La Sorbonne au Pakistan! –

MZK~HARI PERTAMA KERJAKU~

Sejatinya Kita adalah Sang Pemimpi
Bermimpilah Hingga Menembus Batas Cakrawala
Biar Allah yang Menjadikannya Nyata
(Martha Zhahira El-Kutuby)

 


Associated Press of Pakistan App Lahore! Kantor berita Pakistan di Lahore. Gedung sederhana itu membawaku kepada kenangan ketika berkantor di Indonesia. Kantor berita Indonesia juga sederhana dengan sarat sejarah.
“Welcome to our office!31sapa Salman dengan manis.
“Thank you, Sir!”
 
Aku menyunggingkan senyum manisku pagi itu kepada Salman. Pria itu menjadi salah tingkah menanggapiku. Aku hanya biasa saja. Buatku memberikan penghormatan jauh lebih baik begini.

Salman mengajakku ke ruangannya. Aku dan Salman memulai obrolan seputar rencana peliputan sejarah Pakistan dan juga konflik Pakistan dan India. Tak lepas dari isu islamophobia dari kalangan Hindustan kepada muslimin. Jauh dari itu juga disebabkan perebutan wilayah kekuasaan di perbatasan Pakistan dan India, di Kashmir.

Lama berbincang juga kadang tertawa dengan berbagai lelucon. Kapan terakhir aku tertawa lepas kalau bukan bersama Kayla di Kota Tua. Hari ini membuatku nyaman dihadapan Salman. Aku melemparkan senyumku ke ruangan yang luas itu.

Dari kaca jendela yang besar itu, terlihat corak Lahore secara jelas. Sudut manapun bisa diterjemahkan dari ruangan Salman ini. Aku berjalan sedikit menuju jendela dan kagum dengan luasnya negara ini.

“Do you like that?32

Aku menganggukkan kepalaku. Lalu, tersenyum sendiri. Aku kembali duduk di sofa tamu ruangan itu. Tak lama aku pamit keluar menuju ruanganku. Aku harus bersiap untuk jalan besok untuk mempelajari wilayah Pakistan. Terutama wilayah konflik di Kashmir.

***
“Kita akan menuju area perbatasan Pakistan dan India dulu. Kashmir!” Bimo melajukan mobilnya.
“Oke. Apakah disana ada yang bisa dimintai penjelasan seputar ini?”
“Ada. Tapi, mereka tidak mau membahas lagi.”
“Hmm.”

Efek dari semua kejadian adalah trauma berat. Masyarakat perbatasan Pakistan dan India terkena itu. Sebagian ada yang nekad untuk menceritakan kisah perebutan wilayah perbatasan ini. Sebagian lagi akan menyimpannya sendiri. Ada kecaman dari India bahwa mereka tak pernah salah kepada muslim Pakistan.

Sudah lama konflik ini terjadi. Kekalahan Pakistan atas India menjadikan India dendam kepada Pakistan yang mayoritas muslim. Dunia membacanya adanya kebencian India terhadap kelompok Muslim. Hal inilah yang terjadi di Pakistan dan India.

Pemberontakan juga terjadi akhir-akhir ini di India. India memang tidak memberikan keleluasaan untuk muslim di wilayah India untuk bebas beraktifitas. Dendam mereka kepada muslim sudah sangat memuncak. Ini membuatku harus mencari sumber yang jelas.

Waktuku hanya dua minggu. Aku harus menyelesaikan ini semua dengan baik. Ada beberapa hal lagi yang harus kukerjakan setelah dua minggu ini. Salman sudah menyiapkan semuanya untukku. Aku memang diservis Salman untuk meliput hal sesulit ini.

“Kita sudah sampai!”
“Oh ya?”
“Yuk, turun! Ini rumah tetua perbatasan Pakistan dan India. Beliau bernama Abdee Al Atheel. Muslim perbatasan ini.”
“Oke.”

Aku dan Bimo memasuki kawasan Kashmir. Wilayah yang asri. Surganya perbatasan Pakistan dan India. Ini menjadi rebutan antara Pakistan dan India. Dengan hijaunya pemandangan menyejukkan mata.

Di rumah desain kayu coklat itu tempat tinggal Abdee al Atheel. Bapak-bapak tua yang sudah sepuh. Beliau mengetahui semua jalannya konflik rebutan wilayah ini. Sangat menakjubkan ternyata.

“Yes. We can not do anything. This conflict happens endlessly. In plain view, it really attacks Pakistani Muslims.33
“Do you know the cause, Sir?34
“Only the capture of this Kashmir region they fough for years35.”

Áku mengangguk-angguk mendengar penjelasan Sir Abdee. Mungkin ada hal lain memang bukan saja perebutan wilayah saja. Tiongkok pun juga memperebutkan sebagian wilayah Kashmir juga. Ada wilayah Tiongkok yang berbatasan dengan Kashmir. Namun, tidak sesengit konflik Pakistan dan India.

“Aku masih belum puas dengan sumber ini. Kamu pasti tahu apa yang aku cari.”

Bimo mengernyitkan dahinya. Dia sedikit tidak paham apa yang aku cari. Kebanyakan sumber hampir sama jawabannya. Mungkinkah hanya perebutan wilayah Kashmir saja? Tentu saja tidak.

“Kebencian orang Hindustan kepada Muslim itu jelas adanya.”
“Ya. Apakah kamu yakin akan mengangkat topik ini? Sedikit sensitif menurutku.”
“Aku yakin.”

Bimo hanya mengangguk pelan dan fokus pada kemudi mobil yang dia pegang. Mereka kembali dari Kashmir menuju kantor di Lahore. Sepanjang jalan aku disibukkan dengan pikiran yang sama sekali aku penasaran. Rasa ingin tahuku tentang konflik ini sangat tinggi.

Dulu, di India, Maharaja Akbar (Sultan Mughal) juga beragama Islam. Sultan ketiga dalam pemerintahan Islam di India. Dia merumuskan konsep sinkretisme agama dalam Din-i-Illahi. India mencapai puncak kejayaannya dibawa Sultan Mughal ketiga ini. Akhir pemerintahannya, dia diserang oleh anaknya sendiri. Hingga runtuh.

“Aku rasa, aku perlu menyelidiki dua belah pihak.”
“Maksudmu?”
“Aku akan ke India dalam waktu dekat ini.”
“Sendirian?”
“Ada adikku disini yang akan menemaniku.”
“Kamu perlu diskusikan ini dengan Salman.”

Memang benar. Kemarin, aku baru saja dikagetkan dengan pemberitaan bahwa Muslim India tertindas oleh kelompok Hindustan. Semua masjid atau tempat ibadah umat Muslim di India dibakar dan dirobohkan. Umat Islam India tersakiti dan disiksa.

Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela mobil yang dikemudi Bimo. Aku merasakan pahitnya perjuangan umat Islam saat ini. Menghadapi fitnah yang sangat kental terjadi.

***
Catatan Kaki:
31 Selamat di kantor kita.
32 Apakah kamu menyukainya?
33 Iya. Kami tidak bisa melakukan apa-apa. Konflik ini terjadi tanpa akhir. Secara kasat mata, itu benar- benar menyerang Muslim Pakistan.
34 Apakah kamu tahu penyebabnya, Pak?.
35 Hanya perebutan wilayah Kashmir yang mereka perjuangkan selama bertahun-tahun.

Comment