Puisi-puisi Afriant Ishaq dan Ulasanya oleh Ragdi F. Daye

Jiwa-jiwa Kehilangan

Semilir menyelip mesra di antara telinga

Membawa bisikan petaka dari seorang durja

Ada hati yang tersentak lalu rapuh sebelum membara

Tinggalkan kesakitan tanpa ada bekas abu mengudara

 

Ada darah tercecer dari tapak ksatria

Melukis abstrak di beling yang penyebab luka

Perlahan meresap pada bakal yang bernama raga

Lalu, semua semangatnya sirna

 

Tak tertempuh asa yang sempat membahana

Kemudian lenyap di ruang menyisakan hampa

Kemana jiwa yang dulu pernah jadi ksatria?

Mati, ataukah hilang pesona?

 

Perlahan semua harus rela

Ketika durja bertahta dengan segala angkara

Merebut paksa semua asa

Dari jiwa-jiwa yang kehilangan raga

 

Berteriak di sana

Hai yang berteriak di atas sana

Aku muak dengan perkara

Satu keras satu tak percaya

Lalu perang saudara antara kita

 

Percuma!

Mereka tubuh-tubuh batang pisang di sana

Hanya jantung yang memompa

Memompa nafsu-nafsu serakah dunia

 

Ayo jangan bawa lagi duka

Di tengah kerumun pesta mereka

Lihat di bawah sana

Ada orangtua yang hatinya benar-benar sengsara

 

Meratapi, menggila dan meronta

Memandang anaknya yang pulang tak bernyawa

Bersisa raga nan tak sempat mencapai cita

Kemudian bertanam nisan bertulis nama

 

Apa kau tahu bagaimana rasanya?

Bagai badan tak berangka

Melorot, selorotnya semangat yang dipunya

Rasa tak ingin lagi cerita tentang dunia

 

Lihat, lihat di sana!

Di depan nisan bertulis nama

Ada ibu nan masih tak percaya

Buah yang dicinta sirna karena nafsu serakahnya dunia

 

Mantra Jiwa

Datanglah jika kamu tak bisa

Atau sedang tak lagi berdunia

Sini, bawa ia

Hati yang dulu pernah aku jaga

 

Hai, datanglah meski tak bahagia

Atau saat kamu tak bisa tertawa

Sini, bawa ia

Roman yang dulu aku puja

 

Hai, sekali lagi datanglah jika tak punya

Atau sedang ditinggalkan dunia

Sini, bawa ia

Raga yang dulu pernah bersama

 

Hai, datanglah untuk kamu yang tak bisa

Ku lupa dan ku lepas begitu saja

Beribu mantra telah ku coba

Agar kamu, aku, tetap bersama

 

Lalu kenapa kamu tetap tak bisa?

Sementara mantraku bekerja

Pada jiwa pada raga yang kamu punya

Apa, kita tidak bisa bersama?

 

Asal Lepas Tanpa Diguru

Tercipta dari ampas api

Dilahap benci dan masa lalu

Bertuah sepi dan sendiri

Lalu kamu seakan minta adu?

 

Seumur jagung belum satu

Congkakmu menantang langit

Lupa kamu pernah membabu

Pada nasib yang dibuat langit

 

Lalu mengapa sekarang sok maju

Busungmu seakan makan lembu

Padahal ilmu baru sedadu

Lalu mengapa congkakmu membatu?

 

Pagimu baru sejam lalu

Sudah berasa berdiri diujung gebu

Sombongmu benar minta dipalu

Agar kamu tau, hatimu beku

 

Bahasamu kaku

Seperti laju tak bertuju

Asal lepas tanpa diguru

Dalam mulut sombongmu yang berabu

 

Ku Simpan Hitam di Tumpukan Putihku

Ada cerita yang tak terungkap

Dari relungku yang paling dalam

Di antara takut Ku terus berharap

Pada penguasa dan pemilik malam

 

Sebab,

Cerita yang tak terungkap

Adalah aib yang mungkin buatku terjerembab

Ketika semuanya terungkap

 

Oh Gusti pengatur hisab

Lepaskan gelap dalam jiwa

Hingga duka ku tak terus jadi penyebab

Hancurnya sebuah rasa yang selalu ku jaga

 

Oh Gusti, Tuhan pemilik jagad

Aku lelah sembunyi dari sebab

Karena putihku sudah tak kuat

Menutup sisi gelap Ku yang kian menggeliat

 

Tentang penulis

Afriant Ishaq lebih dikenal dengan uncchu. Seorang penikmat sastra dan sedikit malu mencoba menulis namun punya minat kuat untuk terus menulis. Pekerjaan sampingan sebagai penulis di blog uncchu.com. Afriant Ishaq menyadari kualitas menulisnya jauh dari standar kebagusan. Blog pribadi : Afriant.com


 

Bersandar pada Bunyi

Ragdi F. DayeOleh: Ragdi F. Daye
(Ketua FLP Sumbar dan Penulis
K
umpulan Puisi Esok yang Selalu Kemarin)

 

Hai yang berteriak di atas sana

Aku muak dengan perkara

Satu keras satu tak percaya

Lalu perang saudara antara kita

 

Pada edisi Kreatika kali ini, kita akan sedikit berpanjang-panjang membahas bunyi di dalam puisi. Topik ini sengaja diangkat karena bunyi adalah aspek penting dalam puisi. Puisi merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang digubah dalam wujud yang paling berkesan (Pradopo, 2005: 7). Unsur yang pertama berkaitan dengan pemikiran, ide, atau emosi. Unsur yang kedua berupa bentuk, sedangkan unsur yang ketiga adalah kesan. Semuanya terungkap dengan media bahasa.

Menurut Pradopo (2005: 22), bunyi dapat memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, menimbulkan bayangan angan yang jelas, dan menimbulkan suasana yang khusus. Berkaitan dengan puisi, bunyi dibagi menjadi dua macam, yaitu efoni dan kakofoni. Efoni merupakan kombinasi bunyi yang merdu dan berirama, sedangkan kakofoni adalah kombinasi bunyi yang tidak merdu. Bunyi efoni dapat menggambarkan perasaan mesra, kasih sayang, cinta, dan hal-hal lain yang menggembirakan. Berkebalikan dengan efoni, kakofoni dapat memperkuat suasana yang tidak menyenangkan.

Unsur yang membangun puisi setelah bunyi adalah kata. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa. Di dalam karya sastra, kata-kata menggambarkan pikiran ataupun perasaan menulis yang berfungsi untuk menyampaikan gagasannya. Dalam hal ini, pengarang harus memperhatikan diksi (pemilihan kata). Kata harus dipilih dengan setepat-tepatnya agar pengalaman seseorang dapat terungkap.

Unsur ketiga yang membangun puisi adalah citraan. Citraan merupakan gambaran angan (Pradopo, 2005:79). Citraan ini berfungsi untuk membuat lebih hidup gambaran yang ada di dalam pikiran. Gambaran-gambaran angan dapat tercipta dari indera penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan, dan penciuman. Gerakan pun dapat menimbulkan gambaran angan.

Hampir sama dengan Pradopo, Atmazaki (2008:76) mengungkapkan ada beberapa macam bunyi dalam sajak. Di antaranya rima dan irama, aliterasi dan asonansi, efoni dan kakafoni, anafora dan epifora, onomatope, dan metrum. Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas, dengan pengulangan bunyi itu, puisi menjadi merdu jika dibaca. Dalam rima terdapat onomatope, bentuk intern pola bunyi, intonasi, repetisi bunyi, dan persamaan bunyi. Irama merupakan bunyi yang teratur, terpola, menimbulkan variasi bunyi, sehingga dapat menimbulkan suasana. Dengan demikian, irama tidak hanya tercipta di dalam sajak dengan pola-pola bunyi yang teratur, namun juga oleh suasana yang tecipta. Suasana melankolis akan menyebabkan tempo lambat pada sajak tersebut. Suasana meledak-ledak akan menyebabkan tekanan dinamika tinggi. Menurut Atmazaki (2008: 79) pengulangan bunyi dalam satu rangkai kata-kata yang berdekatan (dalam satu baris) berupa bunyi konsonan disebut aliterasi, sedangkan persamaan bunyi vokal disebut asonansi. Keduanya baru dapat disebut sebagai aspek bunyi yang penting dalam sajak kalau keduanya muncul secara terpola dan dominan.

Onomatope adalah salah satu pemanfaatan unsur bunyi yang cukup dominan dalam sajak. Menurut Kridalaksana (2011:116), onomatope adalah penamaan benda atau perbuatan dengan peniruan bunyi yang diasosiasikan dengan benda dan perbuatan itu, misalnya: berkokok, deru, desau, cicit, dengung, ngiau, dan lain-lain. Istilah lain untuk onomatope ini adalah tiruan bunyi. Metrum adalah irama yang tetap, terpola menurut pola tertentu. Metrum bersandar atau bergantung pada suku-suku kata yang bertekanan dan suku-suku kata yang tidak bertekanan. Bahasa-bahasa Barat seperti bahasa Inggris adalah bahasa yang mempunyai tekanan pada bagian-bagian suku kata. Lain halnya dengan bahasa Indonesia, yang tidak mempunyai aturan dalam persoalan tekanan kata. Karena metrum disandarkan pada suku kata, sementara sajak Indonesia bersandar pada kata, maka metrum hampir tidak terdapat dalam sajak Indonesia, hanya ada dalam sajak bahasa Barat. Dalam sajak berbahasa Indonesia, yang kedengaran seperti metrum adalah sajak yang terikat kepada suatu pola penulisan sajak, yang fungsi kesatuan bahasa di dalamnya tunduk kepada pola tertentu. Contohnya: Pulau pandan jauh di tengah,/ Di balik pulau si angsa dua./ Hancur badan dikandung tanah,/ Budi baik dikenang juga.

Anafora adalah pengulangan bunyi, kata, atau struktur sintaksis pada larik-larik atau kalimat-kalimat yang berurutan untuk memperoleh efek tertentu. Anafora ialah suatu ulangan pola bunyi di awal baris. Penciptaan anafora bertujuan untuk mempertegas efek retorik dalam sajak, memberikan penekanan bahwa yang diulang itu adalah suatu yang penting dalam konteks sajak. Epifora adalah pengulangan sebuah kata atau lebih pada akhir beberapa larik sajak atau pada akhir beberapa frase yang berurutan untuk mencapai kesedapan bunyi atau keefektifan bahasa: pengulangan kata-kata untuk penegasan dalam puisi. Contoh anafora: siapa menggores di langit biru/ siapa meretas di awan lalu/ siapa mengkristal di kabut itu/ siapa mengertap di bunga layu/ siapa cerna di warna ungu/ siapa bernafas di detak waktu/ siapa berkelebat setiap kubuka pintu/ siapa mencair di bawah pandanganku/ siapa terucap di celah kata-kataku/ siapa mengaduh di bayang-bayang sepiku/ siapa tiba menjemputku berburu/ siapa tiba-tiba menyibak cadarku/ siapa meledak dalam diriku/ siapa Aku. (“Sonet X” – Sapardi Djoko Damono)

Menyigi lima buah puisi Afriant Ishaq yang tampil di edisi ini, kelimanya berjudul “Jiwa-Jiwa Kehilangan”, “Berteriak di sana”, “Mantra Jiwa”, “Asal Lepas Tanpa Diguru, dan “Ku Simpan Hitam Di Tumpukan Putih Ku”, saya menemukan fokus penulis pada persamaan bunyi, terutama penggunaan rima di akhir larik. Saat penulis-penulis puisi mutakhir cenderung membebaskan diri dari pakem puisi yang terikat pada bentuk yang ketat, berkenaan dengan jumlah suku kata dan kata dalam satu larik atau baris dan jumlah larik dalam satu bait, Afriant justru seolah patuh pada aturan menulis puisi harus sama jumlah baris tiap bait, yakni empat buah. Tidak hanya seragam dengan jumlah baris tiap bait, Afriant juga setia pada rima.

Rima atau persamaan bunyi akhir kata di akhir larik ini sangat menonjol. Tiga puisi pertama seratus persen bersajak aaaa. Puisi keempat kombinasi abab dan aaaa. Puisi kelima sedikit limbung dengan pola sajak abab pada tiga bait pertama dan abcc pada bait terakhir. Melesetnya bait terkahir pada puisi lima ini menunjukkan penyair akhirnya lelah harus bergantung pada rima, walau sebenarnya defiasi rima tidak melenceng jauh, masih dalam kelompok konsonan letup: “Oh Gusti, Tuhan pemilik jagad/ Aku lelah sembunyi dari sebab/ Karena putihku sudah tak kuat/ Menutup sisi gelap Ku yang kian menggeliat

Seperti kutipan Pradopo dan Atmazaki di atas, pengulangan bunyi dalam puisi berfungsi untuk membentuk musikalitas. Dengan pengulangan bunyi, puisi menjadi indah dan merdu jika dibaca. Permainan bunyi dapat membawa pembaca ke suasana tertentu, bisa menyedihkan, meresahkan, menegangkan, atau membahagiakan. Bunyi dapat mempengaruhi emosi. Memberi kesan dan pesan untuk direnungkan pembaca.

Rima aaaa pada empat bait puisi “Jiwa-jiwa Kehilangan” seluruhnya menggunakan vokal terbuka ‘a’ yang cenderung membawa nuansa kegembiraan. Rima ‘a’ pada akhir seluruh baris ini juga didukung bunyi efoni ‘a’ pada kata-kata seperti ‘mesra’, ‘telinga’, ‘membara’, ‘mengudara’, ‘ksatria’, ‘raga’, ‘asa’, ‘membahana’, ‘jiwa’, ‘pesona’, ‘rela’, dan ‘bertahta’. Pemilihan kata-kata ini menyebabkan puisi dengan tema kehilangan ini jadi tidak meninggalkan kesan menyakitkan. Akan berbeda hasilnya jika penulis lebih banyak menggunakan bunyi kakafoni dan bentuk aliterasi.

Sebenarnya puisi-puisi Afriant ini sangat menarik jika penulis lebih berhati-hati memperhatikan struktur bahasa yang digunakan, baik menyangkut pemilihan kata yang berhubungan dengan bunyi dan kesan yang ditimbulkan, maupun teknik penulisan. Penggunaan pungtuasi (tanda baca) sangat penting dalam puisi. Meskipun secara komunikasi umum sebuah struktur dapat ditangkap maksudnya, dengan sifat puisi yang multiinterpretasi, pemakaian tanda baca akan mempengaruhi pembacaan terhadap teks puisi. Afriant belum konsisten dalam menggunakan pungtuasi.

Inkonsistensi dapat digunakan untuk memberi makna tertentu, misalnya menunjukkan kesan perlawanan terhadap status quo. Akan tetapi, dalam puisi-puisi kali ini, dapat dikatakan lebih disebabkan kekurangtelitian, misalnya larik ‘Hai yang berteriak di atas sana’ ini. Tidak adanya tanda koma setelah kata ‘hai’ menyebabkan kata tersebut menjadi kata benda bukan kata seru untuk memanggil sebagaimana tepatnya. Bentuk ‘Ku Simpan Hitam Di Tumpukan Putih Ku’ ini juga tidak memberi makna khusus yang disebabkan pemisahan klitik ‘ku’ dari kata lain yang menyertainya.

Selain beberapa masalah teknis seperti contoh tersebut, beberapa pemilihan diksi yang dipaksakan untuk memenuhi tuntutan persamaan bunyi juga cukup mengganggu kesolidan puisi, misalnya larik ‘Busungmu seakan makan lembu  agar serasi dengan larik ‘Lalu mengapa sekarang sok maju’, ‘Padahal ilmu baru sedadu’, dan ‘Lalu mengapa congkakmu membatu?’. Kata ‘lembu’ dipaksakan agar seirama dengan ‘maju’, ‘sedadu’, dan ‘membatu’. Terlepas dari gangguan-gangguan kecil tersebut, puisi-puisi Afriant Ishaq layak untuk diapresiasi. Selamat!

Catatan:

Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.

Comment