Senin, 23/2/26 | 10:59 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Mengenal Teks, Ko-teks, dan Konteks dalam Wacana Bahasa Indonesia

Minggu, 20/10/24 | 19:49 WIB
Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

Setiap bulan Oktober, masyarakat Indonesia memperingati bulan bahasa. Bulan bahasa merupakan bentuk penghormatan terhadap eksistensi bahasa Indonesia yang bermula dari ikrar Sumpah Pemuda yang tercetus pada tanggal 28 Oktober 1928.

Sudah puluhan tahun berlalu sejak bahasa Indonesia diikrarkan sebagai bahasa yang menyatukan pluralitas atau keberagaman bangsa Indonesia, sejak itu bahasa Indonesia terus berkembang, terus digunakan , dan terus dipelajari  secara lebih mendalam. Hal itu tidak lepas dari sifat bahasa Indonesia yang dinamis sebagai tipe bahasa aglutinasi atau tipe bahasa yang mudah menerima perubahan.

Salah satu upaya mempelajari bahasa adalah dengan mengenal bahasa Indonesia dan pembagiannya. Secara umum, bahasa Indonesia terbagi atas dua, yaitu bahasa lisan dan bahasa tulis. Bahasa lisan diwujudkan melalui alat komunikasi lisan (alat artikulasi/alat ucap) yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan bahasa tulis diwujudkan dalam bentuk kumpulan teks yang memiliki topik dan kenal dengan wacana.

Wacana juga memiliki bagian-bagian yang dikenal dengan teks, ko-teks, dan konteks. Teks, ko-teks, dan konteks disebut dengan unsur-unsur atau bagian-bagian yang membangun wacana. Ada bagian yang disebut dengan unsur internal wacana dan ada bagian yang disebut dengan unsur eksternal wacana. Unsur internal wacana adalah bagian yang membangun wacana dari dalam, yaitu teks dan ko-teks, sedangkan bagian yang membangun wacana dari luar teks disebut dengan unsur eksternal wacana yang disebut dengan konteks. Kedua bagian tersebut sama-sama penting dalam menentukan keutuhan sebuah wacana.

BACAJUGA

Wali Kota Padang Fadly Amran menghadiri zikir dan doa bersama yang digelar Persatuan Pemuda Gaung (PPG) dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan 1447 H, di Masjid Nurul Jannah Gaung, Kelurahan Gates Nan XX, Senin (16/2/2026).

Wali Kota Padang Hadiri Zikri dan Doa Bersama PPG Sambut Bulan Suci Ramadhan

Senin, 23/2/26 | 09:36 WIB
Wali Kota Padang Fadly Amran, menegaskan bahwa kerukunan antaretnis dan antarumat beragama merupakan fondasi utama keberlanjutan pembangunan Kota Padang.

Wali Kota Padang Hadiri Pelantikan Pengurus Himawari Kota Padang Periode 2026 – 2030

Senin, 23/2/26 | 09:28 WIB

Teks

Teks adalah esensi wujud bahasa. Teks direalisasikan (diucapkan) dalam bentuk wacana. Van Dijk dalam Mulyana dan Nababan (2020; 1987) menyatakan teks lebih bersifat konseptual. Beberapa ahli terkadang membedakan teks dari wacana karena wacana lebih ke arah teks lisan, sedangkan teks dianggap teks tulis yang bersifat lebih monolog. De Beaugrande dan Dressler (1981) mendefinisikan teks sebagai sesuatu yang mengacu pada suatu peristiwa komunikasi yang ditransmisikan melalui saluran media yang sesuai dan ideal serta berfungsi untuk memenuhi tujuan komunikasi. Teks merupakan unsur internal dalam struktur wacana seperti halnya kata dan frasa. Halliday dan Hasan (1976) menganggap teks sama dengan wacana.

Ko-teks

Halliday menyebut ko-teks sebagai kata-kata atau frasa yang digunakan dalam wacana yang mengacu pada kalimat sebelumnya. Lewis menyebut ko-teks dengan kalimat-kalimat yang mengandung referensi khusus kepada apa yang disebutkan sebelumnya pada frasa-frasa, seperti the aforementioned (tersebut di atas (Brown & Yule, 1996). Kridalaksana (1978) menyebut ko-teks sebagai semua (struktur) kalimat yang mendahului atau mengikuti kalimat dan konteks sebagai semua faktor dalam proses komunikasi yang tidak menjadi bagian dari wacana. Keutuhan wacana berkaitan dengan ketekstualan dari unsur-unsur wacana dan menjadi ciri satuan gramatikal lain, seperti morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf.

Konteks

Gagasan tentang konteks pertama kali dikembangkan Halliday pada tahun 1961 dengan istilah medan, modus, dan tenor/gaya dan turut dijelaskan oleh Martin dalam artikel berjudul “Meaning matters: a short history of systemic functional linguistic”. Dalam pandangan Halliday field (medan) mengacu pada peristiwa yang sedang terjadi/topik yang dibicarakan dalam wacana, mood (sarana/modus/moda) mengacu pada sarana bahasa yang digunakan dalam peristiwa komunikasi, dan tenor (partisipan) mengacu pada hubungan di antara para peserta yang terlibat dalam proses berbahasa. Model konteks tiga bagian ini dirumuskan sebelum pengembangan metafungsi sebagai formalisasi paradigmatik Linguistik Fungsional Sistemik yang mendalami tata bahasa dan berkembang pada pertengahan 1960-an.

Halliday (1978) dalam bukunya Bahasa sebagai Sistem Semiotika Sosial menjelaskan dimensi medan, modus, dan tenor sebagai konteks yang berkorelasi dengan fungsi ideasional, tekstual, dan interpersonal. Masing-masing fungsi ekstrinsik (kontekstual) digambarkan secara beragam, seperti yang tercermin dalam (reflected in), menentukan (determining), mengaktifkan/berhubungan dengan (activating), dan direalisasikan melalui (associated with and realized through). Dalam definisi yang sederhana, konteks merupakan semua unsur pendukung yang berada di luar teks.

Konteks dibagi atas dua, yaitu konteks luas dan konteks lokal (Titscher, dkk. 2009). Konteks luas mengacu pada konteks budaya, sedangkan konteks lokal terdapat pada norma-norma dan nilai sosiokultural serta kecenderungan psikis yang terus berubah dalam pemroduksian wacana. Hubungan bahasa dengan konteks atau faktor sosial tercermin dalam lingkaran sistem semiotika bahasa (Halliday dan Martin, 1993).

Hubungan antara bahasa dan konteks merupakan hubungan yang saling mengungkapkan makna. Pada satu sisi makna bahasa terungkap melalui konteks dan pada sisi yang lain bahasa bertugas untuk mengungkapkan konteks. Berkaitan tek, ko-teks, dan konteks, bahasa Indonesia dikenal sebagai institusi sosial dan bentuk praktik sosial dalam mengaktualisasikan ilmu pengetahuan. Demikian pengetahuan sederhana tentang wujud bahasa secara umum dan bahasa Indonesia secara khusus yang telah menyatukan keberagaman dalam masyarakat Indonesia.

ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen Lelaki Tampan yang Membawaku Pergi

Berita Sesudah

Pria Paruh Baya di Padang Pariaman Tewas Tergantung di Perkebunan

Berita Terkait

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa minggu terakhir dunia digital dihebohkan oleh...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Berbelanja merupakan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Suatu sore, adik perempuan saya mendatangi saya dan berkata “Uni sudah...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Minggu, 11/1/26 | 09:57 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Tiba-tiba warganet Indonesia heboh...

Berita Sesudah
Pria Paruh Baya di Padang Pariaman Tewas Tergantung di Perkebunan

Pria Paruh Baya di Padang Pariaman Tewas Tergantung di Perkebunan

POPULER

  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Memaknai Ulang Arti Kata Pensiun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasangan Kata “Bukan” dan “Tidak” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024