Sabtu, 04/7/26 | 13:09 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KREATIKA

Puisi-puisi Dodi Saputra dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Minggu, 27/3/22 | 07:01 WIB

Kelana Klungkung dan Putri Sritanjung

Dialah yang berjalan-jalan sendirian ke luar istana
Gelung puteri raja klungkung
Surati! Surati!
Panggil seorang laki-laki compang-camping
Lekatlah wajah lelaki itu di depannya
Kakak kandungnya, rupaksa

Mengajak mengobar api di dada,
Pada banterang, pembunuh ayahanda
Surati terlanjur diperistri
Hutang budi

Surati hirau,
Rupaksa menggeraham, kacau
Ia menitip ikat kepala

Ikat kepala ini harus kau simpan
Di bawah tempat tidurmu

Persuaan itu, kala banterang berburu di hutan
Pikir abu-abu yang menyelimut, kalut
Janin itu terlepas persetubuhan, kabut
Putri sritanjung tamat jua dihunus banterang

Lisan jua menjadi raja air, persis
Apabila darah yang mengalir di sungai amis,
Benih ini tiada anakmu,
Sebalik itu, bila wangi, itu anakmu

Darah itu kini mewangi, panjang
Sesal banterang, hilang
Kisah ragam jagad kini, terkenang
Buah bibir penutur pelipur buah hati, riang

Padang Pariaman, 2022

 

Lelaki Tengah Hutan dan Ikat Kepala

Dialah lelaki tengah hutan berkain compang-camping
Tatkala banterang di tengah hutan, selaksa pandangnya
Dikejut kedatangan lelaki, tuangku, keselamatan tuan
Terancam, gemulai tangan istri tuan

Tuan lihat, ikat kepala di bawah peraduannya.
Milik lelaki yang dimintai tolong, meregang tuan

Selepas petuah itu, hilang. Banterang tersentak dada bidang,
Menggeraham, istana pelepasan kaki-kaki kelana,
Peraduan sebelah rusuknya, ikat kepala di hadapan mata

Begitukah balasan teduh? Asal tuduh

Adinda tiada sekelebat memayung peluh
Jua rebah sandaran kesendirian. Lidah itu terpaku api keluh.
Ranting itu kelak mengobar bara, melumat kayu-kayu istana
Sebelum lepas asap-asap hitam, banterang mematah tulang rusuk pitam

Membuang sisa-sisa pembakaran di dadanya
Ini sungai penghabisan, lisankan persuaan padanya
Benar, seorang lelaki compang-camping kala berburu di hutan.
Kakak kandung adinda. Digenggamlah sebuah ikat kepala

Adinda merapal banterang, mendamba hatinya.
Sayang, tak kunjung sampai hasrat menggulung bibirnya
Dan kepulan itu kian berkemelut, menembus kabut-kabut.

Kakanda, bukalah mata dan dadamu,
Biarkan aku tenggelam, asal kau tenang bertemaram.
Lagi, pertemuan adinda jua kakak kandung, rupaksa

Ialah pengobar api itu. Adinda memadam selaksa pilu
Sudah, api itu kian menggarang, menyulut kepala banterang
Bercairan, lelehan hitam yang terpampang, menyelimut kelam.

Kakanda! Bila masanya air sungai ini bening lagi harum, adinda pengikat napas!
Sebalik masa, keruh lagi jenuh, adinda pelepas napas!

Seruan itu melintas di kepala, tak singgah hati pula
Banterang menghunus keris, terselip di pinggang
Melompatlah ke tengah sungai, hilang

Demikian takjub air itu merona angin, menembus semerbak sungai.
Raden banterang berseru, gemetar.

Adinda, kau pengikat napasku!
Sungguh
Betapa kepulan itu tak kuasa menjadi air sembilu.
Titah-titah dahulu menjadi angin pelepas derai bening, bebas.
Kisah tak sudah kelembutan angin musim ini,
Pada sungai yang menjadikannya wangi
Semerbak tanah air merah putih saban hari.

Padang Pariaman, 2022

 

Biodata Penulis:

Dodi Saputra, S.Pd. lahir di Mahakarya pada tanggal 25 September 1990. Ia merupakan anggota senior FLP Sumbar dan juga guru MAN Insan Cendekia Padang Pariaman. Buku-bukunya yang telah terbit, di antaranya berjudul Biologi Peminatan dan Ilmu-ilmu Alam untuk Kelas 11 SMA/MA sederajat, Menjadi Guru Hebat Bermartabat, Surau dan Manusia Akhir Zaman, Mantagi Pertama: Solusi untuk Indonesia, dan 100 Strategi Mahasiswa dan Sarjana Sejati untuk Indonesia.


Tuduh Teduh Keruh


Oleh
: Ragdi F. Daye
(buku terbaru yang memuat puisinya Sebuah Usaha Memeluk Kedamaian, 2021)

 

Biarkan aku tenggelam,
asal kau tenang bertemaram.

Ada berbagai bentuk karya sastra, salah satunya puisi yang dapat dikaji dari beberapa aspek,  baik aspek fisik maupun batin. Aspek fisik puisi meliputi diksi, imaji, kata konkret, bahasa figuratif, verifikasi, dan tata wajah, sedangkan aspek batin meliputi tema, nada, rasa, dan amanat. Puisi merupakan salah satu bentuk kesusastraan. Ia berdiri berdampingan dengan bentuk-bentuk kesusastraan yang lain, di antaranya cerpen, novel, dan drama. Puisi diciptakan penyair melalui proses imajinasi. Tanpa imajinasi puisi tidak akan pernah ada. Menurut Paz (2002:31), puisi merupakan suara asli kemanusiaan. Artinya proses imajinasi tersebut mewakili suara asli penyair dalam menyampaikan pesan kepada pembaca.

BACAJUGA

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara dan Ulasannya oleh Azwar

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara dan Ulasannya oleh Azwar

Minggu, 08/6/25 | 16:36 WIB
Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Minggu, 01/6/25 | 06:46 WIB

Perkembangan perpuisian di Indonesia memang tidak lepas dari pesan penyair sebagai pencipta sebuah karya sastra. Puisi modern Indonesia mengalami perubahan tema dalam setiap periode. Pada periode awal kemunculannya, tema-tema yang ditulis penyair di antaranya perjuangan untuk persatuan dan mencapai kemerdekaan, keagamaan, sosial, kritik sosial, personal, nasihat, alam, dan lingkungannya (Hartati, 2019). Tema-tema puisi terus berkembang sesuai dengan zaman yang berubah, menyangkut masyarakat urban, perjalanan ke negeri asing jauh, kisruh politik, romantisme global, dan gaya hidup modern kaum perkotaan. Meskipun begitu, sumber inspirasi bisa berasal dari khasanah budaya yang telah klasik dan cerita rakyat misalnya.

 Kreatika kali ini menghadirkan dua buah puisi karya Dodi Saputra yang berjudul “Kelana Klungkung dan Putri Sritanjung” dan “Lelaki Tengah Hutan dan Ikat Kepala”. Kedua puisi mengangkat cerita rakyat sebagai basis penciptaan, yakni cerita Putri Sritanjung.

Sepasang puisi ini mengangkat masalah kesetiaan seorang istri. Dikisahkan ada seorang perempuan yang dicurigai berhubungan dengan laki-laki lain dengan bukti kain ikat kepala laki-laki yang ditemukan di tempat tidurnya sehingga dia disumpah untuk menguji kehormatannya. Puisi Dodi sangat naratif: ‘Dialah yang berjalan-jalan sendirian ke luar istana/ Gelung puteri raja klungkung/Surati! Surati! / Panggil seorang laki-laki compang-camping/ Lekatlah wajah lelaki itu di depannya / Kakak kandungnya, rupaksa// Mengajak mengobar api di dada,/ Pada banterang, pembunuh ayahanda/ Surati terlanjur diperistri / Hutang budi’. Laki-laki yang memberi perempuan itu kain ikat kepala tak lain adalah kakak kandungnya yang sudah lama ingin bertemu dengannya.

Suami yang cemburu terbakar amarah, ‘Persuaan itu, kala banterang berburu di hutan/ Pikir abu-abu yang menyelimut, kalut/ Janin itu terlepas persetubuhan, kabut/ Putri sritanjung tamat jua dihunus banterang// Lisan jua menjadi raja air, persis/ Apabila darah yang mengalir di sungai amis, / Benih ini tiada anakmu, / Sebalik itu, bila wangi, itu anakmu. Setelah si istri dibunuh, ternyata dia tak bersalah. Air (alam) yang memberikan kesaksian, ‘Darah itu kini mewangi, panjang/ Sesal banterang, hilang’. Apa boleh buat, nyawa sudah lepas dari badan. Begitulah kisah Surati, sang putri yang menjadi fokus puisi pertama Dodi Saputra. Baris-baris naratif yang enak dibaca sebagai puisi.

Pada puisi kedua, fokus narasi berpindah pada kakak laki-laki sang putri. Sosok yang memicu si suami pencemburu yang pergi berburu menjadi gelap mata karena menemukan ikat kepala laki-laki di kasur istrinya. Dodi menuliskannya dengan rapi: ‘Dialah lelaki tengah hutan berkain compang-camping/ Tatkala banterang di tengah hutan, selaksa pandangnya / Dikejut kedatangan lelaki, tuangku, keselamatan tuan / Terancam, gemulai tangan istri tuan// Tuan lihat, ikat kepala di bawah peraduannya. / Milik lelaki yang dimintai tolong, meregang tuan// Selepas petuah itu, hilang. Banterang tersentak dada bidang, / Menggeraham, istana pelepasan kaki-kaki kelana, / Peraduan sebelah rusuknya, ikat kepala di hadapan mata’.

Prasangka buruk yang tidak disertai upaya konfirmasi memang dapat mendatangkan keputusan yang tidak tepat. Apalagi ketika ada suara-suara sumbang yang ikut memperkeruh suasana dengan menyampaikan praduga-praduga negatif seperti minyak yang disiramkan ke atas bara. Segala penjelasan tak ada gunanya. Meskipun sang istri telah memekik meyakinkan sang suami: ‘Kakanda! Bila masanya air sungai ini bening lagi harum, adinda pengikat napas! Sebalik masa, keruh lagi jenuh, adinda pelepas napas!’ Namun keris juga yang berbicara.

Seperti pada puisi pertama, Dodi menggambarkan jawaban atas perkara istri yang dituduh berselingkuh dengan larik-larik yang bagus: ‘Demikian takjub air itu merona angin, menembus semerbak sungai. / Raden banterang berseru, gemetar. // Adinda, kau pengikat napasku! / Sungguh’. Air sungai yang semerbak wangi adalah tanda bahwa sang istri menjaga kesuciannya.

Menggunakan karya klasik sebagai basis penciptaan karya baru adalah hal yang lumrah dalam kesenian. Pertunjukan tari dapat mengambil satu fragmen karya sastra, sebuah lukisan dapat menafsirkan adegan dalam naskah drama, dan sebuah puisi dapat menginterpretasi lukisan atau karya pertunjukan. Bentuk-bentuk baru dapat menawarkan tafsir baru dan nuansa berbeda yang segar. Selamat berakhir pekan!

 Catatan:

Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca. Kirimkan cerpen atau puisimu ke karyaflpsumbar@gmail.com.

Tags: #Ragdi F. DayeDodi Saputra
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Generalisasi dan Pertanyaan “Orang Padang ya?”

Berita Sesudah

Kamus-kamus sebelum Kamus Besar Bahasa Indonesia

Berita Terkait

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara dan Ulasannya oleh Azwar

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara dan Ulasannya oleh Azwar

Minggu, 08/6/25 | 16:36 WIB

  Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara Alienasi Hidup Kita hanya seorang pelancong Yang mengembara segala tempat Lalu tinggal – termenung Di...

Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Minggu, 01/6/25 | 06:46 WIB

Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra Gambar Diri Ini gambar diri. Aku yang berjalan tak selalu lurus, kadang tersandung bayangan sendiri, cerobohku...

Cerpen “Seberkas Titik yang Masih Tertinggal” Karya Arifah Prima Satrianingrum dan Ulasannya oleh Azwar

Cerpen “Seberkas Titik yang Masih Tertinggal” Karya Arifah Prima Satrianingrum dan Ulasannya oleh Azwar

Minggu, 25/5/25 | 09:15 WIB

Seberkas Titik yang Masih Tertinggal Cerpen Oleh: Arifah Prima Satrianingrum   Siang itu, matahari dengan terik mengambang di Padang. Ruas-ruas...

Puisi-puisi Karya Farha Nabila dan Ulasannya Oleh Dara Layl

Puisi-puisi Karya Farha Nabila dan Ulasannya Oleh Dara Layl

Minggu, 11/5/25 | 07:10 WIB

Puisi-puisi Farha Nabila   Kanak-Kanak dalam Diri Tatkala kutemukan diriku dalam relung kesepian Yang disana takkan kutemukan dengungan sumpah serapah...

Cerpen “Sejauh Apapun, Kau Akan Selalu Hebat” karya Balqin Adzra dan Ulasannya oleh M. Adioska

Cerpen “Sejauh Apapun, Kau Akan Selalu Hebat” karya Balqin Adzra dan Ulasannya oleh M. Adioska

Minggu, 04/5/25 | 08:40 WIB

Sejauh Apapun, Kau Akan Selalu Hebat Karya: Balqin Adzra   “Silahkan mampir! Kami mempunyai mochi varian baru!” teriak sang penjual...

Puisi-puisi Feiruzy Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Puisi-puisi Feiruzy Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Minggu, 27/4/25 | 16:31 WIB

Puisi-puisi Feiruzy Azzahra   Merindu Nagari Nan Jauh Tiap langkah yang menapak Meninggalkan rindu yang menjejak Risau nan gulandah memenuhi...

Berita Sesudah
Jelajah Kata: Ramadhan atau Ramadan?

Kamus-kamus sebelum Kamus Besar Bahasa Indonesia

Discussion about this post

POPULER

  • Diduga Bawa Sabu, Buruh Harian Ditangkap Polisi di Padang Selatan

    Diduga Bawa Sabu, Buruh Harian Ditangkap Polisi di Padang Selatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Daer meningkatnya total pendapatan daerah menjadi Rp3,06 triliun dan belanja daerah menjadi Rp3,21 triliun. Sidang paripurna dipimpin Ketua DPRD Kota Muharlion didampingi, Wakil Ketua DPRD, serta dihadiri Wali Kota Padang Fadly Amran, Sekretaris Daerah Raju Minrofa Chaniago, unsur Forkopimda, kepala OPD, pimpinan BUMD, MUI, Baznas, dan sejumlah undangan lainnya. Wali Kota Fadly Amran menyampaikan penyusunan, Rancangan Perubahan APBD 2026 dilakukan untuk menyesuaikan perkembangan kondisi fiskal daerah sekaligus menjaga kesinambungan program pembangunan yang telah direncanakan. “Rancangan Perubahan APBD Tahun Anggaran 2026 memiliki, keselarasan dengan prioritas pembangunan nasional, prioritas Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, serta kebijakan pembangunan Kota Padang Tahun 2026,” ujar Fadly Amran. Ia menjelaskan, perubahan APBD dilakukan berdasarkan sejumlah pertimbangan strategis, di antaranya penyesuaian proyeksi Pendapatan Asli Daerah (PAD) berdasarkan realisasi Semester I 2026, penyesuaian alokasi anggaran perangkat daerah, pemanfaatan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun 2025, perubahan prioritas pembangunan, pergeseran program dan kegiatan antar-OPD, hingga kebutuhan percepatan pemulihan pascabencana hidrometeorologi serta penyesuaian kebijakan transfer keuangan dari pemerintah pusat. Dari sisi pendapatan, Pemko Padang menargetkan PAD sebesar Rp1,04 triliun atau meningkat Rp15,73 miliar dibandingkan APBD awal. Sementara pendapatan transfer melonjak dari Rp1,53 triliun menjadi Rp2,02 triliun atau bertambah sekitar Rp488,81 miliar. “Secara total pendapatan daerah bertambah sebesar Rp504,53 miliar atau 19,74 persen, dari semula Rp2,55 triliun menjadi Rp3,06 triliun,” kata Fadly. Kenaikan pendapatan diikuti, peningkatan belanja daerah yang difokuskan pada penanganan prabencana dan pascabencana hidrometeorologi, peningkatan pelayanan publik, serta pencapaian target pembangunan daerah. Belanja operasi dialokasikan sebesar Rp2,66 triliun, belanja modal Rp529,42 miliar, belanja tidak terduga Rp5,01 miliar, serta belanja transfer sebesar Rp5 miliar. “Secara total belanja daerah bertambah sebesar Rp509,21 miliar atau 18,87 persen, dari semula Rp2,69 triliun menjadi Rp3,21 triliun,” ungkapnya. Pemko Padang juga mencatat, penerimaan pembiayaan sebesar Rp157,48 miliar yang berasal dari SiLPA Tahun Anggaran 2025. Sementara, pengeluaran pembiayaan direncanakan sebesar Rp10,77 miliar. Dengan demikian, defisit anggaran sebesar Rp146,71 miliar akan ditutup melalui surplus pembiayaan netto dengan nilai yang sama sehingga struktur APBD tetap berimbang. Fadly Amran menegaskan, Tahun Anggaran 2026 merupakan tahun kedua pelaksanaan RPJMD Kota Padang 2025–2029 sehingga penyusunan perubahan APBD harus mampu menjawab dinamika pembangunan dan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. “Kami harap Rancangan Perubahan APBD Tahun Anggaran 2026 ini dapat disetujui bersama pada 13 Juli 2026 sesuai jadwal Badan Musyawarah DPRD, sehingga pada minggu pertama Agustus 2026 Perubahan APBD sudah dapat dilaksanakan,” tutupnya. Selanjutnya, DPRD Kota Padang akan membahas rancangan tersebut bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah melalui tahapan rapat komisi dan badan anggaran sebelum ditetapkan menjadi Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD Tahun Anggaran 2026.(Ade)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Emansipasi Wanita dalam Drama “Nurani” Karya Wisran Hadi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketua DPRD Kota Padang Muharlion Pimpin Sidang Paripurna Ranperda APBD Perubahan Tahun Anggaran 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus Angkat Budaya Piaman Lewat Film Dokumenter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026