Membaca Update Data Covid-19 Kota Padang

Oleh: ALFITRI
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Andalas

Sesudah shalat subuh, saya memulai hari dengan mencermati update data Covid-19 Kota Padang, Selasa,  6 Oktober 2020.  Data yang dirilis tiap hari oleh Humas Kota Padang lewat laman facebook itu memuat sebaran kasus Covid-19 di 11 kecamatan lengkap dengan masing-masing kelurahan di dalamnya.  Data tersebut menunjukkan jumlah penduduk yang positif, meninggal, dan sembuh dari Covid-19.  Selain itu, juga ada tanda centang dalam bulatan merah yang menunjukkan kelurahan-kelurahan yang waktu data dirilis dalam keadaan bebas dari  kasus Covid-19.

Seperti biasa, paling penting dicermati adalah tempat saya berdomisili. Ternyata kecamatan di mana saya tinggal adalah nomor 5 tertinggi jumlah positif Covid-19-nya dari 11 kecamatan di Kota Padang.    Dari 7 kelurahan di kecamatan tersebut, ternyata pula kelurahan tempat saya tinggal adalah nomor 1 tertinggi jumlah positif Covid-19-nya.  Data tersebut mengisyaratkan bahwa saya dan keluarga harus lebih hati-hati dan disiplin dengan protokol kesehatan.  Ini dapat dipahami karena sebagian besar interaksi sosial ekonomi kami sekeluarga berlangsung di kecamatan dan kelurahan tempat tinggal tersebut.

Selanjutnya, saya mencermati data dari 4 kecamatan lainnya yang lebih tinggi angka positif Covid-19-nya.  Salah satu di antaranya adalah kecamatan yang sering dilintasi dalam aktivitas keseharian.  Setidaknya 4 kelurahan di dalam kecamatan tersebut adalah rute yang yang biasa dan sering saya lewati. Data ini menandakan bahwa dalam mobilitas aktivitas keseharian mesti tetap disiplin dengan protokol kesehatan.  Kondisi ini juga sejalan dengan pesan adaptasi kebiasaan baru yang baru saja diperdakan di Sumatera Barat.

Berikutnya lagi dicermati kecamatan yang paling rendah angka positif Covid-19-nya,  dan ternyata itu adalah Kecamatan Bungus Teluk Kabung.  Di kecamatan yang populer disingkat dengan Bung Tekab ini,  sudah 6 bulan sejak Covid-19 menjadi pandemi di Indonesia, angka positif Covid-19-nya  masih 16 orang.  Update data itu menunjukkan bahwa dari 16 orang positif Covid-19, 12 orang di antaranya sudah dinyatakan sembuh.  Angka positif Covid-19 yang baru belasan atau sangat rendah di Bung Tekab ini, jauh berbeda dengan 10 kecamatan lain di Kota Padang yang angkanya semua ratusan, bahkan yang paling tinggi 668 kasus.

Lebih menarik lagi, update data tanggal 6 Oktober 2020 juga menunjukkan bahwa 1 dari 3 kelurahan di Bung Tekab dinyatakan bebas kasus Covid-19.  Ini adalah 1 dari 4 kelurahan di Kota Padang yang pada tanggal itu dinyatakan bebas dari kasus Covid-19.  Artinya, 25 persen dari kelurahan yang bebas kasus Covid-19 ada di Bung Tekab. Fakta tersebut jelas menggembirakan, karena sebelumnya pada update data Covid-19 Padang tanggal 10 September 2020, 1 kelurahan dari Bung Tekab juga bebas kasus Covid-19.

Kita tentu bersyukur dengan data Covid-19  Bung Tekab.  Cuma pertanyaannya adalah apa yang membuat angka positif Covid-19 di Bung Tekab sampai saat ini masih rendah?  Adakah praktik-praktik baik (good practices) dari perilaku keseharian warga di Bung Tekab yang menjadikan angka positif Covid-19-nya rendah.  Kalau ada, mungkin perlu ditiru dan disebarkan kepada yang lain.  Atau apakah ini berkaitan juga dengan faktor geografisnya yang dekat laut sehingga warganya lebih banyak menghirup udara laut? Pertanyaan terakhir ini menarik diajukan, karena misalnya, Kelurahan Teluk Bayur yang dekat dengan Bung Tekab menurut update data tanggal  10 dan 21 September 2020  serta 6 Oktober 2020 juga bebas dari kasus Covid-19.

Terus terang, saya belum menemukan jawaban yang persis tentang ini. Belum diketahui pula, apakah sudah ada penelitian yang dilakukan terkait rendahnya angka Covid-19 di Bung Tekab atau di daerah pantai pada umumnya. Tentu perlu ada penelitian spesifik tentang ini sehingga angka itu bisa lebih “berbicara” dan juga memberitahu apa yang perlu ditiru.  Namun, sementara kiranya dapat diduga bahwa ini berkaitan dengan faktor udara laut yg banyak dihirup warganya.  Seperti diketahui, sebagian besar warga Bung Tekab tinggal di daerah pantai dan sebagiannya juga bekerja sebagai nelayan.

Udara laut dan sinar matahari yang cukup tentu akan meningkatkkan sistem kekebalan tubuh (immune system) orang.  Prof. dr. Faisal Yunus, Ph.D, urang awak yang pernah menjadi presiden kongres Asian Pacific Society of Respirology, menyatakan bahwa udara pantai yang bersih memang sangat baik untuk memberikan suplai oksigen yang berkualitas. Selain itu, udara laut juga memiliki kualitas terapeutik (efek terapi) yang bisa membantu pada kesehatan pernapasan dan paru-paru.  Udara laut atau pantai yang dihirup mengandung tetesan-tetesan kecil air laut. Tetesan-tetesan kecil ini kaya dengan garam dan beberapa unsur kimia lainnya dan sebagai aerosol akan merangsang reaksi imun pada organ-organ pernapasan.

Selain itu, tentu kita berharap pula bahwa angka Covid-19 yang rendah sampai saat ini di Bung Tekab juga berkaitan dengan partisipasi warganya untuk disiplin dalam menjalankan protokol  kesehatan.  Semoga ini juga berlangsung di kecamatan lain di Kota Padang sehingga peningkatan angka yang positif Covid-19 dapat segera melandai. **

Comment