Rabu, 14/10/26 | 02:28 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home DAERAH

Firdaus: Infrastruktur Sumbar Tak Boleh Lagi Dibangun dengan Logika “Setelah Bencana”

Selasa, 01/9/26 | 12:47 WIB

Ketua DPW PKB Sumbar, Firdaus.[foto : ist]
Ketua DPW PKB Sumbar, Firdaus.[foto : ist]
Padang, Scientia — Infrastruktur yang dibangun hari ini harus dihitung berdasarkan risiko bencana yang mungkin terjadi bertahun-tahun ke depan. Anggota DPRD Sumatera Barat dari Fraksi PKB, Firdaus, menilai pembangunan jalan, jembatan, drainase dan fasilitas publik tidak cukup hanya mengejar target fisik.

Pernyataan itu disampaikan Firdaus menanggapi dorongan pemerintah pusat agar standar teknis pembangunan infrastruktur nasional diperkuat untuk menghadapi banjir, gempa, erupsi dan berbagai bencana hidrometeorologi.

Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan menilai Indonesia membutuhkan paradigma baru dalam membangun infrastruktur. Infrastruktur harus dirancang lebih tangguh terhadap ancaman bencana karena Indonesia berada di kawasan Ring of Fire sekaligus menghadapi peningkatan risiko bencana hidrometeorologi.

Menurut Firdaus, arah kebijakan tersebut sangat relevan diterapkan di Sumatera Barat.
Sumbar merupakan daerah yang memiliki risiko gempa, tsunami, longsor, banjir dan erupsi gunung api. Karena itu, pembangunan infrastruktur semestinya tidak berhenti pada persoalan apakah sebuah jalan selesai dibangun, tetapi juga apakah jalan tersebut tetap dapat digunakan ketika bencana terjadi.

BACAJUGA

Rico Alviano: PKB Sumbar Tak Boleh Lagi Jadi Partai Pelengkap

Rico Alviano: PKB Sumbar Tak Boleh Lagi Jadi Partai Pelengkap

Rabu, 14/10/26 | 02:06 WIB
Pengurus Perempuan Bangsa Sumbar Dikukuhkan, Jadi Kekuatan Baru Politik

Pengurus Perempuan Bangsa Sumbar Dikukuhkan, Jadi Kekuatan Baru Politik

Rabu, 14/10/26 | 00:41 WIB

“Jangan sampai kita membangun hari ini, kemudian beberapa tahun lagi rusak karena bencana yang sebenarnya risikonya sudah bisa dipetakan sejak awal,” kata Firdaus.

Ia mengatakan pendekatan berbasis risiko harus masuk sejak tahap perencanaan. Artinya, Bappeda bersama organisasi perangkat daerah teknis perlu menggunakan peta risiko bencana sebagai salah satu dasar menentukan lokasi, desain dan spesifikasi proyek.

Menurut dia, pembangunan jalan di daerah rawan longsor, jembatan di kawasan rawan banjir maupun fasilitas publik di kawasan rawan gempa membutuhkan standar berbeda.

Firdaus juga meminta pemerintah daerah memperkuat koordinasi antara Bappeda, Dinas Bina Marga Cipta Karya dan Tata Ruang, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi serta BPBD.

“Perencanaan pembangunan dan perencanaan kebencanaan jangan berjalan sendiri-sendiri. Kalau data risiko sudah tersedia, seharusnya menjadi bagian dari keputusan pembangunan,” ujarnya.

Ia menilai kebijakan pusat tersebut harus menjadi momentum bagi Sumbar untuk mengevaluasi kembali proyek-proyek infrastrukturnya.
Bagi Firdaus, biaya pembangunan memang penting. Namun, biaya pemulihan setelah infrastruktur rusak akibat bencana sering kali jauh lebih besar.

“Lebih baik anggaran digunakan untuk memperkuat konstruksi sejak awal daripada kita mengeluarkan anggaran berulang untuk memperbaiki kerusakan yang sama,” katanya.
Firdaus mengatakan pembangunan infrastruktur yang tahan bencana juga berkaitan langsung dengan ekonomi masyarakat.

Jalan yang putus berarti distribusi pangan terganggu. Jembatan yang rusak dapat memutus akses petani ke pasar. Infrastruktur pelayanan publik yang lumpuh juga membuat masyarakat menanggung dampak lebih panjang.

Karena itu, ia mendorong agar ketahanan infrastruktur menjadi indikator penting dalam perencanaan pembangunan Sumbar ke depan.

“Ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya berapa kilometer jalan yang dibangun. Ukurannya juga berapa lama infrastruktur itu mampu melayani masyarakat dan seberapa cepat kembali berfungsi ketika bencana terjadi,” ujar Firdaus.(yrp)

Tags: BencanaFirdausInfrastruktur
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Ketua PKC: Rekomendasi PMII pada Musda KNPI Pasaman Tidak Legal

Berita Sesudah

Nama PMII Dicatut untuk Bacalon KNPI Pasaman, PKC Sumbar Tegaskan Tak Pernah Beri Rekomendasi

Berita Terkait

Rico Alviano: PKB Sumbar Tak Boleh Lagi Jadi Partai Pelengkap

Rico Alviano: PKB Sumbar Tak Boleh Lagi Jadi Partai Pelengkap

Rabu, 14/10/26 | 02:06 WIB

Padang, Scientia — Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Rico Alviano, meminta pengurus Dewan Pengurus Cabang (DPC)...

Pengurus Perempuan Bangsa Sumbar Dikukuhkan, Jadi Kekuatan Baru Politik

Pengurus Perempuan Bangsa Sumbar Dikukuhkan, Jadi Kekuatan Baru Politik

Rabu, 14/10/26 | 00:41 WIB

Padang, Scientia — Pengurus Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Perempuan Bangsa Sumatera Barat resmi dikukuhkan di ZHM Premiere Hotel, Padang, Selasa...

Pengurus DPC PKB se-Sumbar Dikukuhkan

Pengurus DPC PKB se-Sumbar Dikukuhkan

Selasa, 13/10/26 | 17:36 WIB

Padang, Scientia — Sebanyak 476 pengurus Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dari berbagai kabupaten dan kota di...

Nurfirmanwansyah Apresiasi Gerakan Literasi Digital bagi Pelajar di Sumbar

Nurfirmanwansyah Apresiasi Gerakan Literasi Digital bagi Pelajar di Sumbar

Selasa, 13/10/26 | 17:35 WIB

Kabupaten Solok, Scientia.id - Percepatan literasi digital di Sumatera Barat bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak di tengah pesatnya...

Inspektorat Dharmasraya Hadirkan SI-PATUH, Perkuat Akuntabilitas Pemerintahan

Inspektorat Dharmasraya Hadirkan SI-PATUH, Perkuat Akuntabilitas Pemerintahan

Selasa, 13/10/26 | 17:00 WIB

Dharmasraya, Scientia.id — Inspektorat Kabupaten Dharmasraya mengembangkan Sistem Penegakan Akuntabilitas dan Eksekusi Tindak Lanjut Hasil Pengawasan (SI-PATUH) untuk mempercepat penyelesaian...

Ruas Jalan Lagan Jaya–Sipangkur Tiumang Kini Mulus Diaspal

Ruas Jalan Lagan Jaya–Sipangkur Tiumang Kini Mulus Diaspal

Senin, 12/10/26 | 18:45 WIB

Dharmasraya, Scientia.id — Setelah sebelumnya berupa jalan Sirtu (pasir batu), ruas Jalan Lagan Jaya–Sipangkur di Kecamatan Tiumang kini telah selesai...

Berita Sesudah
Nama PMII Dicatut untuk Bacalon KNPI Pasaman, PKC Sumbar Tegaskan Tak Pernah Beri Rekomendasi

Nama PMII Dicatut untuk Bacalon KNPI Pasaman, PKC Sumbar Tegaskan Tak Pernah Beri Rekomendasi

POPULER

  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nurfirmanwansyah Apresiasi Gerakan Literasi Digital bagi Pelajar di Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026