Pasaman Barat, Scientia – Rencana pengembangan hilirisasi sawit di Kawasan Teluk Tapang, Kabupaten Pasaman Barat didukung penuh dengan pembangunan infrastruktur. Pembangunan ruas jalan dan tiga jembatan strategis yang menghubungkan Bunga Tanjung dengan Teluk Tapang menjadi fondasi awal transformasi kawasan ini menjadi simpul industri berbasis sawit. Infrastruktur diposisikan sebagai kunci mobilitas ekonomi di kawasan pelabuhan yang diproyeksikan sebagai pusat hilirisasi.
Untuk pembangunan ruas jalan, pemerintah pusat menggelontorkan anggaran Rp216 miliar sejak 2022 hingga 2025. Dana tersebut difokuskan pada pembangunan ruas Bunga Tanjung–Teluk Tapang guna membuka akses logistik. Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menambah dukungan melalui APBD 2025 sebesar Rp27,76 miliar untuk membangun tiga jembatan penopang konektivitas.
Tiga jembatan itu telah diresmikan Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah pada Jumat (13/2) adalah Jembatan Patibubur sepanjang 30 meter dengan anggaran Rp10,63 miliar, Jembatan Pigogah sepanjang 40 meter senilai Rp9,65 miliar, serta Jembatan Sungai Tarok sepanjang 30 meter dengan anggaran Rp7,48 miliar.
Mahyeldi menyebut pembangunan jalan dan jembatan tidak bisa dipisahkan. “Pembangunan jalan dan jembatan harus saling melengkapi. Dengan selesainya tiga jembatan ini, konektivitas kawasan menjadi lebih utuh,” ujarnya.
Langkah percepatan infrastruktur ini selaras dengan rencana besar Pemprov Sumbar menjadikan Teluk Tapang sebagai kawasan hilirisasi sawit seluas 168 hektare. Pemerintah pusat juga telah mengalokasikan Rp83 miliar APBN melalui Kementerian Perhubungan untuk pengembangan kawasan pelabuhan.
Artinya, total dukungan anggaran yang mengalir ke kawasan ini dalam empat tahun terakhir mendekati Rp330 miliar, mencakup jalan, jembatan, dan pengembangan pelabuhan. Angka itu menunjukkan Teluk Tapang sedang dipersiapkan sebagai proyek strategis baru di pantai barat Sumatera.
Pasaman Barat selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil sawit terbesar di Sumatera Barat. Namun komoditas tersebut sebagian besar masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Hilirisasi diharapkan mengubah pola tersebut, sehingga nilai tambah dinikmati di daerah.
Jika kawasan industri terwujud, produk turunan sawit seperti biodiesel, avtur, hingga oleokimia bisa diproduksi lebih dekat dengan sumber bahan baku. Rantai distribusi dipangkas, biaya logistik ditekan, dan daya saing meningkat.
Meski infrastruktur mulai terbangun, pekerjaan rumah belum selesai. Pemerintah provinsi masih mengupayakan penurunan status kawasan hutan di sekitar Teluk Tapang agar lahan pengembangan memiliki kepastian hukum. Tanpa penyelesaian aspek tata ruang, minat investor berpotensi tertahan.
Sejumlah investor disebut telah menyatakan minat dan bahkan meminta ketersediaan lahan hingga 100 hektare. Namun, realisasi investasi akan sangat bergantung pada kepastian regulasi dan kesiapan kawasan.
Secara ekonomi, pembangunan jalan dan jembatan ini tak hanya menopang proyek hilirisasi, tetapi juga membuka akses distribusi hasil pertanian dan perkebunan masyarakat Air Bangis dan sekitarnya. Bagi pemerintah daerah, infrastruktur menjadi pintu masuk untuk mendorong pertumbuhan ekonomi baru di Pasaman Barat.
Kini, Teluk Tapang berada pada fase krusial, dimana fondasi fisik mulai berdiri, anggaran telah dikucurkan, dan minat investor mulai muncul. Lalu, seberapa cepat fondasi itu bisa ditransformasikan menjadi kawasan industri yang benar-benar beroperasi dan memberi nilai tambah bagi daerah.(yrp)







