Cerpen Karya Meria Fitriwati dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Jodoh

ILUSTRASIJODO

Cerpen: Meria Fitriwati

Aku adalah seorang gadis yang berumur 25 tahun. Menjadi guru setelah menamatkan kesarjanaan adalah pilihan yang harus aku jalani. Walaupun tidak bercita-cita menjadi guru tetapi berbagi ilmu bagiku adalah suatu keharusan. Selain tamatan sarjana teknik sipil, aku juga menekuni bidang tulis menulis. Bagiku menulis adalah impian yang harus kulewati dari hari ke hari.

Sesaat baru tamat kuliah, ia berkeinginan untuk menulis surat lamaran pekerjaan ke salah satu perusahaan terkenal di kota besar yang jauh dari tempat tinggalku. Ibu segera mencegah dengan wajah mengiba agar aku tidak jauh darinya.

Tentu saja permintaan lbu segera aku penuhi dan mengurungkan niatku untuk melanjutkan lamaran yang baru saja akan dimulai. Sebagai anak perempuan satu-satunya dan juga anak terakhir dari enam bersaudara, dekat dengan lbu dan berusaha membahagiakan beliau juga salah satu impian terbesarku.

Dulu aku anak manja, apa-apa disiapkan oleh lbu. Beliau dengan sabar menyuapi setiap kali aku menolak makan saat akan pergi sekolah. Pulang sekolah kadang  langsung istirahat tapi perempuan yang baik hati ini selalu bilang bahwa aku pasti lapar dan haus. Dengan senang hati beliau siapkan semua untukku.

“Nanti saja makannya Bu,” tetapi lbu tetap saja ambilkan nasi dan menyuruhku makan. “Tidak boleh terlambat makan nanti sakit perut dan sakit mah,” perkataan yang sering lbu lontarkan.

Jika mau mandi aku sering lupa bawa handuk, Ibu sering mengingatkan, “Bawa handuk sekalian.” Dengan tersenyum aku berbalik dan tertawa, “he he…”

Setiap pulang sekolah selain menanyakan urusan pelajaran lbu juga sering bertanya, “Ada yang jahat di sekolah sayang?” Ibu benar-benar memperhatikanku.

Pada saat kuliah dan harus berjauhan dari lbu, aku harus mandiri. Syukurnya aku punya teman SMA yang bernama Mira yang sama kuliah dan sama tempat kos. Dia adalah teman yang sangat baik untukku. Dia sering membantuku dan mengajarkan kemandirian. Alhamdulillah kuliah kulewati dengan baik dengan bantuannya juga. Untungnya waktu kuliah dulu, aku tergabung dengan kegiatan kerohanian dan bahkan aku sempat menjadi dewan pengurus. Aku bangga bisa berkumpul di sana. Sedikit demi sedikit pelajaran agama bisa kupahami.

Sejak saat itu, aku ingin membahagiakan lbu dengan caraku. Hidupku rasanya benar-benar anak yang tidak bisa balas guna. Selalu merepotkan Ibu. Selalu buat Ibu cemas. Makanya sekarang setelah menamatkan kuliah, kuingin bersama lbu dan tidak kubiarkan lbu bekerja. Walaupun lbu sering menemaniku di dapur.

Ibu sering tertawa, senyum sambil mengeluarkan mutiara bening yang berkaca-kaca di matanya. Entah apa yang beliau pikirkan. Namun, setiap aku memasak, menyapu rumah, mencuci, jemur kain, melipat dan menyetrika pakaian beliau sering bangga dan berkata sangat bersyukur memiliki aku.

Jika bisa disimpulkan, mungkin beliau mensyukuri karena aku bisa mandiri sekarang. Melihat itu sering air matanya tumpah, terucap kata-kata syukur dan pujian atas kemandirianku. Ah entahlah aku saja yang ke ge-er an.

Namun memang sering lbu lontarkan ke saudara-saudara lbu sebelah rumah, “Melihatnya aku sangat senang, bahagia dan bangga. Tidak salah aku menguliahkan tinggi-tinggi dan sekarang hasilnya dia benar-benar bisa berbakti dan mandiri,”.

Terkadang jika ibu bilang seperti itu aku hanya tertawa geli. Belum apa-apa, ibu sudah cukup bahagia bagaimana kalau aku benar-benar menghabiskan waktuku untuk ibu. Pasti ibu akan sangat senang. Menemani ibu ke masjid, sama-sama pergi majelis ta’lim. Jika, ada pengajian yang harus pergi dengan bus karena ada acara tabligh Akbar, maka aku dan lbu akan segera meluncur. Kemana saja lbu mau pergi, aku akan ada di sampingnya.

“Hey anak ketiak lbu, kapan ne dapat jodoh? Berteman dengan ibu-ibu saja, pergi kek kumpul sama-sama yang seumuran,” kata salah satu teman ibu kepadaku.

Hmmm dia tidak tahu kalau aku sekarang sedang dilirik calon mertua. Aku hanya tersenyum mendengar ucapan itu, sambil bersandar ke bahu Ibu.

“Jodoh itu dicari bukan ditunggu, kan UAS bilang sedangkan minum, diangkat dulu gelas berisi air, dituangkan ke mulut baru bisa diminum apalagi jodoh ya harus ada usaha,” kata Ibu lainnya. Aku kembali tersenyum, hmmmm… Mereka tidak tahu inilah usahaku mencari jodoh. Mana tahu pulang pengajian ini ada ustadz atau ustadzah yang akan minta aku untuk ta’aruf. Kan mereka punya banyak stock. Maksudnya banyak para jomblo dan jomblowati yang akan beliau carikan pasangan hidup dan melakukan ta’aruf.

Ya sudahlah. Yang terpenting, aku dan ibu bahagia sekarang. Jodoh tidak akan kemana. Contohnya saja yang akhir-akhir ini yang aku alami. Entah nanti berakhir dengan jodoh atau ah entah lah. Beberapa bulan yang lalu tanpa sengaja aku telah tergabung di FB group kepenulisan terbesar di negara ini.  Segera kuluncurkan cerpen pertamaku di grup tersebut. Lumayan ada tanggapan dari pembaca. Lama-lama, aku ketagihan mengirim tulisan ke group ini. Berbagai komentar pembaca kubaca dengan santai satu-persatu. Namun, salah satu yang paling membuat aku tidak tahan adalah salah  satu komentar di antara para komentator atas tulisanku.

Cerita punya cerita ternyata dia tertarik dengan tulisanku, katanya. Melalui messenger, dia menghubungiku dan memuji akan untaian kata dan makna kata demi kata. Belum lagi pilihan kataku yang sangat memesona. Dari messenger beralih ke WA, tentu saja setelah dia menanyakan nomor WA-ku yang aku balas delapan jam setelahnya. Selain ada kesibukan kecil, aku sengaja juga membalasnya agak lama. Biasa, harga diri! biar tidak dibilang aku butuh dia juga.

Setiap hari minimal ada satu pesan masuk melalui WA. Terkadang ada pujian, ada masukan, dan yang pasti sering tanya kabar. Jika, biasanya komentar tulisan ada dibawah tulisan yang kukirim di group kepenulisan itu, sekarang komentar sudah beralih ke WA. Paling kujawab saja sekadarnya. Contoh: terimakasih, oh ya, thanks, trims, masukan yang keren.

Dua bulan berlalu, akhirnya dia tidak tahan juga dan bilang, “Aku sedang cari jodoh lho,” masih melalui WA. Ahhha jebakanku berhasil.

Secara diam-diam, profilnya di FB sudah kulacak dan komen-komen dari temannya sudah kuterawang. Dia adalah seorang guru, penulis, editor, dan teknisi. Keren juga kupikir, tetapi tentu saja aku tidak meng-add-nya, biasa. Demi  harga diri. Padahal aku berharap sekali ingin berteman melaui FB dengannya.

Suatu sore aku dikejutkan dengan undangan Pertemuan Penulis se-Nusantara (P2SN) olehnya. Dia berharap aku bisa hadir. Bukan itu saja. Dia meminta ibuku juga ikut dan dia akan membawa ibunya juga. Wahhh..luar biasa. Apakah dia tertarik akan menjadikan aku istrinya? Segera kubuang perasaan itu, terlalu mengada-ada pikirku lagi. Kuberitahu dan kuajak Ibu untuk pergi acara pertemuan tersebut. Akhirnya lbu setuju. Maklum anak kesayangan, minta apa saja selalu dituruti. Alhamdulillah.

Sementara di statusnya kulihat tulisan, “Tidak sabar menunggu acara P2SN dan Ta’aruf.”

Terus kutelusuri komen-komennya. Benar dia sedang menunggu calon istri. “Door!…, dupprakk!…, jantungku berdebar kencang, tapi segera kutenangkan pikiranku. Bagaimana kalau dia juga melakukan hal yang sama pada yang lain juga. Hmmm debaran jantungku segera berkurang walau masih terbawa angan.

“Aku belikan tiket ya, mohon fotokopi KTP kamu dan Ibu,” pesan masuk. Mataku sedikit terbuka, lagi-lagi jantungku bergerak cepat.

Biasa harga diri. “Kalau aku ikut sama ibu nanti biar aku saja yang beli tiket, terima kasih atas niat baiknya,” balasku.

“Aku mohon atau kirimkan saja nomor rekeningmu biar kutransfer uang ke sana,” pesan masuk lagi.

Harga diri lagi, “Tidak usah aku ada uang kok,” balasku.

“Aku mohon ini bukan waktunya tawar-menawar. Kasihkan saja FK KTP atau norek jangan ada ucapan lagi,” huufff tegas juga dia. Aku tambah suka.

Tapi aku diamkan saja. Sehari berlalu, dia mohon lagi dengan permohonan yang sama. Aku diamkan lagi. Diam kali ini bukan menyangkut harga diri saja, tetapi aku bingung. Benarkah dia sesuai dengan yang ada dalam pikiranku. Benarkah dia ingin ta’aruf denganku. Jika benar maka ini akan kuterima tapi jika tidak aku tidak bisa menerimanya.

Keesokan harinya, aku dapat telepon darinya. Dengan tangan menggigil, jantung yang seakan-akan mau jatuh dan grogi yang semakin menjadi-jadi kuangkat telepon. Terjadilah pembicaraan satu lawan satu alias dia terkesan kaku dan aku juga. Tidak banyak yang disampaikannya hanya memohon FK KTP atau nomor rekening. Setelah itu, aku merasakan badanku lemas tiada berdaya. Seolah-olah aku baru saja membantu truk yang terbalik sendirian Sekarang, aku dan ibu sudah punya tiket di tangan. Tidak sabar rasanya menunggu acara P2SN. Kadang, aku berpikir rasanya empat tahun kuliah tidak selama menunggu tanggal diadakannya P2SN. Aku benar-benar dimabuk cinta kali ini.

Profil Penulis:

Meria Fitriwati lahir di Kamang Mudik, 01 Juli 1983 Alumni Pendidikan Bahasa Inggris UNP. Saat ini sedang mengikuti Sekolah Menulis FLP Wilayah Sumbar. Dari tahun 2019-2020, penulis telah menghasilkan tujuh buku antologi,: Rayuan Bukit Kemilau, BMGL, Doa terbaik untuk Ibu, 99 Kuliner Nusantara, Anakku Inspirasiku, Hati Yang Tertinggal dan satu buku solo berjudul Kandas. email: meriafitriwati.8411@gmail.com atau FB Meria Fitriwati dan WA 081268616750.

 


 

Menjaga Semangat Menulis

Azwar Sutan Malaka

Oleh:
Azwar Sutan Malaka
(Dosen Prodi Ilmu Komunikasi,
UPN Veteran Jakarta dan Pengurus FLP Sumbar)

 Menulis adalah sebuah proses kreatif yang panjang. Dibutuhkan kesabaran dan trik-trik untuk bertahan agar tetap memiliki energi bisa menjalani prosesnya. Banyak cara agar bisa terus istiqamah dalam jalan kepenulisan ini, salah satunya adalah dengan cara menuliskan hal-hal yang disukai dan menulis fenomena yang dekat dengan diri dan dunia sang penulis. Hal inilah yang dilakukan Meria Fitriwati, salah seorang peserta Sekolah Menulis FLP Wilayah Sumbar tahun 2020 ini.

Meria menulis sebuah cerpen yang berjudul “Jodoh”, menceritakan kisah seorang tokoh “Aku” yang baru lulus kuliah dan sudah menjadi guru. Tokoh aku dalam cerpen Meria itu seolah menceritakan dirinya sendiri –seorang perempuan muda yang sedang mencari jodoh—walaupun sebenarnya Meria sedang tidak bicara realitas dirinya. Ingat…! Dia sedang menulis cerita pendek.

Kisah sederhana tentang pencarian jodoh yang menjadi tema utama dalam Cerpen “Jodoh” tersebut, diceritakan dengan bahasa yang ringan. Dia menulis seolah tidak ada beban. Cerita berjalan mengalir, lancar dari pikiran-pikiran penulis hingga tersaji ke hadapan pembaca. Cerita sederhana yang diceritakan dengan sederhana. Inilah salah satu tips sederhana untuk bertahan dalam proses menulis yang panjang ini.

Meria mengajar tips untuk bertahan dalam menjalani proses belajar menulis. Ia menuliskan sesuatu yang dekat dengan dirinya. Menceritakan masalah-masalah yang seolah mengungkapkan realitas kehidupan masyarakat dengan membalutnya dalam karya fiksi. Lalu apakah yang dilakukan Meria ini salah? Tidak ada yang salah dalam proses kreatif ini. Setiap orang, setiap penulis memiliki cara untuk bertahan dalam dunia kepenulisan yang ditekuninya.

Endah Tri Priyatni, dalam bukunya berjudul Membaca Sastra Dengan Ancaman Literasi Kritis, yang diterbitkan Penerbit Bumi Aksara, Jakarta pada tahun 2012 menyampaikan bahwa  sastra adalah pengungkapan realitas kehidupan masyarakat secara imajiner atau secara fiksi. Dalam hal ini, sastra memang representasi dari cerminan masyarakat. Senada dengan apa yang diungkapkan oleh George Lukas bahwa sastra merupakan sebuah cermin yang memberikan kepada kita sebuah refleksi realitas yang lebih besar, lebih lengkap, lebih hidup, dan lebih dinamik.

Nah, kalau sastra adalah cerminan hidup masyarakat, lalu apa salahnya kita menuliskan hal-hal yang dekat dengan masyarakat? Hal yang menjadi persoalan bagi penulis pemula salah satunya adalah keinginan untuk membuat karya yang monumental, karya yang hebat sehingga pikirannya terbebani untuk berkarya. Akhirnya tangannya pun terbelenggu, sehingga tidak ada karya yang dihasilkan karena beban perasaan ingin membuat karya yang monumental itu. Mungkin ia lupa, bahwa karya cerpen yang monumental dari penulis terkenal sekalipun, dimulai dari menuliskan satu kata dan kemudian merangkainya menjadi kaliman-kalimat hingga menjadi karya.

Noerhadi WN, dalam tulisannya berjudul “Kehidupan dan “pelajaran mengarang” dari Sang Pengarang (Analisis terhadap Cerpen “Pelajaran Mengarang” karya Seno Gumira Ajidarma) mengutip pendapat Abdul Wachid BS yang mengungkapkan bahwa cerpen memang fiktif, namun ide dari para pengarang bermula dari realitas sosial, yakni suatu ruang yang ada pada dirinya ataupun ada di sekitarnya. Kita dapat melihat berbagai macam perbedaan atas ras, suku, dan agama melalui cerpen-cerpen yang dituliskan oleh pengarang. Kepercayaan, keyakinan, konsep, perasaan, dan jalan hidup menjadi sangat penting, meskipun dalam itu muncul permasalahan.

Pernyataan tersebut sekali lagi meneguhkan bahwa tidak ada salahnya menulis karya sastra dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar penulis. Jangan menghukum diri sendiri untuk menulis sesuatu yang berat untuk diri sendiri, walaupun pada tahap lanjut, karya memang harus “diisi” dengan renungan-renungan pemikiran tentang kehidupan dan peradaban. Tapi untuk menjadi stamina dalam menulis, tulislah fenomena yang dekat dengan diri kita sendiri.

Di dalam karya yang sederhana, bukan berarti tidak ada pesan-pesan moral untuk kehidupan manusia pembacanya. Sesederhana apapun sebuah karya sastra, tetap ada muatan pesan yang ingin disampaikan penulisnya secara terselubung. Contohnya apa yang ditulis Meria dalam cerpen “Jodoh” ini, dia menuliskan “Jodoh itu dicari bukan ditunggu, kan UAS bilang sedangkan minum, diangkat dulu gelas berisi air, dituangkan ke mulut baru bisa diminum apalagi jodoh ya harus ada usaha,”.

Pesan moral dari sepenggal dialog dalam cerpen tersebut adalah “hidup butuh perjuangan.” Secara tertulis sangat jelas penulis menyampaikan bahwa jangankan jodoh, minum saja harus ada usaha untuk menuangkan air dari gelas ke dalam mulut. Apalagi jodoh yang pada hakekatnya usaha seseorang untuk mencari separuh jiwanya, tentu harus ada usaha agar belahan jiwa itu ditemukan. Begitulah hidup, apapun harus ada usaha untuk mewujudkan apa yang diimpikan. Begitulah kira-kira pesan sederhana dari cerita sederhana tentang jodoh dari Meria Fitriwati ini.

Kembali kepada judul tulisan ini bahwa dalam menjaga semangat menulis, perlu semangat yang kuat, dibutuhkan energi yang banyak untuk terus berkarya dan menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Dalam belajar, kita butuh siasat untuk bertahan, siasat agar tidak terlempar dari arena perjuangan. Salah satu siasat agar tetap bersemangat dalam belajar menulis adalah menghasilkan karya. Karya-karya itu akan memberi semangat pada penulisnya sendiri. Agar tetap berkarya, kita butuh terus menulis sesuatu yang ada dalam alam pikiran kita. (*)

Catatan:

Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.

Comment