Puisi-puisi Yogi Resya Pratama

Menanti Kepastian
: Padi

Perjalanan panjang menanti kepastian
Kepastian untuk tumbuh dan layak hidup
Teriakan kegembiraan pun terdengar sayu
Dibawa terbang partikel angin melewati celah-celah kecil

Di sana engkau tertanam
Di atas tarian gemburan tanah
Yang menyambut ceria kehadiranmu
Seakan memastikan engkaulah yang paling beruntung

Harapan akan berbagi dan ingin berguna
Menjadi periotas utama demi meredakan jeritan usus-usus
Setiap hari engkau berjuang untuk hidup
Di atas lembutnya sentuhan alam raya

Tusukan hujan ramah engkau sambut
Hantaman terik mentari engkau abaikan
Dingin hembusan angin hadirnya engkau mintakan
Betapa kokohnya pendirianmu
Menanti sebuah kepastian

Tidak hanya itu,
Tinggi semangatmu di setiap pertarungan
Melawan rakusnya hama binatang
Yang tertawa riang
Puing tubuhmu yang berserakan
Tak mendatangkan putus asa
Engkau terus melawan demi hidup
Demi sebuah pertahanan

Padi
Jasamu tak bisa dilupakan
Kehadiranmu akan terus diharapkan

 

Sia-sia Waktuku

Sia-sia waktuku
Puisiku tak kunjung mau
Entah apa yang membuatku kaku
Tak satupun aku ketemu

Telahku hitung jumlah kata satu per satu
Kurangkai kalimat menjadi satu
Entah itu benar atau salah di matamu
Aku tak tahu tentang itu

Sengaja kucari apa yang bisa kutahu
Tapi itu hanyalah harapan semu
Diriku seorang penyair yang tak tahu
Apa itu, aku tak tahu

Lama waktu menunggu
Hingga menghabiskan rasa kaku
Waktu pun kian berlalu
Namun tak jua kutemukan judul puisiku

Goresan tinta semakin kelabu
Bait demi bait tak jua kutemu
Apalah arti pengorbananku
Untukmu puisiku

Sia-sia waktuku
Malam pun kian belalu
Tanpa ada yang kutemu

 

Di Kala Itu Tidak Ada yang Memanggil

Aku ingin bercerita tentang kesedihan
Yang terbang dibawa angin, tak sampai ke udara
Perlahan dia bisikkan, aku ingin kembali
Di kala itu tidak ada yang memanggil

Semua itu sia-sia
Dia digiring angin di sela ranting
Terbelah-belah berserakan
Dikumpulkan, tapi dia menghilang

Aku mencoba menatap
Serat angin melambai-lambai
Susah kudapati, dibalik cahaya
Silau, menutup mata.

Dia sudah terpaut dalam lamunan panjang
Hingga kicauan burung datang menertawakan
Lembut tapi memekakkan

Jangan datang lagi, pergilah untuk bahagia

 

Menunggu

Engkau yang menunggu datangnya cahaya bulan
Di antara gelap dan terang
Rayuan bisikan kesunyian begitu menggoyahkan
Seolah mengajak pergi meninggalkan

Engkau yang menunggu datangnya cahaya bulan
Di antara dekapan dan pelukan
Menari dengan irama menhantam
Melepaskan atau bertahan

Engkau yang menunggu datangnya cahaya bulan
Di antara tamanan yang kokoh mengakar
Menyapa lembut dengan ketulusan
Benar atau tidak

Tentang Penulis:

Yogi Resya Pratama lahir di Pariaman.
Salah satu hobi Mahasiswa STAIN Batusangkar ini adalah menulis puisi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini