
Dharmasraya, Scientia.id – Ketegangan Sosial antara Suku Anak Dalam (SAD) dengan masyarakat kembali terjadi di Kabupaten Dharmasraya, ketegangan tersebut terjadi Blok D1 Sitiung II Jorong Sungai Bungur, Nagari Padukuan, Kecamatan Koto Salak, Rabu (22/4/2026) sekitar pukul 07.00 WIB.
Tokoh masyarakat Nagari Padukuan, Sugeng, mengatakan konflik bermula saat empat orang SAD mengambil buah durian milik warga bernama Jimel (55) tanpa izin. Pohon durian tersebut berada di areal pekarangan rumah Jimel. Meski telah dilarang, keempat orang SAD tersebut tidak terima dan kembali dengan rombongan ke lokasi. Keributan pun tak terhindarkan di rumah Jimel.
Sugeng menjelaskan, satu orang dari pihak SAD mengalami luka, namun bukan akibat senjata tajam, melainkan terkena pecahan kaca setelah terjadi aksi pengrusakan jendela rumah oleh pihak SAD.
“Buah durian yang sudah dikumpulkan sekitar satu karung ditinggalkan begitu saja karena konflik yang terjadi,” ujarnya.
Pasca kejadian, konflik segera difasilitasi oleh Kepala Jorong Sungai Bungur dan pihak kepolisian segera mencari solusi untuk proses perdamaian.
Dalam perundingan tersebut, kata Kepala Jorong Sungai Bungur, Nagari Padukuan, Sunarno, pihak SAD sempat meminta ganti rugi sebanyak 100 juta rupiah, namun, karena pemilik durian merasa keberatan, ganti kemudian dinegosiasikan menjadi 60 juta.
“Setelah sampai pada nilai 60 juta, belum juga ditemukan kesepakatan, dan setelah beradu pendapat dan bersitegang juga, akhirnya disepakati lah 30 juta, karena menurutnya pemilik durian telah melakukan penganiayaan terhadap anak di bawah umur,” terangnya.
Diketahui, kelompok SAD tersebut membuka pemukiman di area kebun sawit masyarakat yang berada di dua wilayah, yakni Blok D Nagari Padukuan dan Blok C Nagari Ampalu, serta satu lokasi di Padang Tengah I, Nagari Padukuan, Kecamatan Koto Salak.
Senanda, tokoh masyarkat, Ferdi mengatakan atas kejadian ini bahwa ia melihat tingginya potensi konflik sosial dengan melintasnya SAD dari Jambi ke Dharmasraya, apalagi jika SAD yang datang tersebut tidak jelas asal-usulnya. Apakah mereka betul-betul SAD atau bukan, sehingga Sugeng merasa perlunya pendataan terhadap mereka.
“Sebab kejadian seperti ini, sudah sangat seringkali terjadi, bahkan ada yang sampai ingin membacok warga, karena dia ketahun mengambil sawit warga,” sebutnya.
Baca Juga: Audensi ke Kemenag, GP Ansor Dharmasraya Bahas Maraknya Isu LGBT di Sumbar
Untuk itu, Ferdi berharap kepada penegak hukum agar melihat ini sebagai potensi dan ancaman terhadap ketertiban dan keamanan dalam bermasyarakat. Sebab kasus-kasus seperti ini sudah tidak sekali dan dua kali terjadi di Dharmasraya. (tnl)




![Ketua Mabincab PMII Kota Padang, Wendriadi saat membrikan sambutan pada pembukaan Konfercab. Sabtu, (25/4) [foto : sci/yrp]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260425-WA00042-350x250.jpg)



![Wakil Menteri Perindustrin, Faisol Riza didampingi Bupati Pasaman, Welly Suheri saat menguji Balon Ketua DPC PKB Kota Padang, Yusri Latif. Kamis, (23/4) [foto : sci/yrp]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/04/1001101833-75x75.jpg)
