Calon Minantu Abak

Cerpen: Armini Arbain

Gebrak, Abak menepuk meja dengan kuat.

Sambil berdiri dan pergi Abak  berkata, “Apapun alasannya, Abak ndak setuju kalau Salim menikah dengan perempuan yang bukan urang Minang.“

Kami terperangah mendengar ucapan Abak yang disertai dengan kemarahan. Aku tak mampu berbicara. Aku hanya tertunduk bingung. Salma, saudara perempuanku satu-satunya angkat bicara.

“Bagaimana kalau Ratna, calonmu itu kita bawa ke kampung. Kita perkenalkan pada Abak?”

“Ah tak mungkin. Mereka belum menikah. Apa kata orang kampung nanti?”

Amak mematahkan usul Salma. Kami semua terdiam, memikirkan bagaimana cara membujuk Abak agar mau menerima Ratna yang orang Sunda itu menjadi istriku atau menantu Abak dan Amak.

Kepalaku pening. Aku amat mencintai Ratna. Telah lima tahun kami berpacaran. Rasanya tidak mungkin bagiku untuk memutuskan hubungan dengan Ratna. Sementara itu, aku juga tidak mungkin menikah tanpa restu Abak. Semula Amak dan Salma juga tidak setuju namun setelah kujelaskan bahwa Ratna seorang gadis yang baik dan bersedia pindah  bekerja mengikutiku, mereka setuju.

Salma yang baru saja menikah akan dibawa suaminya merantau ke Jambi. Abak dan Amak yang sudah tua akan tinggal berdua. Hal inilah yang memberatkan hati Salma untuk merantau meninggalkan Amak dan Abak. Oleh karena itu, ketika kukatakan bahwa aku dan istriku nanti yang akan menjaga Abak dan Amak. Salma sangat senang. Salma juga sudah mengenal Ratna. Mereka pernah bertemu ketika Salma berlibur ke Bandung beberapa tahun yang lalu.

Ketidaksetujuan Abak akan hubunganku dengan Ratna tentu membuat kami menjadi risau. Bertiga kami memikirkannya. Namun, semua buntu. Dalam kebuntuan itu, datanglah Mak Johan, kakak Amak. Mak Johan melihat Abak turun dari rumah dengan muka yang merah dan masam. Salma menceritakan pada Mak Johan apa yang kami bicarakan. Mak Johan menyarankan agar Abak dibawa ke Bandung dan dengan diam-diam dipertemukan dengan Ratna.  Ide itu kami terima dan kubawalah Abak dan Amak ke Bandung.

***

Minggu pagi, Aku harus pergi menemui teman kantor. Kutinggalkan Abak dan Amak di kontrakan berdua. Agar Amak tak susah memikirkan apa yang mau dimasak, aku telah membeli lauk-pauk dari Rumah Makan Padang yang ada di ujung jalan. Siangnya, mereka makan berdua. Ketika itulah Abak uring-uringan.

“Masakan apa ini? Rasanya rendangnya kok manis. Kuah sayurnya seperti air bandar. Encer. Selera makanku hilang. Aku mau tidur.”

Melihat sikap Abak yang demikian, Amak bingung. Amak mau memasak lauk untuk Abak namun tidak satupun bahan  yang bisa dimasak. Kalau ke pasar, Amak juga tidak tahu di mana letak pasar. Amak bingung. Amak sangat tahu dengan kondisi Abak, kalau telat makan, Abak masuk angin dan kemudian sakit. Amak sangat khawatir. Rasanya dadanya sesak, tapi pada siapa Amak akan bercerita.

Dalam kondisi demikian, Ratna datang membawa rantang. Amak yang telah mengenal gadis itu dengan senang hati menyilakan Ratna masuk. Amak senang. Bukan karena Ratna membawa makanan, tapi amak  bisa melepaskan rasa sesak di dadanya. Amak bercerita pada Ratna akan kegalauan hatinya. Dengan tersenyum lembut, Ratna membuka rantang dan menyerahkan pada Amak lauk-pauk yang dibawanya dari rumah sambil berujar.

“Mak, ini Ratna masakan lauk untuk Abak dan Amak. Mudah-mudahan Abak suka. Bangunkanlah Abak dan suruh makan. Ratna minta maaf tidak bisa menemani Abak dan Amak makan karena Ratna harus pulang.” Amak menganguk dan Ratna pun pergi.

Amak membangunkan Abak dan menyuruh Abak makan tanpa memberitahukan siapa yang memasak. Melihat gulai anyang (asam pedas daging) yang merah  dan sayur pucuk ubi yang kental. Selera Abak terbit. Tanpa bertanya, Abak langsung menyantapnya. Abak makan dengan lahap dan keringatnya bercucuran. Sambil menyeka keringatnya, abak berkata.

“Sejak dari kampung beberapa  hari yang lalu. Baru kali ini, makanku selahap ini. Di mana kau belanja? Kok cepat sekali kau memasaknya?”

“Alhamdulillah.”, jawab Amak sambil tersenyum-senyum.

“Hah? Ada apa kok kau tersenyum-senyum. Ada yang kau rahasiakan?”, tanya ayah pada Amak. Dengan tenang, Amak bercerita bahwa masakan itu bukanlah masakan Amak, tapi masakan Ratna. Ayah terperanjat dan bertanya tak percaya.

“Oh Pam Pam. Apa masakan si Ratna? Aku tak percaya. Kok rasanya seperti masakan kau? Kapan perempuan itu belajar memasak dan pada siapa?

“Aku juga heran. Kok gadis Sunda itu bisa memasak masakan kesukaan Abak, tapi itulah   kenyataannya.”, jawab amak.

“O, mungkin dibelinya di rumah makan Padang. Ndak mungkin dia bisa memasak seperti masakan kita.”, sanggah Abak sambil memonyongkan mulutnya. Amak kesal melihat sikap Abak yang merendahkan orang lain. Lalu, Amak berkata.

“Hampir seminggu kita di Bandung makan di Rumah Makan Padang yang terkenal. Apa Abak pernah merasakan masakan seperti ini? Apa ada lauk gulai anyang ini dihidangkan orang di rumah makan?” Suara Amak agak sedikit keras.

Mendengar penjelasan Amak, Abak hanya mengangguk-anguk. Dalam hatinya, Abak membenarkan ucapan Amak. Pintar juga gadis itu memasak gulai anyang. Abak tahu memasak gulai anyang tidaklah sulit namun harus tahu takarannya. Masukkan daging ke dalam air mendidih, lalu masukan cabe dan  bumbu (kemiri, jahe, lengkuas, bawang putih dan merah) yang dihaluskan ditambah dengan daun kunyit dan daun jeruk, lalu dimasak dengan api kecil. Tunggu daging sampai empuk dan jadi. Ini yang diajarkan Abak pada Amak ketika mereka mulai berumah tangga. Abak sengaja mengajari Amak membuat masakan itu pada Amak. Di samping Abak sangat suka, hal itu juga karena masakan itu mengingatkan Abak pada nenek yang juga sangat lihai memasak.

Saat Abak masih termenung, Salim datang. Amak yakin kalau Salim belum makan. Amak menghidangkan makan siang untuk Salim. Salim kaget. Kok ada gulai anyang dan sayur pucuk ubi. Padahal, ia merasa tidak membeli lauk itu. Namun, karena lapar, ia langsung makan. Setelah makan, baru ia bertanya pada Amak

“ Lho, kok ada gulai anyang dan sayur pucuk ubi? Kapan Amak belanja  dan di mana?“

Amak tersenyum dan tiba-tiba Abak berkata,

“Apa bukan kamu yang menyuruh si Ratna memasak dan mengantarnya ke sini?” Salim  bingung dan ia menjawab bahwa ia tidak menyuruh dan bahkan ia tidak memberitahu Ratna kalau ia akan pergi.

Malamnya sehabis Isya, mereka duduk di ruang tamu. Abak bertanya tentang rencana Salim untuk membuka cabang travel biro umrah yang dikelolanya di Bukittinggi. Sejak mereka tamat kuliah empat tahun yang lalu, Salim bersama Ratna mendirikan Travel Biro tersebut. Kini, usahanya mereka berkembang dengan baik. Mereka ingin membuka cabang di kota lain. Pilihan mereka jatuh ke Kota Bukittinggi. Salim amat memahami bahwa perekonomian masyarakat Bukittinggi cukup baik dan animo masyarakat untuk umrah juga besar. Di samping alasan itu, ia juga ingin dekat dengan kampungnya. Ia ingin merawat Abak dan Amak yang telah tua. Apalagi, adik perempuannya Salma akan merantau.

Dengan bersemangat, Salim menjelaskan bahwa ia telah berketetapan hati untuk membuka cabang di Bukittinggi. Sementara itu, untuk pengelolaan di Bandung, dapat diserahkan pada adik Ratna. Ketika Salim ingat  hubungannya dengan Ratna yang belum direstui Abak, Salim terdiam. Abak  menangkap kerisauan Salim.

Lalu  bertanya,“Apa Ratna harus ikut?”

Dengan pelan Salim menjawab, “Iya Abak. Ndak mungkin saya mengelola sendirian, apa lagi cabang ini baru. Tidak dapat diserahkan pada orang yang tidak berpengalaman. Itu juga kalau Abak dan Amak setuju.”

Salim memandang Abaknya dengan penuh harap. Tanpa ia duga, Abak berkata, “Menikahlah dengan Ratna. Abak setuju kau menikahinya. Ia gadis yang baik.”

“Hah!”

Salim terperanjat dan bertanya,“Abak  merestui  kami?”

Abak mengangguk.

“Alhamdulillah wa syukurilah. Amak menguncang-guncang bahu Salim menandakan kegembiraan hatinya. Malam kian larut dan dengan penuh gembira mereka pergi tidur. Dalam kamar, Amak bertanya pada Abak. Apa yang membuat Abak merestui Ratna menjadi menantunya. Sambil menguap, Abak menjawab dengan santai.

“Gadis itu pandai memasak gulai anyang. Masakan kesukaanku dan masakan keluarga turun-temurun he he.”

Amak tak mengira jawaban Abak yang demikian sederhana.

Mereka pun tertawa dan kemudian tidur dalam sejuknya udara malam Kota Bandung.

 

*Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Comment