Minangkabau...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Di laman Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa minggu terakhir dunia digital dihebohkan oleh...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Berbelanja merupakan...

Berita Sesudah

Asal Mula dan Perkembangan Kata Kuliner

Discussion about this post

POPULER

  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKDP Sumbar Perkuat Silaturahmi Perantau Pariaman Lewat Buka Puasa Bersama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Bakal Menggelar Lomba Kebersihan Tingkat RT se Kota Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Buka Bersama Sahabat Mulia Madani Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analogi dan Lokalitas Lagu “Rindu Tebal” Karya Iwan Fals

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harimau vs Singa, Siapa yang Lebih Kuat? Ini Fakta Sains dan Kasus Nyatanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026