Aku, Kei, dan Akrofobia

Cerpen: Elly Delfia

 

Kei, aku rindu.

Kau pergi jauh.

Pohon jambu air yang ada di belakang rumah makin lebat buahnya.

Aku masih ingat saat kau menghujamkan beberapa bilah paku besar ke batangnya agar aku bisa memanjat. Kau membujuk-bujukku agar aku mau memanjat. Aku gamang. Aku sangat takut ketinggian. Telapakku ngilu.

”Aku tak bisa, Kei!”, teriakku sambil menangis.

Kau membujukku Kei, tapi aku tetap tak bisa. Dengan mata berkilat, kau menyuruhku mencoba lagi, lagi, dan lagi. Aku menangis tersedu-sedu sambil menatap kau yang kejam tanpa belas kasihan. Kau menunggu. Kau membiarkanku menyelesaikan tangis. Beberapa menit kemudian, dengan suara lunak, kau kembali menghampiriku. Kau kembali membujukku.

“Ayolah, kau pasti bisa memanjat. Jangankan pohon jambu air, pohon mangga, pohon rambutan, bahkan pohon kelapa juga bisa kau panjat.” Kei membujuk lembut. Selembut apa pun kau membujukku waktu itu, aku merasa kau sangat kejam. Kau seperti monster yang sering kulihat dalam film Kesatria Baja Hitam dan Power Rangers. Dingin dan sadis.

Pohon jambu air di belakang rumah itu memang tidak terlalu tinggi, tapi tetap saja aku ketakutan. Aku gamang. Telapak kakiku terasa ngilu membayangkan saat menjejakkan kaki di dahan-dahan jambu air itu. Aku takut terjatuh meskipun katamu dan ibu, itu tak apa-apa. Bahkan kata ibu, aku harus mencobanya dan merasakan bagaimana sakitnya jatuh. Aku tak habis pikir, kenapa kau dan ibu begitu kejam padaku.

“Kau tahu, Kei? Aku tak akan pernah bisa memanjat!”, teriakku pada Kei.

“Tidak. Kau harus bisa!” Kei balas teriak.

Sambil berurai air mata, aku mulai mencoba memanjat. Satu langkah,  kunaikkan kaki ke batang pohon. Dua langkah, kurasakan ngilu mulai menjalar ke jantungku.

“Lagi. Teruskan!”, teriak Kei.

“Aku tak bisa. Benar aku tak bisa Kei!”

“Coba satu langkah lagi. Pindahkan kakimu ke atas.”

“Tidak!”

“Ayo! Kau pasti bisa. Aku percaya kau bisa!”

“Aku tak bisa!”

Aku kembali menumpahkan air mata. Aku berharap Kei kasihan dan berhenti membujukku untuk memanjat lebih tinggi lagi. Bujukan Kei membuatku tak berdaya. Teriakan Kei mengintervensiku.

“Tapi aku yakin, kau pasti bisa memanjat, bahkan kau bisa memanjat lebih tinggi lagi dari itu. Kau harus mencobanya!”

Kei berteriak sambil menunjuk-nunjuk dahan pohon jambu air tanpa hirau dengan tangisku. Ternyata teriakannya yang biasanya ampuh, kali ini tak berhasil. Aku tak bergeming. Aku berhenti di panjatan pertamaku. Aku diam sambil memeluk erat-erat batang pohon jambu air itu. Kei marah. Mungkin kesabaran Kei sudah habis, tapi aku benar-benar tak peduli dengan kemarahan Kei.

Suatu malam, saudara jauh ibu datang dari Jakarta. Ia mengajak Kei pergi ke Jakarta. Ibu tak cerita lagi Kei akan melakukan apa di Jakarta. Ibu hanya cerita itu baik untuk Kei. Kei pergi. Ia pamit pada ibu dan ayah. Ia menatapku diam. Tak ada tangisan ataupun pelukan di antara kami saat Kei pergi. Mungkin Kei sedih, tapi ia tak mengatakannya. Aku juga sangat sedih, tapi aku tak mengungkapkannya. Bagaimana Kei sekuat itu? Pergi dari rumah?

Kata ibu, Kei harus pergi ke Jakarta untuk menimba ilmu dan pengalaman. Sepeninggal Kei, aku kehilangan. Aku tak terbiasa tanpa Kei. Walaupun Kei selalu memintaku memanjat, pada akhirnya Kei selalu menyerah dan memilih memanjat sendiri pohon jambu air itu untuk membantuku. Selain mengintervensiku, Kei juga pahlawan penolong saat aku didesak ibu untuk memanjat pohon jambu air. Kei selalu datang menolongku.

Akhirnya, hari-hariku sepi tanpa teriakan Kei. Aku sering memandang lama pohon jambu air saat ingat Kei. Pohon itu memang tidak tinggi. Hanya empat depa orang dewasa. Berdahan rompak, berdaun rimbun, dan berbuah  lebat. Pohon yang  tidak absen berbuah. Buahnya manis, legit, dan banyak air. Bu Ranti, tetangga sebelah rumah, sering kebagian buah jambu air. Anak-anak Bu Ranti yang enam orang juga selalu bahagia dapat kiriman jambu air dari ibu yang suka berbagi dengan tetangga. Bahkan, sarapan saja dibagi ibu dengan tetangga. Ibu suka sekali membuat sarapan dari ketan dan pisang goreng. Tetangga kiri, kanan, depan, dan belakang sering dapat kiriman ketan dan pisang goreng buatan ibu. Aku diminta ibu mengantar makanan-makanan itu ke rumah tetangga. Hati ibu yang baik dan lapang membuat ibu tidak menua. Ibu masih terlihat cantik di usia lima puluhan.

Semakin banyak kita berbagi hidup kita semakin lapang. Seperti jambu air itu, semakin banyak diberikan pada tetangga, pohon jambu air berbuah semakin lebat. Ada rezeki orang-orang menumpang di sana kata ibu. Entah dapat teori dari mana ibu kalau rezeki orang-orang menumpang pada pohon jambu air. Yang jelas, aku percaya saja pada ibu. Sekolah ibu memang tidak terlalu tinggi. Ibu juga tidak tamat SD, tapi ibu selalu punya teori tak terduga tentang hidup. Teori-teori yang seratus persen dapat kupercaya karena selalu menjadi kenyataan. Ibu juga tak butuh kalkulator atau mesin lain saat berhitung. Ibu cukup memejam mata saja. Apa pun selesai dihitung ibu. Aku kagum pada kecantikan dan kecerdasan ibu, meskipun aku sering kesal karena ibu menyuruhku memanjat pohon jambu air.

Ibu menyuruhku memanjat pohon jambu air bukan tanpa alasan. Kata ibu, jika aku menjual jambu air di sekolah, uang hasil penjualan jambu bisa menambah uang jajanku. Tentu saja aku malu pergi sekolah sambil jualan jambu air. Waktu itu, tidak banyak anak-anak yang jualan di sekolah. Anak-anak lebih sering pamer barang-barang mereka. Aku kasihan pada diriku yang bakal  diolok-olok teman sekelas jika aku berjualan jambu air. Hanya Bima, teman sekelasku yang jualan di kelas. Itu pun yang dijualnya baterai dan peralatan elektronik barang dagangan kakaknya. Kei datang membelaku.

“Biar aku saja yang jualan, Bu.” Kei menyakinkan ibu. Dan benar. Kei berhasil menjual jambu-jambu air yang ditusuk seperti sate tanpa rasa malu. Jambu-jambu air itu selalu laris di tangan Kei. Aku mengurut dada lega saat Kei menyelamatkanku.

Namun begitu, bukan berarti aku bebas dari omelan ibu. Ibu tak suka saat Kei membelaku. Kata ibu, aku tak boleh manja dan lemah. Ibu mengomel panjang-pendek. Ibu kehabisan kata-kata dan cara untuk memaksaku melakukan pekerjaan yang seharusnya bisa kulakukan. Tak jarang, ibu bergegas ke dapur dan mengambil sapu lidi. Kadang tanpa ampun, sapu lidi mendarat bertubi-tubi di betisku. Beberapa  menit setelahnya, betisku terasa perih karena bekas pukulan ibu. Ibu tidak hanya memukul betisku dengan sapu lidi, tetapi ibu juga pernah memukul kakiku dengan batang kumbang-kumbang, sejenis perdu yang tumbuh di tepi halaman. Buahnya bulat hitam, lebat, dan berbulu, seperti kumbang kayu. Setelah itu, betisku berjejak dan bengkak-bengkak bekas dipukul ibu.

Ibu juga pernah mengikat tubuhku pada batang pohon asam di belakang rumah yang penuh semut karanggo, jenis semut purba yang hitam dan kejam. Saat itu, ibu terasa terasa lebih kejam daripada ibu tiri. Aku meraung kesakitan karena dikeroyok karanggo. Lagi-lagi, Kei datang menyelamatkanku. Kei mengolesi bengkak-bengkak bekas gigitan karanggo dengan  minyak kelapa. Pukulan ibu membuatku tetap tak bergeming. Aku tetap malu berjualan jambu air dan tak bisa memanjat.

***

 “Ilham kenapa termenung? Sini, bantu!” Teriak ibu dari atas rumah.

“Ya Bu!” jawabku balik berteriak dan beranjak naik ke rumah.

Rumahku adalah rumah tinggi, tapi atapnya tak bagonjong seperti rumah gadang Minangkabau zaman dulu. Dinding rumahku polos saja dan tak ada ukiran. Dinding rumahku yang polos dan sederhana melambangkan kesederhanaan hidup yang kami jalani. Rumah-rumah di kampungku sekarang sudah banyak dibangun dengan gaya Eropa. Tak banyak yang mempertahan bentuk asli rumah gadang Minangkabau. Hanya beberapa orang berduit saja yang masih memelihara bentuk asli rumah gadang dengan dinding penuh ukiran. Bermacam ukiran melekat di sana, seperti kaluak paku, aku cino, siriah naiak, dan itiak pulang patang.

“Apa Bu?”

“Bantu jemur tikar ini.”

Ibu memintaku menjemur tikar pandan hasil anyamannya. Ibu pasti tak suka melihatku termenung, apalagi sampai memikirkan Kei. Keisya Putri, kakak perempuanku. Aku Ilham Hermana, adik laki-laki Kei. Ibu hanya melahirkan kami berdua. Kei keras kepala. Ia anak gadis yang suka pergi jauh. Kei suka dunia baru dan hidup yang terus berubah. Seperti mimpi-mimpinya yang tinggi dan cita-cita yang ingin berkeliling dunia, Kei sangat berani. Dulu, memanjat pohon baginya adalah tantangan. Sampai di puncak pohon, baginya adalah kemenangan. Pohon jambu air, pohon duku, pohon durian, bahkan pohon kelapa di belakang rumah, juga pernah dipanjat Kei.

Aku berjalan menuruni tangga kayu surian yang diketam halus sambil membawa anyaman tikar buatan ibu. Ingat Kei, bola mataku terasa panas. Aku tidak cengeng, pengecut, ataupun lemah. Aku hanya anak laki-laki yang telapak kakinya ngilu memanjat pohon jambu air. Aku hanya seorang akrofobia menyembunyikan banyak kesedihan sepeninggal Kei.

Padang, 13 Juni 2020

Comment