La Sorbonne au Pakistan! –

MZK~PAGI DI APP LAHORE~

Sejatinya Kita adalah Sang Pemimpi
Bermimpilah Hingga Menembus Batas Cakrawala
Biar Allah yang Menjadikannya Nyata
(Martha Zhahira El-Kutuby)

 

“I‟m going to India tomorrow!36
Salman terperanjat dari kursinya. Masih pagi, dia hampir saja menumpahkan kopinya di meja kerjanya. Salman tak percaya aku setegas dan segesit ini. Dia mencoba menenangkan hatinya.

“What for?37
“I‟m not satisfied with Abdee al Atheel‟s information yesterday. I think this news is very important38.”

Aku menjelaskan detailnya kepada Salman. Salman mengangguk paham dengan maksudku. Aku sudah menyediakan banyak pertanyaan yang akan kuajukan di India nanti. Ada diskriminasi ras di sana yang baru saja terjadi. Ini mungkin dasar dari konflik yang tak pernah selesai di Kashmir.

Aku mencoba mempresentasikan apa yang sedang kucari sebenarnya. Selain aku mencari berita untuk dinaikkan di media yang Salman pimpin, aku juga butuh untuk kebenaran sebuah berita yang disampaikan. Aku tidak akan mau menuliskan berita hoax.

“Why don‟t you just call them from here?39
“I don‟t want. Cause, I will get real information if I meet them. I hate the hoax news!.40

Salman memahami apa yang aku cari sebenarnya. Banyak hal yang masih ku herankan seputar konflik ini. Tidak mungkin hanya perebutan wilayah saja. Mungkin ada hal lain selain itu.

“You can meet my father in India. He work in India Council of Historical Research. I will contact him later41.”
“Wow. Your father is the best!”
“He is a profesor in historical research. You can ask him.42
“Okay!”

Tak butuh waktu lama. Aku memang membutuhkan informasi ini. Waktuku yang sangat terbatas membuatku sedikit diburu waktu. Apalagi beberapa hari lagi juga harus melaporkan hasil liputanku seputar Pakistan dan India ini. Masih ada tugas lain yang akan kukerjakan setelah ini.

***

“Bagaimana?” Bimo menghampiriku dengan 2 gelas kopi di tangannya.
“Alhamdulillah.”
“Minum dulu! Sukses selalu,” Bimo tersenyum dan kembali ke mejanya.
“Thank you, Bim!” aku berteriak kecil di belakangnya.

Bimo sangat manis. Orang Indonesia yang bekerja di kantor berita Pakistan wilayah Lahore. Beberapa kali dia meliput berita dunia. Dia juga meliput berita luar negeri untuk Indonesia. Banyak media Indonesia yang bekerjasama dengannya.

Jam kerja kantor sudah selesai. Aku membereskan semua berkasku yang sudah ku liput tadi. Bahan-bahan wawancaraku dengan Sir Abdee tak lupa kurapikan. Dengan wajah lega, aku berjalan santai ke lobi kantor menunggu bus taksi untuk ke penginapan.

“Hei. Let‟s go together!43 sapa Salman dari dalam mobilnya.
“Sorry. I‟m waiting for a taxi. Thanks, Sir!44senyumku kepadanya.
“No problem. I will take you to the inn. Let‟s go!45

Aku memang tidak enak untuk menolak Salman. Disamping itu, aku juga tak mau merepotkannya. Aku menuruti ajakannya untuk mengantarkanku ke penginapan. Rudi sejak tadi memang menungguku untuk makan malam. Hanya satu yang disuka Rudi di Pakistan ini. Restoran Qaba‟il Johar Town.

Aku sampai di The Pelham Lahore. Aku masuk dan mengambil kunci unitku di resepsionis. Langsung menuju unitku untuk melepas lelah. Hari ini memang tidak terlalu panas. Apalagi aku sudah menikmati perjalanan Lahore ke Kashmir sejak pagi tadi.

“Rud, jalan-jalan sore, yuk!”
“Kemana, Kak?”
“Kemana aja.”
“Oke, deh.!”

Rudi segera keluar dari unitnya. Aku langsung mengajaknya berjalan kaki untuk menikmati suasana senja di Lahore. Walaupun, aku disini hanya beberapa hari lagi. Menikmati suasana di Lahore hanya sebentar. Aku tidak akan lama disini. Tujuan utamaku bukanlah disini.

Aku mengambil ini untuk melupakan sejenak kenanganku dengan Kayla. Rinduku kepadanya sangat besar. Aku selalu menyibukkan waktuku di luar. Aku tidak mau melamun dan berdiam diri di kamar saja. Aku bisa saja jatuh sakit lagi kalau berlama-lama menahan rindu.

“Kayla apa kabar ya, Rud?” aku membuka pembicaraan di Qaba‟il.
“Kakak masih belum mengontak dia?”
“Belum, sih! Rindu juga.”
“Coba, deh, sekali-kali dikontak, Kak.”
“Nanti sajalah! Kakak nggak mau ganggu dia.”

Rudi hanya menaikkan bahunya tanpa memaksakanku untuk menghubungi Kayla. Walaupun perasaanku sedikit tidak enak sejak aku tahu Mustafa merencanakan hal jahat dari Rudi dan Hasbi. Hatiku tidak tenang sama sekali. Bahkan, dalam bekerja pun aku sedikit kurang fokus.

Impianku juga harus capai. Menjadi penulis dan juga jurnalis dimana pun aku berada. Aku akan mengelilingi dunia ini dengan kemampuanku sendiri. Aku akan selalu berjuang untuk bisa bertemu lagi dengan Kayla ketika sudah sukses nanti.

Saat ini, aku cukup menahan rindu saja dulu. Hanya foto-foto ketika di Kota Tua yang bisa kupandangi tiap hari. Aku belum menyerah begitu saja. Masih banyak yang harus kuperjuangkan.

“Kak, makan, dong!”
“Eh, iya.”
“Melamun aja, sih!”
“Nggak, kok!”

Rudi sibuk mengunyah chicken karahi kesukaannya. Katanya kebab yang dia pesan itu sebagai pencuci mulut. Sama saja dimataku kalau itu makanan berupa daging yang membuat badannya semakin lebar. Ah, Rudi! Buatku geleng-geleng kepala saja.

“Lusa kita akan ke Delhi.,” kataku sambil menikmati makananku.
“Hah?” Rudi kaget hingga mau muntah.

“Ya. Hati-hati, dong, makannya.”
“Ah, kakak bohong aja mau ke Delhi. Belum juga seminggu disini sudah pindah lagi.”
“Cuma sebentar, kok. Ada wawancara penting disana.”
“Huff. Oke, deh! Suka-suka kakak ajalah. Aku ngikut!”

Aku tersenyum. Rudi melanjutkan makannya. Dia melahap habis menu saat itu. Sebentar lagi tidak di Pakistan lagi. Mungkin tidak akan bertemu dengan chicken karahi lagi. Dengan memakai kartu kreditku yang diberikan Salman, dia puas mau makan apa saja di Qaba‟il.

Pernah satu kali aku mengajaknya makan di restoran lain. Katanya cukuplah sekali itu saja kesana. Lain kali, tetap ke Qaba‟il saja. Sudah sehati dengan Qaba‟il.

***
Catatan Kaki:
36 Aku akan ke India besok!
37 Untuk apa?
38 Saya tidak puas dengan informasi Abdee al Atheel kemarin. Saya pikir berita ini sangat penting
39 Mengapa Anda tidak menghubungi mereka dari sini saja
40 Saya tidak mau. Karena, aku akan mendapatkan informasi nyata jika aku bertemu mereka. Aku benci berita bohong!
41 Anda dapat bertemu ayah saya di India. Dia bekerja di Dewan Penelitian Sejarah India. Saya akan menghubunginya nanti
42 Dia adalah seorang profesor dalam penelitian sejarah. Anda bisa bertanya padanya
43 Hei. Ayo pergi bersama!
44 Maaf, Pak! Saya sedang menunggu taksi
45 Tak apa-apa. Saya akan mengantarmu ke penginapan. Ayo!

Comment