Padang, Scientia – Anggota DPRD Sumatera Barat, Firdaus, menyatakan dukungan penuh terhadap penerbitan buku Ensiklopedia Tuanku dan Warisan Syekh Burhanuddin (Islamisasi di Minangkabau dari Ranah Piaman ke Darek) karya Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang, Prof. Duski Samad.
Firdaus, yang juga menjabat sebagai Ketua Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) Sumbar, menilai kehadiran buku tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat pemahaman masyarakat terhadap sejarah dan peran ulama dalam membentuk identitas Minangkabau.
Menurut dia, pembangunan daerah tidak bisa hanya bertumpu pada aspek politik praktis dan infrastruktur semata, tetapi juga harus menyentuh dimensi intelektual dan spiritual masyarakat.
“Upaya seperti ini penting untuk mengingatkan kita bahwa kemajuan harus berdiri di atas fondasi sejarah dan nilai-nilai yang telah diwariskan para ulama,” kata Firdaus di Padang, Rabu.
Ia menilai, sosok Syekh Burhanuddin memiliki peran besar dalam proses islamisasi di Minangkabau, khususnya dari wilayah pesisir Ranah Piaman hingga ke wilayah darek. Warisan pemikiran dan dakwah tokoh tersebut, menurut Firdaus, perlu terus didokumentasikan dan disebarluaskan kepada generasi muda.
Dalam perspektif kepemimpinan sosial, Firdaus melihat perhatian terhadap sejarah ulama sebagai bentuk kesadaran kolektif bahwa pembangunan masa depan harus memiliki akar yang kuat pada tradisi.
Ia berharap ensiklopedia tersebut tidak hanya menjadi referensi akademik, tetapi juga mampu menjangkau masyarakat luas dan menjadi sumber pembelajaran lintas generasi.
“Ini bukan sekadar buku, tetapi bagian dari upaya menjaga identitas dan memperkuat jati diri masyarakat Minangkabau,” ujarnya.
Buku yang ditulis Prof. Duski Samad itu mengulas perjalanan islamisasi di Minangkabau melalui pendekatan historis dan kultural, dengan menempatkan peran Tuanku dan Syekh Burhanuddin sebagai figur sentral dalam penyebaran nilai-nilai Islam di daerah tersebut.
Firdaus mendorong agar karya-karya serupa terus lahir sebagai bagian dari penguatan literasi sejarah lokal, sekaligus menjadi penyeimbang di tengah arus modernisasi yang kian cepat.(yrp)









