Selasa, 07/7/26 | 16:41 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Mengenal Afiks ter- dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 06/11/22 | 09:44 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra
(Alumnus Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

 

Bahasa Indonesia memiliki berbagai jenis afiks (imbuhan). Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata (Chaer, 2019:23). Keraf (2018) dalam Tata Bahasa Indonesia menyebutkan jenis afiks dalam bahasa Indonesia terdiri dari prefiks, sufiks, konfiks, gabungan imbuhan, dan infiks. Secara harfiah, prefiks diartikan sebagai imbuhan yang ditambahkan pada bagian awal sebuah kata dasar atau bentuk dasar. Prefiks disebut juga sebagai awalan. Berikut adalah bentuk-bentuk prefiks dalam bahasa Indonesia, yaitu ber-, me-, per-, di-, ke-, ter-, dan se-.

BACAJUGA

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB
Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Senin, 06/7/26 | 05:43 WIB

Dari bentuk tersebut, terlihat bahwa ter- merupakan salah satu bentuk prefiks. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2016), ter- adalah prefiks, yang memiliki makna ‘paling’.  Contohnya: tercantik ‘paling’ cantik’; terburuk ‘paling baruk’; dan terpandai ‘paling pandai’. Jika dilihat bahwanya prefiks ter- memiliki fenomena yang serupa dengan prefiks ber-. Prefiks ter- juga memiliki alomorf. Alomorf ialah anggota morfem yang sama, yang variasi bentuknya disebabkan oleh pengaruh lingkungan yang dimasukinya (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Republik Indonesia, 2016). Alomorf dari prefiks ter-, yaitu ter-, te-, dan tel-.

Pertama, alomorf ter-. Penggunaan alomorf ter- ini banyak ditemukan dalam kosakata bahasa Indonesia, seperti kata terjual (jual), terbeli (beli), tertidur (tidur), terbangun (bangun) dan sebagainya. Kedua, alomof te-. Alomof te- terbentuk karena fonem /r/ pada morfem ter- terjadi penghilangan. Hal itu disebabkan oleh pertemuan dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /r/ sehingga morfem ter- berubah menjadi  te-. Contoh penggunaan alomof te- ini adalah terasa (rasa), teramai (ramai), terebut (rebut), teraba (raba) dan terekam (rekam).

Selanjutnya, alomof tel-. Putrayasa (2008:19) dalam Kajian Morfologi (Bentuk Derivasional dan Infleksional) menyebutkan bahwa alomof tel- hanya terjadi pada kata-kata tertentu saja, seperti kata telanjur (lanjur), telentang (lentang), dan telantar (lantar). Dari contoh-contoh tersebut terlihat morfem ter-, yakni mendapat proses asimilasi dan menjadi morfem tel-.

Jika dilihat dari fungsinya, prefiks ter- tenyata memiliki fungsi yang sama dengan prefiks di-, yaitu membentuk kata kerja pasif. Kata kerja pasif merupakan kebalikan dari kata kerja aktif. Kata kerja pasif biasanya subjek dikenai tindakan, sedangkan kata kerja aktif adalah  subjeknya sebagai pelaku tindakan, misalnya (1) Kamus itu terbawa Riki kemarin sore. (2) Ayam ditangkap Heru. Pada contoh kalimat (1) dan (2) tersebut, terlihat kamus dan ayam merupakan subjek kalimat. Kedua subjek kalimat tersebut ialah dikenai tindakan sehingga disebut sebagai penderita dalam kalimat pasif.

Selain fungsi tersebut, Keraf (2018:105) juga menyebutkan adapun fungsi lain dari prefiks ter-. Pertama, prefiks ter- berfungsi untuk menyatakan aspek; dan. Kedua, prefiks ter- berfungsi untuk membentuk dan menyatakan perbandingan.

Kemudian, di samping memiliki persamaan dengan prefiks di- , prefiks ter- juga memiliki perbedaan dengan prefiks di-. Secara umum, Putrayasa (2008:19—20) menyebutkan perbedaan itu adalah: Pertama, pasif ter- tidak mengutamakan tindakan sehingga pada umumnya pelaku tindakan tidak disebutkan. Hal tersebut berbeda dengan pasif di- yang masih memperlihatkan pelaku tindakannya. Kedua, pasif ter- lebih menganjurkan hasil tindakan/lebih menganjurkan aspek prefektif. Keadaan tersebut berbeda dengan pasif di- yang lebih menganjurkan berlakunya tindakan. Ketiga, pasif ter- menujukkan ketidaksengajaan dan ketiba-tibaan, sedangkan pasif di- menunjukkan tindakan yang dilakukan dengan sengaja; dan. Keempat, pasif ter- menyatakan kemungkinan, sedangkan pasif  di- tidak. Inilah aturan dan fungsi penggunaan prefiks ter- dalam bahasa Indonesia. Lalu, apa saja makna gramatikal prefiks ter-? Mari kita lihat penjelasan berikut.

Prefiks ter- memiliki banyak makna. Makna yang dihasilkan lebih bervariasi bila dibadingan dengan prefiks di-. Makna-makna tersebut seperti menyatakan ‘aspek perfektif’’, menyatakan makna ‘ketidaksengajaan’, menyatakan makna ‘ketiba-tibaan’, menyatakan makna ‘kemungkinan’. Prefiks ter- yang menyatakan makna ‘aspek perfektif’ atau ‘menandai aspek verba yang menggambarkan perbuatan selesai’. Contoh ini dapat dilihat pada kata terbagi dalam kalimat berikut: Syarat mutlak terbentuknya suatu negara adalah rakyat, wilayat, dan pemerintah yang berdaulat. Secara umum, wilayah terbagi menjadi empat, yaitu wilayah darat, laut, udara, ektrateritorial. Prefiks ter- yang memiliki makna ‘ketidaksengajaan’ dapat dilihat pada kata, seperti tercoret ‘tidak sengaja tercoret’, terpijak ‘tidak sengaja terpijak’, tertusuk ‘tidak sengaja tertusuk’, tertekan ‘tidak sengaja tertekan’, dan terbawa ‘tidak sengaja terbawa’. Prefiks ter- yang memiliki makna ‘ketiba-tibaan’. Contohnya: (1) Selesai salat Subuh, adik teringat almarhumah ibu. (2) Raihan terbangun dari tidurnya.

Kemudian, prefiks ter- yang memiliki makna ‘kemungkinan’ sebagian besar makna ini didahului kata ingkat tidak dan tak. Contohnya: tidak terlawan ‘tidak dapat dilawan’, tidak terbaca ‘tidak dapat dibaca’, dan tak ternilai ‘tidak dapat dinilai’. Prefiks ter- yang memiliki makna ‘paling’ pada dasarnya diikuti oleh kata sifat. Contoh kosakata yang memiliki makna ini, seperti terpanjang ‘paling panjang’, tersempit ‘paling sempit’, terendah ‘paling rendah’ dan terdekat ‘paling dekat’.

Tags: #Yori Leo Saputra
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Abiyyu dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Berita Sesudah

Mitos Menstruasi hingga Kini

Berita Terkait

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB

Oleh: Abdul Hamid Sajidurrahman (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Mahasiswa FEB Universitas Andalas)   Di era digital seperti sekarang, cara...

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Senin, 06/7/26 | 05:43 WIB

Oleh: Maryatul Kuptiah (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia dan Anggota Aktif UKMF Labor Penulisan Kreatif FIB UNAND)   Bahasa adalah...

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Minggu, 05/7/26 | 16:04 WIB

Oleh: Mita Handayani (Alumni Magister Linguistik FIB Universitas Andalas)   Beberapa hari yang lalu, saya bersama tim EQUITY dan pimpinan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Salindia atau PPT? Potret Sikap Bahasa Generasi Digital

Senin, 29/6/26 | 21:20 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)   “Besok presentasi pakai PPT, ya.” Kalimat tersebut hampir setiap...

Batu dan Zaman

Peran Podcast dalam Produksi Bahasa

Senin, 29/6/26 | 21:06 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Ada pengalaman yang menyenangkan setiap kali mengikuti episode...

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Senin, 29/6/26 | 13:05 WIB

Oleh: Alex Darmawan (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Di zaman milenial sekarang ini, kreativitas adalah hal yang sangat...

Berita Sesudah
Beragam Kemungkinan Seseorang Tidak Bisa Pegang Omongan

Mitos Menstruasi hingga Kini

Discussion about this post

POPULER

  • Politisasi SK di Tubuh Organisasi Garuda KPP-RI Sumbar

    Politisasi SK di Tubuh Organisasi Garuda KPP-RI Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dr Yusril Ajak Mahasiswa Unand Temukan Panggung Hidup di Luar Kelas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemprov Sumbar Matangkan Usulan Kawasan SSD Jadi PSN, Bidik Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026