Selasa, 13/1/26 | 09:13 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI CERPEN

Cahaya dari Surau Tuo

Minggu, 11/1/26 | 22:10 WIB
Sumber: GeminiAI

Cerpen: Rivana Dwi Puti*

Dari balik buaian terkunci terdengar suara ayam memecah kesunyian panjang, seolah membangunkan seisi surau tuo. Sesaat kemudian, terdengar suara panggilan dari suarau tuo.

“Allahu akbar… Allahu akbar”.

Suara itu memantul, menyebar ke seluruh dinding bukit barisan. Melewati padi dan hamparan sawah yang masih diselimuti oleh embun dingin di pegunungan. Suara itu bukan hanya sekadar panggilan ibadah, tetapi juga tanda hari baru telah dimulai. Decitan pintu terdengar, masyarakat mulai mengayunkan kaki menunaikan panggilan Tuhan. Para lelaki berjalan menuju surau dengan sarung yang dililitkan erat di pinggangnya. Sementara itu, para perempuan berjalan beriringan dengan lampu minyak di tangannya. Memancarkan cahaya kekuningan menggambarkan keindahan subuh seakan mekar dari gelap malam. Terlihat para perempuan meletakkan lampu minyak disekeliling surau. Para jema’ah surau satu-per satu memasuki pintu kayu dengan ukiran khas nuansa islam. Lelaki dengan sorban berdiri paling depan, pertanda salat jama’ah akan segera dimulai.

Usai salam terakhir berkumandang, terdengar suara sahut-menyahut pujian kepada Tuhan. Para jama’ah bangkit perlahan dari tempat duduk mereka. Ada yang membetulkan sarung, merapikan lipatan talakuang dan ada pula yang masih duduk menunduk nyaris tak bersuara. Di saat semua jamaah sudah keluar, terlihat anak perempuan yang masih duduk dalam keheningan. Ia menatap lembaran-lembaran kertas usang yang terbentang di atas meja. Ia duduk bukan untuk bermenung, melainkan untuk membaca sebuah naskah yang baru saja ditemukan oleh seorang Datuk di kampungnya.

BACAJUGA

No Content Available

Setelah setengah jam menatap lembaran-lembaran kertas, terdengar suara langkah kaki memasuki surau. Terlihat laki-laki tua berjenggot tebal dan bersorban berjalan sedikit membungkuk menghampiri anak perempuan itu. Anak perempuan itu bernama Upiak Jaelanun. Namun, masyarakat biasa memanggilnya Upiak Banun. Ia merupakan kembang desa di nagari surau tuo. Dengan kecantikan dan kepintarannya, ia menjadi buah bibir di seluruh nagari. Ia juga murid kesayangan dari Buya Karim yang merupakan Datuk, penjaga surau, dan sekaligus guru yang paling dihormati di Nagari Suarau Tuo.

“Tugasmu bukan cuma menatap atau bermenung dengan lembaran-lembaran naskah di atas meja itu.” Sahut Buya Karim dari belakang.

Upiak Banun menoleh kebelakang. Ia terkejut dengan kedatangan Buya Karim di Surau Tuo. Upiak Banun menghampiri Buya Karim dan mempersilahkan Buya Karim untuk duduk. Dengan naskahnya, ia duduk berhadapan dengan Buya Karim untuk membaca naskah bersama Buya Karim.

“Alah bara lamo Upiak Banun manunggu Buya di siko?” Buya Karim bertanya kepada Upiak.
“Alun lamo lai Anun manunggu Buya di siko” jawab Upiak Banun.

Naskah itu dibentangkan oleh Upiak Banun. Terlihat kertas yang kecoklatan, pinggirannya rapuh, dan beberapa ujung kertas telah digrogoti rayap. Naskah itu bertulisan Arab-Melayu yang masih tampak jelas tulisannya.

“Ba a Upiak Banun, kito mulai mambaco naskah ko lai?” tanya Buya Karim kepada Upiak Banun.
“Tunggu sabanta Buya, Buyuang Batuang nio baraja lo basamo Anun jo Buya” kata Upiak Banun.
“Siapo Buyuang Batuang tu Upiak Banun?” tanya Buya Karim.
“Buyuang Batuang tu Kawan Anun dari kampuang sabalah, kemanakan Datuak Maranggi urang basuku Caniago Buya” jawab Upiak Banun.
“Jadi…” belum selesai jawab Buya Karim kepada Banun, Buyuang Batuang datang dengan menyela percakapan tersebut dengan salam.
“Assalamualaikum Buya, Anun” kata Buyuang Batuang.

Buya mempersilahkan Buyuang Batuang duduk. Upiak Banun meminta Buya untuk mulai menjelaskan tentang isi naskah tersebut. Buya Karim telah membaca naskah itu beberapa hari yang lalu. Ia sudah memahami isi naskah tersebut dan akan menjelaskan pelajaran dari naskah tersebut kepada Upiak Banun dan Buyuang Batuang. Buya Karim mulai menerangkan bagian pertama dari naskah kuno, yaitu “Hikayat di Lampu Minyak”. Hikayat itu berisi tentang seorang ayah, yaitu Nabi Muhammad yang menasihati putrinya Fatimah Az-Zahra tentang sikap perempuan kepada suaminya dan keburukan perempuan yang mengakibatkan dosa besar.

Ada sepuluh perkara tentang kebaikan perempuan kepada suaminya. Perempuan yang berbakti kepada suami adalah yang senantiasa menyenangkan hati suami setiap ia pulang, menyambutnya dengan wajah manis, serta menjaga marwah dan kehormatan suami di hadapan orang lain. Ia memenuhi kebutuhan suami sesuai kemampuan, menghormati keluarga suami, dan tidak malas berhias untuknya. Selain itu, perempuan yang bijak juga menjaga rumah, anak, dan harta suami, meredakan amarah suami dengan bijaksana, memahami kelelahan dan kesulitannya, serta tidak membandingkan suami dengan laki-laki lain. Semua sikap ini mencerminkan kesetiaan, kasih sayang, dan penghormatan yang mendatangkan keberkahan dalam rumah tangga.

Selain itu, ada sepuluh perkara tentang keburukan perempuan, yaitu perempuan yang merugikan rumah tangga adalah yang hanya menghina atau memaki suami, serta mengumpatnya di depan orang lain. Ia menunda memenuhi panggilan suami dengan sikap masam, mencuri harta suami, dan menunjukkan cemburu buta yang merusak keharmonisan rumah tangga. Selain itu, perempuan yang tidak bijak marah ketika diminta bantuan, keluar rumah tanpa izin, berdandan untuk menarik perhatian laki-laki lain, serta menolak menjalankan kewajiban rumah tangga tanpa alasan yang dibenarkan syarak. Sikap-sikap ini menimbulkan keretakan, ketidaknyamanan, dan mengurangi berkah dalam kehidupan rumah tangga.

Mendengar penjelasan dari Buya Katim, Upiak Banun merasa tersentuh atas penjelasan tersebut. Sekarang ia mengerti, isi naskah itu sejalan dengan adat dan budaya yang dianut oleh nasyarakat di nagari. Sebelumnya, ia menganggap ajaran adat di nagarinya merupakan bentuk keterbatasan perempuan dalam mengambil keputusan. Buya Karim melanjutkan penjelasan pada bagian selanjutnya.” Kisah si Anak Dagang” judulnya. Buya Karim bercerita tentang “Kisah Si Anak Dagang”. Kisah ini tentang anak yatim piatu dengan berselimut kemiskinan dan kesendirian, serta seseorang yamg tidak memiliki tempat pulang. Buyung Batuang merasa cerita tersebut sama dengan yang ia rasakan sebagai seorang anak  yatim piatu. Buya Karim membaca sepenggal “Syair Anak Dagang”.

“Wahai miskin anak piatu.
Sakitnya banyak bukan suatu
Kehendak Allah telah berlaku.
Siap juga datang membantu.”
“Ya Allah Ya Tuhanku.
Apakah gerangan akan untungku.
Sakitnya miskin anak piatu.
Kemana gerangan membawa diriku.”

Buyuang Batuang merasa asing di kampung semenjak orang tuanya meninggal. Ia hanya tinggal Bersama Mak Datuaknya. Buyuang Batuang menundukkan kepalanya, teringat akan cibiran teman sebayanya tentang dirinya anak yatim piatu. Buya Karim melanjutkan bagian terakhir dari naskah, yaitu perkara sembahyang dan berwudhu.

Di awal disebutkan adanya azimat yang digunakan dengan cara mengikatkan tulisan dengan akar pohon. Kemudian dijelaskan enam rukun wudhu, yaitu niat, membasuh muka, membasuh kedua tangan hingga siku, menyapu sebagian kepala, membasuh kaki hingga mata kaki, dan tertib. Selanjutnya, disebutkan lima hal yang membatalkan wudhu: keluarnya sesuatu dari qubul atau dubur, tidur lelap, hilang akal, bersentuhan kulit dengan perempuan yang bukan mahram dan sah dinikahi, serta menyentuh kemaluan dengan telapak tangan bagian dalam. Teks juga menguraikan tiga belas rukun salat, yakni niat, takbiratul ihram, berdiri tegak, membaca Al-Fatihah, rukuk, i‘tidal, sujud, duduk antara dua sujud, tasyahud awal, duduk tasyahud akhir, membaca shalawat atas Nabi, salam, dan tertib.

Terakhir, terdapat sepuluh hal yang membatalkan salat, yaitu berhadas, terkena najis, terbuka aurat, berbicara, bergerak banyak, membelakangi kiblat, mengubah niat serta makan atau minum, tertawa atau menangis keras serta tindakan mengganggu lainnya, memutuskan rukun, dan mengubah rukun fardu kecuali pada bacaan Al-Fatihah dan syahadat. Buyuang Batuang meneteskan air matanya. Buya Karim menyadari bahwa Buyuang Batuang menangis memandangi naskah di depannya. Upiak Banun menegur Buyung yang larut dalam kesedihannya.

“Baa kok Buyuang manangih?” tanya Buya kepada Buyuang.

Buyung menghela napas berat. Suaranya terdengar gemetar. Buyuang menceritakan tentang kisah hidupnya yang malang. Ia sudah yatim piatu semenjak berusia satu bulan. Ia dititipkan dikeluarga ayahnya yang bukan orang minang. Ia tidak mendapatkan pengajaran layaknya  anak-anak pada umumnya. Ia baru mendapatkan pelajaran agama ketika ia berada di kampung ibunya. Sejak saat itu ia diajarkan oleh Mak Datuknya, tetapi masih banyak hal-hal yang ia tidak ketahui terutama masalah agama. Maka dari itu, ia ingin belajar bersama Buya. Lewat perantara Upiak, Buyuang dapat belajar dengan Buya Karim.

Buyuang mengusap air mata dipipinya. Buyuang menjelaskan bahwa dari naskah ini mengandung banyak pelajaran hidup. Buya Karim duduk di samping Buyuang dan berkata.
“Syair lamo ko memang rancak untuak dijadikan pelajaran iduik nan sudah-sudah” kata Buya.

Dari penjelasan Buya, Upiak Banun menyimpulkan bahwa syair ini mengajarkan manusia tentang refleksi kehidupan sebelumnya. Dan Upiak juga bertanya kepada Buya tentang isi syair yang berkaitan dengan sikap wanita harus selalu bersabar dan selalu memikul dosa. Menurut Upiak, syair yang dijelaskan Buya ini selalu memposisikan perempuan pada banyak kesalahan dan dosa.

Mendengar perkatakan Upiak Banun tersebut, Buya tersenyum kecil. Buya menjelaskan kepada Upiak dan Buyuang bahwa, naskah ini lahir dari generasi yang berbeda. Namun, isinya masih relevan dengan ajaran Islam yang sekarang. Sesungguh pihak perempuan tidak selalu berdosa, apabila menjalankan ajaran Islam sesuai syariat. Setiap manusia, laki-laki atau perempuan dalam Islam harus saling memuliakan satu sama-lain. Kemudia Buya menatap Buyung dan berkata:

“Dan untuak ang Buyuang, jan pernah maraso kalau diri ang anak dagang yang hilang arah. Ang indak samo jo syair itu dan ang ndak paralu maraso ndak ado tampek batenggang. Dan kalian adolah cahayo ketek untuak manjadi panarang jalan.”

Setelah mendengarkan penjelasan Buya, akhirnya Buya Karim, Buyuang Atuang, dan Upiak Banun segera mengambil wudhu karena sebentar lagi memasuki waktu zhuhur. Merekapun melaksanakan sholat zhuhur berjama’ah. Sesudah sholat berjama’ah mereka kembali pulang ke rumah.

Keesokan malam setelah melaksanakan sholat maghrib di Surau Tuo. Buyuang Atuang dan Upiak Banun meneruskan pembelajaran kemarin bersama Buya Karim. Kali ini berbeda dengan biasanya. Buya Karim menunggu dua anak muridnya. Melihat hal itu, Upiak dan Buyuang terpana. Mereka bergegas menghampiri dan duduk dihadapan Buya. Suasana hening, terdengar bunyi jangkrik dan cahaya redup dari lampu minyak. Tiba-tiba Upiak Banun bertanya satu hal sambil menunjuk naskah yang terbentang di atas meja.

“Buya, Anun indak mangarati tulisan ketek yang kurang jaleh ko Buya.”

Mendengar pertanyaan Upiak Banun, Buya mengulurkan tangan dan menggapai naskah lalu melihat tulisat yang samar tersebut. Buya lanjut menjelaskan kepada Buyuang Atuang dan Upiak Banun bahwa tulisan tersebut merupakan dari penulis naskah. Pesannya adalah barang siapa membaca syair ini dengan hati terang, niscaya ia tidak akan merasa sendiri. Sebab Allah dekat pada yang merasa paling jauh. Buya berpesan kepada Upiak dan Buyuang:

“Kalau Buya alah indak ado lai. Buya titipkan cahaya pengetahuan kepada Upiak dan Buyuang” kata Buya.
Suasana di Surau Tuo terasa dingin dengan suasan malam ditemani cahaya lampu minyak redup. Menambah perasaan haru dan sendu. Setelah percakapan malam itu, mereka kembali ke rumahnya masing-masing.

Angin sore berhembus pelan dari arah sawah. Ketika Upiak dan Buyuang akan mengunjungi Buya di Surau Tuo. Baru saja mereka melangkahkan kaki dari perkarangan rumah Upiak. Menggema suara pemberitahuan kabar duka dari Surau Tuo. Penyampai kaba memberitahukan bahwa cahaya dari Surau Tuo sudah hilang. Sontak Buyuang dan Upiak terkejut dan langsung mengetahui bahwa Buya sudah meninggal dunia. Mereka bergegas menuju Surau Tuo.

Setelah Buya dikebumikan beberapa minggu, masyarakat nagari melakukan pemilihan penjaga surau sekaligus guru untuk Surau Tuo. Semua orang sepakat memilih Buyuang Batuang sebagai penerus Buya Karim. Upiak Banun sebagai guru yang mengajarkan pembacaan naskah kuno kepada generasi berikutnya.

 

Biodata Penulis:
Rivan Dwi Puti merupakan Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

Tags: #Rivana Dwi Puti
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

IPSI Dharmasraya Gelar Kejuaraan Pencak Silat Bupati Cup 2025

Berita Sesudah

Wali Kota Padang Apresiasi Festival Tari Tradisional Budaya Anak Sumbar

Berita Terkait

Kayu-Kayu yang Datang Bersama Air

Kayu-Kayu yang Datang Bersama Air

Minggu, 21/12/25 | 09:58 WIB

Gambar: Meta AI Cerpen: Putri Rahma Yanti   Aku bukan anak Sumatera Barat. Aku datang ke tanah ini membawa koper,...

Batu dan Zaman

Batu dan Zaman

Senin, 15/12/25 | 06:55 WIB

  Gambar dibuat dengan Meta AI Cerpen: Hasbi Witir   Di sebuah lorong yang bising dan pengap dengan bau yang...

Cerpen Lelaki Tampan yang Membawaku Pergi

Cerpen Lelaki Tampan yang Membawaku Pergi

Minggu, 20/10/24 | 16:56 WIB

Cerpen: Armini Arbain Senja turun dengan cepat dan azan magrib pun berkumandang dengan merdunya. Seperti biasa aku bergegas mengambil Alquran,...

Luka Hati

Luka Hati

Minggu, 28/7/24 | 09:37 WIB

Oleh: Armini Arbain*   Baru saja aku duduk melepas lelah setelah memberi penyegar pada wajah seorang ibu yang facial, Hp-ku...

Setetes  Air dalam Bensin

Setetes Air dalam Bensin

Minggu, 30/6/24 | 09:10 WIB

Cerpen: Armini Arbain   Pesawat Garuda Boeing 800 lepas landas. Tepat pukul lima sore, pesawat yang membawa calon jemaah haji...

Diriku dan Keterlambatan

Minggu, 16/4/23 | 12:12 WIB

Cerpen: Ibnu Naufal   Aku tak mengerti terkadang dengan diriku sendiri. Diri yang begitu unik dan istimewa, menuntut untuk diperlakukan istimewa oleh...

Berita Sesudah
Wali Kota Padang Fadly Amran, mengapresiasi tinggi atas terselenggaranya Festival Tari Tradisional Budaya Anak Sumatera Barat (Sumbar) “Gebyar Mutiara Minang” Tahun 2026, yang digelar di Gedung Bagindo Aziz Chan Youth Center, Sabtu dan Minggu 10-11 Januari 2026. (Foto:Ist)

Wali Kota Padang Apresiasi Festival Tari Tradisional Budaya Anak Sumbar

POPULER

  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tuntut Hak Plasma 20 Persen, Ribuan Warga Asam Jujuhan Unjuk Rasa ke PT TKA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerpen “Rimbo Nan Tak Luko” Karya Tasya Syafa Kamila dan Ulasannya Oleh Azwar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Tinjau Jalan Berlubang di Ampang Kuranji, Gerak Cepat dengan PU Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024