Wudu: Landasan serta Syarat-syaratnya

Ustadz Fakhry Emil Habib
Ustadz Fakhry Emil Habib

Rubrik Cahaya Qalbu ini Diasuh Oleh:
Ustadz Fakhry Emil Habib, Lc, Dipl. Tuangku Rajo Basa

Alumni:
S1 Universitas Al-Azhar Fakultas Syariah Islam dan Hukum (2011-2015).
Pasca Sarjana Universitas Al-Azhar Fakultas Dirasat Ulya Jurusan Usul Fikih (2016-2017).
Peneliti Magister Universitas Al-Azhar jurusan Usul Fikih (2018-Sekarang).

Wudu adalah wasilah syar’i peling penting untuk mengangkat hadas kecil, sehingga seorang muslim menjadi suci dan dapat melaksanakan ibadah-ibadah yang menghendaki kesucian sebagai syarat.

Secara bahasa, wudu (وُضوء) artinya bersih, berkilau dan cahaya, sedangkan waduk (وَضُوء) artinya adalah air yang dipakai untuk berwudu.

Secara syariat, wudu adalah perbuatan menggunakan air untuk membasuh bagian tubuh tertentu. Dinamai demikian karena wudu memberi efek kebersihan dan kebaikan pada badan. Termasuk juga efek batin : kilau dari segala gelapnya dosa.

Tentu saja pelaksanaan wudu mesti memperhatikan syarat, rukun serta sunah-sunahnya.

Pensyariatan Wudu

Allah Swt berfirman :

يا أيها الذين آمنوا إذا قمتم إلى الصلاة فاغسلوا وجوهكم وأيديكم إلى المرافق وامسحوا برؤوسكم وأرجلكم إلى الكعبين

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman. Jika kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai siku. Dan usaplah kepadamu dan kakimu sampai ke mata kaki.” (QS. al-Maidah : 6)

Imam Bukhari meriwayatkan pelaksanaan wudu Rasulullah ﷺ yang sempurna, dengan menjelaskan rukun-rukun, sunah-sunah dan kelebihannya. Dari Usman bin Affan Ra bahwa ia berwudu dan mencelupkan tangannya ke dalam bejana. Ia mencuci tangannya sebanyak tiga kali, kemudian berkumur-kumur, beristinsyâq beristinsyâr (membersihkan hidung). Ia lalu membasuh wajahnya tiga kali, tangannya sampai siku tiga kali, (dalam riwayat lain didetailkan bahwa beliau mulai dari tangan kanan tiga kali lalu tangan kiri tiga kali). Kemudian ia mengusap kepalanya dan membasuh kakinya tiga kali (dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau memulai dengan kaki kanan tiga kali lalu kaki kiri tiga kali). Ia lalu berkata : Aku melihat Nabi ﷺ berwudu seperti yang barusan aku lakukan. Kemudian beliau berkata : Siapa yang berwudu seperti yang aku lakukan ini, kemudian salat dua rakaat tanpa ada bisikan nafsu, Allah ampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” [1]

Syarat-syarat wudu :

        1. Menggunakan air mutlak (sebelumnya telah dijelaskan), walaupun sifat mutlak air ini hanya dilandaskan pada dugaan kuat, tidak 100%.
        2. Tidak ada pembatas antara air dan kulit.
        3. Air mengalir di atas bagian tubuh yang dibasuh.
        4. Tidak ada penganulir wudu, seperti haid, nifas, menyentuh kemaluan dan sebagainya.
        5. Tidak ada hal yang mengalihkannya dari wudu, maksudnya adalah niat, keislaman dan kesehatan akal mesti senantiasa terjaga selama berwudu.
        6. Mengetahui tata cara berwudu.
        7. Menghilangkan segala kotoran dan najis.
        8. Melebihkan basuhan hingga mencapai sedikit bagian yang tidak wajib dibasuh, agar ia yakin bahwa seluruh bagian yang wajib dibasuh telah dicapai oleh air.
        9. Mengetahui sebab ia berwudu. Jika ia ragu-ragu dalam sebab hadas, maka berarti wudunya bukan pengangkat hadas, namun sekedar wudu sunah. Jika ternyata setelah itu ia baru yakin bahwa ia berhadas, ia mesti mengulang wudu untuk mengangkat hadas berdasarkan pendapat yang
        10. Mendahulukan istinja dan memakai pembalut bagi yang membutuhkan (maksudnya adalah bagi orang yang hadasnya berketerusan seperti orang yang istihadhah-pent)
        11. Menunggu masuknya waktu salat sebelum berwudu, bagi orang yang melakukan wudu darurat saat air kencingnya tidak terkontrol ataupun wanita yang mengalami istihadah.

      Catatan Kaki:
      [1]. HR. Bukhari (I/71 no 158).

Comment