Menunggu

Cerpen: Armini Arbain

“Kek, kakek, bantu nenek mengangkat air. Nenek mau menyiram bunga,” teriak nenek dari depan rumah. Melihat kakek diam dan tidak menjawab panggilannya, nenek pun mendekati kakek. Nenek melihat kakek sedang memandang ke jalan raya dengan mata tak berkedip. Melihat hal itu nenek pun bertanya apa yang dilihat kakek.

“Kok Kakek serius sekali melihat ke jalan raya? Apa yang Kakek lihat?”

“Aku menunggu anak-anak yang akan pulang,”jawab kakek tanpa menoleh pada nenek.

“Wah, kakek lupa ya. Sekarang hari Jumat, anak-anak biasanya pulang hari Sabtu.”

“ Bukankah sekarang hari Sabtu?”

“ Bukan. Tadi kan Kakek pergi ke masjid salat Jumat. Kakek lupa ya?”

“Oh iya aku lupa. Lama sekali hari Sabtu ya. Aku ingin anak dan cucu kita ada di sini.”

Begitulah dialog sepasang suami istri yang telah berusia di atas delapan puluh tahun. Sudah lama pasangan itu hidup berdua. Walaupun mereka memiliki tujuh orang anak, dua puluh satu cucu, dan lima orang cicit, semuanya tinggal di tempat yang berbeda. Biasanya, setiap sabtu ada di antara mereka ada yang datang dan menginap hingga minggu sore. Sang nenek yang juga sangat rindu dengan kehadiran anak cucunya sedih melihat suaminya yang kecewa. Nenek tahu kalau kakek kesepian. Lalu, nenek berkata dengan sendu.

“Kek, daripada kita tinggal berdua di rumah ini, sebaiknya kita tinggal saja dengan anak-anak  di Padang. Kita bisa bercengkrama setiap hari dengan anak, mantu, dan cucu kita.”

Mendegar perkataan istrinya, sang kakek hanya diam. Lama ia menengadah ke loteng, kemudian menatap istriya dan  berkata,

“Aku mau saja tinggal bersama mereka namun aku tak tega meninggalkan rumah ini. Masih segar dalam ingatanku, bagaimana susahnya kita membangun rumah ini dulu. Sangat banyak suka duka yang kita rasakan di rumah ini. Aku ingin menghembusan napas terakhirku di rumah ini.”

“Tapi kita sudah tua Kek. Kalau terjadi sesuatu dengan kita, siapa yang akan membantu kita? Anak-anak juga sedih dan susah memikirkan kita.”

“Ya, kita berserah diri saja pada Sang Pencipta. Semoga Allah selalu melindungi kita. Di samping itu, aku merasa tidak enak dengan anak dan menantu kita. Terasa  memberatkan dan menyusahkan mereka. Kalau nenek, kaum perempuan. Bisa membantu-bantu mereka, tapi kalau kami, lelaki tua ini akan menyusahkan saja. Aku malu.”

Sebenarnya, sudah sering anak dan menantu mengajak mereka untuk tinggal bersama baik di Padang atau di Jakarta. Namun, sang kakek tetap menolak dengan alasan lebih nyaman tinggal di kampung. Antara gunung Merapi dan Singgalang. Hawanya dingin dan udaranya bersih serta sangat menyehatkan. Begitu alasan kakek. Nenek hanya bisa mengikuti keinginan suaminya. Walaupun sangat kesepian, nenek bisa memaklumi keinginan suaminya. Ia ingin menua dan menunggu waktu itu tiba, bersama. Saat mereka masih duduk termenung, terdengar orang megucapan salam. Mereka  terkejut namun sangat senang karena yang datang adalah putra sulung mereka. Dengan tergopoh-gopoh,  suami istri itu menyongsong putra sulungnya. Dengan gembira, sang kakek berkata,

“Aku telah merasakan kalau kau mau pulang. Kau menginap di rumah kan?”

“Maaf ayah. Saya ada tugas dari kantor. Jadi, kami menginap di hotel, tapi sekarang kita akan salat magrib berimam dan makan bersama. Ini saya sudah membeli rendang dan gulai hati rumah makan “Selamat” kesukaan ayah dan ibu,” kata putra sulungnya. Walaupun ada rasa kecewa di hati keduanya, kesepian mereka cukup terobati.

Esok sorenya, suami istri itu kembali menunggu anak yang lain. Biasanya, anak kelimanya pulang di hari sabtu. Lama, mereka menunggu. Sampai suara azan Magrib bergema, yang mereka tunggu tidak juga datang. Terlihat ada kecewa yang dalam di wajah keduanya.  Tanpa bicara, mereka menunaikan salat Magrib. Setelah salat Magrib, membaca Alquran sebentar. Mereka pun makan berdua dalam bisu.

Sehabis salat isya, sang nenek duduk di depan TV. Katanya mendengar  berita, ingatannya melayang jauh membayangkan rumah yang beberapa puluh tahun lalu ramai. Kini, rumah itu sepi dan lengang. Tak ada ciloteh dan tawa anak-anak. Ia dan suaminya menua bersama tanpa satu pun anak dan cucu menemani mereka. Tanpa ia rasa, air matanya meleleh. Sementara, sang suami yang merasa sedih dan kecewa langsung masuk kamar untuk tidur. Rumah besar itu kian sepi namun lebih sepi hati pasangan tua itu. Dalam sepi yang kian menyayat, sang nenek yang mulai mengatuk. Masih dalam  kantuknya, nenek mendengar ada suara yang memanggil dari luar. Nenek terpana,  ia merasa bermimpi. Tanpa ia sadari suaminya telah membuka pintu dan bersorak melihat kedatangan anak perempuan dan suaminya serta kedua putrinya Rima da Rumi.

“Alhamdulillah, akhirnya kalian datang. Tuh, nenek ketiduran karena menunggu.”

“Maaf Kek, Nek, tadi mobil kami rusak di jalan makanya kami telat sampai rumah,” kata kedua cucunya serempak.

“Rusak, sekarang mobilnya sudah baik? Apa kalian sudah makan?”, tanya nenek dengan cemas.

“Sudah Bu, mobilnya sudah baik dan kami juga sudah makan.” Anak perempuannya menjawab sambil menyalami ibunya dan menyerahkan goreng pisang raja kesukaan ayahnya. Pasangan kakek nenek itu amat bahagia, apalagi cucunya bercerita kalau mereka akan libur sekolah. Seminggu lamanya, mereka akan menghabiskan libur di rumah nenek. Rumi juga mengatakan kalau para sepupu mereka dari kota lain juga akan berlibur di kampung. Kakek sampai bertepuk tangan mendengar berita itu. Tak terkira senang hati mereka. Terbayang serunya rumah itu, makan bersama, jalan-jalan ke tempat objek wisata, dan lain-lain.

Minggu pagi, nenek telah duduk dekat meja telepon. Ia menunggu telepon anaknya dari  Malaysia. Seperti biasa, setiap minggu pagi anak laki-lakinya akan menelepon. Begitu telepon berdering, sang nenek langsung mengangkatnya. Setelah bertanya kesehatan anak dan mantunya, ia menyuruh anak dan menantunya untuk pulang. Dari seberang sana, anaknya menjawab kalau mereka akan pulang dua hari lagi. Nenek menutup telepon dengan gembira karena putranya yang telah dua tahun merantau  di Malaysia juga akan pulang lusa.

Di saat, mereka berkumpul dan bahagia. Sang kakek masih juga berdiri di pintu. Ketika ada yang bertanya mengapa kakek berdiri di pintu, ia menjawab kalau ia menunggu putra bungsunya dari Jakarta dan ternyata, sorenya si bungsu pun datang bersama keluarganya. Kini, kakek dan nenek amat bahagia. Kebahagiaan kakek semakin lengkap ketika ia mendengar para cucu berlomba membaca  dan menghafal Juz Amma.

Seminggu mereka bersama, kini mereka tinggal berdua lagi. Tidak seperti biasa, kakek lebih banyak diam dan duduk di tikar salatnya. Salat berdoa dan mengaji. Lima  hari setelah kepergian anak cucunya, dari salat Ashar sampai menjelang Magrib sang kakek  berdiri di pintu, seperti menunggu seseorang. Nenek heran dan bertanya, “Siapa yang kakek tunggu? Anak-anak kan baru pulang”. Lama kakek diam dan setelah menatap nenek, kakek pun menjawab kalau teman lamanya yang mau datang. Tanpa diduga, menjelang magrib adik perempuan kakek datang berkunjung dan ia menginap. Nenek mengira kakek menunggu adiknya itu sehingga nenek tak lagi memikirkan  siapa yang ditunggu kakek.

Menjelang subuh mereka telah bangun. Mereka salat tahajud dan berdoa bersama. Menunggu waktu  subuh nenek telah memasak air untuk membuat teh telor. Ketika nenek mengocok telor, kakek menyuruh nenek membuat teh telor untuk kakek dengan sedikit air saja. Nenek heran karena biasanya, kakek akan minta  gelasnya dipenuhkan, tapi ia tetap menuruti keinginan suaminya. Setelah salat subuh, kakek meminum teh telornya dengan sepotong roti tawar. Setelah itu, ia membuka pintu dan mengatakan kalau akan ada tamu. Setelah itu, kakek pergi mandi dan bersih-bersih badan karena akan ada tamu katanya. Mendengar ucapan kakek, nenek bertanya,

“Tamu, tamu siapa yang akan datang sepagi ini? Mendengar pertanyaan nenek, kakek hanya diam dan menatap nenek dengan tatapan yang tidak dapat diterjemahkan. Hati nenek tidak tenang namun ia tetap menyelesaikan membaca surat Yasin. Selesai mandi, kakek masuk kamar. Lama kakek tidak keluar dari kamar sehingga nenek menyusul masuk kamar. Nenek terkejut melihat kakek duduk selonjoran dekat jendela bersandar ke dinding. Nenek memanggil kakek namun kakek diam saja. Nenek memegang bahu Kakek. Kakek tetap diam. Nenek pun terkejut  dan panik lalu berteriak memanggil adik iparnya.

“Fatimah, Fatimah, ke sinilah, lihat Tuanmu. Tuanmu diam saja.” Dengan tergopoh-gopoh, Fatimah melihat kakaknya dan ia pegang pergelangan tangan kakek. Fatimah tidak lagi merasakan denyut nadi kakek. Ia pun berujar kalau kakek telah pergi untuk selamanya. Keduanya pun tergugu. “Innalillahi wainna ilaihirajiun, ternyata ini yang ditunggu kakakmu. Akhir-akhir ini, kakakmu selalu mengatakan kalau ia menunggu. Ternyata, ia menunggu Sang maut.”  Nenek meneteskan air mata.

Tentang Penulis:
Penulis adalah Dosen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Comment