Jumat, 29/8/25 | 18:08 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Warna-Warni Kebudayaan Indonesia dalam Puisi “Pusparagam Budaya Nusantara”

Minggu, 02/6/24 | 09:00 WIB

Oleh: Siti Rubaiah Al Adawiyah
(Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

 

Kebudayaan Indonesia kini tidak lagi diminati oleh generasi muda, bahkan satu per satu kebudayaan telah hilang dan tidak dikenali lagi. Generasi muda cenderung menganggap bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang kuno dan lebih menggemari kebudayaan barat ataupun negara lain. Hal ini merupakan sebuah fenomena yang sangat menyayangkan karena betapa tidak, budaya Indonesia yang kaya dan beragam harus luntur secara perlahan karena tidak lagi diperkenalkan dan dilestarikan. Melalui puisi ini, kecintaan terhadap budaya Indonesia dapat kembali dimunculkan. Keindahan kebudayaan Indonesia digambarkan dengan singkat. Namun, terasa hidup dengan pemilihan diksi yang indah dan imajinatif.

BACAJUGA

Puisi “Ibu” Chairil Anwar dan “Ibu Dehulu” Amir Hamzah: Analisis Stilistika

Puisi “Ibu” Chairil Anwar dan “Ibu Dehulu” Amir Hamzah: Analisis Stilistika

Minggu, 19/5/24 | 11:56 WIB
Perkembangan Sastra Indonesia dalam Majalah

Folklor: Tradisi Ma Beurang yang Hampir Luntur

Minggu, 03/3/24 | 16:19 WIB

Melalui puisi “Pusparagam Budaya Nusantara” karya Nadila Urlia Putri Shafna P, kita dapat mengetahui bagaimana indahnya serta beragamnya kebudayaan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Banyak hal yang masih bisa dieksplorasi terkait kebudayaan Indonesia. Alangkah baiknya, generasi muda bisa lebih mengenal kebudayaan Indonesia dengan mempelajari dan terus melestarikannya.

Puisi merupakan karya sastra yang bersifat imajinatif, menggunakan bahasa konotatif dengan memadatkan segala unsur bahasa sastra, struktur fisik, dan struktur batinnya. Puisi adalah kata-kata indah yang mengungkapkan secara nyata ekspresi dari pikiran manusia (Waat-Dunton Situmorang, dalam Samosir, 2013). Ciri-ciri puisi ialah memiliki rima yang khas, bahasanya imajinatif dan emosional, sehingga memberikan efek keindahan, serta diksi yang ekspresif.

Sebagai sebuah karya sastra, puisi menjadi salah satu medium untuk menyampaikan ide, emosi, dan pengalaman manusia dengan menggunakan bahasa yang estetis. Hal ini sejalan dengan pendapat Mursal Esten (1978) yang menyebutkan bahwa sastra ialah sebuah pengungkapan terhadap fakta artistik serta imajinatif yang menjadi perwujudan atau manifestasi kehidupan manusia. Dengan demikian, puisi mengandung fakta atau pengalaman yang ada di dalam kehidupan manusia yang diwujudkan dalam sebuah karya dengan medium bahasa yang estetis.

Banyak hal yang dapat ditemui dalam puisi. Para penyair mengekspresikan berbagai fenomena dalam kehidupan melalui puisi yang ditulisnya. Salah satu fenomena yang diungkapkan dalam puisi ialah kebudayaan. Kebudayaan merupakan segala sistem pemikiran, rasa, perilaku, serta karya yang dihasilkan oleh manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang mereka pelajari dan diakui sebagai milik mereka (Koentjaraningrat, 1923-1999). Indonesia merupakan negara yang kaya akan ragam kebudayaan. Budaya Indonesia mencakup berbagai aspek, di antaranya ialah pertunjukan, busana, arsitektur, olahraga, seni musik, kuliner, perfilman, kesusastraan, kebebasan pers dan media cetak, serta bahasa (Wikipedia, 2017). Selain itu, berbagai bentuk budaya daerah di Indonesia dapat dirincikan menjadi; rumah adat, upacara adat, tarian, lagu, musim, seni gambar, seni patung, tenun, dan pakaian adat (Wikipedia, 2018).

Kebudayaan Indonesia secara singkat tergambar dalam sebuah puisi yang berjudul “Pusparagam Budaya Nusantara” karya Nadila Urlia Putri Shafna P (2021), seorang mahasiswi Administrasi Publik, Universitas Surakarta. Dalam puisi tersebut, keindahan dan kekayaan kebudayaan Indonesia dirangkum dalam diksi yang indah serta rima yang teratur. Bait pertama menggambarkan tarian ronggeng ayu yang lemah gemulai diiringi dengan musik gamelan. Bait kedua menjelaskan bahwa terdapat juga tari kecak yang meski lebih bergairah, tetapi sama menakjubkannya. Bait ketiga menggambarkan kekayaan budaya timur yang sederhana dengan kharismanya yang tinggi. Pada bait keempat dan kelima, menggambarkan betapa kaya dan indah alam serta kebudayaan yang dimiliki Indonesia.

Dalam menyampaikan ide dan gagasan pada sebuah puisi, sering kali digunakan gaya bahasa. Gaya bahasa ialah mengenai penggunaan kata, frasa, atau kalimat tertentu sesuai atau tidak sesuai (Ibrahim, 2015, hlm. 39). Dengan menggunakan gaya bahasa ide/pemikiran dapat lebih menarik perhatian pembaca serta mempengaruhi emosi pembaca agar dapat terpengaruh dengan apa yang ingin disampaikan. Gaya bahasa dapat mengungkapkan pikiran dengan lebih estetis dengan menggunakan ragam gaya bahasa seperti metafora, personifikasi, ironi, simbolisme dan sebagainya.

Puisi “Pusparagam Budaya Nusantara” karya Nadila Urlia Putri Shafna P menggunakan beberapa majas. Diantaranya, majas personifikasi yaitu pada bait pertama, Denting bilah gamelan beradu palu, Cekal mengawal tarian ronggeng ayu. Lirik tersebut menggambarkan seolah-olah gamelan memiliki kehidupannya sendiri dengan bertingkah aktif untuk menciptakan suasana meriah. Selanjutnya, terdapat majas perbandingan pada bait kedua yaitu Kumpulan bundar penari kecak bergairah, Lenggoknya tak selembut sang ronggeng, Namun daya pikatnya tetap mentereng. Pada lirik tersebut dibandingkan antara tari ronggeng dan tari kecak yang mana salah satu diantaranya berlenggok lembut, sedangkan yang lainnya menari dengan bergairah. Meskipun demikian, keduanya tetap menarik perhatian karena keindahannya.

Pada bait ketiga, terdapat majas metafora yaitu Tanah mutiara hitam yang “seharusnya” makmur, Budaya mereka tak ayal lagi, Sederhana dengan karismanya yang tinggi. Lirik tersebut memiliki makna bahwa alangkah baiknya kekayaan alam dan kebudayaan di bagian timur lebih diperhatikan serta dihargai agar bisa menjadi lebih makmur. Terakhir, terdapat majas repetisi pada bait keempat yaitu Dari Sabang sampai Merauke, Dari Miangas sampai Rote. Lirik tersebut menegaskan bahwa kekayaan kebudayaan dan keindahan alam Indonesia begitu beragam dan tersebar di berbagai penjuru yang tentunya tidak dapat disebutkan satu per satu dalam puisi tersebut.

Rima yang digunakan dalam puisi ini memiliki ciri khas tersendiri dengan pola rima yang teratur sehingga menciptakan keselarasan serta keindahan bunyi, seperti yang terdapat pada bait keempat. Kemegahan alam, zamrud khatulistiwa, Dari Sabang sampai Merauke, Dari Miangas sampai Rote, Durhaka jika sampai sirna. Tercipta rima a-b-b-a, pada bait tersebut. Puisi ini juga menggunakan bahasa yang dipadatkan, imajinatif, dan emosional sehingga menciptakan suasana yang hidup melalui kata demi kata yang disampaikan. Diksi yang digunakan dalam puisi ini begitu ekspresif, sehingga pembaca dapat merasakan gambaran yang kuat tentang kebudayaan yang digambarkan pada puisi. Contohnya terdapat pada bait pertama yaitu, Denting bilah gamelan beradu palu, Cekal mengawal tarian ronggeng ayu. Seolah-olah, pembaca ikut mendengarkan suara gamelan dan melihat bagaimana indahnya tarian ronggeng ayu.

Tags: #Siti Rubaiah Al Adawiyah
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Perlawanan dalam Film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa

Berita Sesudah

Yogyakarta Dulu dan Kini: Refleksi Sebuah Perubahan

Berita Terkait

Tantangan Kuliah Lapangan Fonologi di Era Mobilitas Tinggi

Langkuik, Hidden Gem di Tengah Hutan Tanah Galugua

Minggu, 17/8/25 | 16:20 WIB

Oleh: Nada Aprila Kurnia (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Universitas Andalas)   Langkuik Kolam bukan kolam. Petualangan kami ke sana bukan...

Berbagai Istilah dan Kemubaziran Kata dalam Kalimat

Hukum Kawin Sesuku di Minangkabau

Minggu, 17/8/25 | 16:05 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra, S.Hum., Gr. (Guru Muatan Lokal Keminangkabau SMAN 1 Ranah Pesisir)   Mengapa di Minangkabau dilarang melakukan...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Minggu, 17/8/25 | 15:49 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Jurusan Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Komunikasi merupakan proses dinamis untuk menyampaikan dan menerima pesan antara...

Penulisan Jenjang Akademik dalam Bahasa Indonesia

Memilih Menantu (Sumando)

Minggu, 10/8/25 | 13:46 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra, S.Hum., Gr. (Guru Muatan Lokal Keminangkabauan SMAN 1 Ranah Pesisir)   Orang Minangkabau dalam memilih menantu...

Modernisasi Penampilan Rabab Pasisia Di ISI Padangpanjang

Emansipasi Wanita dalam Drama “Nurani” Karya Wisran Hadi

Minggu, 03/8/25 | 16:48 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Universitas Andalas)            Kesetaraan gender merupakan sebuah isu yang banyak dibahas...

Nyonya-Nyonya dan Luka Tak Terbagi Karya Wisran Hadi

Nyonya-Nyonya dan Luka Tak Terbagi Karya Wisran Hadi

Minggu, 03/8/25 | 15:56 WIB

Oleh: Cynthia Syafarani (Mahasiswa Universitas Andalas, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Indonesia) Siapa sangka, sebuah teras rumah bisa menjadi medan...

Berita Sesudah
Hal Tidak Mengenakkan Ketika Berkunjung  ke Yogyakarta

Yogyakarta Dulu dan Kini: Refleksi Sebuah Perubahan

Discussion about this post

POPULER

  • Kominfo Dharmasraya Diduga Jadi Biang Kegaduhan Soal Pembahasan Asistensi APBD-P 2025

    Kominfo Dharmasraya Diduga Jadi Biang Kegaduhan Soal Pembahasan Asistensi APBD-P 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Buzzer, Kominfo, dan Tensi Politik Dharmasraya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 401 PPPK di Pesisir Selatan Resmi Dilantik, Bupati Ingatkan Jangan Gadaikan SK ke Bank

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Solok Tutup Safari Berburu Hama, Dorong Perlindungan Pertanian dan Silaturahmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukittinggi Didorong Jadi Kota Beradat, Berbudaya, dan Ramah Pejalan Kaki

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tragedi Affan, PMII Padang Ingatkan Jangan Ada Impunitas Aparat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024