Berburu Babi di Kota

Cerpen : M. Yunis

Siang itu, Mrs. Bib menyibukkan diri di ladang gersang belakang rumah. Dia tahu rumah kandangnya sudah terlalu rapuh. Mungkin sebentar lagi roboh atau disapu angin kali. Barangkali, di ladang itu, masih menjamur bebatuan, pasir, kerikil untuk mendirikan sebuah istana kokoh. Tidaklah. Usaha itu tentu pula tidak hanya membutuhkan jangkauan tangannya yang dua pasang, ditambah dua pasang tangan Mr. Bib, plus tangan-tangan jahil. Sekarang Mr. Bib sudah menjadi kenangan indah. Dulu ketika dia awal berjumpa dengan Mr. Bib, laki-laki itu berusaha mengujuknya. Dia mengatasnamakan keterharuan yang amat sangat, namun kedangkalan wajahnya tidak menyimbolkan kedalaman apa-apa.

Tidak begitu lama Mrs. Bib berpapasan dengan Mr. Bib, pesta kecil selaku makhluk kecil pun berlangsung. Sakitnya, kisah tragis yang terjadi ketika itu, ulah si pemain sandiwara yang tersesat itu. Ia tidak tahu jalan pulang. Ia memutar-mutar di sekeliling perpondokan para Bib Bib yang lain. Mr. dan Mrs. Bib memang sudah mendengar laporan tentang itu. Kata si pelapor terdapat seorang pemain sandiwara membawa bunga api yang panjang. Tentunya itu dapat membantu memeriahkan pesta kecil malam itu. Namun, anak-anak ketakutan di saat melihat orang itu berjalan tegak dan tidak seperti Bib. Sebagai anggota masyarakat yang terpelajar, Mr. dan Mrs. Bib memberikan pengarahan kepada masyarakat.

“Jangan takut. Pemain sandiwara memang berjalan tegak. Tidak seperti kita. Kita juga bisa menjadi pemain sandiwara di karnaval esok.”

‘’Tetapi wajahnya dan kostum yang dipakainya, Tuan Putri?”, jawab Bib Wani.

“Apakah ada masalah dengan wajah atau kostumnya?”

‘’Tidak juga. Cuma terlihat lebih elegan dari kita.”, sela Mrs. Bib.

“Itu wajar saja. Mereka para pemain untuk menghibur kita”, sambung Mr. Bib sambil berlalu.

Berselang waktu,  berselang letih Mr. Bib menghampiri pemain sandiwara yang terseasat itu dan mengundangnya duduk bersitumpu dengan kaki. Mrs. Bib meminta pesandiwara memainkan kembang apinya. Sementara itu, para penikmat menari riuh gemulai sehingga suasana menjadi gemerlap ruap malam itu.

Kembang api itu dipancarkan pemain sandiwara. Terbang lurus tepat memeriahi suasana dan mendarat di perut Mr. Bib. Mr. Bib terbahak-bahak dan terjatuh dan diikuti oleh gemericik tawa serta canda semua orang. Seorang anak menghampiri Mr. Bib yang terjatuh. Diperhatikan perut Mr. Bib sudah basah. Tubuhnya dingin. Kemudian, anak tersebut lari menuju ibunya dan berkata.

“Bu sampai kapan Mr. Bib tertidur. Diakan mempelai laki-laki pada malam ini. Kasihan Tuan Putri.’’

‘’Dia terlalu banyak minum. Tidak ingat bahwa pada hari ini dia sedang dinobatkan menjadi Tuan Muda. Ya, begitulah jika seseorang yang baru akan menginjak tampuk kuasa. Kelakuannya sudah aneh.”

‘’Bu saya mau ke tempat Mr. Bib tidur. Mana tahu saya mendapat wejangan dari Mr. Bib.” Anak itu menutup dan berlalu dari ibunya.

“Iya, hati-hati sayang.”

Si anak mendatangi kembali Mr. Bib. Ternyata tubuh Mr. Bib sudah tidak ada namun jejak basahnya masih dapat dirasakan di tempat itu.

‘’Apa mungkin Mr. Bib bersama Tuan Putri? Tidak juga Tuan Putri masih menari girang bersama Mbah Lopo, lalu ke mana Mr. Bib pergi? Si pemain sandiwara itu juga sudah tidak ada. Ah, dasar laki-laki. Baru saja bertemu merasa cocok pergi dan menjadi teman. Tidak pernah mengingat sedang ada acara penobatan.” Anak itu berbicara sendiri dan kemudian berlari menemui Mrs. Bib, sebab dia tidak suka melihat pemain sandiwara itu berteman dengan Mr. Bib. Mr. Bib orang terpandang di dalam kelompok itu. Tidak sepantasnya dan tidak sewajarnya dia berteman terlalu bebas.

Lalu, bagaimana nasib Mrs. Bib jika kerjaannya suaminya selalu berteman dengan siapa pun. Ya, adat kebiasaan di kelompok itu agak kaku dan tradisional. Seorang calon pemimpin harus dikekang, apa lagi di saat pernikahan dengan orang terpandang seperti Mrs. Bib. Jika diperhatikan, Mrs. Bib juga masih keturunan bangsawan yang jarang keluar rumah. Dia sengaja dipelihara oleh orang tuanya Mbah Lopo. Dia satu-satunya pewaris yang akan melanjutkan Kerajaan Hegemoni waktu itu. Siapa lagi? Sebab kelompok itu ras putih yang hampir punah oleh keganasan alam. Teknologinya juga belum semaju di kota besar, tetapi cara berpikirnya sudah mumpuni.

Anak kecil itu kemudian mendatangi Mbah Lopo dan mengadukan semua keteledoran Mr. Bib. Sebagai sesepuh waktu itu, Mbah Lopo marah dan mengamuk hingga menghancurkan dinding bambu pesta.

‘’Kurang ajar. Dia sudah melecehkan aku dan juga pemain sandiwara itu. Awas! Aku hancurkan dia! Anakku ini sengaja kupingit hanya untuk orang baik-baik, bukan untuk dipermainkan seperti ini. Bib kecil! Coba kau cari jejaknya di kampung sebelah. Mana tau dia melirik perawan lain!’’, perintahnya kepada sang anak.

‘’Baik Mbah!’’ Anak itu pun berlari anjing ke kampung sebelah.

Mbah Lopo yang sedang mengamuk sudah sedikit tenang. Semua orang termenung dan bertanya keheranan, tapi tiada seorang pun yang memberanikan diri untuk bertanya termasuk Mrs. Bib. Dia paham jika Mbah itu bisa kalap saat marah. Emosinya sedang labil perlu ketenangan untuk beberapa hari.

‘’Bib! Tolong kau ambilkan rantai saktiku di kamar kandang. Aku akan pergi dan ingin menyaksikan sendiri apa saja yang dikerjakan Mr. Bib di kampung sebelah!’’

Tanpa berkata Mrs. Bib berlari ke dalam kamar uttuk mengambilkan pesanan Mbah Lopo. Benda ajaib itu tidak terlalu besar, tetapi membutuhkan beberapa orang untuk membawanya. Mbah Lopo memerintahkan Bib Gading mengangkatnya. Bib Gading salah satu penduduk yang hadir pada malam itu. Dia bertubuh besar. Bib Gading pun mengangkat dengan sebelah taring dan menyerahkannya kepada Mbah Lopo.

“Bib! Pucuk pimpinan aku serahkan sementara padamu. Jaga rakyatmu supaya selalu tenteram. Aku mau pergi mungkin dalam waktu yang cukup lama.”, ucapan Mbah Lopo kepada anaknya.

Kata-kata itu dipahami oleh Si Lidah Terjulur sambil menelan senyumnya yang lapar. Dia berkata dalam hati.

‘’Nah, ini ksemapatan bagiku untuk menaikan statusku. Aku akan pergi lebih dahulu dari pada Mbah Lopo. Aku punya banyak cara untuk mengabulkan keinginanku!”

Lidah Terjulur memang sangat dibenci oleh masayarakat ketika itu. Berhubung ada pesta, dia diperbolehkan hadir oleh Mbah Lopo. Namun, langkahnya selalu diperhatikan oleh Mbah. Untuk mengantisipasi kekacauan, para penduduk tidak boleh berpergian sendiri, kecuali Mbah Lopo yang mempunyai rantai sakti. Sebab Lidah Terjulur badannya memang kecil, tapi otaknya dan akalnya panjang. Ia bisa memanfaatkan kesempatan apalagi kesempatan seperti ini.

***

Kota memang ramai dengan aktivitas hidup, berdagang, berkelahi, politik, dan segala macamnya. Semua permainan ada di sana dan semua penduduknya juga bisa bermain sandiwara. Bangunan sangat megah, rapi, dan tertata makmur. Sering ditemui penduduknya tertawa renyah tidak seperti di perkampungan Bib. Di perkampungan Bib, peraturan sengaja dibuat untuk tidak tertawa. Kalau pun diperbolehkan tertawa, hal itu terjadi hanya di dalam pesta perkawinan. Sebab kata Mbah Lopo, terlalu banyak tertawa membuat kita lalai. Terlalu banyak tertawa membuat kita lengah akan kedatangan musuh. Acara tertawa pun sangat sakral bagi perkampungan Bib. Masyarakat di sana sebenarnya rindu tertawa, tetapi tabu bagi adat. Jika kedapatan ada penduduk yang melanggar, dia akan mendapat hukuman dari Mbah Lopo. Hukuman dibuang sepanjang adat dan dibuang ke kampung sebelah, kampung Lidah Terjulur.

Nah, di kota berbeda. Adatnya sudah bebas, liberal, dan kapitalis. Sudah banyak orang yang kaya, malahan ada yang mempunyai banyak uang membayar orang untuk membuat tertawa. Menertawai hukum, orang kecil, keadilan hingga agama. Semua mampu dilakukan dengan oleh orang kota dengan uang. Inilah yang membuat Si Lidah Tejulur berubah menjadi picik. Dia sering menyelinap ke kota. Kadang, ia bersahabat dengan orang kota. Sekali jilatan, orang kota akan percaya kepada Lidah Terjulur. Si Lidah Terjulur ingin hidup dan mengubah suasana kampung menjadi kota. Sudah lama, dia memisahkan kelompoknya dari perkampungan Bib. Hal itu pun sangat disetujui oleh Mbah Lopo. Sebab selama ini, Si Lidah Terjulur selalu bertindak anarkis dan radikal karena dia percaya dengan anarkis dan radikal ia mampu menciptakan revolusi total. Akan tetapi, Mbah Lopo masih menolak cara itu. Jika benar revolusi dilakukan, kita hanya akan berpindah masa saja. Sementara itu, perlakuan dan sikap terhadap kita akan lebih parah dari biasanya. Mbah belum yakin akan hal itu.

‘’Auh..Kota ini memang indah, tapi kosong makna. Apa yang bisa dibanggakan dengan hidup seperti ini?’’ Mbah Lopo bicara sendiri, tetapi masih takut menembus cahaya siang itu. Jika jejaknya tercium, bisa gawat. Ia sudah melakukan kesalahan dan sudah melanggar batas teritorial kawasan. Hukuman gantung obatnya.

Sekian lama menunggu datang jugalah malam. Tepatnya, malam Jumat Kliwon. Mbah Lopo merangkak lambat menuju pusat kota. Suasananya mati, tetapi keramaian masih terdengar dari dalam dinding. Mbah bingung bagaimana caranya untuk mengetahui berapa saja orang yang hadir di dalam dinding.

‘’Nah, itu ada tangga. Mungkin bisa membantuku sementara.”

Mbah Lopo mengambil tangga itu dan disandarkan tangga itu tepat ke arah tembok. Dengan ekstra hati-hati, Mbah Lopo mulai menaiki anak tangga satu persatu.

‘’Duh tinggi sekali pagar yang dibuat orang kota ini. Kalau aku jatuh, bisa gawat ini.”, umpatnya.

Pada anak tangga ke-10, Mbah Lopo sampai di batas tembok. Jantungnya sesak. Darahnya naik ke ubun-ubun.

‘’Begu ganjang! Kurang ajar. Memang orang kota tidak belajar adat. Tidak beragama, antu balawu, katumbuhan babegu!”

Umpatan itu meluncur dari mulut Mbah Lopo tiba-tiba saat menyaksikan fenomena di dalam tembok. Mbah Lopo dendam. Sakit hati melihat Bib kecil diperlakukan seperti itu. Bib kecil meraung saat diganyang oleh Lidah Terjulur. Sementara itu, semua orang bertepuk tangan dengan senang. Kebiasaan biadab orang kota.

‘Si Lidah Terjulur itu, sejak kapan dia di sini? Lalu, Bib kecilku yang malang. Miris sekali takdirmu itu. Kenapa kau datang ke kota? Bukankah kau kusuruh ke kampung sebelah, ke kampung Lidah Terjulur, dan kenapa kau ke sini?” Mbah Lopo menangis dalam hati dan terus kaku di atas tangga sambil matanya tidak penah lepas dari kejadian itu.

‘’Ha..ha..! Waktu di perkampungan itu, bolehlah kau bergembira. Sekarang, dagingmu akan kusantap habis, ha..ha..”, ucap Lidah Terjulur penuh semangat.

‘’Dasar tidak berbudi. Kau sudah lupa siapa yang menyelamatkan kamu saat berada di mulut buaya hutan? Mbah aku kan? Tapi kenapa kau balas seperti ini? Lalu siapa orang-orang itu?’’ Bib kecil menangis.

‘’Mereka adalah tuanku semua. Mereka senang aku jilati sebentar lagi separoh kota ini menjadi bagianku, ha..ha..” Lidah Terjulur kembali menyerang Bib kecil dan diikuti tawa renyah penonton.

‘’Ayo cincang dagingnya… Keluarkan ususnya binatang perusak itu!” Teriak Wali Kota.

‘’Iya, ayo…cincang. Dasar babi kecil….Haram…!”, sambung Ibu Wali Kota.

Tidak lama kemudian, Bib kecil sudah tidak berdaya. Ia terkapar dengan usus terburai. Sebelah kakinya dilumat habis oleh Lidah Terjulur sambil melarikannya ke tepi lapangan. Sesaat kemudian, penjaga lapangan mengambil tubuh Bib yang sudah tidak bernyawa sambil berkata.

‘’Malam ini kita membuat babi panggang yang enak!”

Di sudut tembok itu, sosok Mbah Lopo turun perlahan dari tangga dengan air matanya mengering. Sisa langkahnya terus diseret menunju perkampungan Bib. Entahlah. Sesekali, dia berhenti dan duduk menangis kembali. Ia terus berjalan dan kembali berhenti. Begitulah seterusnya sampai di perkampungan.

***

Pagi itu, salah seorang penduduk menemukan tubuh Mbah Lopo tidak berdaya. Para penduduk berhamburan keluar. Ia menggotong tubuh itu ke rumah Tuan Putri. Selama Mbah Lopo pingsan semua orang saling bertatapan dan heran apa saja yang terjadi dengan Mbah Lopo yang sakti ini.

‘’Usss. Mbah batuk. Berarti dia sudah sadar!’’ Salah seorang dari mereka memecahkan suasana.

Mbah Lopo angkat bicara.

“Kita telah ditipu. Kota telah dibohongi! Diperdaya dan dikhianati!”

“Siapa yang berbuat seperti itu Mbah?” Mr. Bib memburu.

“Lidah Terjulur! Bib Kecil sudah dipanggang. Wali Kota itu sedang pesta. Lidah Terjulur memakan kaki kanan Bib Kecil!”

“Oh..Tuhan…Malang benar nasib Bib kecil.”  Semua orang meraung.

“Di kota! Ya di kota! Ke kota!’’ Suara Mbah Polo terpuus.

“Ayo semua. Kumpulkan perbekalan dan persenjataan kita. Mbah sedang sekarat. Kita diperintahkan untuk merebut kembali hak kita yang sudah dikapling!” Perintah Mrs. Bib.

“Kembalikan Bib kecil!’’

“Gantung Lidah Terjulur!’’

“Hancurkan kota!’’

“Pangkas habis liberalisme!’’

“Kapitalis!’’

“Neoimprealisme!’’

Semua orang berteriak dengan semangat berkobar.

“Tunggu dulu! Jangan tergesa-gesa. Tunggu dulu hingga Jumat kliwon, Biarkan mereka terlelap dulu. Biarkan mereka menyelesaikan pesta itu!” Sanggah Mbah Lopo.

Meskipun Mbah Lopo melarang serangan itu, penduduk tidak sabar untuk membalas dendam. Mereka tetap mempersiapkan penyerangan. Sebagian termotivasi oleh kesenangan kota, harta, jabatan, kekayaan, wanita cantik, kursi, dan wali kota.

‘’Aduh senangnya!”, ungkap salah seorang penduduk.

Semua pasukan dan senjata lengkap sudah dipersiapkan. Mr. Elephant mengasah taringnya. Pak Banteng juga tidak ketinggalan. Tenaganya kuat. Semua cula sudah dikasih racun mematikan. Tinggal menunggu kata “serang!”.

‘’Semua sudah siap Tuan Putri!” Lapor komandan perang.

‘’Laksanakan!” Perintah pun jatuh dari tuan putri.

Serang! Dengan formasi kalajengking, pasukan pun berlarian menuju kota.

‘’Bib! Kamu bawa kalungku ini!’’, pesan Mbah Lopo sambil menyerahkan kalungnya kepada Mrs. Bib.

Suasana ketika itu sangat mengharu-biru. Setelah pasukan sampai di perbatasan pada Jumat kliwon, tembok kota diruntuhkan oleh semangat pasukan Bib. Di kota, masing-masing pahlawan menyebar dan memangsa apa saja yang ditemukannya, ke rumah wali kota, kantor polisi, pemuka adat, pemuka agama, intelektual, peradilan, dan penjara. Semenatara itu, Mrs. Bib menuju rumah Wali Kota dan menemukan Lidah Terjulur sedang menjilat kaki Wali Kota. Tanpa menunggu waktu Mrs. Bib pun menyerang, Wali Kota lari tunggang langgang, Lidah Terjulur senyum picik atas kedatangan Mrs. Bib.

‘’Langkahi jasadku dulu! Baru kau dapatkan jasad tuanku!”, ungkap Lidah Terjulur dengan sombong. Tanpa menunggu waktu, terjadilah perkelahian, saling memukul, menggigit sehingga Lidah Terjulur terkapar kehabisan darah. Sesaat setelah itu, terdengar teriakan.

‘’Wali Kota menyerah!’’

Mrs. Bib keluar dari pekarangan Wali Kota dan bicara kepada pasukannya, sementara sebagian yang lain membebaskan tawanan yang terdiri atas Bib Bib pekerja.

‘’Mulai saat ini, kita berjalan dengan dua kaki. Itu aturan tidak boleh dilanggar! Mari kita bangun kota ini!”, tutup Mrs. Bib.

Seminggu setelah penaklukan Kota Babi, berita itu meluas ke Kota Rusa, Kota Srigala, dan menyebarlah virus babi itu ke mana-mana.

*Penulis adalah dosen biasa di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Comment