Jumat, 27/2/26 | 13:21 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Kecerdikan Kancil dalam Fabel Indonesia dan Melayu: Analisis Sastra Bandingan

Minggu, 21/9/25 | 14:12 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa
(Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

 

Setiap bangsa di dunia memiliki fabel atau cerita yang tokohnya berupa binatang dan bertingkah laku layaknya manusia. Dalam cerita binatang selalu ada hewan yang menjadi tokoh utama. Biasanya, hewan tersebut berbadan kecil, fisiknya lemah, namun memiliki akal cerdas, misalnya Cerita Si Kancil atau Pelanduk yang tidak hanya menjadi fabel yang dikenal di seluruh Indonesia, tetapi juga terdapat di Tanah Melayu. Mengapa cerita yang sama bisa terdapat di mana-mana? Fang (2011) melalui Hooykaas mengatakan bahwa cerita-cerita binatang tersebut berasal dari India yang mempunyai banyak cerita binatang seperti Jataka dan Pancantara. Selanjutnya, cerita-cerita tersebut menyebar ke Asia dan Eropa. Dalam kepercayaan masyarakat India, setiap hewan dapat menjelma menjadi manusia dan sebaliknya sehingga hewan digambarkan memiliki sifat seperti manusia (Nurgiyantoro, 2013).

BACAJUGA

Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Arti Kata Pensiun

Minggu, 22/2/26 | 19:58 WIB
Batu dan Zaman

Baju Berani Loppy: Mengelola Kecemasan Melalui Sastra Anak

Senin, 26/1/26 | 06:34 WIB

Walaupun pada dasarnya tokoh utamanya adalah Kancil, tiap-tiap daerah dan negara biasanya memiliki yang berbeda-beda. Dalam sastra Jawa, cerita Kancil tertua ditulis oleh Kyai Rangga Amongsastra dan diterbitkan pada tahun 1878. Sebagian besar kisah yang terdapat dalam versi ini sudah dikenal luas, yaitu cerita Kancil yang berhasil menyelamatkan diri dari bahaya. Adapun dalam kesusasteraan Melayu, cerita kancil yang paling populer adalah Hikayat Sang Kancil. Hanya saja, tokoh kancil dalam hikayat ini sebagian digambarkan sebagai hewan yang jahat dan licik, seperti ketika ia membunuh buaya, namun kalah oleh hewan yang lebih kecil (Fang, 2011).

Fabel hadir tidak hanya untuk menyampaikan pesan moral melalui tokoh dan alur cerita, tetapi juga menggambarkan pemikiran masyarakat di mana cerita itu disampaikan. Melalui ceritanya, secara umum tokoh Kancil mewakili tipe ideal orang Jawa atau Melayu, yaitu simbol kecerdikan yang tenang dalam menghadapi kesukaran, dapat menyelesaikan masalah yang rumit tanpa banyak kegaduhan, tanpa emosi dan amarah (Amanat, 2021). Namun, bagaimana kecerdikan Kancil ditampilkan dalam versi Indonesia dan Malaysia? Tulisan ini bermaksud untuk mengungkap bagaimana masing-masing versi cerita mencerminkan nilai dan pandangan masyarakat yang berbeda-beda. Dalam hal ini penulis akan membandingkan kisah kancil dari Melayu berjudul Sang Kancil Mengalahkan Buaya dalam buku Siri Akal Sang Kancil Cerdik (2015) dan cerita kancil versi Indonesia berjudul Menipu Para Buaya yang terdapat Kumpulan Dongeng Binatang Jenaka Si Kancil yang Cerdik (2013).

Kedua cerita dibandingkan menggunakan metode sastra bandingan dengan memfokuskan pada persamaan dan perbedaan aspek unsur-unsur sastranya. Perbedaan pertama telihat pada bahasa yang digunakan, cerita Sang Kancil Mengalahkan Buaya menggunakan bahasa Melayu (selanjutnya disebut sebagai Sang Kancil), sedangkan kisah Menipu Para Buaya (selanjutnya disebut sebagai Si Kancil) disampaikan dengan bahasa Indonesia. Dari segi judul cerita, kata “cerdik” pada cerita versi Melayu dapat memberi konotasi positif mengenai penggambarkan karakter tokoh kancil yang pintar, panjang akal, dan kreatif dalam menemukan solusi permasalahan. Adapun penggunaan kata “menipu” dapat mengesankan kesan negatif, yaitu tokoh kancil yang menggunakan tipu dayanya untuk kepentingan sendiri, sekaligus menampilkan sisi lucu dari Si Kancil.

Perbedaan pertama terliha alur kedua cerita. Awal cerita Si Kancil memperlihatkan tokoh Kancil yang menggunakan akalnya untuk melarikan diri dari kejaran Anjing. Ia menemukan sebuah sungai, namun tubuhnya tidak cukup besar dan kuat untuk menyeberanginya. Si Kancil lagi-lagi memutar otaknya. Ia melihat batang pisang dan ingin menggunakannya agar bisa menyeberangi sungai. Di dalam sungai, ada kawanan buaya. Si Kancil menyadari ada bahaya yang mengintainya. Ia berusaha tenang dalam menghadapi kawanan buaya dan bermaksud menyatakan keinginannya untuk meminta bantuan kepada mereka untuk membantunya menyeberangi sungai. Selanjutnya kawanan buaya berbaris membentuk jembatan. Si Kancil melompat ke atas tubuh kawanan buaya dan berlali menuju ke daratan dan meninggalkan para buaya.

Jika Si Kancil menggunakan akalnya untuk menyelamatkan diri dari Buaya, Sang Kancil justru digambarkan sebagai sosok yang diaganggap memiliki kekuasaan namun menggunakakannya untuk menolong hewan-hewan lain di hutan seperti Kerbau, Kijang, Monyet, dan Gajah. Tokoh Buaya dalam cerita Sang Kancil digambarkan sebagai sosok penguasa hutan, suka menindas, dan pendendam. Kawan-kawan Sang Kancil tengah mengalami kenelangsaan akibat ulah Buaya yang telah memakan anak Kerbau dan Kijang yang tengah kehausan. Selain itu, juga ada tokoh Biawak yang digambarkan sebagai kaki tangan Buaya.

Sosok Kancil dalam Cerita Si Kancil kerap digambarkan sebagai perpanjangan tangan Nabi Sulaiman. Dalam cerita Menipu Para Buaya tidak diperlihatkan kemunculan Si Kancil menyebut-nyebut dirinya yang diberi perintah oleh Nabi Sulaiman. Hal tersebut justru muncul dalam lanjutan cerita Menipu Para Buaya, yaitu Sabuk Nabi Sulaiman, di mana sabuk tersebut mewujud melalui seekor Ular yang dikalungkan ke tubuh Harimau dalam rangka usaha Si Kancil menyelamatkan dirinya. Dalam cerita Kancil versi Melayu, perkataan mengenai perintah Nabi Sulaiman muncul ketika Sang Kancil memberikan pelajaran kepada para Buaya agar berhenti menganggu hewan-hewan yang ada di hutan.

Latar tempat cerita Kancil versi Melayu dan versi Indonesia sama-sama berada di hutan dan sungai. Namun, latar hutan dan sungai dalam tiap-tiap cerita merepresentasikan hal berbeda. Dalam kisah Menipu para Buaya, hutan dan sungai menyimbolkan tempat-tempat yang penuh bahaya bagi Si Kancil, yang dipenuhi oleh berbagai hewan lain bertubuh jauh lebih besar dan kuat. Oleh sebab itu, Si Kancil harus terus menggunakan akalnya untuk menyelamatkan diri dan bertahan hidup, walaupun terkadang ia harus menipu dan membunuh hewan-hewan tersebut. Sungai juga menjadi area pertaruhan nyawa, sebab Si Kancil bertubuh kecil dan merupakan hewan darat. Dalam cerita versi Melayu hutan dan sungai juga menjadi simbol keberanian, kebijaksanaan, kepemimpinan, serta kecerdikan pada tokoh Kancil. Sang Kancil juga menipu Buaya, namun hal itu dilakukannya agar hewan-hewan di hutan dan sungai dapat saling hidup berdampingan.

Buaya pada cerita Si Kancil digambarkan sebagai salah satu hewan yang harus dihindari, serta digambarkan sebagai sosok yang bodoh dan mudah diperdaya. Dalam Sang Kancil, Buaya merupakan tokoh antagonis dan simbol penguasa hutan yang mengganggu keberlangsungan hidup hewan-hewan lain di hutan. Namun, cerita Sang Kancil juga menampilkan sisi lugu dan bodoh dari Buaya, di mana Buaya langsung tunduk kepada Kancil ketika ia menyebut-nyebut nama Nabi Sulaiman. Di sisi lain, hal ini juga menunjukkan peran cerita Sang Kancil untuk menyampaikan nilai moral dan religiusitas, sedangkan nilai moral pada cerita Si Kancil ditunjukkan pada penggunaan kecerdikan Si Kancil dalam mengalahkan hewan-hewan lain yang bertubuh lebih besar dan kuat darinya. Dengan demikian, cerita Kancil versi Indonesia menekankan individualisme untuk kepentingan pribadi, sedangkan kisah Kancil versi Melayu menonjolkan tanggung jawab sosial dan penggunaan kecerdikan untuk kepentingan kolektif.

Tags: #Andina Meutia Hawa
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Regenerasi Kader, IPNU-IPPNU Tanah Datar Lahirkan Pemimpin Baru

Berita Sesudah

Kreativitas Linguistik atau Gejala Klinis, Neologisme?

Berita Terkait

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Minggu, 22/2/26 | 20:10 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif) “Bahasa membentuk cara...

Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Arti Kata Pensiun

Minggu, 22/2/26 | 19:58 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pensiun...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Minggu, 22/2/26 | 19:45 WIB

Oleh: Dr. Syamsul Bahri (Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Eka Sakti, Sumatera Barat) Indonesia adalah negara dengan jiwa religius yang kuat....

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

Minggu, 15/2/26 | 17:22 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   Robohnya Surau Kami merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh...

Perspektif Ekologis dalam Berbahasa

Ancaman Ekologis Krisis Air dari Tren Penggunaan AI di Media Sosial

Minggu, 15/2/26 | 17:14 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Kecerdasan buatan artificial inteligence (AI) secara luas telah digunakan dalam...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa yang Membentuk Cara Kita Membenci

Minggu, 01/2/26 | 15:17 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik Universitas Andalas)   Kebencian jarang lahir dari kekosongan. Ia tumbuh pelan-pelan, disirami kata-kata, dipupuk...

Berita Sesudah
Kreativitas Linguistik atau Gejala Klinis, Neologisme?

Kreativitas Linguistik atau Gejala Klinis, Neologisme?

POPULER

  • Bupati Dharmasraya Sidak Pangkalan dan Pengecer LPG 3 Kg, Temukan Pelanggaran Distribusi

    Bupati Dharmasraya Sidak Pangkalan dan Pengecer LPG 3 Kg, Temukan Pelanggaran Distribusi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Dharmasraya Terbitkan SE Tentang Pengawasan dan Penyaluran Gas Tiga Kilogram

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satu Tahun Duo Srikandi Dharmasraya, Pendidikan dan OVOP Jadi Andalan Bangun Ekonomi Rakyat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024