Sunah-sunah Wudu (bagian 1)

Ustadz Fakhry Emil Habib
Ustadz Fakhry Emil Habib

Rubrik Cahaya Qalbu ini Diasuh Oleh:
Ustadz Fakhry Emil Habib, Lc, Dipl. Tuangku Rajo Basa

Alumni:
S1 Universitas Al-Azhar Fakultas Syariah Islam dan Hukum (2011-2015).
Pasca Sarjana Universitas Al-Azhar Fakultas Dirasat Ulya Jurusan Usul Fikih (2016-2017).
Peneliti Magister Universitas Al-Azhar jurusan Usul Fikih (2018-Sekarang)

 

Ada sangat banyak sunah-sunah wudu, dalam artian, yang jika dilakukan mendapat pahala, jika ditinggalkan maka tak ada siksa. Meskipun wudu tetap sah tanpa melaksanakan hal ini, tetap saja meninggalkan sunah tidaklah afdal. Di antara sunah-sunah wudu yang terpenting adalah :

  1. Memulai wudu dengan basmalah.

Membaca basmalah disunahkan dalam wudu dan seluruh perbuatan, baik ibadah maupun bukan. Bacaan sempurnanya adalah bismillâhirrahmânirrahîm, namun jika yang dibaca adalah bismillâh saja, sunahnya sudah didapat.

Jika seseorang lupa membaca basmalah sebelum berwudu, atau sengaja tidak membacanya, lalu teringat pada pertengahan wudu, maka hendaklah ia membaca basmalah saat itu. Namun jika ia baru teringat saat wudu telah selesai, maka sunah ini gugur karena waktu pelaksanaannya sudah terlewatkan. Basmalah sebaiknya dibaca di awal wudu, saat membasuh tangan, meskipun niat pada saat itu baru sekedar melaksanakan sunah-sunah wudu.

Dalil kesunahannya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Anas Ra, ia berkata bahwa beberapa sahabat Nabi ﷺ mencari air untuk berwudu dan mereka tidak menemukan air. Rasulullah ﷺ kemudian bersabda, “Adakah kalian yang memiliki air?” Air pun dihadirkan kepada beliau, lalu beliau masukkan tangan beliau ke dalam bejana air tersebut dan bersabda, “Berwudulah kalian dengan nama Allah!”, maksudnya mengucapkan hal itu saat memulai wudu. Anas berkata, “Aku kemudian melihat air keluar dari antara jari-jari beliau hingga seluruh sahabat saat itu berwudu yang jumlahnya sekitar 70 orang.”[1]

Jika seseorang berwudu kemudian lupa atau sengaja tidak membaca basmalah, wudunya tetap sah karena membaca basmalah tidak wajib, berdasarkan riwayat Abu Hurairah Ra, bahwa Nabi ﷺ bersabda :

من توضّأ ولم يذكر اسم الله عليه كان طهورا لما مر عليه الماء

Artinya : “Siapa yang berwudu dan tidak menyebut nama Allah atas wudu tersebut, maka wudu tersebut adalah penyuci bagi apa yang dilalui oleh air.”[2]

Maksudnya adalah pembersih dari dosa-dosa kecil.

  1. Membasuh dua tangan

Disunahkan membasuh tangan tiga kali sebelum memasukkannya ke dalam bejana air, walaupun orang yang berwudu itu yakin bahwa tangannya suci. Ini juga berlaku walaupun ia berwudu dari ketel ataupun keran air. Jika ia ragu akan status suci tangannya, maka langsung memasukkan tangan ke dalam bejana tanpa dibasuh tiga kali sebelumnya menjadi makruh, berdasarkan riwayat Abu Hurairah Ra, ia berkata : Rasulullah ﷺ bersabda :

إذا استيقظ أحدكم من نومه فلا يغمس يده في الإناء حتى يغسلها ثلاثا فإنه لا يدري أين باتت يده

Artinya : “Jika salah satu kalian bangun tidur, maka janganlah ia mencelupkan tangannya ke dalam bejana air sebelum ia membasuh tangannya tiga kali. Sungguh ia tidak tahu dimana saja tangannya telah mendarat.”[3]

Dan siapa yang tidak tidur, namun tangannya berkemungkinan bernajis, maka hukumnya juga sama. Namun jika dia yakin tangannya bernajis, maka membasuh tangan hukumnya menjadi wajib.

Dalil kesunahan hal ini juga adalah hadis dari Abdullah bin Zaid Ra ketika dia ditanya tentang wudu Nabi ﷺ, kemudian ia meminta sebejana tembaga air, lalu ia memperagakan kepada mereka cara wudu Nabi ﷺ. Ia menyiram tangannya untuk dibasuh sebanyak tiga kali, barulah ia masukkan tangannya ke dalam bejana, hingga akhir hadis.[4] Usman dan Ali juga menyifati wudu Rasulullah ﷺ dengan redaksi bahwa beliau membasuh tangannya sebanyak tiga kali.[5]

  1. Bersiwak

Ini juga disunahkan dalam wudu, berdasarkan riwayat Abu Hurairah Ra, bahwa Nabi ﷺ bersabda :

لو لا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة

Artinya : “Kalaulah tidak memberatkan bagi umatku, sungguh aku suruh mereka untuk bersiwak setiap salat.”[6] (dalam beberapa riwayat, redaksinya adalah setiap wudu).

Penjelasan tentang tata cara dan keutamaan bersiwak telah diberikan sebelumnya. Perintah di dalam hadis ini adalah perintah kuat, namun Nabi ﷺ tidak memerintahkan siwak, sehingga hukumnya turun satu derajat menjadi sunah muakad.

  1. Berkumur-kumur dan
  2. Beristinsyâq

Yang dimaksud dengan berkumur-kumur adalah memasukkan air ke dalam mulut, menggerak-gerakkannya lalu mengeluarkannya. Sedangkan istinsyâq maknanya adalah memasukkan air ke hidung, lalu dihirup hingga mencapai pangkal hidung, lalu dikeluarkan dengan tekanan sehingga segala kotoran hidung ikut keluar.

Dua hal ini disunahkan dalam wudu dan mandi berdasarkan riwayat Amru bin Abasah, bahwa Nabi ﷺ bersabda :

ما منكم من أحد يقرب وضوءه ثم يتمضمض ثم يستنشق ويستنثر إلا خرت خطايا فيه وخياشيمه مع الماء

Arinya : “Tidaklah seorang di antara kamu hendak berwudu, lalu ia berkumur dan membersihkan hidungnya, lalu melensingkannya, kecuali hanyut kesalahan di dalamnya dan di dalam rongga hidungnya bersama air.”[7]

Disunahkan untuk berlebih-lebihan dalam melakukan dua hal ini, berdasarkan sabda Nabi ﷺ bagi Laqith bin Shabirah :

أسبغ الوضوء وخلل الأصابع وبالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائما

Artinya : “Sempurnakanlah wudu, sela-selalah jari dan berlebihanlah melakukan istinsyâq kecuali engkau sedang berpuasa.”[8]

Kesunahan dalam hal ini didapatkan dengan melakukan keduanya secara terpisah. Berkumur dahulu tiga kali, lalu  istinsyâq tiga kali. Namun afdalnya adalah keduanya dilakukan dengan satu cidukan air, dan diulang sebanyak tiga kali berdasarkan hadis Abdullah bin Zaid Ra sebelumnya, bahwa ia berkumur-kumur dan beristinsyâq dengan tiga kali cidukan air.[9]

Jika seseorang tidak melakukan dua hal ini pun boleh berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ kepada seorang Arab Badui :

توضأ كما أمرك الله

Artinya : “Berwudulah kamu sesuai perintah Allah!”[10]

Dan di dalam perintah Allah dalam Alquran tidak ditemukan perintah untuk berkumur-kumur dan beristinsyâq. Lagi pula, dua perbuatan ini bertujuan untuk membersihkan organ dalam yang memang tidak wajib untuk dibasuh, sama halnya dengan mata. Tak ada satupun riwayat yang menyatakan kalau Rasulullah ﷺ juga membasuh organ dalam, baik dari perkataan beliau maupun perbuatan.

  1. Menyela-nyela jenggot

Apabila jenggot tipis, maka wajib hukumnya membasuh seluruh bulu jenggot beserta kulit tempat tumbuhnya berdasarkan QS. Al-Maidah : 6. Namun apabila jenggot itu tebal sehingga kulit tak tampak, maka yang wajib adalah menebarkan air di atas permukaan bulu jenggot saja, tanpa harus menyampaikan air ke kulit, karena jenggot sudah terhitung menjadi wajah pada saat itu. Namun, tetap disunhakan untuk menyela-nyela jenggot, dengan memasukkan jari mulai dari pangkal jenggot, berdasarkan riwayat Amar bin Yasir Ra, bahwa Nabi ﷺ menyela-nyela jenggot beliau.[11]

Anas Ra menjelaskan tata caranya dengan berkata bahwa Nabi ﷺ jika berwudu, beliau mengambil sedikit air, lalu beliau masukkan air tersebut di bawah tulang rahang beliau, dilanjut dengan menyela-nyela jenggot. Kemudian beliau berkata :

هكذا أمرني ربي عز وجل

Artinya : “Beginilah perintah Allah azza wajalla kepadaku.”[12]

[1] HR. Nasai (I/53) Ahmad (III/165)

[2] HR. Daruquthni (I/74), Baihaqi (I/45)

[3] HR. Bukhari (I/72 no 160), Muslim (III/178 no 237)

[4] HR. Bukhari (I/80 no 189), Muslim (III/121 no 235)

[5] HR. Bukhari (I/71 no 158), Muslim (III/105 no 226)

[6] HR. Bukhari (I/303 no 847), Muslim (III/141 no 252)

[7] HR. Muslim (VI/117 no 832)

[8] HR. Abu Daud (I/31), Tirmizi (III/499)

[9] HR. Bukhari (I/71 no 189), Muslim (III/121 no 235)

[10] HR. Abu Daud (I/197), Tirmizi (II/205)

[11] HR. Tirmizi (I/128), Ibnu Majah (I/32)

[12] HR. Bukhari (I/80 no 183), Muslim (III/121 no 235)

Comment