Koto Gadang, Jalan Lengang di Nagari Orang-Orang Hebat

Oleh : Lismomon Nata
(Sosiolog)


Karatau madang di hulu, babuah babungo balun 

Marantau bujang dahulu, di rumah baguno balun

 

Ada pengalaman membatin dalam diri saya beberapa tahun yang lalu. Saya ingin merantau! Namun ada keraguan dalam diri, merantau yang kini sudah memiliki bini? Bukankah merantau sewaktu bujang dengan membawa tulang selapan karek. Bahkan, sejak dahulu merantau dipahami tidak hanya sekadar perpindahan, namun memiliki makna filosofis. Pernah saya meminta pendapat dengan seseorang yang saya anggap ‘orang sukses’. Beliau hanya membalasi dengan komentar bahwa yang merantau itu hanya bagi urang pedagang, ungkapnya meskipun ia sendiri merantau dan bukan pedagang.

Apakah memang berbeda merantau hari ini jika dibandingkan dengan merantau masyarakat merantau zaman Minangkabau dahulu kala? Bukankah merantau menjadi salah satu ciri khas masyarakat Minangkabau? Ya, selain dikenal dengan rumah makannya, tentu sebagai masyarakat perantau karena merantau mengandung banyak makna bagi orang Minang. Bahkankah, pada saat ini, merantau masih ada lagi? Ketika dipahami konteksnya hanya dari segi pergi ke negara (daerah) lain dan meninggalkan kampung halaman (Echol and Shadily, 1963) karena hampir setiap orang dapat melakukan mobilitas yang tinggi dari satu tempat ke tempat yang lain dengan hitungan menit dapat berpindah dengan jarak puluhan ribuan mil. Apalagi telah dapat bertatapan hanya dengan menggunakan benda elektronik beberapa inci di tangan.

Keinginan saya tentu ke daerah perantauan yang lebih jauh. Beberapa hal yang melatarbelakangi hasrat untuk merantau adalah disebabkan karena ayah seorang pegawai pemerintahan di Kota Sawahlunto sehingga saya lahir dan dibesarkan di sana. Kemudian, saya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi hingga menikah. Kini, saya menetap di Kota Padang. Maksud saya lebih jauh adalah menuju perantauan ke luar dari wilayah Sumatera menuju pulau lain. Katakanlah ke ibu kota untuk merasakan apa itu perantauan. Saya juga ingin meraskan sakit senang dan menemukan arti hidup layaknya lelaki Minangkabau di luar tanah kelahirannya.

Apabila motivasi merantau seperti halnya diutarakan oleh Kato (2005;113) bahwa kecenderungan laki-laki Minangkabau merantau dalam artian meninggalkan kampung halaman untuk memperbaiki ekonomi (kekayaan), ilmu pengetahuan, dan menaikkan derajat hidup secara sosial tentu adalah sebuah alasan yang sah dan rasional dalam perjalanan hidup saya untuk memilih merantau.

Namun, jika dipahami seperti halnya pendapat Lekker (dalam Kato, 2005) bahwa merantau dikaitkan dengan salah satu cara laki-laki untuk melepaskan diri dari kekuasaan wanita (matriarkhi) atau kaum yang mengikat sehingga mendapatkan kebebasan dan menemukan jati diri. Tentu alasan ini sangat jauh dirasakan karena saat sekarang ini kehidupan tidak lagi di rumah gadang secara bersama-sama, melainkan neo local (rumah baru bersama keluarga inti). Akan tetapi, kemungkinan munculnya keinginan merantau disebabkan kejenuhan atau mencari tantangan baru serta harapan untuk meraih kehidupan yang dirasa lebih baik.

Kenikmatan sepenuhnya atau belum tentu terwujud seperti apa yang dicita-citakan. Bayangan hidup enak di tanah rantau tersebut, seperti harus rela jauh dari keluarga, orang tua atau berkemungkinan besar juga untuk menemui persoalan hidup yang berbeda. Bukankah berbagai macam kemungkinan yang kurang mengenakkan dapat saja terjadi, seperti halnya diungkapkan, karatau disangka madang, kiranya meghancurkan padi, merantau disangka senang, kiranya merisaukan hati’.  Oleh sebab itu, tentu merantau atau tidak adalah sebuah pilihan hidup dengan segala konsekuensinya. Diri sendiri yang menjalani dan sekaligus merasakannya.

Terkait dengan merantau, Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam yang berjarak tiga jam jika melalui jalur darat dari Kota Padang, merupakan sebuah nagari yang masih dapat kita lihat bagaimana budaya merantau sangat kuat dilakukan masyarakatnya. Meskipun memiliki tanah yang subur dan lahan yang cukup luas,  tidak membuat masyarakat Koto Gadang bertahan di tanah kelahirannya.

Secara historis, Nagari Koto Gadang hingga kini menjadi tanah kelahiran atau daerah asal banyak tokoh-tokoh besar atau orang-orang hebat. Beberapa orang penduduk yang ditemui di Koto Gadang mengungkapkan bahwa di sinilah berasal ‘orang-orang pertama, tidak hanya pada tingkat nasional, tetapi mendunia’. Ada nama besar Syekh Ahmad Khatib Al- Minangkabawi yang pernah menjadi Imam Besar Masjidil Haram atau Sjahrir yang pernah menduduki sebagai Perdana Menteri pertama Indonesia juga berasal dari Nagari Koto Gadang sehingga namanya tertulis pada salah satu dari empat nama di plang ketika kita baru memasuki Nagari Koto Gadang. Keempat nama terpampang itu adalah Y. Dt. Kayo, Mr. Moh. Nazif, H. Agus Salim, dan Sutan Sjahrir. Meskipun tokoh nasional yang disebut oleh Tempo (2010) sebagai ‘Bung Kecil yang memiliki peran besar’ dalam kemerdekaan Negara Indonesia ini terdata bahwa ia di lahirkan di Padang Panjang. Kemudian, didapatkan keterangan bahwa ayah Sjahrir, Muhammad Rasyad Maharajo Sutan yang berasal dari Koto Gadang sementara ibunya, Siti Rabiah dari Natal, Sumatera Utara (Tempo, 2010:15).

Dalam Tempo (2015), nama jalan MR. Moh. Nazif belumlah ada karena yang ada nama jalan Rohana Kudus (1884). Rohana Kudus juga merupakan salah seorang pahlawan nasional perempuan kepunyaan Indonesia. Ia dianggap sebagai tokoh pers wanita pertama dengan sukses mendirikan dan mengelola surat kabar Soenting Melajoe. Rohana Kudus juga yang meletakkan pertama nama suami di belakang namanya (dari nama suaminya Abdoel Koeedoes gelar Pamuncak Soetan). Perempuan yang merupakan anak sulung dari 25 bersaudara ini anak dari Muhammad Rasjad Maharaja Sutan juga memiliki hubungan persaudaraan dengan Sjahrir, yaitu saudara tiri. Rohana Kudus adalah anak dari Ayah Sjahrir dari istri pertama yang bernama Kiam, Sjahrir memanggilnya One Rohana (Tempo, 2015).

Di samping nama-nama itu, juga ada nama Haji Agus Salim. Siapa yang tidak mengenal Haji Agus Salim? Salah seorang tokoh bangsa yang dihormati dan disegani oleh siapa pun yang mengenalnya karena kepintaran dan kepiawaiannya dalam berdiplomasi. Pria yang memelihara jenggot ini juga dikenal dengan rokok kreteknya yang selalu dihisapnya meskipun ketika berada di luar negeri sekalipun. Ia pernah menjabat Menteri Luar Negeri Indonesia di masa kabinet Sjahrir. Salah satu pandangannya yang terkenal adalah ‘leiden is lijden’ (memipin itu menderita). Banyak sudah cerita dan kisah serta pembelajaran yang didapat dari tokoh yang dijuluki, ‘the grand old man’ dari berbagai macam buku yang ditulis, maupun sejarah lisan, di antaranya adalah bagaimana Agus Salim dapat menguasai berbagai macam bahasa asing dengan baik. Ia belajar di atas loteng secara otodidak. Ada yang berpendapat mengapa Agus Salim belajar di sana karena takut dengan Belanda atau ada juga yang berkomentar bahwa ia bersembunyi di loteng karena kena marah oleh pamannya, maka ia lari ke loteng.

Alasan pertama penulis pikir agak tidak masuk akal karena sejak jaman dahulunya Nagari Koto Gadang merupakan sebuah nagari yang telah sejak lama dimasuki Belanda karena adanya penanaman kebun kopi di kaki Gunung Singgalang. Selain dekatnya perkebunan kopi dengan Koto Gadang seperti kedekatan masyarakatnya dengan Belanda. Banyak dari orang Koto Gadang yang berkesempatan untuk sekolah pada masa itu, bahkan jika ke kedai-kedai pun dengan mudah menemukan orang-orang yang memiliki kemampuan berbahasa Belanda dengan baik hingga tahun 80-an.

Nagari Koto Gadang menurut Gusti Asnan merupakan nagari pembaharu. Nagari yang dijuluki sebagai negeri intelek. Kata intelek sering diterjemahkan sebagai negeri sebagian besar warganya berpendidikan tinggi. Faktanya ketika kita berkunjung ke rumah-rumah di Koto Gadang, kita menemukan foto-foto tersebut.  Penelitian Mochtar Naim pada tahun 1967 di antara 2.666 orang Koto Gadang, 467 (17,5 persen) lulusan Perguruan Tinggi (168 dokter, 10 insinyur, 10 sarjana ekonomi, sosial, humaniora, hukum). Pada 1970, bertambah lagi 58 orang yang menjadi sarjana (tidak dihitung Sarjana Muda).

Seiring perjalanan waktu, kini Koto Gadang terlihat sunyi. Jalan-jalan kampung lengang, rumah besar, indah, arsitektur Belanda dengan ornamen yang bernilai tinggi banyak yang kosong ditinggal pemilik. Ia dihuni oleh para pendatang. Itu telah terjadi diperkirakan 20 hingga 30 tahun yang lalu. Para penghuni yang diminta untuk menjaga rumah tersebut, lalu dibuatkan rumah-rumah kecil atau menyambung di belakang rumah utama yang mereka sebut juga dengan paviliun. Kini, penduduk Koto Gadang yang mendiami kampung tidak besar jumlahnya dan didominasi oleh usia lanjut.

Seperti halnya rumah yang ditinggalkan, begitupun dengan pengetahuan warga tentang para pendahulu mereka, juga mulai hilang. Tidak banyak yang mengetahui karakter maupun perjalanan hidup tokoh-tokoh besar bangsa kelahiran Koto Gadang. Setelah penulis mencari tahu lebih lanjut, didapatkan informasi karena memang sebagian besar tidak banyak penduduk lokal yang lahir, dibesarkan, dan tinggal di Koto Gadang. Inyiak Rusdi (87), salah seorang lelaki kelahiran Koto Gadang, ketika penulis menanyakan tentang Agus Salim, ia enggan menjelaskan dengan alasan ‘takut salah’. Sebagai gantinya, ia memperlihatkan sebuah Majalah Pandji Masyarakat pada tahun 70-an yang di dalam halamannya ada tulisan Buya Hamka dalam mengenang Haji Agus Salim.

Dari sedikit warga yang mengetahui sejarah perjalanan hidup tokoh asal Koto Gadang, salah satunya Inyiak Dasril (64). Menurutnya, Haji Agus Salim semasa kecil sudah dikenal cerdik. Meskipun lebih jauh ia mengungkapkan bahwa kepribadian Haji Agus Salim belumlah bisa ditiru generasi muda hari ini untuk tumbuh sebagai orang sukses dan punya mental tangguh, berani, dan pekerja keras seperti Agus Salim. Ia berpendapat tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama.

Kondisi Nagari Koto Gadang hari ini tentu memberikan banyak makna dan pembelajaran hidup bagi kita bersama. Begitu hebatnya tata nagari yang terpola dan teratur dengan baik. Sebahagian besar masyarakatnya yang memiliki kesempatan mengenyam pendidikan di masa kolonial hingga ke Belanda. Nagari yang banyak melahirkan orang-orang hebat. Namun, kini Nagari itu terlihat lengang dan sepi. Rumah ‘gadang-gadang’ dan jalan sunyi. Menurut Andra (32), Sekretaris Wali Nagari Koto Gadang. “Nagari Koto Gadang akan semarak pada waktu-waktu tertentu, seperti ‘batagak panghulu’, hari raya umat Islam atau lebaran, tetapi itu  berlangsung satu hingga dua minggu,setelahnya kembali seperti semula.”

Semoga saja jalan sunyi di nagari orang-orang hebat ini tidak memudarkan ingatan kita terhadap ‘jalan pulang’. Koto Gadang masih menjadi ingatan bagi sebagian orang sebagai tempat pengerajin emas dan perak, selendang khas songket atau gulai itiknya yang memanjakan selera.

Comment