
Padang, Scientia.id – Chatbot AI seperti ChatGPT dan Gemini kini makin melekat dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sejumlah penelitian memperingatkan dampaknya terhadap kemampuan berpikir manusia.
Riset MIT terhadap 54 peserta menunjukkan pengguna ChatGPT menghasilkan esai dengan orisinalitas dan kedalaman lebih rendah dibanding mereka yang mengandalkan Google atau berpikir mandiri. Pemindaian otak juga mengungkap penurunan aktivitas pada area yang berhubungan dengan perhatian, memori, dan penalaran tingkat tinggi.
Temuan serupa datang dari peneliti Swiss melalui survei 666 responden. Ketergantungan pada AI berkorelasi dengan menurunnya kemampuan berpikir kritis, kesadaran metakognitif, dan daya analisis, terutama pada pengguna muda dan berpendidikan lebih rendah.
Peneliti menyebut fenomena ini sebagai cognitive offloading, yakni kecenderungan menyerahkan proses berpikir ke alat eksternal. Meski bukan hal baru, AI dinilai membawa dampak yang jauh lebih besar.
Baca Juga: ChatGPT Bikin OpenAI Kaya Raya, Pendapatan Tembus Rp 207 Triliun Setahun
Para ahli menyarankan agar AI digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti berpikir. Pengguna dianjurkan memulai dengan merumuskan ide sendiri sebelum meminta bantuan chatbot, karena proses berpikir yang menantang justru penting untuk menjaga ketajaman otak. (*)








