La Sorbonne au Pakistan! –

MZK~CERITA DI THE PELHAM LAHORE~

Sejatinya Kita adalah Sang Pemimpi
Bermimpilah Hingga Menembus Batas Cakrawala
Biar Allah yang Menjadikannya Nyata
(Martha Zhahira El-Kutuby)

 

Tak disangka aku dan Rudi mendapatkan servis semewah ini dari Salman. Penginapan mewah kelas internasional ini memang bergaya luxury. Rudi memutar pandangannya sekeliling. Kagum!

Kami memasuki apartemen itu diikuti oleh pelayan yang sudah dari tadi disiapkan Salman untuk kami. Sembari menemui resepsionis dan menyelesaikan administrasi selama enam bulan disana. Selama itu pula aku harus melengkapi semua berkas beritaku tentang Konflik Pakistan-India.

“You can break in The Pelham Lahore. I will back to office. See you tomorrow, Han!Salman melangkah keluar dari apartemen sembari tersenyum.

“Call me Salman. Just it!20Salman membalikkan tubuhnya kembali.

Aku hanya tersenyum melihatnya pergi. Rudi yang dari tadi menonton aksi itu tiba-tiba merebahkan badannya di kursi lobi.

“Sudah selesaikah jatuh cintanya, Kak?”

“Hah? Maksudmu?”

“Haruskah sebahagia itu melihatnya?”

“Menurutmu?”

Belum sempat menjawab pertanyaanku. Kami sudah dihampiri pelayan apartemen untuk diantar ke unit masing-masing. Unitku dan Rudi bersebelahan. Aku meminta unit yang sederhana dan cukup untuk satu orang saja. Begitu juga Rudi. Aku tidak akan bisa dengan ruangan yang terlalu besar.

***

“Jangan lupa rencana kita di Indonesia, Rud!”

Dering ponsel Rudi mengejutkannya yang baru saja sampai di dalam kamar unitnya. Rudi dengan segera mengunci pintu dan duduk di sofa. Dia tampak berpikir untuk membalas pesan Mustafa. Rudi mengacak-acak rambut menyesal bertemu Mustafa di kantin Kampus waktu itu. Dia tidak akan mau mengkhianati Kayla.

“Terakhir aku bilang ke kamu. Aku tidak akan menuruti maumu untuk mencelakakan bahkan memberitahumu tentang Kayla. Jangan ganggu aku lagi.”

Selesai membalas pesan Mustafa, Rudi memblokir semua kontak Mustafa. Dia kembali bersandar di sofa unit warna hitam itu. Sedikit malas untuk bergerak menuju kamar mandi. Dia akhirnya menonton televisi.

“Besok kita bertemu di Minar-e-Pakistan. Tak jauh dari apartemenmu.”

“Oke. Jam berapa?”

“Jam 10.00 waktu Lahore.”

“Sip!”

Telepon singkat itu membuat Rudi sedikit menghilangkan pikiran tentang kelakuan Mustafa. Azeeb sudah menunggunya sejak lama untuk sampai di Pakistan.Tak lama tersenyum senang, Rudi menuju kamar mandi. Ada beberapa stok makanan sisa di perjalanan tadi.

Ting…tong…

 Bunyi bel unitku membuatku kaget, Ada orang diluar. “Kak, makan, yuk!” Rudi mengajakku keluar untuk makan. “Huh! Aku kira siapa. Ternyata, kamu.”

“Emang kita berdua aja kan yang kenal disini?”

“Iya, mana tau aku kedatangan cogan. Haha.”

“Alamaakk!”

“Yuk!”

Kami menuju arah keluar apartemen mencari restoran atau tempat makan yang nyaman. Di Pakistan, banyak makanan dari roti ala India. Ada juga makanan bahan dasar ayam dan kari.

Kami tiba di restoran Pakistan. Qaba‟il Johar Town! Terletak di Main Boulevard, Johar Town, Lahore. Disini banyak disajikan makanan khas Pakistan dan India. Hanya berjarak tiga puluh menit dari The Pelham Lahore. Kami hanya berjalan kaki. Sekaligus menikmati suasana Lahore yang sudah mulai senja.

Aku dan Rudi memasuki restoran itu. Aku memilih untuk duduk di sudut ruangan yang hanya ada kursi untuk dua orang saja. Rudi melambaikan tangannya ke arah pelayan restoran.

“I want to eat Chicken Karahi, Chapli Kabab Full, Rice, Cold Drink! You?21

Rudi langsung memesan makanan dan mengarahkanku untuk memesan juga.

“Same with you. But, Add a hot drink like coffe or milk tea.22

“Okay. Wait a minute, Sir and Miss!23

Pelayan meninggalkan kami untuk menyiapkan makanan yang kami pesan. Urusan makanan, aku hanya bisa diam. Rudi mungkin lebih paham. Aku juga tak akan berbeda selera dengannya.

“Kak, ini Chicken Karahi. Enak banget.!”

“Kamu tahu isinya apa?”

“Nggak tahu, Yang aku tahu chicken itu ayam.”

Aku tersenyum menahan tawaku. Memang hanya rasa menjadi kekuatan Rudi dalam menikmati makanan ini. Aku mencoba menjelaskan sambil menyantap makanan.

Chicken Karahi. Salah satu makanan sajian dari ayam dengan bumbu khas Pakistan. Sajian ini dimasak dengan karahi atau wajan berbentuk bulat dan agak dalam.

Butuh waktu 30 menit hingga satu jam untuk memasaknya. Chicken Karahi biasanya disantap dengan “Naan” yaitu roti khas India. Ada juga yang menikmatinya dengan nasi. Kalau dimasak dari domba atau kambing, namanya Gosht Karahi.

“Hmm. Jadi, karahi itu semacam wajan ya, Kak?”

“Yap. Benar sekali.”

“Kakak pintar amat, sih! Sampai makanan begini aja tahu.”

Aku tersenyum simpul dan senang melihat Rudi makan dengan lahapnya. Sepertinya, dia habis terlepas dari jerat Mustafa yang tadi dia tolak habis-habisan. Otaknya memang sedikit stress dan kurang tenang. Dengan makanan, dunia serasa surga yang nyata baginya.

Selesai makan kami kembali ke apartemen untuk sholat dan istirahat. Memang sangat melelahkan hari ini. Melakukan perjalanan panjang. Rudi berpamitan masuk ke unitnya. Aku juga langsung masuk unitku. Ada beberapa hal yang memang aku sedang memikirkannya. Entah mengapa aku semakin curiga dengan Rudi. Tapi, aku tak bisa menyalahkan dia begitu saja.

Aku teringat Hasbi. Ya, Hasbi! Kata-katanya waktu itu tak bisa kulupakan begitu saja. Aku mencoba menghubunginya. Mencoba mendengarkan kata-katanya dengan seksama.

“Masihkah Kakak nggak percaya denganku?”

“Bukan itu maksudku. Aku bukan tidak percaya denganmu. Aku mau cek disini.

Kamu bantu aku mencari tahu gerakan Mustafa.”

“Oke. Aku tunggu infonya dari Kakak. Aku tidak akan mungkin bohong.”

“Ya.”

Telepon kami terhenti. Sudah terlalu malam. Aku mencoba tidur. Besok masih ada tugas dari APP Lahore. Aku diminta untuk bertemu dengan Salman dulu sebelum jalan mengelilingi Lahore dan Kashmir.

***

Catatan Kaki
19 Kamu bisa istirahat di The Pelham Lahore. Aku akan kembali ke kantor. Sampai jumpa besok.
20 Panggil saya Salman. Itu saja!
21 Aku ingin makan Chicken Karahi, Chapli Kabab Full, minuman dingin. Kamu?
22 Samakan saja denganmu. Tapi, tambahkan minuman hangat seperti kopi atau teh susu.
23 Oke. Sebentar, Tuan dan Nyonya.

Comment