Pendekar Politik

Syeikh Mulia di Ketinggian
Oleh:
Syeikh Mulia di Ketinggian
Tokoh Agama Lima Puluh Kota

Dalam politik tidak ada kata kalah atau menang, karena politik adalah siasah dalam ber-iradah atau cara mencapai kehendak. itu makanya politik itu bersifat dinamis laksana seorang pesilat yang geraknya berubah sesuai keadaan dan waktu.

Tapi politik juga dapat menelan korban, atau memberi keuntungan, sesuai dengan cara menyikapinya, dan juga pengetahuan kita tentang politik itu sendiri. Itulah makanya Rasulullah menyuruh kita untuk selalu menuntut ilmu.

Orang yg berilmu, tidak akan mau gegabah. Apalagi dalam masalah politik yang sudah pasti tidak punya satu sisi pandang. Sebab Allah menciptakan alam ini selalu berpasangan dengan sifatnya yg selalu berubah.

Sebagai orang yang berilmu dan beriman, akan benar benar merasakan bahwa Allah itulah Mukalibal qulub yang membolak balikkan hati. Maka tentu jelas dia menilai bahwa segala yang terjadi alam ini semata mata hanyalah kehendak Allah yang tidak ada gunanya ditentang.

Apalagi Allah juga bersifat Al Malik yang faalul lil mayurid, Allah Maha Raja yang berkuasa berkehendak sekehendaknya. Dan hati tak pernah lepas dari jari jari Allah. Sudah pasti kita tak kuasa untuk memastikan yang akan terjadi.

Tapi jika kita pandai menyikapinya maka hati yang selalu dimainkan-Nya itu, akan dapat menikmati sifat alam yg selalu berubah ini. Seperti ternikmatinya siang karena adanya malam.

Demikian pula dalam percaturan politik, tidak akan ada yg memberi bekas kehatinya, kecuali rasa nikmat  mensyukuri iradah Allah. Karena dari plus minusnya permainan politik itulah nur akalnya jadi menyala. Sehingga semakin hari jiwa semakin jadi dewasa, dan hatinya semakin lapang.

Tapi sebaliknya, bagi orang yang terbawa nafsu dan emosi, makanya panas dingin suhu politik akan mendera dan membuat hatinya jadi sakit. Akibatnya hati bisa buta atau ganas, sehingga segala cara jadi halal baginya. Dan serangannya membabi buta. Ibarat seorang pesilat yang lupa bahwa zahir silat mencari kawan, batin silat mencari Tuhan.

Ditambah lagi jika sang pesilat lupa bahwa silat adalah sa ilat atau se niat dalam menegakkan kebenaran. Maka tentu syetan akan langsung mengisi celah hati yang lalai ini. Sambil menendang hati ini kemana dia suka seperti bola di kaki anak kecil.

Namun keberagaman ini pulalah terkadang yang membuat permainan itu jadi indah, jika kita sikapi dengan kedewasaan iman. Perbedaan dan selisih yang ada dalam kancah politik ini akan jadi bermakna dan berasa. Karena dua unsur yang menyatu, tentu akan menghasilkan unsur yang baru dan menghasilkan kenikmatan tersendiri, dengan nilai-nilai yang dapat kita jadikan tolak ukur dalam kehidupan.

Jadi, sebenarnya politik itu memang indah apabila dimainkan dengan hati yang indah.  Laksana sang pendekar yang memandang, “Jurus pancingan kawan yang membakar emosi, adalah ruang untuk menari.. sebab bagi sang pendekar, silat bukanlah “kelahi” tapi “Seni…”

Solok Piobang, Des 2020.

Comment