La Sorbonne au Pakistan! –

MZK~KECURIGAAN RUDI~

Sejatinya Kita adalah Sang Pemimpi
Bermimpilah Hingga Menembus Batas Cakrawala
Biar Allah yang Menjadikannya Nyata
(Martha Zhahira El-Kutuby)

 

“Kak, tadi aku bertemu dengan temanku. Azeeb el Maulana. Aku menyimpan rasa tak enak darinya.”

“Maksudmu?” aku mengernyitkan dahiku.

“Ya. Dibandingkan dulu, dia saat ini sangat berbeda. Kakak ingat nggak dulu waktu kita MUN di Malaysia. Dia sangat kental dengan pakaian warna coklat dan abu- abu. Tadi aku melihatnya berpakaian serba hitam dengan topi hitam.”

“Trus?”

“Aku hanya khawatir ada kejadian setelah ini.”

“Kamu yakin itu akan terjadi?”

“Ya. Aku tidak bisa menepis ini semua. Aku sebagai sasaran dendam Mustafa.”

Aku tersedak dan terbatuk-batuk mendengar ucapan Rudi. Hasbi benar. Rudi memang bekerjasama dengan Mustafa. Aku mulai emosi. Makananku berserakan di meja dan jilbabku. Masih ramai di restoran itu. Aku sudah tidak tahan lagi. Secepat kilat, aku membayar tagihan makanan itu. Aku berjalan cepat keluar.

Rudi berusaha mengejarku dan menenangkanku. Dia sedikit keceplosan dan membuat suasana tidak enak. Wajahku pucat. Jantungku berdegub kencang. Aku gemetaran dan berkeringat.

“Kak, tunggu!” teriak Rudi.

Aku terus berjalan cepat menuju apartemen. Sangat menyakitkan buatku mendengar ucapan Rudi barusan. Aku tidak memandang kemana pun selain ke jalan yang aku lalui. Tak lama, tubuhku lemas dan jatuh.

***

Beberapa orang di jalan raya berkerumun untuk memanggilkan ambulance untukku. Rudi mulai cemas. Dia merasa sangat bersalah sejak tadi. Rudi tidak bermaksud untuk mengagetkanku. Hanya dia bercerita saja. Sudah lama ini disimpannya. Dia merasa bersalah kepadaku bila menyimpannya terlalu lama.

Sudah dua jam di UGD Sheikh Zayeed Hospital. Aku belum juga sadarkan diri. Masih berbalut alat bantu napas dan infus. Jantungku mulai melemah. Dari jauh, Salman datang. Rudi sengaja menghubungi Salman untuk membayar asuransiku disini.

“Aku minta maaf tidak bisa menjadi adik yang baik untuknya,” tunduk Rudi di depan Salman.

“Tenanglah! Jangan takut. Aku sudah menelpon dokter pribadinya disini,” Salman merangkul Rudi.

Dimanapun aku berada selalu dibelakangku ada dokter jaga. Jika Ayah tahu, mungkin sudah cemas saat ini. Bahkan, tidak akan tidur mendengarkanku begini. Salman berpesan kepada Rudi untuk tidak memberitahukan ayahku dulu. Biarkan ini tanggungjawab APP Lahore saja. Rudi mengangguk.

“I hope you can make her back to healthy soon.24Ujar Salman kepada dr. Shaheed.

“Be patient! I will do it!25balas dr. Shaheed.

Salman berpamitan ke ruang inapku. Sangat lama memandangku. Di samping tempat tidurku ada Rudi yang sejak tadi masih menunduk. Rasa bersalahnya tidak hilang. Rasanya dia sudah mengkhianatiku. Menyakitkan buatnya.

Mengajakku untuk bekerja di APP Lahore memang sebuah risiko buat Salman. Apalagi kondisiku tidak bisa menghadapi suasana yang menyeramkan bahkan mengerikan. Salman merasa bertanggungjawab untuk menjebolkan aku ke negara ini. Tantanganku bukan hanya di Pakistan aja. Ada beberapa liputan yang akan kukerjakan nanti.

“Rud! Rudi!” suara lemahku memanggil Rudi yang tertidur di sofa ruangan.

“Hmm. Eh, Kak. Udah siuman?” Rudi bergegas menghampiri brankarku.

“Dokter bilang apa?”

“Kakak pasti sudah tahu. Aku yakin itu. Ini juga gara-gara aku. Aku minta maaf, Kak!” Rudi menunduk.

“Lupakah saja! Walaupun aku sedikit menahan emosi.”

Rudi kaget mendengar ucapanku. Aku memang tidak memikirkannya lagi. Aku hanya bisa diam saja. Aku sudah sering begini ketika di Indonesia. Paling lama tiga hari, aku sudah kembali pulang lagi.

Tak lama setelah aku bangun, dr. Shaheed datang. Aku tersenyum saja kepadanya. Aku memang melarang Rudi untuk memanggil dokter ketika aku siuman tadi. Aku ingin tenang dan menikmati kesendirianku dulu.

“Are you okay, Miss?26sapa dr. Shaheed dengan senyumnya.

“Alhamdulillah. I‟m okay.”

 “Tomorrow, you‟re allowed to go home.27

Setelah selesai memeriksa semua keadaanku. Dr. Shaheed meninggalkan ruanganku. Rudi diminta untuk mengurus semua administrasiku. Sebelumnya, Rudi memberitahu Salman dulu. Berhubung aku ditanggung kantor beritanya.

Hanya bermodal kemampuan menulisku yang bagus dan sikap profesionalku, aku bisa sampai disini. Sekalipun, aku sakit yang tak tahu kapan akan kambuhnya. Bukan berarti aku berdiam diri tanpa melakukan sesuatu untuk mengisi hari-hariku. Tetap aku semangat untuk mengembangkan skill ku disini.

Sayangnya, bukan Kayla yang menemaniku dirumah sakit ini. Dulu, ketika aku pingsan di Stasiun Sudirman. Kayla dengan sigap menjagaku. Bahkan, dia tak pernah mau pulang sebelum aku diizinkan keluar dari rumah sakit.

Dengan keadaan keras hatinya, Mama dan Papanya setiap hari mengantarkan pakaian ganti dan makanannya ke rumah sakit ketika menjagaku. Ah, aku seperti dejavu. Memang sakit itu tidak enak sama sekali. Rudi membuyarkan lamunanku.

“Kak, mau makan atau minum?” “Nanti saja, Rud!”

“Kakak masih marah, ya, sama aku?”

“Buat apa aku marah. Buang-buang energiku saja.” “Ya. Aku minta maaf. Maksudku…”

Salman datang memasuki kamarku. Dia sudah selesai mengurus semua administrasiku. Dia membawa beberapa makanan untukku dan Rudi. Aku hanya bisa tersenyum.

“Lusa aku akan mulai bekerja!” aku berkata tegas kepada Salman.

“Jangan dulu. Kamu istirahat dulu tiga hari ke depan. Semuanya sudah kuatur.”

“Aku akan lebih sakit kalau tidak sesuai dengan perjanjian kemaren.”

“Ada aku. Tenanglah!”

Aku melihat Salman lama. Mataku berkaca-kaca. Aku ingin menahannya. Tapi, tidak bisa. Aku mengalihkan pandanganku ke langit-langit kamar inapku. Banyak cerita yang kusimpan. Mereka pun tak pernah tahu mengapa aku segigih ini.

Salman nampak serius berbicara dengan Rudi. Sepertinya, ada pesan yang dititipkannya kepada Rudi. Mungkin saja itu pesan untuk menjagaku di Pakistan ini. Walaupun, keadaannya terancam, Rudi masih tetap menjagaku. Setidaknya, dia akan memberitahu Salman ketika kondisiku tidak sedang baik-baik saja.

“Okay, Sir! Thank you!” Rudi menundukkan kepalanya tanda penghormatan.

Salman hanya tersenyum dari jauh kepadaku. Bukan saja aku tidak menyukai perlakuan Salman kepadaku. Aku takut dia terluka dengan sikapku. Apalagi kecewa dengan kondisiku saat ini.

Kemarin, aku pernah minta pulang saja ke Indonesia. Aku tak mau menghabiskan uang perusahaannya untuk membiayaiku dengan semua ini. Masih banyak orang yang lebih baik dariku. Mereka mungkin bisa lebih bagus dariku dalam meliput ini. Aku memang dibingungkan dengan hal ini.

***

Unitku sangat berdebu. Sudah seminggu ditinggal begitu saja. Untung saja ada pelayan kebersihan yang siap dipesan untuk membersihkan ruangan ini. Ternyata, Salman sudah memesankan itu untukku dua jam yang lalu. Aku diberitahu pelayan bahwa Salman sudah memintanya untuk membersihkan unitku. Semuanya sudah beres. Ada beberapa makanan di dalam kamar yang sudah tersedia.

Rudi kaget. Dia semakin heran. Sejak sampai di Pakistan. Dia mengira aku sudah dijodohkan dengan Salman. Nyatanya, aku baru saja mengenal Salman. Aku tak tahu Salman kenal aku dimana dan dari mana. Awal mengikuti seleksi, aku hanya iseng- iseng saja.

“Kakak beruntung ada Kak Salman,” Rudi tersenyum.

“Alhamdulillah.”

“Kak, aku mau ngomong sesuatu.”

“Ya. Duduk dulu!”

“Aku mau menjelaskan sesuatu masalah yang belum selesai aku jelaskan beberapa hari yang lalu di restoran.”

Aku menarik napasku pelan. Mencoba mengatur ritme jantungku. Aku tak mau lagi mendengar apapun yang berbau negatif. Kali ini aku mencoba untuk mendengarkan Rudi.

“Aku tak akan bermaksud mencelakakan Kayla sesuai ajakan Mustafa. Aku ditekan. Saat ini, posisiku sedang terancam oleh mata-mata Mustafa.”

“Maksudmu?”

“Mungkin ini tak lama. Aku mohon bantuan kakak saja. Aku tahu posisiku menolak ajakan Mustafa itu berbahaya. Tapi, aku akan jalani demi Kayla.”

“Astaghfirullah!”

Aku menepuk jidatku. Mustafa memang jahat. Sudah sangat kelewatan. Aku menahan amarah dihatiku. Tapi, aku sedang mengontrol emosiku untuk tidak keluar begitu saja. Kemungkinan posisi Rudi memang jauh lebih berbahaya dibanding posisiku dan Kayla.

Hasbi benar! Mustafa memang mengajak Rudi untuk membujuk Kayla agar pulang ke Indonesia. Kalau Kayla menolak, tentu saja ada konsekuensi dari ini semua. Sungguh, bejat sekali!

Aku meninggalkan ruang tamuku. Rudi juga sudah berpamitan menuju unitnya. Sepertinya dia sangat lelah. Sudah seminggu menemaniku dengan kualitas tidurnya yang kurang baik. Aku hanya membiarkannya untuk tidur sementara.

***

Catatan kaki:

24 Saya berharap Anda menyehatkannya kembali.

25 Bersabarlah! Aku akan lakukan

26 Apakah kamu baik-baik saja, Nona?

27 Besok, kamu sudah diizinkan pulang.

Comment