Menggenjot Wirausahawan


Oleh:
ALFITRI
(Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Andalas)

Sejak lama, teori-teori pembangunan memandang penting adanya kelompok wirausahawan dalam masyarakat.  Jumlah mereka tidak banyak, tapi mereka tergolong minoritas kreatif yang aktif dan dinamis.  Oleh karena itu,  para wirausahawan ini dianggap akan mampu menggerakkan perekonomian suatu masyarakat ke arah kemajuan.  Mulai dari menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan nasional, menciptakan nilai tambah barang dan jasa serta mengurangi kesenjangan ekonomi dan sosial.

Adalah Rostow yang melihat peran strategis dari kelompok wirausahawan ini dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara dari suatu tahap ke tahap berikutnya.  Bagi Rostow, di samping modal, kelompok wirausahawan inilah yang akan menjadi motor yang membawa suatu negara ke tahap lepas landas dan seterusnya.

Tahap lepas landas yang diikuti oleh tahap menuju kematangan (drive to maturity) itu adalah masa pemantapan suatu negara bergerak dari masyarakat agraris ke masyarakat industrial.  Ahli lain, David McClelland, mengaitkannya dengan dorongan untuk berprestasi (n-ach) yang menjangkiti kelompok wirausahawan tersebut.  Semakin banyak dan semakin tersebar “virus n-ach” tersebut maka semakin besar peluang suatu negara untuk cepat maju.

Saat ini di Indonesia, rasio jumlah wirausahawan baru 2 persen dari jumlah penduduk.  Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara signifikan, paling tidak diperlukan rasio wirausahawan 4 persen dari jumlah penduduk.  Dibandingkan dengan negara-negara tetangga,  rasio jumlah wirausahawan Indonesia memang masih tertinggal.  Singapura rasio wirausahawannya sudah 7 persen,  Malaysia 5 persen, dan Thailand 3 persen.

Indonesia sendiri menargetkan rasio itu akan tercapai pada tahun 2030.  Suatu upaya yang tidak mudah untuk mencapainya, tapi jelas perlu terus diupayakan.  Karena itu, sebagian perguruan tinggi sudah menjadikan kewirausahaan sebagai mata kuliah wajib dalam kurikulumnya.  Sebagian yang lain, paling tidak menjadikannya sebagai mata kuliah pilihan.  Ini diharapkan mampu memberi bekal pengetahuan dan mendorong tumbuhnya semangat atau jiwa kewirausahaan di kalangan mahasiswa.

Di samping itu, perguruan tinggi juga banyak menyalurkan hibah-hibah atau bantuan dari Kemendikbud untuk pengembangan kewirausahaan atau “start-up bussiness” di kalangan mahasiswa.  Terkait dengan ini, berbagai lomba atau kompetisi  dengan hadiah yang lumayan besar juga sudah kerap diadakan oleh internal perguruan tinggi sendiri maupun asosiasi.  LLDikti Wilayah X, misalnya, pun telah melaksanakan lomba kewirausahaan sebanyak tiga kali dengan ratusan peserta dan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dengan demikian, nantinya setelah tamat kuliah sebagian mereka  siap untuk “job creation”  atau pencipta lapangan kerja dan bukan lagi menjadi “job seeker” atau pencari kerja.  Namun,  semangat dan bekal pengetahuan kewirausahaan yang telah disemai di perguruan tinggi tersebut perlu didukung oleh masyarakat, utamanya di keluarga.

Ini dapat dilakukan dengan mengubah orientasi apresiasi dari PNS ke wirausahawan.  Keluarga-keluarga dalam masyarakat sudah harus mulai berani mendorong anak-anaknya yang tamat kuliah untuk terjun berwirausaha dan bukan lagi melamar jadi PNS.  Perubahan orientasi apresiasi ini tidak hanya dari keluarga inti, tapi hendaknya juga pada sanak famili dan komunitas.  Dengan demikian,  bolehlah kita berharap bahwa wirausahawan-wirausahawan muda itu juga berasal dari alumni-alumni terbaik dan bukan sekadar mereka yang kebetulan tidak lulus jadi PNS. ***

Comment