
Apakah bahasa Indonesia itu sulit? Atau lebih mudah jika dibandingkan dengan bahasa lainnya? Pertanyaan ini sering terdengar di kalangan penutur asing atau pelajar asing yang ingin, sedang, bahkan sudah belajar bahasa Indonesia. Sama seperti bahasa lainnya, setiap pembelajar memiliki pengalaman dan persepsi dari sudut pandang personalnya.
Berdasarkan pengalaman itu, ada yang berpendapat bahwa bahasa Indonesia itu sulit, dan ada juga yang berpendapat sebaliknya. Dari pengalaman selama mengajar bahasa Indonesia untuk penutur asing, ada beberapa hal yang bisa disimpulkan mengenai tingkat kemudahan dan kesulitan bahasa Indonesia. Akan tetapi, sebelum masuk ke dalam pembahasan, perlu digarisbawahi terlebih dahulu bahwa artikel ini ditulis bukan berdasarkan hasil penelitian yang detail dan terperinci. Artikel ini ditulis berdasarkan pengamatan awal yang dirasakan saat berhadapan dengan mahasiswa asing yang belajar bahasa Indonesia, dari interaksi langsung, baik lisan maupun tulisan. Dengan demikian, kita akan mulai melihat sisi positif yang menyatakan bahwa bahasa Indonesia itu mudah.
Pertama, bahasa Indonesia dikatakan mudah karena aksara yang digunakan adalah alfabet a, b, c, d, hingga z. Penggunaan alfabet yang sama dengan bahasa Inggris memudahkan penutur asing untuk bisa membaca tulisan bahasa Indonesia dalam waktu yang cepat. Penutur asing tidak perlu melewati tahap yang lama untuk mengenal aksara bahasa Indonesia.
Kedua, bunyi yang mewakilkan setiap huruf di dalam bahasa Indonesia dianggap konsisten. Untuk lebih mudahnya, kita bisa membandingkannya dengan bunyi di dalam bahasa Inggris. Beberapa kata di dalam bahasa Inggris yang menggunakan huruf “i” dibunyikan sebagai “i” (sama dengan bunyi “i” di dalam bahasa Indonesia), seperti kata milk, give, dan mint. Akan tetapi, di dalam bentuk lain, huruf “i” juga dibunyikan sebagai “ai”, seperti di dalam kata fine, mine, dan night. Selain huruf “i” juga ada gabungan huruf “oo” yang dibunyikan “o” seperti di dalam kata door dan floor, sedangan di dalam kata lain dibaca “u” seperti kata zoom, look, dan book. Tidak hanya itu, ada beberapa huruf yang juga tidak dibunyikan di dalam bahasa Inggris, seperti kata listen dan often (huruf “t” tidak dibunyikan), kata muscle dan descend (huruf “c” tidak dibunyikan), kata design dan light (huruf “g” tidak dibunyikan), dan sebagainya. Sesungguhnya, perubahan bunyi di dalam bahasa Inggris ini tentunya juga memiliki kaidah khusus. Sama halnya dengan itu, bahasa Indonesia juga memiliki satu huruf dengan bunyi yang berbeda yaitu, huruf “e” yang secara umum dikenal dengan istilah “e lemah” dan “e keras” seperti dalam kata apel. Jika dibunyikan secara keras, maknanya adalah “upacara”, jika dibunyikan secara lemah maknanya adalah “buah”. Akan tetapi, kasus huruf “e” ini tidak sebanyak perbedaan bunyi yang terdapat di dalam bahasa Inggris.
Ketiga, tidak ada intonasi. Bahasa Indonesia tidak memiliki intonasi panjang, pendek, rendah, atau tinggi yang bisa mengubah makna dalam sebuah kata. Intonasi di dalam bahasa Indonesia hanya berperan dalam bentuk ekspresi dan konteks kalimat (memberi informasi, bertanya, atau perintah). Hal ini sangat berbeda dengan bahasa-bahasa yang memiliki intonasi, seperti bahasa Mandarin dan Vietnam. Intonasi yang dimaksud adalah terdapatnya perbedaan makna dari satu kata yang dibunyikan dengan intonasi tertentu (seperti panjang, pendek, naik, atau turun).
Keempat, bahasa Indonesia tidak memiliki aturan perubahan verba (kata kerja). Hal ini berbeda dengan bahasa Inggris yang memiliki perubahan verba untuk menyatakan bentuk lampau, masa kini, dan masa depan. Di dalam bahasa Inggris, penggunaan bentuk lampau, kini, dan masa depan terlihat jelas di dalam verbanya (kata kerja), seperti went, go, dan gone atau do, did, dan done. Di dalam bahasa Jerman, perubahan verba juga bisa terjadi tergantung pada pronomina (kata ganti orang) atau subjek di dalam kalimat tersebut. Contoh bahasa Jerman yang ada di dalam artikel ini diambil dari laman https://lister.co.id/blog/perubahan-kata-kerja-bahasa-jerman-tiap-subjeknya-berbeda/, yaitu ich singe (aku bernyanyi), du singst (kamu bernyanyi), sie singen (Anda bernyanyi), er singt (dia laki-laki bernyanyi), sie singt (dia perempuan bernyanyi), ihr singt (kalian bernyanyi), wir singen (kami bernyanyi), dan sie singen (mereka bernyanyi). Di dalam bahasa Indonesia, verba tidak mengalami perubahan baik dalam bentuk lampau, masa kini, dan masa depan, maupun jika digabung dengan berbagai pronomina. Di dalam bahasa Indonesia, kita hanya perlu menambah kata sudah atau telah untuk lampau, kata sedang untuk masa kini, dan kata akan untuk masa depan, seperti sudah makan, sedang makan, dan akan makan. Verba makan juga tidak mengalami perubahan, apa pun pronomina yang menjadi subjek di dalam kalimat tersebut, seperti saya makan, kamu makan, kita makan, kalian makan, dan beliau makan.
Beberapa poin yang menjadi alasan bahwa bahasa Indonesia mudah didapatkan dari beberapa kali diskusi dengan penutur asing dan juga pengamatan di dalam kelas bahasa Indonesia bagi penutur asing. Akan tetapi, penjabaran ini bukan berarti menjadi kesimpulan bahwa bahasa Indonesia lebih mudah daripada bahasa lainnya. Hal ini disebabkan, bahasa Indonesia juga memiliki kasus-kasus tertentu yang membuatnya dianggap sulit untuk dipelajari. Bahkan, ketika seseorang melakukan kegiatan terjemahan antara bahasa Indonesia dengan bahasa lainnya, penerjemah tersebut juga sering mengalami kesulitan (memilih kata yang sesuai, menyamakan konteks, dan sebagainya). Dengan demikian, mari kita beralih ke pembahasan selanjutnya, yaitu mengenai hal-hal yang dianggap sulit di dalam bahasa Indonesia.
Pertama, bahasa Indonesia dianggap sulit karena banyak terdapat kata yang panjang dan tidak jarang pula di dalam kata tersebut ada huruf r, t, k, dan s bersamaan. Kata yang panjang ini bisa berdiri sendiri, bisa juga karena adanya proses imbuhan yang membuatnya semakin panjang, terutama imbuhan gabungan yang mengapit dua kata sekaligus. Kata-kata panjang ini seperti pramugari, apresiasi, perpustakaan, meminimalisir, ekstrakurikuler, memperkenalkan, mempermasalahkan, memperistri, mempertontonkan, menanggulangi, kewarganegaraan, mempertanggungjawabkan, melatarbelakangi, dan memperjualbelikan. Kata-kata ini menjadi sulit diucapkan oleh penutur asing karena panjang dan memiliki banyak konsonan dengan bunyi yang keras.
Kedua, adanya beberapa perbedaan kata antara bahasa formal dan informal di dalam bahasa Indonesia. Situasi ini membuat penutur asing seolah harus mengingat kosakata baru jika ingin benar-benar melakukan percakapan sehari-hari (informal) dengan penutur asli bahasa Indonesia. Kita bisa membandingkan kasus ini dengan bahasa Korea. Di dalam bahasa Korea, tingkat keformalannya bisa diukur. Seperti di dalam kalimat “빵을 좋아합니다” (Pang-el joahabnida) yang bermakna “Saya suka roti” merupakan bahasa yang formal dan sangat sopan karena diakhiri dengan habnida. Kemudian, kalimat “빵을 좋아해요” (Pang-el joaheyo) yang juga bermakna “Saya suka roti” memiliki nuansa yang masih formal tetapi lebih santai daripada kalimat sebelumnya. Kalimat ini tidak seformal kalimat pertama karena diakhiri yo. Perubahan habnida dan yo memberi kesan tingkatan formal dan kesopanan yang berbeda. Selanjutnya, kalimat “빵을 좋아해” (pang-el joahe) yang juga bermakna “Aku suka roti” terkesan lebih santai lagi karena tidak diakhiri dengan penanda apa pun (tidak ada habnida atau yo) di belakang kalimatnya. Kalimat ini digunakan di dalam situasi yang lebih akrab, dengan teman sebaya, atau lingkungan yang benar-benar memiliki hubungan dekat. Formula ini berlaku untuk semua jenis kata. Contoh tingkatan lainnya adalah Gomabsemnida, Gomawoyo, dan Gomawo (terima kasih); Saranghabnida, Sarangheyo, dan Saranghe (aku cinta kamu); serta Mianhabnida, Mianheyo, dan Mianhe (aku minta maaf). Dari contoh bahasa Korea ini bisa ditarik kesimpulan bahwa perbedaan bahasa formal dengan bahasa sehari-seharinya hanya terlihat dari penanda ujung kalimatnya, tetapi verbanya tetap berasal dari kata yang sama. Hal ini berbeda dengan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia memiliki dua kata yang berbeda untuk satu makna yang sama (bahasa formal dan informalnya berbeda). Kita bisa melihat beberapa contoh kata, seperti sangat dengan banget, selesai dan kelar, tidak dan enggak, serta sedang dan lagi. Tentunya, di dalam bahasa Korea juga terdapat bahasa slang dan ekspresi-ekspresi lain. Namun pada umumnya, bahasa formal dan informalnya tidak jauh berbeda dari akar katanya.
Ketiga, dari pengalaman mengajar di kelas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kesulitan yang paling besar dipelajari oleh penutur asing adalah imbuhan. Tidak bisa dipungkiri, bahasa Indonesia memang memiliki banyak imbuhan, seperti me-, ber-, ter-, dan se-. Variasi imbuhan ini bisa mengubah kelas kata dan makna kata tersebut, seperti kata dasar rawat yang merupakan kelas kata verba. Ketika ditambah awalan pe- (perawat) kelas katanya pun berubah menjadi nomina. Contoh lainnya adalah kata sapu yang merupakan nomina, ketika ditambah awalan me- (menyapu) berubah menjadi verba. Begitu pun dengan kata panas yang awalnya adjektiva, ketika ditambah imbuhan gabungan me-kan (memanaskan) kelas katanya pun berubah menjadi verba. Banyaknya imbuhan dan perubahan kelas kata ini membuat penutur asing harus jeli dan mengingat setiap maknanya. Bahkan, satu imbuhan bisa memiliki berbagai makna. Kita bisa mengambil contoh imbuhan ber-. Makna imbuhan ber- yang pertama adalah “melakukan kegiatan berdasarkan kata dasarnya” seperti bekerja, berlari, dan belajar. Makna awalan ber- yang kedua adalah “menggunakan” seperti berbaju merah, bersepatu hitam, dan bertopi. Makna awalan ber- yang ketiga adalah “memiliki” seperti berambut panjang, berhidung mancung, dan berkumis. Makna awalan ber- yang keempat adalah “mengandung sesuatu atau terdapat sesuatu di dalamnya” seperti berkeju, berair, dan bergula. Makna awalan ber- yang kelima adalah “mengeluarkan sesuatu” seperti bertelur, bersuara, berkata, berdarah, dan berkarya. Makna awalan ber- yang keenam adalah “jumlah dari kata ganti jamak” seperti bertiga, berempat, dan berlima. Makna awalan ber- yang ketujuh adalah “mengendarai, menyetir, atau menunggangi” seperti bersepeda, berkuda, dan bermobil. Dari penjelasan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap imbuhan mengusung banyak makna. Artinya jika beberapa kata diberi imbuhan yang sama, bukan berarti maknanya akan sama pula. Makna kata bekerja tidak sama dengan kata bertelur, berdua, dan berambut panjang, meskipun sama-sama berawalan ber-. Dari penjelasan ini kita bisa membayangkan bahwa imbuhan memang menjadi hal yang paling sulit dipelajari di dalam bahasa Indonesia, karena selain memiliki banyak makna, imbuhan pun memiliki banyak variasi (ada awalan, akhiran, gabungan, dan sisipan).
Keempat, imbuhan di dalam bahasa Indonesia bisa membentuk makna baru. Hal ini membuat beberapa kata di dalam bahasa asing tidak perlu dipadankan dengan kata yang berbeda di dalam bahasa Indonesia, tetapi cukup diberi imbuhan. Ini juga yang kemudian menjadi penyebab perdebatan bahwa bahasa Indonesia itu minim kosakata. Di saat bahasa lain memiliki suatu kata untuk makna tertentu, bahasa Indonesia hanya perlu menambah imbuhan saja untuk memaknai beberapa kata. Kita bisa membandingkan kata-kata berikut dengan bahasa asing lainnya. Pertama, kita akan membandingkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Di dalam bahasa Indonesia, ada kata pinjam. Kata pinjam ini bisa diberi beberapa imbuhan, tetapi kita hanya akan membahas dua imbuhan saja yaitu meminjam dan meminjamkan. Kata meminjam memiliki makna “subjek memakai suatu benda yang bukan miliknya dan harus dikembalikan pada waktu yang ditentukan”. Kata meminjamkan memiliki makna “subjek memberi sesuatu barang kepada orang lain untuk digunakan dan harus dikembalikan pada waktu yang ditentukan”. Secara singkatnya, kata meminjam membuat subjek menerima suatu benda yang dipinjam, sedangkan kata meminjamkan membuat subjek memberi benda yang dipinjamkan. Berikut ini adalah contoh kalimatnya:
- Apakah saya boleh meminjam bukumu?
- Dia meminjam pensil saya sejak minggu lalu dan belum mengembalikannya sampai sekarang.
- Dulu, dia pernah meminjam uang saya tetapi tidak dikembalikannya. Saat dia meminjam lagi, saya tidak meminjamkannya.
- Saya meminjamkan mobil ini kepadamu selama 1 hari saja. Tolong dipakai dengan baik.
Dari empat contoh tersebut, kita sudah bisa menarik kesimpulan bahwa kata meminjam dan meminjamkan memiliki makna yang berbeda. Dua kata ini jika tidak dipahami secara teliti akan membuat makna suatu kalimat menjadi tidak efektif. Di dalam bahasa Inggris, kata meminjam dan meminjamkan ini bisa dipadankan dengan dua kata yang berbeda, yaitu meminjam dengan kata borrow, sedangkan meminjamkan dengan kata lend. Kita bisa membandingkan, satu kata pinjam memiliki dua padanan kata bahasa Inggris yang berbeda yaitu borrow dan lend. Contoh lainnya adalah kata ingat. Di dalam bahasa Indonesia, ada kata mengingat dan mengingatkan. Dua kata ini memiliki makna yang berbeda. Di dalam bahasa Inggris, dua kata berimbuhan ini dipadankan dengan dua kata yang berbeda yaitu mengingat dengan kata remember, sedangkan kata mengingatkan dipadankan dengan kata remaind. Selain dengan bahasa Inggris, kita juga bisa membandingkannya dengan bahasa Korea. Di dalam bahasa Indonesia ada kata masuk dan memasukkan. Di dalam bahasa Korea, dua kata ini bisa dipadankan dengan kata yang sangat berbeda. Kata masuk dipadankan dengan kata “들어가다” (deurogada), sedangkan kata memasukkan bisa dipadankan dengan kata “넣다 atau 담다” (neotta atau damda). Dari bunyinya saja sudah bisa ditarik kesimpulan bahwa dua kata itu berbeda. Dengan demikian, kita bisa memahami mengapa bahasa Indonesia disebut minim kosakata karena beberapa kata dalam bahasa lain bisa dipadankan dengan satu kata bahasa Indonesia yang diberi imbuhan. Dengan kata lain, penutur asing perlu memahami betul makna-makna dari perubahan imbuhan tersebut. Hal ini cukup membingungkan karena kata-kata berimbuhan itu menjadi mirip secara bunyi dan membuatnya menjadi sulit untuk dibedakan.
Kelima, bahasa Indonesia tidak mengenal istilah gerund yang ada di dalam bahasa Inggris. Gerund mengubah verba menjadi nomina tetapi masih dalam makna yang sama. Meskipun bahasa Indonesia memiliki imbuhan yang bisa mengubah kelas kata, akan tetapi maknanya pun ikut berubah. Kita bisa mengambil contoh di dalam bahasa Inggris dan Korea:
- I like reading a book.
- 저는 책을 읽는 것을 좋아합니다 (Jo-nen chek-eul iknen gos-eul joahambnida)
Dua kalimat ini di dalam bahasa Indonesia sepadan dengan “Saya suka membaca buku”. Lalu, di mana letak kesulitannya? Mari kita baca lagi kalimat dalam bahasa Inggris. Kata reading di dalam kalimat itu tidak berperan sebagai verba, tetapi sebagai nomina dengan makna yang sama. Di dalam kalimat kedua (bahasa Korea), kata 읽다 (ikda) adalah verba. Di dalam kalimat kedua, maknanya juga “Saya suka membaca buku” tetapi 읽다 yang digunakan diubah menjadi 읽는 것 yang membuat kata ini tidak lagi berperan sebagai verba tetapi maknanya masih “membaca”. Selain itu, di dalam bahasa Korea juga ada verba yang ditambah dengan partikel 기 (gi) dengan fungsi yang sama, mengubah verba menjadi nomina. Seperti dalam kata berikut: 읽다 (ikda) menjadi 읽기 (ikgi) yang artinya “membaca”, tetapi 읽기 tidak berperan sebagai verba. Contoh lainnya adalah 쓰다 (seuda) menjadi 쓰기 (seugi, bukan verba) yang bermakna “menulis”, 말하다 (malhada) menjadi 말하기 (malhagi, bukan verba) yang bermakna “berbicara”, dan 듣다 (deuda) 듣기 (deudgi, bukan verba) yang bermakna “mendengar/menyimak”. Mengapa hal ini menjadi sulit di dalam bahasa Indonesia? Mari kita perhatikan kalimat berikut:
- Hobi saya adalah menulis cerita.
- Menulis cerita adalah hobi saya.
Dua kalimat ini memiliki kata adalah. Kalimat lain yang menggunakan kata adalah yang lazim kita dengar seperti:
- Dia adalah teman saya.
- Hari ini adalah hari Minggu.
- Danau Toba adalah danau terbesar di Indonesia.
- Makanan Indonesia yang paling saya sukai adalah nasi goreng.
- Guru yang mengajar di kelas ini adalah Ibu Riana.
- Sayur yang baik untuk kesehatan kulit adalah brokoli, wortel, dan tomat.
Jika diperhatikan lebih saksama, setelah kata adalah selalu diikui oleh nomina (kata benda) atau pronomina (kata ganti orang). Hal ini disebabkan adalah mengusung definisi, penjelasan, identitas, atau informasi dari suatu hal. Oleh sebab itu, secara lumrahnya, setelah kata adalah selalu diikuti dengan kata benda (nomina). Akan tetapi, di dalam kalimat sebelumnya; Hobi saya adalah menulis cerita, setelah kata adalah diikuti oleh kata menulis yang merupakan verba. Apakah kalimat ini terasa aneh? Tentu tidak. Kalimat ini lumrah digunakan di dalam kehidupan sehari-hari di dalam bahasa Indonesia. Lalu, mengapa setelah adalah bisa diikuti oleh verba? Di sinilah letak fungsi gerund di dalam bahasa Inggris yang tidak terdapat di dalam bahasa Indonesia. Kata menulis di dalam kalimat ini tidak berperan sebagai verba. Hal yang membuatnya sulit adalah, bentuk katanya tidak berubah seperti bahasa Inggris write menjadi writing, atau di dalam bahasa Korea 쓰다 (seuda) menjadi 쓰기 (suegi) atau쓰는 것 (seunen got). Di dalam bahasa Inggris dan bahasa Korea, kata “menulis” yang awalnya verba bisa diidentifikasi sebagai nomina. Akan tetapi, ketika verba dalam bahasa Indonesia diperlakukan sebagai verba sesungguhnya dan diletakkan setelah kata adalah, kalimat ini menjadi aneh. Berikut ini adalah contohnya:
- Ibu saya adalah memasak makanan.
- Ayah saya adalah mencuci mobil.
- Kakak saya adalah membaca buku.
Mengapa tiga kalimat ini tidak berterima? Karena kata memasak, mencuci, dan membaca berperan sebagai verba di dalam kalimat tersebut. Mari kita ubah ke dalam kalimat ini:
- Hobi ibu saya adalah memasak makanan.
- Kegiatan yang sering dilakukan oleh ayah saya adalah mencuci mobil.
- Kegiatan yang paling disukai kakak saya adalah membaca buku.
Mengapa tiga kalimat tersebut bisa berterima? Karena kata memasak, mencuci, dan membaca tidak berperan sebagai verba di dalam kalimat ini. Inilah yang membuat penutur asing menjadi kesulitan ketika membuat kalimat-kalimat yang senada.
Dari penjelasan di atas kita bisa menarik kesimpulan bahwa setiap bahasa memiliki kelemahan dan kekuatan; kekurangan dan kelebihan. Oleh sebab itu, ketika belajar bahasa asing, kita juga perlu belajar konteks yang digunakan oleh penutur asli. Semoga penjabaran ini bisa dikembangkan pada bentuk kajian yang lebih komprehensif agar kita bisa menjabarkan letak kesulitan dan kemudahan ketika penutur asing belajar bahasa Indonesia. Semoga bermanfaat.





![Pembaruan data dampak bencana hidrometeorologi oleh Pusdalops BPBD Sumbar per Sabtu, (29/11) pukul 24.00 WIB.[foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/11/1000758761-75x75.png)
![Kantor PDAM Kota Padang.[foto : net]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/07/FB_IMG_17535045128082-350x250.jpg)