Senin, 16/2/26 | 15:15 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Eksotisme dalam Wacana Pariwisata

Minggu, 30/6/24 | 07:07 WIB

Secara spesifik, eksotisme dalam wacana pariwisata Indonesia juga dapat diidentifikasi dalam promosi Taman Nasional. Sebagai contoh, eksotisme diasosiasikan dengan flora dan fauna langka atau endemik di Indonesia: exotic fish and sea life, exotic animals. Eksotisme yang dilekatkan pada fauna tersebut merupakan dikotomi manusia dan spesies nonmanusia. Manusia menganggap fauna sebagai entitas yang eksotis, berbeda dari diri mereka. Hal ini mereproduksi eksotisme dalam ranah ekologi.

Eksotisme dan kelindan terhadap kolonialisme Barat juga tampak dalam promosi pariwisata di Eropa. Stepins (2022) mencatat bahwa pariwisata di Inggris juga melabeli aktivitas eksplorasi dan petualangan pada alam tropis sebagai aktivitas yang eksotis. Hal tersebut menggarisbawahi bahwa kolonialisme dalam promosi pariwisata masih ditemukan dalam berbagai konteks. Yang patut dipertanyakan adalah dalam promosi pariwisata Indonesia, kolonialisme tersebut justru ditonjolkan untuk menarik wisatawan Barat.

Jika direlasikan dengan konteks sosial dan politik, tentu penggunaan strategi linguistik yang melanggengkan cara pandang kolonialisme dalam wacana pariwisata Indonesia tersebut dipengaruhi oleh konteks di sekelilingnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa pemerintah secara eksplisit menyebut sektor pariwisata sebagai penyokong pertumbuhan ekonomi negara. Oleh karena itu, promosi pariwisata diharapkan dapat menjaring perhatian dan kedatangan wisatawan global. Maka dapat dipahami bahwa pilihan linguistik yang digunakan justru berangkat dari perspektif Barat yang lekat dengan aktivitas eksplorasi dan eksotisme.

Dalam lensa analisis wacana kritis, repetisi eksotisme dalam wacana pariwisata justru akan menempatkan kita sebagai pihak yang melanggengkan kolonialisme. Mungkin yang terjadi bukanlah kolonialisme untuk merebut wilayah pariwisata, namun kolonialisme baru yang menjajah pola pikir, tanggung jawab, dan peran kita terhadap lingkungan alam. Kolonialisme baru tersebut dianggap tidak terlalu mengancam secara ekonomi karena bisa jadi kita diuntungkan dengan kedatangan turis global.

BACAJUGA

Perspektif Ekologis dalam Berbahasa

Ancaman Ekologis Krisis Air dari Tren Penggunaan AI di Media Sosial

Minggu, 15/2/26 | 17:14 WIB
Metafora “Paradise” dalam Wacana Pariwisata

Frasa tentang Iklim dalam Situs Web Greenpeace

Minggu, 15/6/25 | 09:39 WIB

Tulisan ini memberikan sedikit gambaran bahwa wacana pariwisata dipengaruhi oleh wacana promosi dan konteks sosial-politik di sekelilingnya. Sebagai bagian dari ekosistem, hendaknya kita lebih dapat menyaring aktivitas yang kita lakukan pada lokasi pariwisata, terutama yang menawarkan keindahan alam. Kita hendaknya menyadari bahwa manusia merupakan entitas yang bergantung pada alam. Hal ini berarti bahwa jika alam rusak, kehidupan manusia dan makhluk lain juga akan terdampak. Oleh karena itu, di tengan-tengah eksotisme yang selalu ditawarkan dalam pariwisata, kita dapat menggunakan bahasa untuk mengampanyekan perspektif lokal atau Timur yang luhur dan menghargai lingkungan alam.

Halaman 2 dari 2
Prev12
Tags: #eksotimse#wacana pariwisataArina Isti'anah
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Angkasa” Karya Bramstya Argadewa Bima Ryandie dan Ulasannya oleh Azwar

Berita Sesudah

Istilah “Magrib” dan “Orang Gila Mana” di Media Sosial

Berita Terkait

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

Minggu, 15/2/26 | 17:22 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   Robohnya Surau Kami merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh...

Perspektif Ekologis dalam Berbahasa

Ancaman Ekologis Krisis Air dari Tren Penggunaan AI di Media Sosial

Minggu, 15/2/26 | 17:14 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Kecerdasan buatan artificial inteligence (AI) secara luas telah digunakan dalam...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa yang Membentuk Cara Kita Membenci

Minggu, 01/2/26 | 15:17 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik Universitas Andalas)   Kebencian jarang lahir dari kekosongan. Ia tumbuh pelan-pelan, disirami kata-kata, dipupuk...

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Minggu, 01/2/26 | 15:10 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Mahasiswi Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif LPK FIB Universitas Andalas)   Pembahasan mengenai perempuan sering...

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Selasa, 27/1/26 | 18:38 WIB

Oleh: Firnanda Amdimas (Mahasiswa Jurusan Hukum, Universitas Muhammad Natsir Bukittinggi)   Pemilihan umum (pemilu) merupakan pilar utama demokrasi di Indonesia....

Batu dan Zaman

Baju Berani Loppy: Mengelola Kecemasan Melalui Sastra Anak

Senin, 26/1/26 | 06:34 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa  (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Selama ini, sastra anak kerap diposisikan sebagai...

Berita Sesudah
Petinju dan Peninju; Manakah yang Benar?

Istilah “Magrib” dan “Orang Gila Mana” di Media Sosial

Discussion about this post

POPULER

  • Perspektif Ekologis dalam Berbahasa

    Ancaman Ekologis Krisis Air dari Tren Penggunaan AI di Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024