Selamat Jalan Seli Naswati

Oleh : Alfitri
Dosen FISIP Universitas Andalas

Suatu pagi pada Januari 2012 di Ueno Station, Tokyo. Musim dingin dengan bulir-bulir salju mulai turun. Saya bergegas naik Shinkansen menuju Sendai, 368 km ke bagian utara Jepang. Ketika Shinkansen mulai melaju saya tersadar bahwa syal yang tadinya saya pakai untuk melawan hawa dingin tercecer di stasiun.

Waduh. Ini bukan syal biasa. Syal dengan logo Deakin University itu adalah kenang-kenangan yang dibeli waktu berkunjung ke kampus tersebut di Melbourne, April tahun sebelumnya. Beberapa hari kemudian, melalui pesan fb saya minta tolong Seli Naswati yang waktu itu sedang kuliah S3 di sana membelikan syal seperti itu lagi. Nanti duitnya saya ganti, kata saya.

3 Juli 2012 pukul 22:18 melalui pesan fb Seli berkabar bahwa dia akan riset untuk disertasinya di Padang pada Agustus 2012 itu. Seli juga meminta kesediaan saya sebagai informan penelitiannya. Topik risetnya adalah kontribusi nilai-nilai budaya Minang terhadap kiprah perempuan anggota parlemen lokal di Sumatera Barat.

Sejak kuliah di Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Andalas tahun 1996, Seli telah kelihatan punya semangat akademik yang kuat. Di dalam kelas, dan dari interaksi sosial di kampus, kelihatan Seli adalah mahasiswa yang baik, humble, berkarakter dan punya visi untuk maju. Dalam kuliah-kuliah dia tertarik dengan dengan berbagai isu terkait perempuan. Dalam berbagai topik risetnya Seli gandrung menggunakan analisis gender yang pada ujungnya menginspirasi untuk tindakan/kebijakan afirmatif terhadap perempuan.

Selamat Jalan Seli Naswati

Skripsinya kalau tidak salah berbicara tentang kehidupan perempuan yang bekerja sebagai SPG di suatu department store di Padang. Tahun 2000-an setelah tamat kuliah dan menjadi wartawan Koran Mimbar Minang pun dia konsisten meliput dan mengangkat masalah-masalah kaum perempuan. Pada berbagai tulisannya, tampak pemihakan dan kepeduliannya pada upaya agar perempuan berada pada posisi yang setara dalam berbagai peluang dan kesempatan untuk perbaikan kondisi kehidupannya. Termasuk ketika kemudian Seli melanjutkan studi dan meraih MA-nya di University of Hawaii at Manoa, USA.

Dalam rangka penyelesaian disertasi Ph.D-nya, suatu hari di bulan Agustus 2012, Seli mampir ke kantor saya di kampus Universitas Andalas, Limau Manih. Di awal pertemuan dia memberikan syal Deakin University persis sama seperti punya saya yang tercecer di stasiun Ueno, Tokyo itu. Saya kaget, terrharu, dan berterimakasih rupanya dia masih ingat dengan pesan saya di fb itu, namun buru-buru juga merogoh dompet untuk mengganti duitnya. Sudahlah Pak…ndak usah diganti itu hadiah untuk Bapak, katanya sambil tersenyum.

Waktu itu, selain mewawancarai saya terkait topik risetnya tersebut, sesuai teknik riset snowball sampling, dia juga meminta saya untuk merekomendasikan beberapa orang yang relevan juga untuk dijadikannya informan penelitian. Baik sebagai informan pengamat dari akademisi maupun informan pelaku dari politisi sendiri. Sekitar setahun kemudian saya ikut bergembira, karena Seli dapat menyelesaikan risetnya dan menamatkan Ph.D-nya sesuai jadwal dan terus berkiprah melanjutkan karir sebagai dosen di Universitas Negeri Padang.

Tadi pagi (Minggu, 18/10/2020) melalui wa group dan beberapa fb teman tersiar kabar bahwa Seli telah berpulang ke rahmatullah. Innalillahi wa innailaihi raajiun. Segera terkenang kebaikannya, senyum dan tutur katanya yang sopan dan santun. Semoga almarhumah Seli Naswati husnul khatimah dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Aamiin yra…***

Comment