Lampu-Lampu Tepi Sungai

Cerpen: Amalia Aris Saraswati

 Agaknya kami punya tempat lain yang damai untuk saling mencinta. Indra selalu suka tempat terbuka yang membebaskan angin menerpa tubuhnya serta air yang saling berhantaman dengan sesamanya setelah digoda angin laut menuju muara. Di bantaran sungai itulah, kiranya aku dapat berlama-lama menjelajahi bola matanya yang dalam. Tak pernah alpa, ia dengan buku-buku kesayangannya. Kemudian, aku membiarkannya terhisap buku dan aku setia di sampingnya menyapukan pandangan ke sekitar kalau-kalau ada benda-benda atau kejadian yang dapat dibuat ke dalam puisi.

Di ujung bantaran sungai, ada sebuah cafe kecil kegemaran anak muda. Kegemaran para aktivis. Mereka hobi sekali diskusi soal bangsa, soal dinamika apa pun, soal tatanan negara, soal harga-harga sembako yang naik di pasaran, soal rancangan undang-undang, soal partai A dan partai B saling tikam demi kekuasaan, soal rakyat yang lugu-lugu bermain media sosial, dan soal apa pun kecuali cinta.

Aktivis tidak mau geraknya dihambat oleh cinta-cintaan yang merepotkan. Kalau jenuh, mereka memainkan gitar dan nyanyi-nyanyi sampai dini hari. Setelah itu pulang pagi dan tidur sampai siang. Berulang-ulang seperti film dokumenter. Tidak masalah hidup tidak sehat, kurang tidur, kurus kebanyakan menghisap rokok dan kopi, asal ada otaknya masih bisa kalau bicara soal bangsa.

Bagus juga, sesekali demonstrasi ke jalanan memperjuangkan kaum akar rumput yang dibuat mainan oleh penguasa, asal tuntutan jelas, tidak ada vandalisme atau perusakan, dan otak mereka tidak kosong. Yang paling utama, jika tertangkap aparat tidak boleh menangis. Penjara adalah pembuktian tangguh tidaknya aktivis itu sekaligus pembuktian derajatnya. Lampu-lampu cafe kecil kuning menjalar keluar menciumi bibir bantaran sungai yang hitam di malam hari.

Soal mencinta, begitulah adanya, lugu, tak banyak polah. Hanya waktu yang mengalir bersama aliran sungai menuju laut. Sesekali beradu tatap. Tersenyum dan kembali menunduk pada buku. Itulah definisi cinta bagi remaja-remaja yang berjalan menuju kedewasaan, belajar menjadi pecinta yang dewasa.

Di dekatnya, aku bertanya-tanya, inikah cinta dan hubungan asmara manusia usia 22 tahun? Tidak ada lagi kata-kata manis seperti cinta anak SMA, tidak ada hadiah bunga atau cokelat. Tidak ada lagu atau film roman picisan. Tidak ada eksploitasi. Semua disandarkan pada kebebasan masing-masing untuk mengembangkan diri sesuai dengan minat. Tidak perlu paksaan, keterbukaan dan kepercayaan.

Ia senang mendatangi adalah diskusi BEM kampus, menyusun strategi-strategi pengembangan gerakan, diskusi dengan sesama kawan aktivisnya di tempat favorit aktivis Padang. Di Tugu Peringatan Gempa, di sana terbuka dan menjadi tongkrongan aktivis yang gemar ngobrol atau bisa kita sebut dalam kata yang lebih intelek. Diskusi.

Jika tak bergabung dengan kawan-kawan aktivisnya, kami duduk di tapi jalan, di bantaran, cerita tentang banyak hal. Tentang organisasi masing-masing, tentang politik yang ia suka dan aku tidak suka, tentang buku, apa pun. Aku didera beribu tanya karena atmosfer yang baru kurasa.

***

Aku jatuh cinta pada sosok lelaki bernama Eka. Ia adalah mahasiswa Jurusan Filsafat. Ia seorang penulis sekaligus seniman. Tentu saja itu semakin membuatku melambung. Ia gemar pementasan teater. Naskahnya sering ditulis sendiri. Ia juga seorang aktivis namun ia mengaku kurang flamboyan sebagai aktivis. Ia tak suka tampil berorasi di mimbar. Katanya, mimbar dan panggung adalah godaan. Banyak yang ingin tampil hanya ingin mendapatkan sebanyak mungkin tepuk tangan dan lupa apa yang telah mereka katakan di atas panggung tadi.

Dalam perjuangan, ada yang menggerakkan. Ada yang memikirkan. Ia memilih yang kedua. Eka adalah pemuda yang kurus dan berantakan dengan baju yang bisa seminggu tak dicucinya. Baginya, jauh lebih berguna membaca buku daripada sering-sering mencuci baju.

Masa itu, bulan-bulan penuh demonstrasi menjelang reformasi. Eka terlibat penuh dalam demonstrasi bersama ribuan mahasiswa lainnya di kotanya. Demonstrasi masa itu juga tak pernah tak berakhir dengan bentrokan. Tentu saja membuat luka. Dan yang paling pasti, ia membuat para demonstran itu diciduk aparat. Bagi Eka, penjara adalah pembuktian tangguh tidaknya mereka sekaligus meningkatkan martabat para pembangkang.

“Kekuatan manusia bukan pada tubuhnya, tetapi jiwanya,” kata Eka kemudian.

Bentrokan terus terjadi hingga akhirnya Eka dianggap hilang. Yang paling meyakinkan adalah Eka diculik dan dilenyapkan, tapi tak pasti. Bertahun lewat pascakejadian itu, reformasi sudah bergulir. Rakyat menang. Tak ada yang mengenang aktivis sepertinya. Namanya takkan disebut-sebut sebagai pahlawan dan dijadikan nama jalan atau diperingati setiap Mei.

Aku menyusuri sepanjang Jalan Soedirman menuju kantor Gubernur Sumatera Barat. Kudengar para mahasiswa se-Sumbar demonstrasi di sana soal kebakaran hutan dan lahan di Riau yang menyebabkan bencana asap sampai menyetuh langit Sumbar. Sore itu, dari gerbang luar kulihat massa berkumpul di halaman kantor dengan jaket almamater berwarna-warni sambil meneriakkan “Hidup Mahasiswa!”

Aku mengenali punggungnya. Bentuk tubuhnya yang tinggi kurus dan juga cara berjalannya. Ia agak di belakang kerumunan. Dengan jaket alamamater birunya, ia tampak bersemangat sekali, tapi aku ke sana jelas karena mengkhawatirkannya. Jangan-jangan demonstrasi jadi berujung bentrok dan ia terluka. Aku memperhatikannya dari jauh. Ia masih baik-baik saja, belum tumbang meskipun sebelum pamit ia mengeluh sakit kepala berat. Sewaktu-waktu, ia tumbang.  Aku sudah di sana siap sedia untuknya.

***

Waktu mengalir deras, tahu-tahu sudah setahun berlalu. Bantaran sungai, semua masih pada tempatnya. Di sana, aku bertemu Bung Eka dengan baju kaosnya yang sudah pudar. Aku bergegas melabraknya.

“Kau buat aku percaya. Semua aktivis di dunia ini seberani engkau. Kau buat aku terbakar semangat bahwa setiap ketidakadilan harus dilawan. Kau ajarkan, kita mahasiswa, harus jadi garda terdepan pembela kaum yang ditindas penguasa. Kau buat aku yakin perjuangan ini nyata. Gerakan suci adanya! Cabut bualanmu, Eka!”

Eka terjajar. Ia terkejut. Aku bisa seberingas itu padanya.

“Ada apa? Sesuatu telah terjadi padamu?” tanya Eka. Aku yakin ia pura-pura tidak tahu.

“Kau buat aku jatuh hati pada gerakan, tapi yang kudapat hanya kebusukan berlapis kemunafikan. Orang-orang gerakan naif. Mereka teriak ‘hidup mahasiswa, hidup rakyat Indonesia.” Mereka membiasakan diri berebut kuasa, jadi kaum oportunis, dan penghamba kekuasaan. Mereka gemar pencitraan, menjilat, dan menikam. Mereka juga memperpanjang antrian perbudakan. Mana ada orang sepertimu, Eka?”

Melihatku begitu emosional, Eka memelukku. Tak ada jawaban.

“Aku resah, Eka. Kecewa…” Aku tersedu sedan di bahunya.

“Orang-orang jujur dan tulus sepertimu, Eka akan tersingkir dari kawanan. Mereka berjuang sendirian tanpa bermesraan dengan pemegang kekuasaan di belakang.”

Bung Eka melepasku. Ia tersenyum sebentar dan menghablur bersama aliran sungai. Namun, ia terus hidup di kepalaku dan bangkit dari cerpen “Matinya Seorang Demonstran” karya Agus Noor. Bantaran sungai, pukul 2 dini hari, orang-orang yang memancing di bantaran sungai mulai berkemas pulang. Kafe tutup. Lampu-lampu kuning kecil dipadamkan. Aktivis-aktivis tergusur.

 

Tentang penulis:

Penulis adalah seorang aktivis dan Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Andalas

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini