Pasir dan Batu sebagai Media Komunikasi dalam Novel Kubah di Atas Pasir


Oleh: Armini Arbain
(Dosen Sastra Indonesia,
Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

Karya sastra merupakan hasil kreativitas manusia yang terinspirasi dari kehidupan manusia dalam hubungannya dengan alam semesta. Sebagai makhluk hidup ciptaan Tuhan, manusia selalu berinteraksi dengan alam  semesta.  Alam dapat dijadikan manusia sebagai sumber inspirasi dalam menciptakan karya sastra. Bersumber dari benda-benda alam, seorang pengarang menjadikan alam sebagai  alat atau media untuk menyampaikan sesuatu. Hal ini terlihat dalam novel yang berjudul Kubah di Atas Pasir (2015)  karya Zhainal Fanani.

Novel Kubah di Atas Pasir yang berlatarkan masyarakat Desa Ngurawan ini menceritakan usaha seorang tokoh yang benama Hiram dalam mengentaskan kemiskinan. Untuk mengentaskan kemiskinan tersebut, Hiram mengajak masyarakat untuk memperoleh pendidikan. Selama  ini, Desa Ngurawan memang belum tersentuh akan pendidikan sehingga masyarakatnya menjadi miskin dan terpinggirkan. Hiram mencoba mengubah pola pikir masyarakat agar sadar bahwa pendidikan adalah hal yang penting dalam kehidupan mereka. Namun, usaha Hiram gagal karena masyarakat lebih menginginkan anak-anaknya membantunya menambang pasir dan memecah batu di sungai dari pada mengikuti pendidikan. Walaupun usahanya gagal dalam menyadarkan masyarakat, Hiram berhasil mendekati dan memotivasi anak-anak usia sekolah untuk mencintai ilmu.

Usaha Hiram mendekati anak-anak bukan dengan cara menyadarkan orang tua mereka, namun dengan cara mengugah perhatian anak-anak yang bermain di atas pasir untuk ingin mengenal dunia luar. Hiram berhasil menarik perhatian anak-anak akan pentingnya pengetahuan dengan cara memanfaatkan pasir dan batu. Di samping menggunakan media pasir dan batu  atau benda alam  untuk pendidikan, Hiram juga memanfaatkan pasir untuk mengekspresikan perasaan cintanya pada seseorang. Pemanfaatan alam sebagai inspirasi untuk  penciptaan karya sastra dalam kritik sastra masuk ke dalam wilayah  kajian Ekologi Sastra.

Ekologi sastra adalah mengkaji keterkaitan alam dengan sastra, dalam hal ini secara khusus dapat disebut dengan ekokritik sastra. Ekokritik sastra adalah kajian yang menghubungkan karya sastra dengan lingkungan dan alam.  Garrand dalam Indrastuti (2018:636) mengemukakan bahwa ekokritik sastra berfokus pada bagaimana kita membayangkan dan menggambarkan hubungan antara manusia dan lingkungan dalam segala bidang sebagai hasil budaya. Sementara itu, menurut  Love (dalam Rahayu 2015: 576) ekokritik memberikan perhatian terhadap hubungan timbal balik antara karya sastra dan lingkungan hidup, termasuk realitas  sosial dan fisik yang biasanya menjadi perhatian dalam ekologi.

Dalam konteks ini, yang dimaksud dengan alam adalah segala ciptaan Tuhan yang ada di bumi yang bukan buatan manusia seperti laut, gunung, sungai dengan segala isinya, pasir, dan batu. Dalam kajian ini, pembicaraan difokuskan pada pasir dan batu karena kedua benda alam tersebutlah yang dimanfaatkan tokoh dalam mengekspresikan keinginannya.

Pasir dan Batu Sebagai Media untuk Memperjuangkan Pendidikan

Novel Kubah di Atas Pasir mengambil latar cerita masyarakat Desa Ngurawan. Sebuah desa yang terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Di awal cerita, pengarang mengambarkan bahwa desa ini merupakan desa yang termarjinalkan karena tidak tersentuh pendidikan.

Melihat kondisi yang demikian, tokoh Hiram yang pernah hidup dan dibesarkan di sebuah yayasan dan telah mengenal pendidikan di ibukota kabupaten, merasa terpanggil untuk memperbaiki kondisi tersebut. Hiram ingin ada pendidikan di desa itu. Ia ingin menjadi sukareIawan dalam mengajari anak-anak. Namun, usahanya gagal karena masyarakat masih berpikiran bahwa sekolah hanya membuang uang dan menghabiskan waktu. Melihat pandangan masyarakat yang demikian, Hiram tidak marah. Ia berusaha untuk beradaptasi dengan kondisi tersebut. Ia menyadari bahwa paradigma berpikir masyarakat sangat sulit diubah. Hal itu membuat Hiram memikirkan cara untuk memberikan pendidikan untuk anak-anak Desa Ngurawan.

Hiram mencoba mendekati anak-anak dengan cara mengajak anak-anak bermain, namun mereka tidak merespon sapaan Hiram. Hiram pun mengubah strateginya dengan cara lain. Suatu sore hari, ketika anak-anak banyak bermain pasir, Hiram juga ikut bermain pasir dekat anak-anak tersebut. Namun Hiram bukan sekedar bermain pasir, melainkan membuat miniatur rumah dan gedung dari pasir dan batu krikil. Melihat miniatur rumah dan gedung tersebut, anak-anak mulai tertarik dan mendekati Hiram.

Mengetahui bahwa anak-anak tertarik, Hiram semakin bersemangat membuat miniatur berbagai gedung dan memberi aksesoris yang menarik pada rumah pasirnya. Anak-anak mulai mengerumuni Hiram. Mereka terkesima melihat miniatur rumah pasir tersebut. Hiram maklum kalau anak-anak terkagum-kagum dengan miniatur gedung-gedung yang dibuatnya. Anak-anak Ngurawan yang terpinggirkan tidak banyak mengetahui miniatur yang dibuat Hiram karena yang mereka ketahui hanya bangunan yang ada di desa mereka. Untuk menggugah keingintahuan anak-anak, Hiram menciptakan sebuah miniatur masjid yang di atasnya ada kubah. Setelah itu, Hiram bertanya pada anak-anak miniatur yang dibuatnya. Mereka menggeleng menyatakan ketidaktahuan. Hal ini membuktikan bahwa anak-anak desa tersebut tidak mengenal dunia luar.

Dari pertemuan pertama, Hiram sudah mengetahui apa yang harus dilakukannya untuk menggugah anak-anak agar berminat menambah pengetahuannya. Hiram sengaja menggantung keterangannya tentang kubah, fungsi menara, dan azan. Hiram melihat ada kekecewaan dari wajah anak-anak tersebut. Hiram menjanjikan bahwa besok sore ia akan menjelaskannya. Anak-anak senang dan kegirangan dengan janji Hiram sehingga mereka tidak sabar menunggu waktu bermain esok harinya.

Esok sore, Hiram menepati janjinya. Jumlah anak-anak juga semakin ramai. Hiram kembali membuat miniatur berbagai gedung, bahkan ia membuat miniatur mesjid yang besar dengan empat menara. Anak-anak sangat antusias mendengar keterangan Hiram. Melihat anak-anak mulai tertarik dengan miniatur dari pasir. Esok harinya, Hiram sengaja membawa buku bergambar gedung-gedung dan memperlihatkan pada anak-anak. Gedung-gedung indah yang belum pernah mereka lihat. Hiram menjelaskan setiap gambar yang dilihat anak-anak sehingga mereka sangat senang. Mereka menampakkan keingintahuan untuk hal-hal yang baru.

Sejak dua kali pertemuan tersebut, setiap sore anak-anak antusias menunggu Hiram. Hiram berusaha memperkenalkan berbagai miniatur dan kemudian menjelaskannya. Di hari lain, Hiram mulai mengarang cerita yang di dalamnya ada hitung-hitungan sederhana. Anak-anak makin antusias. Hiram pun mulai mengajar hitungan sederhana pada anak-anak dengan mengunaan batu-batu kecil yang ada di sekeliling mereka. Penjelasan tentang hitungan dengan memanfaatkan batu mudah diterima anak-anak. Mereka semakin termotivasi untuk belajar berhitung.

Selanjutnya, untuk mengasah dan menambah pengetahuan anak-anak terhadap dunia luar, Hiram menciptakan miniatur bangunan-bangunan terkenal yang ada di kota-kota besar, seperti masjid Istiqlal yang ada di Kota Jakarta, menara Eiffel di Prancis, White House atau Gedung Putih di Amerika. Miniatur bangunan tidak saja menambah pengetahuan anak tentang geografi dan sejarah, tapi juga bisa sebagai media pembelajaran agama, seperti miniatur bangunan masjid Istiglal dan Kakbah di kota Mekah dimanfaatkan Hiram untuk menjelaskan agama Islam. Jadi, pembelajaran yang diberikan Hiram dengan media pasir dan batu tidak hanya terbatas pengetahuan umum saja, tetapi juga pengetahuan agama.

Dalam waktu dua bulan, anak-anak semakin ramai mengikuti program belajar yang diasuh Hiram. Hiram amat senang melihat antusiasme anak-anak belajar. Artinya, cita-citanya untuk memberikan pendidikan di Desa Ngurawan berhasil.

Pasir dan Badu sebagai Media Merajut Tali kasih

Disamping memamfaatkan pasir dan batu untuk memotivasi anak-anak mengenal pendidikan, Hiram juga memanfaatkan pasir dan batu untuk merajut tali kasih dengan perempuan yang disukainya. Gadis itu adalah Elena, gadis Rusia yang sedang melakukan penelitian di daerah Ngurawan. Kedekatan Hiram dan Elena ternyata menimbulkan benih-benih cinta dalam diri mereka. Benih-benih cinta di hati mereka tidak diungkap melalui kata-kata namun diekspresikan melalui  miniatur bangunan yang terbuat dari pasir dan batu-batu kecil. Miniatur yang mereka ciptakan sebagai lambang pengungkapan isi hati, seperti yang terlihat dalam kutipan di bawah ini:

Hiram memperhatikan. Kini, di atas  hamparan pasir tampak dua miniatur bangunan. Karyanya dan karya Elena.

Elena menoleh pada Hiram. “Kamu bisa menebak karyaku?”, tanyanya seraya tertawa.

Hiram memperhatikan lebih seksama miniatur bangunan pasir yang baru  dibuat Elena. Ia berusaha mencari-cari bangunan yang mirip dengan miniatur hasil tangan Elena. Namun, ia gagal mengingatnya. Untuknya bentuk, bangunan pasir itu terlihat asing.

The Castel of Love.” seru Elena.

“Pernah mendengar nama itu?”

Hiram menggeleng.

Helena menatap  miniatur pasirnya. “Pada tahun 1911 seorang prajurit Rusia dihadiahi sebidang tanah oleh kerajaan di tepi Laut Cremian. Lalu,  prajurit itu membangun sebuah kastil untuk gadis yang dicintainya.” Hiram merasa dadanya berdesir (2015:289).

Dari kutipan di atas, terlihat bahwa Elena menyatakan isi hatinya dengan membuat sebuah miniatur gedung yang ada di negaranya. Elena sangat paham dengan sejarah dari gedung The Castel of love sehingga untuk mengungkapkan perasaan hatinya, ia menciptaan gedung tersebut. Elena tidak meyatakan isi hatinya dengan kata-kata, tetapi membuat miniatur sebuah bangunan yang bangunan tersebut sebenarnya merupakan lambang persembahan cinta seorang prajurit terhadap orang yang dicintainya. Dengan gamblang,  Elena mengatakan pada Hiram bahwa miniatur gedung itu hadiah untuk Hiram. Sebaliknya, Hiram pun mengatakan bahwa miniatur Taj mahal pasir yang dibuatnya dipersembahkan untuk Elena

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sastra dan alam memiliki pertalian. Alam tidak hanya dijadikan sebagai latar tempat dan suasana dalam karya sastra,  tetapi juga merupakan sebuah wacana yang ikut membangun cerita dan estetika sebuah karya sastra. Dalam novel ini, alam yakni pasir dan batu dijadikan sebagai media komunikasi oleh manusia dalam kehidupannya. Melalui tokoh-tokohnya, pengarang menceritakan bahwa alam dapat dijadikan sebagai media untuk memotivasi manusia dalam memperoleh pendidikan dan juga sebagai media pengungkapan perasaan cinta pada orang yang disukainya.

Comment