
Padang, Scientia.id – Di tengah situasi darurat bencana yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, masyarakat dihadapkan pada ancaman lain yang tak kalah berbahaya, yakni maraknya penipuan digital berkedok bantuan paket data gratis. Modus ini menyasar warga yang tengah berada dalam kondisi rentan dan membutuhkan akses komunikasi.
Tautan mencurigakan tersebut tersebar luas melalui pesan berantai di WhatsApp, Facebook, hingga Telegram. Pesan biasanya disertai narasi empatik, menggunakan logo operator seluler, serta ajakan untuk segera mengklik link guna mendapatkan paket data gratis bagi korban bencana. Namun, di balik itu tersimpan praktik phishing yang berujung pada pencurian data pribadi hingga pengurasan rekening korban.
Akademisi sekaligus Relawan TIK Sumatera Barat, Rahmad Saputra, mengungkapkan bahwa kasus ini bukan lagi sekadar ancaman potensial, melainkan telah menimbulkan korban nyata di lapangan.
“Korban sudah ada dan jumlahnya terus bertambah. Di beberapa daerah, ada warga yang kehilangan uang hingga Rp5 juta setelah mengklik tautan tersebut. Bahkan, di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, seorang petani bawang dilaporkan kehilangan sekitar Rp100 juta akibat modus serupa,” ungkap Rahmad kepada Scientia, Selasa (16/12/2025).
Menurutnya, pelaku kejahatan siber memanfaatkan momentum krisis ketika masyarakat membutuhkan informasi dan bantuan secara cepat. Kebutuhan mendesak akan akses komunikasi dimanfaatkan untuk menjebak korban melalui iming-iming bantuan instan.
Modus penipuan ini terbilang sederhana namun efektif. Korban diarahkan ke situs tiruan yang menyerupai laman resmi operator. Selanjutnya, korban diminta mengisi data pribadi, nomor ponsel, hingga kode OTP. Data tersebut kemudian digunakan pelaku untuk mengambil alih akun perbankan atau dompet digital korban.
Rahmad menegaskan bahwa bantuan resmi dari operator telekomunikasi memang benar-benar tersedia dalam situasi bencana. Namun, seluruh bantuan tersebut memiliki mekanisme aktivasi resmi dan tidak pernah disalurkan melalui tautan acak.
“Sebagai contoh, Telkomsel menyalurkan bantuan komunikasi berupa paket data 3 GB, 300 SMS, dan 1.000 menit telepon bagi masyarakat Sumatera Barat terdampak bencana. Paket ini hanya bisa diaktifkan melalui kode resmi 88820#, bukan lewat link,” jelasnya.
Ia menambahkan, operator lain seperti XL dan Axis juga menggunakan kode dial resmi seperti *123# atau *838# untuk layanan pelanggan. Operator telekomunikasi tidak pernah meminta data sensitif, apalagi kode OTP, melalui pesan pribadi atau grup.
Karena itu, masyarakat diimbau memegang prinsip sederhana namun penting: jika suatu bantuan meminta untuk mengklik tautan, mengisi data pribadi, atau memasukkan kode OTP, hampir dapat dipastikan itu adalah penipuan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bencana alam kerap diikuti oleh “bencana digital”. Ketika ruang digital tidak aman, kepercayaan masyarakat terhadap informasi dan bantuan resmi juga ikut terganggu.
Rahmad menilai edukasi literasi digital harus menjadi bagian dari mitigasi bencana. Pemerintah, operator telekomunikasi, platform digital, dan komunitas literasi perlu memperkuat kolaborasi agar informasi resmi cepat dan tepat sampai ke masyarakat.
Baca Juga: Wabup Solok H. Chandra Imbau Masyarakat Waspada Link Phishing di Tengah Bencana
“Bencana memang tidak bisa dihindari, tetapi penipuan digital di tengah bencana seharusnya bisa dicegah. Kewaspadaan di ruang digital adalah bentuk kepedulian, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk sesama,” pungkasnya. (*)









