Jumat, 29/8/25 | 17:47 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home DESTINASI

Sabtu di Sambisari, Minggu di Parangtritis

Sabtu, 04/11/23 | 06:01 WIB

Oleh: Ronidin
(Dosen Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

 

Sudah banyak yang diceritakan orang tentang Yogyakarta. Bagus-bagus ceritanya. Di antara cerita yang bagus-bagus itu, tentu tidak ada salahnya kalau saya tambah satu cerita  lagi  melalui tulisan ini. Saya pilih cerita yang menarik. Bukan tentang Malioboro dan Kraton Ngayogyakarta. Juga bukan mengenai Borobudur atau Prambanan yang ikonik itu. Cerita ini setting-nya di Sambisari dan Parangtritis. Peristiwanya menikmati akhir pekan. Amanatnya merelaksasikan pikiran.

BACAJUGA

Hal Tidak Mengenakkan Ketika Berkunjung  ke Yogyakarta

Destinasi di Yogyakarta 15 Tahun Kemudian

Senin, 14/10/24 | 06:52 WIB
Hal Tidak Mengenakkan Ketika Berkunjung  ke Yogyakarta

Destinasi Relaksasi di Kota yang Ingar-Bingar

Sabtu, 21/9/24 | 23:07 WIB

Sabtu pagi kami ke Sambisari di Purwomartani, Kalasan, Sleman, DIY. Anak-anak ada outbond bersama teman-teman sekolahnya di sana. Kami turut serta karena sekolah meminta kehadiran orang tua. Selain untuk menemani, juga sekaligus untuk melihat-lihat menikmati suasana. Sekarang generasi z menyebutnya sebagai healing. Walaupun kata healing bermakna penyembuhan, tetapi sekarang dipakai untuk kegiatan liburan, travelling, dan aktivitas lain di laur kegiatan harian.

Ada yang menarik di Sambisari. Lokasi  itu bersih. Candi Sambisari yang posisinya kira-kira 12 km di timur Kota Yogyakarta ke arah Solo atau 4 km sebelah barat Prambanan nampak estetik dilingkari dua lapis pagar batu. Di dalam pagar batu itu berdiri kokoh candi utama dan tiga candi pendamping. Komplek percandian dikelilingi lapangan rumput yang hijau. Nama candi dibentuk dengan gugusan bunga hijau yang ditata rapi. Pinggir terluar candi ditumbuhi pohon-pohon yang sebelah- menyebelahnya pemukiman penduduk.

Foto 1: Candi Sambisari

Di sekitar lingkungan candi yang estetik itu diadakan outbound. Anak-anak menikmati acara tersebut. Ada yang tertawa-tawa. Ada yang menangis dengan mengatakan “mmmooh” karena takut bermain flying fox. Guru dan sebagian orang tua sibuk mengambil foto dan video. Petugas outbound sibuk mengatur giliran anak-anak. Orang tua yang lain  ada yang turun  ke pelataran candi dan berfoto-foto di sana. Antara kegiatan outbound anak dan healing orang tua berjalan bersamaan.  Semua sama-sama senang. Guru yang kewalahan. Anak-anak ke sana kemari menikmati suasana alam yang di depan mata mereka.

Selepas kegiatan di sekitar Candi Sambisari, semua yang ikut tidak langsung pulang. Walaupun acara utama telah selesai, acara selanjutnya justru yang paling ditunggu anak-anak, yaitu acara mandi-mandi dan menikmati wahana wisata di taman wisata keluarga Galuh Tirtonirmolo yang terletak tidak begitu jauh dari Candi Sambisari, tepatnya di Jalan Manisrenggo km 1 Tlogo, Prambanan, DIY.  Selain bisa mandi-mandi, wahana lain yang ada di waterpark ini adalah boom-boom car, komidi putar, kereta elektrik, mobil elektrik, jungle train, bioskop 3D, flying fox, kereta gantung, istana balon, dan lain-lain.

Ketika menikmati wahana-wahana tersebut, semua terlihat senang, tak anak tak orang tua.  Guru pun senang. Walaupun banyak wahana yang tersedia, paling banyak anak-anak di kolam pemandian, berseluncur, dan mencebur ke air. Di mana-mana memang banyak orang suka wisata air. Kolam-kolam pemandian umumnya disesaki pengunjung. Mereka menikmati itu. Anak-anak emoh-emohan keluar dari kolam walaupun bibir mereka sudah terlihat pasi dan menggigil kedinginan. Terdapat banyak tingkatan kolam di waterpark ini seperti kolam anak, kolam orang dewasa, kolam khusus keluarga, kolam seluncur, kolam arus, kolam ember tumpah, kolam laba-laba, kolam songsong gora, kolam kuda laut, dan kolam air mancur. Ramai orang di dalam kolam itu, tak anak-anak tak orang dewasa.

Foto 2: Taman wisata keluarga Galuh Tirtonirmolo

Habis waktu kami di Galuh Tirtonirmolo. Juga habis uang bagi yang membawanya pas-pasan. Walaupun harga masuk dan wahana tidak mahal, hanya 20 ribu untuk masuk dan 10 ribu untuk setiap wahana, tetapi kalau semua wahana dimainkan, habis juga isi dompet dibuatnya. Tapi tak mengapalah, yang penting happy. Duit dapat dicari lagi, kebahagian nomor satu.

Kegiatan Sabtu itu diakhiri di Galuh Tirtonirmolo. Bagi anak dan orang tua yang ingin pulang sendiri disilakan. Bagi yang ikut rombongan sekolah karena sudah carter mobil dibawa kembali ke sekolah. Seharian itu kami semua dibuat penat dengan outbound di Sambisari dan wisata air di taman wisata keluarga waterpark  Galuh Tirtonirmolo. Walaupun badan terasa penat,  hati senang. Itu yang penting. Sabtu ini menjadi berarti di Sambisari. Sabtu yang menyenangkan Galuh Tirtonirmolo.

Minggu berikutnya, di hari Minggu pagi healing (kalau boleh memakai istilah itu) kami lanjutkan dengan perjalanan lain. Perjalanan ke Pantai Parangtritis di Kelurahan Parangtritis, Kapenewon Kretek,  Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ini masih tentang wisata air. Bedanya, kalau minggu sebelumnya kolam air tawar, sekarang air laut, air asin. Pantai Parangtritis 27 km dari kota Yogyakarta, 40 menit berkendaraan dari pusat kota.  Kami bermotor ke sana. Empat orang isinya. Melebihi kapasitas. Nasib baik selamat sampai tujuan, selamat pula sampai kembali di kontrakan.

Pantai Parangtritis yang kami kunjungi waktu itu tidak terlalu ramai. Beberapa orang nampak bersantai di sana. Ada yang mandi-mandi, ada yang menikmati kuliner, ada yang naik kuda dan kereta wisata. Ada pula yang menyewa motor ATV untuk berpusing-pusing. Anak-anak muda dua sejoli memojok berpasang-pasangan entah memperbincangkan apa. Asyik sekali mereka menikmati masa muda.

Foto 3: Penulis menikmati suasana Pantai Parangtritis

Kami sampai di Parangtritis ketika matahari menjelang siang. Angin pantai berhembus agak kencang. Ombak bergulung sedang.  Ketika kami mencari-cari tempat untuk duduk, tukang es krim tiba-tiba menyodorkan beberapa potong es krim ke tangan anak-anak kami, tidak hanya sekedar membunyikan toleletnya saja. Terpaksalah kami membeli. Setiap diri satu es krim. Kemudian kami menyelosoh di pasir pantai yang menghampar menikmati es krim tersebut. Namun sesuatu terjadi,  entah kapan perginya anak perempuan kami tiba-tiba sudah tidak bersama ibunya. Tengok ke sana ke mari, ternyata dia sudah di bibir pantai. Kakinya sudah basah ditimpa air laut. Tiba-tiba datang ombak cukup besar. Anak kami itu terseret olehnya. Masuk ke laut beberapa meter. Saya cepat mengejar dan mengangkatnya ke luar. Air dan pasir pantai masuk ke jilbab kecilnya. Masuk pula ke mulut dan telinganya. Dia tersedak sampai di luar. Abangnya tertawa-tawa melihat itu.

Beberapa lama dia bersin-bersin. Setelah itu baikan. Jilbab kecilnya dilepas. Lalu dia kembali lagi ke pinggir pantai. Kali ini mengajak Abangnya. Tak tertegah lagi, mereka mandi-mandi. Puas mandi, main pasir. Saya dan ibunya mengawasi dari tempat duduk kami yang tidak jauh dari situ. Sekali-kali saya ke tempat mereka memastikan kondisi mereka aman. Sampai menjelang zuhur, kami biarkan mereka menikmati air dan pasir pantai itu sementara kami menikmati pula suasana di sekitarnya. Semua senang. Menjelang zuhur kami bersih-bersih. Salat zuhur, makan siang, dan kemudian kembali ke Yogyakarta.

Begitulah, Parangtritis di mata kami terasa panas. Tidak ada pohon pelindung di arena bermain. Bentangan pantainya sama seperti bentangan pantai yang ada di Air Manis, dekat batu Malin Kundang, di Padang, Sumatera Barat. Menikmati Pantai Parangtritis seperti menikam rindu terhadap kampung halaman yang  telah sekian lama kami tinggalkan. Wallahualam bissawab.

Tags: #Ronidin
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Romansa Keramahan Masjid Al Fatah, Kota Busan

Berita Sesudah

Makna Kata “Pergi” bagi Penutur Asing di Korea Selatan

Berita Terkait

Lele Raksasa (Foto: Ist)

Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

Senin, 18/8/25 | 06:10 WIB

Lele Raksasa (Foto: Ist) Jakarta, Scientia.id - Seorang pemancing asal Republik Ceko kembali mengukir prestasi luar biasa di dunia perikanan....

Misteri Gunung Padang: Diduga Lebih Tua dari Piramida Giza

Misteri Gunung Padang: Diduga Lebih Tua dari Piramida Giza

Senin, 11/8/25 | 09:57 WIB

Jakarta, Scientia.id - Situs prasejarah Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, kembali jadi sorotan setelah tim kajian menduga usianya...

Cap d’Agde: Desa Wajib Tanpa Busana di Prancis yang Ramai Dikunjungi Naturis

Cap d’Agde: Desa Wajib Tanpa Busana di Prancis yang Ramai Dikunjungi Naturis

Jumat, 08/8/25 | 06:12 WIB

Scientia.id - Terletak di selatan Prancis, Cap d’Agde dikenal sebagai desa naturis terbesar di dunia. Destinasi ini mewajibkan semua pengunjung...

Foto Zlatan Ibrahimovic di Bali Viral di Media Sosial

Foto Zlatan Ibrahimovic di Bali Viral di Media Sosial

Sabtu, 02/8/25 | 08:34 WIB

Jakarta, Scientia.id - Unggahan Zlatan Ibrahimovic di Bali mendadak viral setelah sang legenda sepakbola dunia membagikan tiga foto dirinya berendam...

Wow! Batu Pengganjal Pintu ini Nilainya Rp19,2 Miliar

Wow! Batu Pengganjal Pintu ini Nilainya Rp19,2 Miliar

Senin, 28/7/25 | 18:03 WIB

Jakarta, Scientia.id - Siapa sangka benda sederhana yang diwariskan orang tua bisa jadi harta karun. Kisah ini datang dari Rumania,...

Bubur Kirai Kuliner Khas Muaro Bungo Jambi dari Zaman Baheula

Bubur Kirai Kuliner Khas Muaro Bungo Jambi dari Zaman Baheula

Jumat, 13/6/25 | 21:47 WIB

Bubur Kirai, makanan khas tradisional Muaro Bungo yang ada sejak zaman dahulu (Foto: Rahma Yani) Jambi, Scientia.id - Mungkin sebagian...

Berita Sesudah
Petinju dan Peninju; Manakah yang Benar?

Makna Kata "Pergi" bagi Penutur Asing di Korea Selatan

Discussion about this post

POPULER

  • Kominfo Dharmasraya Diduga Jadi Biang Kegaduhan Soal Pembahasan Asistensi APBD-P 2025

    Kominfo Dharmasraya Diduga Jadi Biang Kegaduhan Soal Pembahasan Asistensi APBD-P 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 401 PPPK di Pesisir Selatan Resmi Dilantik, Bupati Ingatkan Jangan Gadaikan SK ke Bank

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Buzzer, Kominfo, dan Tensi Politik Dharmasraya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Solok Tutup Safari Berburu Hama, Dorong Perlindungan Pertanian dan Silaturahmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukittinggi Didorong Jadi Kota Beradat, Berbudaya, dan Ramah Pejalan Kaki

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tragedi Affan, PMII Padang Ingatkan Jangan Ada Impunitas Aparat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024