Kado Untuk Warga Dharmasraya

Oleh Bustanol

Potret senja di atas puncak Microwave Gunung Medan sungguh indah. Melukiskan sebuah cerita legenda Batu Kawin hingga Datuak Rajo Kuaso. Bingkai itu kini telah berdiri megah plang merk Dharmasraya. Nama sengkala dimuat sebagai kabupaten terkaya berjulukan Petro Dolar.  Begitu dahsyat, memiliki filosofi Tau Jo Nan Ampek bahkan dikenal dengan Ranah Cati Nan Tigo. Daerah yang mempunyai sejarah termasyhur masa silam tentang kejayaan seorang raja Adityawarman terpahat di Arca Amogphasa.

Dharmasraya menyimpan sejuta sejarah dan budaya yang belum terkuak. Kekayaan khazanah budaya begitu banyak tersimpan dan belum tergali.

Pernahkah mendengar cerita Dharmasraya? Tanyaku pada kawan yang akrab disapa Ucok Loho, yang sudah tiga hari lamanya menjalankan misi ekspedisi kala itu dengan sebutan Festival Pamalayu. Ia mengangguk-angguk saja dan keningnya berkerut serta mengernyit kebingungan. Walaupun sudah sering mendengar tetapi lupa jalan ceritanya.

Belum lagi dengan banyaknya versi cerita yang berkembang. Maklum, sebagai orang yang memiliki darah Batak dan lahir besar di ranah minang, Dia berhati-hati dalam menyerap informasi yang ada, terlebih soal sejarah budaya ini.

Sore itu, kami mondar-mandir didampingi seorang Putri Budaya untuk menelusuri Padang Roco, Pulau Sawah, Rumah Gadang Siguntur, dan rumah Rajo Pulau Punjung. Banyak cerita yang ia dapat selama di Dharmasraya. Selanjutnya cerita-cerita itu, dibuatkan dalam tulisan untuk mengikuti perlombaan Jurnalistik dalam rangka Merayakan Dharmasraya. Pesta terpanjang dalam catatan sejarah Dharmasraya.

Keren bro. Ini mah kalau dikembangkan lagi, bakal menjadi destinasi wisata yang paten. Sepertinya, ditulisan nanti bakal membahas potensi wisata yang ada di Dharmasraya. Semoga, tulisanku ini berkah untuk Dharmasraya dan tentunya bisa menang, karena hadiahnya lumayan besar juga lho,” kelakar Dia.

Ini hadiah untuk Dharmasraya katanya “semoga membuat riang dan gembira segenap warga Dharmasraya” dengan kekayaan khazanah budaya yang dimilikinya.

Akan tetapi bagiku pribadi, ucapan itu bak petir menyambar di siang bolong. Mengangetkan dan pertanda sebuah kemustahilan tentunya. Terutama ini akan masuk Warisan Budaya Tak Benda dan bisa lulus di Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Makin bertubi-tubi saja serangan Ucok Loho ini dengan pertanyaannya yang menggelitik itu. Aku cuma menjawab jangan sampai pula kau kalahkan Puslit Arkenas senior Bambang Budi Utomo di ekspedisi kau kali ini, ucapku. Satu hal perlu kau ketahui “ujarku” persoalan itu sudah selesai sama Pemda untuk memenuhi Amanat RPJM, walaupun tereliminasi.

Kami berdua bukan bicara pembangunan tetapi lebih mengedepankan guyonan. Kami ketawa terbahak-bahak sambil tengok kiri kanan, takut ada yang ke senggol pula. Sebab Ucok Loho ini, berbicara tak sadar sudah di penghujung tahun. Bulan Oktober 2019 kemarin kepala daerah Sumatera Barat saja sudah menerima penghargaan WTBI dari Menteri PAN-RB Tjahjo Kumolo. Walaupun penghargaan itu disabet oleh kabupaten tetanggaku Lansek Manih.

Usai mengumpulkan data, Ucok Loho terlihat sibuk dengan gadget nya. Aku bertanya soal ide yang akan dibahas nanti ditulisan itu. “Nah sepertinya aku nanti bakal membahas potensi pariwisata yang bagus dikembangkan di Dharmasraya. Heritage Tourism cocokkan bang?,” tanya Dia kepadaku.

“Kalau itu bagus juga, tapi harus ada data pendukungnya”,  cecar ku.

Bukannya santai, Ucok Loho ini menjawab dengan nada tegas bahwa, selow bang, sudah pasti lah ada data-data seperti itu, kalau tidak nanti dibilang kita asal nyerocos saja, tidak sekolah, asal kasih masukan tapi tak ada data pendukung, bahaya itu.

Mendengar itu, sontak Aku pun tersenyum tipis. Lihat ini bang, katanya membacakan suatu berita dari layar hapenya, bahwa tingkat kunjungan turis yang paling banyak ke Sumatra Barat itu dari Malaysia. Nah secarakan kerajaan di Dharmasraya punya pertautan dengan negeri seberang itu. Seharusnya lokasi-lokasi bersejarah di Dharmasraya itu yaa mbok dibangun serius. Semacam cottage dan penginapan. Terlebih alamnya juga mendukung. Belajar dari kabupaten Lima 50 Kota yang maju dengan lembah haraunya. Lebih daripada itu, perlu juga pemerintah melalui dinas terkait serius mengembangkan masyarakat serta memberikan literasi-literasi soal pariwisata ini. Memang hasilnya tidak akan mengimbangi pendapatan dari sawit dan karet, tapi setidaknya turut memberikan opsi perekonomian baru. Begitu penjelasannya yang begitu panjang kali lebar.

“Sama-sama berharap lah kita kepada pemangku kebijakan saat ini ya bro,” timpal ku dengan nada sinis.

Comment