
Bahasa adalah representasi dari semiotika sosial yang nyata adanya. Semiotika sosial berhubungan dengan sistem realisasi makna melalui pemilihan bentuk-bentuk atau simbol-simbol kebahasaan. Bahasa sebagai semiotika sosial berarti bahwa bahasa sebagai sistem tanda linguistik merepresentasikan tanda-tanda dan simbol sebagai representasi dari praktik sosial. Bahasa dan lingkungan semiotika sosial memiliki hierarki yang terdiri atas lapisan (layer) yang saling terkait satu sama lain. Hierarki bahasa dan lingkungan semiotikanya terdiri atas grafologi/fonologi, gramatika, semantik, register, genre, dan ideologi (Halliday dan Hasan, 1978). Praktik sosial merupakan wacana/teks yang tidak hanya sekadar rangkaian kalimat yang terdiri atas subjek, predikat, objek, dan fungsi lainnya, tetapi juga “tersembunyi” ideologi tertentu (Thohir, 2007; Santoso, 2009).
Perang antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel juga telah memunculkan warna baru dalam ranah kosakata bahasa Indonesia. Beberapa kata meningkat popularitasnya. Hal ini disebabkan oleh bahasa sebagai representasi dari realitas sosial yang digunakan oleh masyarakat dalam praktik-praktik sosial. Seperti saat ini, kata-kata yang terkait dengan perang semakin akrab di telinga kita sehubungan dengan perang yang terjadi antara Iran dan AS serta Israel.
Eskalasi merupakan salah satu kata yang populer digunakan saat ini. Kata eskalasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia VI daring berarti kenaikan; pertambahan (volume, jumlah, dan sebagainya). Kamus Merriam-Webster mengartikan kata eskalasi sebagai peningkatan untuk perpanjangan, volume, total, nomor, intensitas, dan skop. Lalu dalam Kamus Oxford, eskalasi muncul dalam bentuk kata kerja (verb), yaitu escalate yang berarti to become greater, worse, more serious, etc.; to make something greater, worse, more serious, etc. atau menjadi lebih besar, lebih buruk, lebih serius, dan lain-lain.
Secara morfologis, kata eskalasi merupakan bentuk serapan yang berasal dari bahasa asing (bahasa Inggris). Kata eskalasi mengandung afiks (imbuhan) bahasa Inggris yang diadopsi ke dalam bahasa Indonesia, yaitu -ion dari kata escalation yang menandakan kategori kata benda atau nomina. Afiks bahasa Inggris -ion pada kata eskalasi setelah diserap ke bahasa Indonesia berubah menjadi -si. Sementara itu, jika dikaitkan dengan bahasa sebagai praktik sosial seperti pernyataan Halliday, kata eskalasi diartikan sebagai ‘kenaikan atau peningkatan’ serangan dan juga ketegangan. Dalam kasus ini, ketegangan terjadi antara dua pihak yang berseteru, yaitu Iran dan Amerika Serikat-Israel.
Sebagai bentuk praktik sosial atas situasi dan kondisi yang terjadi di masyarakat, popularitas kata eskalasi terus meningkat seperti yang terlihat pada headline-headline (tajuk berita) beberapa media massa di Indonesia berikut ini.
- Eskalasi Perang Iran Vs Israel-AS Menurun, Husein: As-Israel Gagal Gulingkan Rezim (SINDOnews, 11 Maret 2026)
- Efek Domino Eskalasi di Timur Tengah (Kompaspedia, 11 Maret 2026)
- Eskalasi Meningkat : Iran, AS, dan Israel Saling Balas Serangan (MetroTV, 15 Maret 2026)
- Eskalasi Perang Timur Tengah, Pemerintah Siapkan 3 Skenario Penyelenggaraan Haji 2026 (MetroTV, 11 Maret 2026)
- Prabowo Telpon MBS Bahas Eskalasi Militer di Timur Tengah (Kompas.com, 12 Maret 2026)
Selain contoh-contoh di atas, masih banyak lagi penggunaan kata eskalasi dalam berbagai bentuk konstruksi kalimat yang dengan mudah dapat kita temukan di media massa maupun media sosial saat ini. Kata-kata lain yang juga populer selama masa perang Iran versus AS-Israel di antaranya kata serangan, nuklir, rudal hipersonik, drone, ketakutan, negosiasi, sistem pertahanan, sistem keamanan, komando, teknologi militer, kecanggihan, propaganda, superior, dampak psikologis, jalur, militer, bom, kronologi, Selat Hormuz, minyak, American First, pasukan, kerugian, Korps Garda Revolusi Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps), perang panjang, negara-negara teluk sebutan untuk negara-negara timur tengah, Mossad (agen) rahasia Israel, framing (pembingkaian), mengadu domba, memecah belah, dukungan, blockade, perang, mentalitas, syuhada, Ali Khameney, taktik perang asimetris Iran, armada, USS Gerard Fork, armada angkatan laut, pangkalan minyak, digempur, dan sebagainya.
Setiap istilah yang populer membawa muatan makna tersendiri yang mencerminkan praktik sosial yang di dalamnya terkandung ideologi dan kekuasaan, seperti istilah American First yang menunjukkan ideologi dan kekuasaan Amerika Serikat yang diperkenalkan Donald Trump melalui kebijakan ekonomi. Kebijakan ini adalah upaya untuk membangkitkan kembali privilege “American Primacy” yang menegaskan kedaulatan mutlak hegemoni Amerika sambil mereduksi peran organisasi internasional (international organization/IO) sebagai platform diplomasi inklusif (Hamid,2025).
Kemudian, Korps Garda Revolusi Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps) merupakan cabang militer Iran yang didirikan tahun 1979 oleh Ruhollah Khomeini yang bertugas melindungi negara dalam kapasitas tradisional untuk memastikan kedulatan negara dan integritas Republik Islam Iran. Setiap istilah mengandung kekuatan, kekuasaan, dan ideologi yang mencerminkan nilai-nilai sosial dan budaya setiap masyarakatnya. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa, khususnya kata-kata, hadir bukan sebagai sesuatu yang kosong belaka, tetapi padat nilai dan makna.








