Jumat, 17/4/26 | 10:14 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Batik, Hati, dan Komunikasi: Pengalaman Bersama Teman Tuli

Minggu, 26/5/24 | 11:29 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Dalam beberapa hari lalu, saya mendapat kesempatan untuk terlibat dalam pelatihan membatik. Sebenarnya kegiatan pelatihan membatik bukan hal baru, karena dalam dua tahun terakhir saya sering terlibat dalam kegiatan serupa. Kebetulan tempat saya berkegiatan, lembaga SURI (Surau Intellectual for Conservation) memperoleh program Danaindonesiana untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut.

Menariknya, pelatihan membatik yang diselenggarakan oleh lembaga SURI selalu menggunakan motif-motif dari pengembangan iluminasi manuskrip Minangkabau. Namun, untuk pelatihan yang baru dilaksanakan ini kami melibatkan teman-teman penyandang disabilitas tunarungu. Tentu saja, hal ini menjadi pengalaman yang unik dan pertama bagi saya.

BACAJUGA

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

Pengalaman pelatihan itu mengajarkan saya banyak hal. Hal paling berkesan bagi saya bahwa komunikasi bukan hanya tetang suara, tetapi juga tentang hati yang terbuka. Saya menyadari bahwa setiap individu memiliki keunikan dan kekuatan tersendiri, yang dapat bersinar jika diberi kesempatan.

Lebih dari sekadar pelatihan membatik, pengalaman ini adalah tentang menghargai perbedaan dan menemukan keindahan dalam setiap langkah yang kita ambil bersama. Namun di balik kebersamaan dalam pelatihan itu, ada hal yang membuat saya tertegun tentang persitilahan yang sering digunakan, tunarungu atau difabel rungu.

Melalui Juru Bahasa Isyarat (JBI) yang mendampingi kegiatan ini, ia mengatakan bahwa teman-teman penyandang difabel rungu lebih suka dipanggil dengan sebutan Teman Tuli. Bagi mereka istilah tunarungu/difabel rungu dipahami memiliki konotasi negatif. Penjelasan dari JBI, tunarungu dimaknai sebagai penyakit atau istilah dalam dunia medis.

Istilah Teman Tuli (mengunakan kapital T) lebih disukai bagi mereka karena dimaknai sebagai identitas. Sejak itu, saya selalu menggunakan istilah Teman Tuli saat berkomunikasi dengan mereka (sering dibantu dengan Juru Bahasa Isyarat).

Pengalaman ini telah membuka hati dan pikiran saya. Dalam setiap gerakan tangan, senyuman, dan tatapan mata, saya menemukan keindahan yang begitu murni dari komunikasi tanpa suara. Menghargai perbedaan bukanlah sekadar menerima keberadaan mereka, tetapi juga merangkul dan memperlakukan mereka sebagai bagian integral dari kehidupan kita.

Teman Tuli telah mengajarkan saya bahwa setiap individu memiliki cara unik untuk berinteraksi dengan dunia. Dalam keberagaman inilah letak kekuatan sejati kita sebagai masyarakat. Saya merasa terhormat bisa berbagi waktu dan ruang dengan mereka, belajar tidak hanya tentang seni membatik, tetapi juga tentang seni berkomunikasi dan menghargai setiap langkah kecil dalam perjalanan hidup.

Pengalaman ini tidak hanya memperkaya pengetahuan saya tentang batik, tetapi juga memperdalam pemahaman saya tentang arti kebersamaan dan saling menghormati. Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu membuka hati dan pikiran, menerima setiap individu apa adanya, dan menyadari bahwa di balik setiap perbedaan, terdapat keindahan yang menunggu untuk ditemukan.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Buah Cinta Si Qomar” Karya Hayat Mardhotillah dan Ulasannya oleh Azwar

Berita Sesudah

Susyi, Kimci, Piza, dan Kuliner Khas dari Negara Lain

Berita Terkait

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Berita Sesudah
Kata “dalem“ dan Pronomina Serapan dalam Bahasa Indonesia

Susyi, Kimci, Piza, dan Kuliner Khas dari Negara Lain

Discussion about this post

POPULER

  • Tim Lupak Polres Dharmasraya Sikat 5 Pelaku Narkoba di Sungai Kambut

    Tim Lupak Polres Dharmasraya Sikat 5 Pelaku Narkoba di Sungai Kambut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Meriah! Dharmasraya Gelar CFD dan Bazaar UMKM 18–19 April

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KAN Pauh Kamba Diduga Cegah Pencalonan Warga, Status Adat Jadi Penghalang Pilwana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026