Puisi-puisi Mira Rj dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Rindu yang Pergi

Tak pernah menyangka masa ini kan tiba
Tak pernah menduga era ini datang juga
Aku rindu padamu guru
Aku rindu padamu temanku

Tak pernah menyangka ini akan lama
Tak pernah menduga akibatnya luar biasa
Kata rindu pada guru tak terdengar lagi
Kata rindu pada teman tak lagi menggebu

Memang masa ini ada di depan mata
Memang era ini benar adanya
Tidak ada lagi rindu
Kemana perginya rindu
Rindu sudah pergi
Rindu sudah terganti

Tergantikan benda
Benda mainan online-mu
Tergantikan rasa
Rasa asyikmu, rasa malasmu
Dan pada akhirnya rindu itu tak ada lagi

 

Suara Anakku

Bunda…
Tugas ini terlalu banyak
Aku capek

Bunda..
Aku tidak paham semua ini
Aku bosan

Bunda…
Aku muak, aku sedih, aku marah
Bunda..
Aku lelah

Kapan ini berakhir
Kapan ini selesai
Kapan masa itu kembali.

Pendidikan Menangis

Pendidikan menangis…
Anak anak tertawa berkeliaran di mana mana

Dulu..
Mereka bangun di subuh hari
Bersujud pada Ilahi
Menyongsong pagi
Meraih asa dan cita

Dulu…
Langkah kecil itu terburu-buru
Pasang baju pasang sepatu
Menuju jalan jalan ilmu

Kini…
Bangun subuh tidaklah mudah
Sujud pada Ilahi terasa susah
Mentari mulai meninggalkan
Asa dan cita seakan tertelan

Kini..
Langkah kecil itu bagai terhenti
Jalan ilmu terasa semu
Semudah itu masa berubah
Menyisakan tanya
Akan jadi apa dirimu kelak

Pendidikan menangis
Anak-anak tertawa berkeliaran di mana-mana

 

Biodata Penulis:
misrayetiHj. MISRAYETI, S.Pd. AUD atau Ibu Mira. Lahir di Piladang, 7 Agustus 1973. Menamatkan kuliah D.1 di Perguruan ADZKIA Padang tahun 1994, D.2 di Universitas Negeri Padang tahun 2003, dan S.1 di Universitas Terbuka tahun 2010. Penulis adalah guru TK Islam Raudhatul Jannah Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat. Tahun 2007 meraih Juara 1 Guru TK Berprestasi Tingkat Nasional. Tahun 2008 me njadi kepala sekolah hingga tahun 2017. Tahun 2015 meraih juara 2 Lomba Kepala TK Berprestasi tingkat Provinsi Sumatera Barat. Tahun 2016, ia berhasil meraih peringkat 4 Kepala TK Berprestasi Tingkat Nasional. Sekarang, ia Wakil Bidang Kurikulum di Yayasan Pendidikan Islam Raudhatul Jannah, Kota Payakumbuh masa jabatan 2020 – 2015.
Email : misrayeti47@gmail.com Fb : Misra Yeti Hp/Wa : 082283460890


 

Rindu Akhir Pandemi

Oleh Ragdi F. Daye
(Ketua FLP Sumbar; penulis buku kumpulan puisi
Esok yang Selalu Kemarin
)


Pendidikan menangis

Anak-anak tertawa berkeliaran di mana-mana

Puisi adalah ungkapan suara hati; suara hati penyair sebagai seorang pribadi yang memiliki persoalan dalam kehidupananya atau pada jangkauan yang lebih luas. Puisi dapat menjadi media gagasan penyair untuk menyampaikan respon terhadap kondisi yang terjadi di lingkungan sekitar atau dunia. Sebab itulah, puisi sering muncul pada waktu paling sunyi ketika jarak antara jiwa dan realitas sangat tipis. Penyair seolah mengalami ekstase sehingga apa yang bersuara di lubuk terdalam jiwanya mengalir ke dalam rangkaian kata-kata.

Tiga buah puisi karya Mira Rj berisi kegelisahan terhadap pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak awal tahun 2020. Ketiga puisi ini dengan gamblang berhasil menyampaikan persoalan-persoalan sosial yang timbul karena pandemi yang belum berakhir. Anak-anak usia sekolah adalah pihak yang terdampak cukup parah. Mereka tidak lagi dapat pergi ke sekolah untuk belajar, tidak dapat bertemu guru dan berinteraksi dengan teman sekelas. Setiap hari anak-anak dipaksa akrab dengan telepon seluler untuk mengikuti pembelajaran daring. Jauh dari guru dan belajar dengan orang tua yang sebagian besar tidak memiliki keterampilan pedagogik membuat anak-anak tidak optimal di dalam menjalani proses pendidikan.

Kondisi ini sangat mencemaskan para orang tua dan guru. Apabila anak-anak terus menerus belajar tidak didampingi guru yang profesional, kualitas generasi akan menurun dan ini tidak baik karena akan menyebabkan generasi yang lemah. Ketika anak-anak belajar di rumah, tidak semua orang tua mampu menggantikan peran guru. Apalagi ketika orang tua juga harus bekerja mencari nafkah, sementara anak-anak yang mesti dibimbing belajar jumlahnya bisa lebih dari satu dengan jenjang pendidikan yang berbeda. Kendala tersebut dapat membuat orang tua merasa frustrasi sehingga menghadapi anak dengan sikap emosional. Bukannya pelajaran yang didapat anak, malah ketegangan di rumah. Atau bisa juga orang tua akhirnya berlepas tangan karena keterbatasan keterampilan mengajar sehingga membiarkan anak sibuk sendiri dengan gawai atas alasan tugas sekolah daring.

Secara umum, sastra mempunyai dua manfaat atau fungsi utama sebagaimana dikemukakan oleh Horatius dalam bahasa Latin, yaitu dulce et utile (sweet and useful). Dulce (sweet) berarti sangat menyenangkan atau kenikmatan, sedangkan utile (useful) berarti isinya bersifat mendidik (Mikics, 2007:95). Bressler (1999:12) menyebut dua fungsi tersebut dengan istilah to teach ‘mengajar’ dan to entertain ‘menghibur’.

Fungsi menghibur (dulce) artinya sastra memberikan kesenangan tersendiri dalam diri pembaca sehingga pembaca merasa tertarik membaca sastra. Fungsi mengajar (utile) artinya sastra memberikan nasihat dan penanaman etika sehingga pembaca dapat meneladani hal-hal positif dalam karya sastra. Sastra memampukan manusia menjadi lebih manusia sehingga dapat lebih mengenal diri, sesama manusia, lingkungan, dan berbagai permasalahan kehidupan (Sarumpaet, 2010:1).

Tidak salah bila Mira Rj mengangkat isu pendidikan di dalam puisi-puisinya ini, mengingat pengalamannya sebagai seorang pendidik dan pernah beberapa kali meraih penghargaan sebagai guru berprestasi. Seorang guru yang penuh dedikasi tentu tak dapat tidur lelap ketika murid-muridnya menghadapi masalah berat. Pada puisi “Suara Anakku”, Mira Rj mencurahkan jerit hati anak-anak yang buncah: “Bunda…/ Tugas ini terlalu banyak/ Aku capek// Bunda../ Aku tidak paham semua ini/ Aku bosan// Bunda…/ Aku muak, aku sedih, aku marah/ Bunda../ Aku lelah// Kapan ini berakhir/ Kapan ini selesai/ Kapan masa itu kembali.”

Mulanya, anak-anak memang tampak riang gembira dapat bebas merdeka dari rutinitas ke sekolah, tidak mesti terburu-buru berkemas pada pagi hari, tidak mesti pakai seragam, namun lama kelamaan mereka jenuh juga harus mengerjakan tugas demi tugas yang datang bertubi-tubi dan harus berupaya memahami materi pelajaran secara mandiri.

Akibatnya, banyak di antara anak-anak yang justru asyik bermain seluler atau komputer daripada belajar dengan benar. Seperti dalam puisi “Rindu yang Pergi”, Mira Rj bertutur, “Tergantikan benda/ Benda mainan online-mu/ Tergantikan rasa/ Rasa asyikmu, rasa malasmu/ Dan pada akhirnya rindu itu tak ada lagi.” Kondisi ini kian parah, “Dulu../Mereka bangun di subuh hari/ Bersujud pada Ilahi/ Menyongsong pagi/ Meraih asa dan cita// Dulu…/ Langkah kecil itu terburu-buru/ Pasang baju pasang sepatu/ Menuju jalan jalan ilmu// Kini…/ Bangun subuh tidaklah mudah/ Sujud pada Ilahi terasa susah/ Mentari mulai meninggalkan/ Asa dan cita seakan tertelan.” Jika pandemi terus mengasingkan anak dari sekolah, sendi-sendi peradaban akan runtuh.

Menyampaikan kegelisahan melalui karya sastra adalah pilihan cerdas. Puisi akan membawa pembaca untuk merenung dan melakukan refleksi diri atas realitas kehidupan yang melibatkan manusia dan alam semesta. Puisi tidak disusun dengan komponen-komponen informasi aktual layaknya berita atau artikel penelitian, namun sebagai sebuah karya kreatif, puisi tetap lahir dari observasi penulis terhadap fenomena kehidupan, bersandar pada referensi dan larutan indormasi yang dimiliki sang kreator.

Karya sastra bersifat mimetik atau tiruan dari realitas (Abrams 1981:89). Akan tetapi, sebagai karya seni, seorang penyair perlu juga memperhatikan aspek estetika dari karya yang diciptakannya. Dalam hal ini, sebuah puisi perlu mempertimbangkan penggunaan diksi, simbol, metafora, dan keelokan bunyi sehingga pembaca tidak hanya mendapatkan pencerahan, namun juga kenikmatan puitik.[]

 

Catatan:

Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.

Comment