Kamis, 15/10/26 | 01:14 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Kreativitas Linguistik atau Gejala Klinis, Neologisme?

Minggu, 21/9/25 | 14:46 WIB

Oleh: Reno Novita Sari dan Leni Syafyahya
(Mahasiswa dan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

Bahasa selalu lebih dari sekadar alat komunikasi. Ia adalah cerminan batin, jendela untuk memahami seseorang, sekaligus ruang untuk menciptakan makna baru. Bagi penderita skizofrenia, bahasa sering hadir dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang. Mereka menciptakan kata-kata baru yang tidak ditemukan dalam kamus resmi atau fenomena yang biasanya disebut dengan istilah neologisme. Namun, apakah fenomena neologisme pada penderita skizofrenia ini hanya tanda dari gangguan pikiran atau justru sebagai bentuk kreativitas linguistik?

BACAJUGA

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB
Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Salah seorang pasien penderita skizofrenia di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan menyebut kopi hitam dengan menggunakan istilah “my soulwengi”. Kata ini merupakan penggabungan dari kata soul yang berarti jiwa dalam bahasa Inggris dan wengi yang berarti malam dalam bahasa Jawa. Hasilnya adalah kiasan yang menggambarkan kopi sebagai jiwa malam. Bagi orang lain, ungkapan ini mungkin terdengar aneh atau tidak lazim dan membingungkan. Namun, bagi pasien, kata tersebut memiliki makna yang mendalam. Baginya, kopi bukan sekadar minuman, melainkan bagian dari identitas dan pengalaman pribadi. Kata lain dari pasien yang sama adalah istilah “Skeba” yang digunakan untuk menamai fitur visual dalam permainan komputer, atau “ngefregen” untuk menggambarkan kondisi yang sibuk. Meskipun tidak ada dalam kamus, istilah-istilah ini tetap memiliki makna bagi si penutur.

Dalam ilmu psikiatri, fenomena neologisme disebut sebagai disorganisasi bahasa, salah satu ciri khas skizofrenia yang tercatat dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (American Psychiatric Association, 2013). Dengan kata lain, kemunculan kata-kata baru dianggap sebagai tanda adanya gangguan dalam cara berpikir. Namun, dari sudut pandang linguistik, hal tersebut juga bisa dimaknai sebagai bentuk kreativitas. Bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita pun sering menciptakan kata-kata baru karena pengaruh tren, teknologi, maupun media sosial. Bedanya, pada penderita skizofrenia kata-kata ini tercipta dari pengalaman batin yang sangat pribadi sehingga sulit dipahami oleh orang lain.

Fenomena neologisme menjadi istimewa karena kata-kata baru yang diucapkan oleh penderita skizofrenia bukan sekadar kesalahan bahasa, melainkan cara mereka untuk menyebut pengalaman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata biasa. Contoh istilah lain yang disebutkan oleh salah satu pasien penderita skizofrenia seperti “glindro” untuk mengumpamakan suara berisik dalam kepalanya. Hal ini dapat dipahami sebagai ekspresi kreatif dalam menamai sesuatu yang abstrak dan mungkin tidak pernah dialami oleh orang lain. Oleh karena itu, daripada melihatnya sebagai bahasa yang aneh, lebih baik kita memahaminya sebagai cara penderita untuk menggambarkan pergulatan batinnya. Dari sudut pandang medis, fenomena ini memang dianggap penting sebagai tanda klinis dalam diagnosis. Namun, dari perspektif linguistik, hal ini menunjukkan bahwa bahasa manusia tetap produktif, bahkan ketika pikiran sedang kacau. Sementera itu, dari sudut pandang kemanusiaan fenomena ini memberikan pelajaran bahwa penderita skizofrenia bukan hanya pasien dengan gangguan, tetapi juga individu dengan dunia bahasa yang unik dan kaya imajinasi.

Dengan demikian, bahasa menunjukkan bahwa kreativitas manusia tidak pernah berhenti, bahkan ketika kondisi mental sedang sakit. Seseorang tetap berusaha mencipatkan makna baru melalui kata-kata. Pada penderita skizofrenia, hal ini terlihat jelas bahwa mereka memiliki imajinasi yang seharusnya dihargai, bukan sekadar dilihat sebagai gejala sakit. Dengan sedikit empati, kita bisa memahami bahwa di balik kata-kata yang terdengar aneh dan janggal. Ada usaha yang tulus untuk menyampaikan pengalaman batin kepada orang lain.

Neologisme pada skizofrenia menunjukkan bahwa bahasa manusia selalu bergerak antara dua sisi, yaitu gangguan dan kreativitas. Kata-kata seperti “my soulwengi”, “Skeba”, “ngefregen”, atau “glindro” bukan sekadar rangakaian huruf tanpa makna, melainkan bukti usaha seseorang untuk tetap berkomunikasi dan berkreasi meskipun pikirannya terganggu. Daripada menganggapnya hanya sebagai sesuatu yang aneh, lebih tepat bila kita melihatnya sebagai bagian dari cerita manusia yang berusaha keras untuk tetap hadir dan dimengerti.

Tags: #Reno Novita Sari dan Leni Syafyahya
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Kecerdikan Kancil dalam Fabel Indonesia dan Melayu: Analisis Sastra Bandingan

Berita Sesudah

Bahasa Gaul dan Panggung Ekspresi Anak Muda

Berita Terkait

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Taufiq Muhammad Akbar ‎Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas (UNAND) Undang-undang berubah, Pasal diperbaiki, Ancaman pidana disesuaikan, Istilah hukum diperbarui. Tetapi...

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa, Miskomunikasi, dan Konflik Rumah Ibadah

Senin, 12/10/26 | 06:40 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Bahasa memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman, hubungan sosial, dan sikap...

Penentu Arah Perubahan Zaman

Penentu Arah Perubahan Zaman

Minggu, 11/10/26 | 20:39 WIB

Oleh: Arza Kailla Chaerani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Dunia terus berubah, begitu pula cara manusia memahami identitas,...

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Minggu, 11/10/26 | 20:02 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Dalam ranah sosio-kognitif, bahasa merupakan piranti yang menjembatani memori dan...

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Minggu, 04/10/26 | 22:27 WIB

Oleh: Irfan Pandesta Putra, S.Hum (Sejarawan & Alumni S1 Ilmu Sejarah FIB Universitas Andalas)   Novel Siti Nurbaya: Kasih Tak...

Berita Sesudah
Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa Gaul dan Panggung Ekspresi Anak Muda

POPULER

  • Lele Raksasa (Foto: Ist)

    Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fenomena Kabut Asap di Sumbar, Donizar: Jangan Tunggu Ada Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026