Senin, 16/3/26 | 13:38 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Popularitas Kata “Eskalasi” dalam Perang Iran versus AS-Israel

Minggu, 15/3/26 | 23:00 WIB
Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

Bahasa adalah representasi dari semiotika sosial yang nyata adanya. Semiotika sosial berhubungan dengan sistem realisasi makna melalui pemilihan bentuk-bentuk  atau simbol-simbol kebahasaan.  Bahasa sebagai semiotika sosial berarti bahwa bahasa sebagai sistem tanda linguistik merepresentasikan tanda-tanda dan simbol sebagai representasi dari praktik sosial. Bahasa dan lingkungan semiotika sosial memiliki hierarki yang terdiri atas lapisan (layer) yang saling terkait satu sama lain. Hierarki bahasa dan lingkungan semiotikanya terdiri atas grafologi/fonologi, gramatika, semantik, register, genre, dan ideologi (Halliday dan Hasan, 1978). Praktik sosial merupakan wacana/teks yang tidak hanya sekadar rangkaian kalimat yang terdiri atas subjek, predikat, objek, dan fungsi lainnya, tetapi juga “tersembunyi” ideologi tertentu (Thohir, 2007; Santoso, 2009).

Perang antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel juga telah memunculkan warna baru dalam ranah kosakata bahasa Indonesia. Beberapa kata meningkat popularitasnya. Hal ini disebabkan oleh bahasa sebagai representasi dari realitas sosial yang digunakan oleh masyarakat dalam praktik-praktik sosial. Seperti saat ini, kata-kata yang terkait dengan perang semakin akrab di telinga kita sehubungan dengan perang yang terjadi antara Iran dan AS serta Israel.

Eskalasi merupakan salah satu kata yang populer digunakan saat ini. Kata eskalasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia VI daring berarti kenaikan; pertambahan (volume, jumlah, dan sebagainya). Kamus Merriam-Webster mengartikan kata eskalasi sebagai peningkatan untuk perpanjangan, volume, total, nomor, intensitas, dan skop. Lalu dalam Kamus Oxford, eskalasi muncul dalam bentuk kata kerja (verb), yaitu escalate yang berarti to become greater, worse, more serious, etc.; to make something greater, worse, more serious, etc. atau menjadi lebih besar, lebih buruk, lebih serius, dan lain-lain.

Secara morfologis, kata eskalasi merupakan bentuk serapan yang berasal dari bahasa asing (bahasa Inggris). Kata eskalasi mengandung afiks (imbuhan) bahasa Inggris yang diadopsi ke dalam bahasa Indonesia, yaitu -ion dari kata escalation yang menandakan kategori kata benda atau nomina. Afiks bahasa Inggris -ion pada kata eskalasi setelah diserap ke bahasa Indonesia berubah menjadi -si. Sementara itu, jika dikaitkan dengan bahasa sebagai praktik sosial seperti pernyataan Halliday, kata eskalasi diartikan sebagai ‘kenaikan atau peningkatan’ serangan dan juga ketegangan. Dalam kasus ini, ketegangan terjadi antara dua pihak yang berseteru, yaitu Iran dan Amerika Serikat-Israel.

BACAJUGA

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

Minggu, 08/3/26 | 23:23 WIB
Memahami Kembali Imbuhan memper-

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB

Sebagai bentuk praktik sosial atas situasi dan kondisi yang terjadi di masyarakat, popularitas kata eskalasi terus meningkat seperti yang terlihat pada headline-headline (tajuk berita) beberapa media massa di Indonesia berikut ini.

  1. Eskalasi Perang Iran Vs Israel-AS Menurun, Husein: As-Israel Gagal Gulingkan Rezim (SINDOnews, 11 Maret 2026)
  2. Efek Domino Eskalasi di Timur Tengah (Kompaspedia, 11 Maret 2026)
  3. Eskalasi Meningkat : Iran, AS, dan Israel Saling Balas Serangan (MetroTV, 15 Maret 2026)
  4. Eskalasi Perang Timur Tengah, Pemerintah Siapkan 3 Skenario Penyelenggaraan Haji 2026 (MetroTV, 11 Maret 2026)
  5. Prabowo Telpon MBS Bahas Eskalasi Militer di Timur Tengah (Kompas.com, 12 Maret 2026)

Selain contoh-contoh di atas, masih banyak lagi penggunaan kata eskalasi dalam berbagai bentuk konstruksi kalimat yang dengan mudah dapat kita temukan di media massa maupun media sosial saat ini. Kata-kata lain yang juga populer selama masa perang Iran versus AS-Israel di antaranya kata serangan, nuklir, rudal hipersonik, drone, ketakutan, negosiasi, sistem pertahanan, sistem keamanan, komando, teknologi militer, kecanggihan, propaganda, superior, dampak psikologis, jalur, militer, bom, kronologi, Selat Hormuz, minyak, American First, pasukan, kerugian, Korps Garda Revolusi Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps), perang panjang, negara-negara teluk sebutan untuk negara-negara timur tengah, Mossad (agen) rahasia Israel, framing (pembingkaian), mengadu domba, memecah belah, dukungan, blockade, perang, mentalitas, syuhada, Ali Khameney, taktik perang asimetris Iran, armada, USS Gerard Fork, armada angkatan laut, pangkalan minyak, digempur, dan sebagainya.

Setiap istilah yang populer membawa muatan makna tersendiri yang mencerminkan praktik sosial yang di dalamnya terkandung ideologi dan kekuasaan, seperti istilah American First yang menunjukkan ideologi dan kekuasaan Amerika Serikat yang diperkenalkan Donald Trump melalui kebijakan ekonomi. Kebijakan ini adalah upaya untuk membangkitkan kembali privilege “American Primacy” yang menegaskan kedaulatan mutlak hegemoni Amerika sambil mereduksi peran organisasi internasional (international organization/IO) sebagai platform diplomasi inklusif (Hamid,2025).

Kemudian, Korps Garda Revolusi Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps) merupakan cabang militer Iran yang didirikan tahun 1979 oleh Ruhollah Khomeini yang bertugas melindungi negara dalam kapasitas tradisional untuk memastikan kedulatan negara dan integritas Republik Islam Iran. Setiap istilah mengandung kekuatan, kekuasaan, dan ideologi yang mencerminkan nilai-nilai sosial dan budaya setiap masyarakatnya. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa, khususnya kata-kata, hadir bukan sebagai sesuatu yang kosong belaka, tetapi padat nilai dan makna.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

Berita Sesudah

Firdaus: Kerusakan Lingkungan Bisa Picu Bencana dan Turunkan Kesejahteraan

Berita Terkait

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

Minggu, 08/3/26 | 23:23 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan Prodi S2 & S3 Linguistik Universitas Andalas) Orang Minangkabau...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Di laman Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa minggu terakhir dunia digital dihebohkan oleh...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Berbelanja merupakan...

Berita Sesudah
Firdaus: Kerusakan Lingkungan Bisa Picu Bencana dan Turunkan Kesejahteraan

Firdaus: Kerusakan Lingkungan Bisa Picu Bencana dan Turunkan Kesejahteraan

POPULER

  • Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

    Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Popularitas Kata “Eskalasi” dalam Perang Iran versus AS-Israel

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Yes-Man” Bukan Jaminan Promosi: Pakar Sebut Seni Menolak Pekerjaan Adalah Kunci Produktivitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus: Kerusakan Lingkungan Bisa Picu Bencana dan Turunkan Kesejahteraan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026