Puisi-puisi Ami Hasibuan dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Apa yang Kamu Kejar?

Seonggok jiwa yang selalu berhasra

Nafsu duniawi terus menggerogoti

Tak pernah ada ujungnya

Puas satu tumbuh ribuan

Melihat kanan kiri, muncullah nafsu

Hawa nafsu yang tak berkesudahan

Bahkan segala cara dihalalkan

Tak pernahkah kau pikir bahwa kau fana?

 

Semua di dunia ini adalah ilusi

Termasuk kau

Dan akhirat adalah ujungnya

Tak perlu kau susah sungguh

Menghambakan alat yang kau sebut uang

Menjilat bak binatang peliharaan untuk mendapatkan kekuasaan

Kamu adalah fana, lenyap seketika jika Tuhan menginginkannya

 

Ikuti saja perintah-Nya

Tunggu janji-janjinya di akhirat

Tak akan lama

Dunia hanya sementara

Kemaren, esok, dan hari ini

 

Berdamailah dengan waktu

Manfaatkan kesebentaranmu ini

Nikmatilah sebagaimana minum secangkir kopi panas

Pelan-pelanlah

Tak perlu buru-buru

Belum tentu besok kau masih ada

Apa yang kamu kejar?

 

Cinta pada Allah

Pernah tidak merasakan cinta?

Para pujangga mengartikan berbagai makna cinta

Namun sampai sekarang makna cinta masih belum ditemukan

Kedua insan yang baru merasakan cinta, semua dibutakan

Tidak lagi menggunakan logika

Menyeringai, terlena, dan semua tertuju pada cinta

Cinta buta adalah cinta yang mengharapkan berbalik untuk dicintai

Sebagaimana cinta orang tua kepada anak

Bisakah begitu pula mencintai Allah

Dengan tidak mengharapkan surga dan hidup nikmat di akhirat

Hanya ingin dicintai balik oleh-Nya

 

Allah memang menjanjikan hidup kemahsyuran di Sana

Dengan segala nikmat-Nya dan kekekalan

Perlukah itu?

Tidak bisakah kita hanya mencintai Allah?

Tak ada kata pamrih

Hanya kepada-Nya, satu mencintai-Nya

Padang, penghujung tahun 2020

 

Biodata:

Ami Hasibuan lahir di Sumatera Utara. Alumni Sastra Jepang Universitas Bung Hatta ini pernah menjadi guru bahasa Jepang dan sedang merampungkan studi pada Prodi S2 Ilmu Sastra, Universitas Andalas. Selama tahun 2020, ia telah menghasilkan beberapa antologi tulisan nonfiksi, di antaranya kisah perjuangan menulis skripsi dan sejarah pendidikan karakter di Jepang yang terbit tahun 2021.


 

Mengetuk Pintu Jiwa

Oleh: Ragdi F. Daye
(Ketua FLP Sumbar & Penulis buku
kumpulan puisi
 Esok yang Selalu Kemarin)

 Dunia hanya sementara

Kemarin, esok, dan hari ini.

Puisi sebagai karya seni dapat digunakan penulis untuk menyampaikan pesan. Pesan tersebut dapat berupa penanaman nilai-nilai moral, etika, budaya, atau kebaikan universal. Sebagian penyair muslim menggunakan puisi sebagai sarana dakwah melalui tulisan. Dalam arti terbatas, dakwah yaitu penyampaian Islam kepada manusia, baik secara lisan, tulisan maupun tindakan, sedangkan dalam arti luas, dakwah adalah penjabaran, penerjemahan, dan pelaksanaan Islam dalam perikehidupan dan penghidupan manusia, termasuk di dalamnya bidang pendidikan, politik, ekonomi, sosial, ilmu pengetahuan, kesenian, kekeluargaan dan sebagainya.

Pada edisi kali ini, Kreatika menampilkan dua buah puisi dari Ami Hasibuan, guru bahasa Jepang asal Sumatera Utara yang tinggal di Padang, yakni “Apa yang Kamu Kejar?” dan “Cinta pada Allah”. Kedua puisi ini mengandung perenungan

Puisi-puisi Ami mengajak pembaca untuk berkontemplasi. Ini misalnya: “Semua di dunia ini adalah ilusi/ Termasuk kau/ Dan akhirat adalah ujungnya/ Tak perlu kau susah sungguh/ Menghambakan alat yang kau sebut uang/ Menjilat bak binatang peliharaan untuk mendapatkan kekuasaan/ Kamu adalah fana, lenyap seketika jika Tuhan menginginkannya.”

Dunia adalah sesuatu yang fana dan sementara. Dalam visi seorang muslim, yang sejati adalah negeri akhirat. Kehiupan di dunia hanya untuk mengumpulkan bekal. Analogi kesingkatan kehidupan dunia hanya sesebentar rentang waktu antara azan dan iqamat (Bawazir, 2020). Oleh karena itu, seorang insan yang hidup di dunia tak semestinya terjebak di dalam ilusi.

Puisi berikutnya juga tak kalah memancing perenungan: Cinta buta adalah cinta yang mengharapkan berbalik untuk dicintai/ Sebagaimana cinta orang tua kepada anak/ Bisakah begitu pula mencintai Allah/ Dengan tidak mengharapkan surga dan hidup nikmat di akhirat/ Hanya ingin dicintai balik oleh-Nya.”

Dunia penuh dengan hukum transaksional. Memberi-menerima. Ada yang dijual, ada yang dibeli. Segala sesuatu ada imbalannya. “Tak ada makan siang yang gratis”, demikian pepatahnya. Hukum itu seperti menyingkirkan ketulusan. Namun, cinta orang tua kepada anak adalah contoh wujud ketulusan yang tak menuntut balasan atas segala pemberian dan atas segala pengorbanan. Di atas semua ketulusan manusiawi,  ada Allah yang Maha Rahman dan Rahim, Maha Pengasih dan Penyayang tanpa bergantung pada sikap hamba-Nya.

Penyair menulis puisi sering kali melalui proses pencarian yang panjang. Mendekat ke subyek yang ditulis. Kadang melalui proses katarsis jiwa. Puisi-puisi yang lahir menjadi tak lekang oleh waktu. Puisi sebagai media kontemplasi (Ballah, 2012). Kita dapat membaca puisi “Sajadah Panjang” karya Taufiq Ismail ini:

Ada sajadah panjang terbentang

Dari kaki buaian

Sampai ke tepi kuburan hamba

Kuburan hamba bila mati

 

Ada sajadah panjang terbentang

Hamba tunduk dan sujud

Di atas sajadah yang panjang ini

 

Diselingi sekedar interupsi

Mencari rezeki, mencari ilmu

Mengukur jalanan seharian

Begitu terdengar suara azan

Kembali tersungkur hamba

 

Ada sajadah panjang terbentang

Hamba tunduk dan rukuk

Hamba sujud dan tak lepas kening hamba

Mengingat Dikau

Sepenuhnya.

 

Catatan:

Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini