Padang, Scientia – Figur politisi yang lahir dari rahim aktivitas sosial kembali mendapat sorotan. Anggota DPRD Sumatera Barat, Firdaus, dinilai merepresentasikan pola kepemimpinan yang tumbuh dari pengabdian masyarakat, bukan semata ambisi kekuasaan.
Pandangan tersebut disampaikan akademisi, Prof. Duski Samad yang melihat perjalanan Firdaus sebagai cerminan kepemimpinan khas Minangkabau: berangkat dari tengah masyarakat, ditempa pengalaman sosial, lalu mendapat legitimasi di ruang publik.
“Firdaus tidak muncul sebagai politisi instan. Ia melalui proses panjang dalam kegiatan sosial, keumatan, dan jaringan masyarakat,” kata Duski dalam keterangannya.
Menurut dia, fondasi utama kepemimpinan Firdaus terletak pada aktivisme sosial yang kuat. Karakter yang luwes, komunikatif, dan mudah bergaul membuatnya diterima di berbagai kalangan, baik dalam organisasi kemasyarakatan maupun kegiatan keagamaan.
Salah satu bentuk kepedulian Firdaus, lanjut Duski, terlihat dari dukungannya terhadap pelestarian sejarah dan tradisi keulamaan Minangkabau. Ia turut mendukung penerbitan buku Ensiklopedia Tuanku dan Warisan Syekh Burhanuddin Ulakan yang diterbitkan Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin Padang Pariaman.
“Ini menunjukkan bahwa pembangunan masyarakat tidak hanya melalui politik praktis, tetapi juga penguatan identitas intelektual dan spiritual,” ujarnya.
Selain itu, Firdaus juga aktif dalam organisasi kekerabatan sebagai Ketua Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) Sumatera Barat. Organisasi ini menjadi wadah silaturahmi dan penguatan solidaritas sosial masyarakat Piaman di perantauan maupun kampung halaman.
Dalam peran tersebut, Firdaus dinilai mampu merangkul berbagai kelompok dan menjaga nilai kebersamaan, yang dalam tradisi Minangkabau menjadi modal penting dalam membangun kepemimpinan publik.
Duski menilai masuknya Firdaus ke dunia politik merupakan kelanjutan dari pengabdian sosialnya. Politik, dalam konteks ini, dipahami sebagai sarana memperluas manfaat bagi masyarakat.
“Politik yang berangkat dari pengalaman sosial memiliki peluang lebih besar untuk tetap berpijak pada kebutuhan masyarakat,” kata dia.
Dari sisi karakter, Firdaus disebut memiliki energi sosial tinggi dan kemampuan komunikasi yang adaptif. Dalam perspektif sosiologi kepemimpinan, hal ini dikenal sebagai relational leadership, yakni kepemimpinan yang bertumpu pada kepercayaan dan relasi sosial.
Model kepemimpinan tersebut, menurut Duski, sejalan dengan falsafah Minangkabau: didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, yang menempatkan pemimpin tidak jauh di atas masyarakat, tetapi hadir untuk memberi arah.
Ia menambahkan, politik ke depan membutuhkan figur dengan basis kepercayaan sosial yang kuat, bukan sekadar kekuatan elektoral. Dalam konteks itu, perjalanan Firdaus dinilai menunjukkan transformasi dari aktivisme sosial menuju pengabdian yang lebih luas melalui jalur politik.
“Kepeduliannya terhadap warisan ulama, aktivitas sosial, dan perannya di organisasi menunjukkan orientasi pengabdian tetap menjadi fondasi,” kata Duski.
Ia menegaskan, dalam sejarah, yang bertahan bukan sekadar kekuasaan, melainkan kontribusi nyata bagi masyarakat.(yrp)







